
Wulandari memandang tidak suka. "Memangnya kamu gak mau bopong si Aisyah? Pakai manggil si Rivaldo?"
"Wajahnya gak enak dilihat," jawab Al santai.
Wulandari memperhatikan Aisyah sekilas. Wajahnya tampak sangat manis, semanis senyumnya.
"Kamu mau kayak gimana lagi ekspresinya?" protes Wulandari. "Yang enak dilihat menurutmu yang kayak gimana sih? Senyumnya kayak Donald bebek gitu?"
Al mengusap-usap kepala. Dia sulit cari alibi karena ekspresi gampang sekali dirubah. Jika mereka memperhatikannya, Aisyah memasang muka imut-imut. Sekalinya mereka tidak melihat, wajah itu jadi amit-amit kayak nenek sihir.
Al mengangkat tubuh Aisyah sambil berbisik, "Sekali lagi muka dilipat kayak kardus bekas, aku jatuhin tubuhmu."
"Ngomongnya kok gitu sih?" Wajah Aisyah tampak sangat bersinar kayak lampu senter baru di-charger, karena perhatian mereka tertuju padanya. "Kayak nggak ikhlas."
"Yang nggak ikhlas kamu."
"Nggak ikhlas kenapa?"
"Nggak ikhlas aku lamar."
"Omongan itu membuat aku nggak nyaman."
"Kok nggak nyaman?"
"Apa yang kamu harap dari gadis lumpuh?"
Aisyah benar-benar sudah kehilangan rasa percaya diri, pikir Al prihatin. Dia seolah merasa seluruh pesona yang dimiliki sirna karena kakinya yang lumpuh.
Pangeran mana yang sudi mempersembahkan cintanya pada gadis cacat?
Barangkali untuk membuktikan hal itu Al bersedia jadi suaminya.
Cinta karena fisik akan luntur seiring berjalannya waktu. Manakala kulit sudah keriput, maka keriput pula cintanya.
Aisyah seakan lupa kalau cinta hakiki tidak tergantung pada kesempurnaan sebuah mahakarya, tapi seterang apa cahaya Al Mushawwir menyinari hati.
Seumur-umur Al belum pernah bersentuhan dengan Aisyah. Dia agak canggung juga saat memindahkan tubuhnya ke kursi roda.
Tangan Al dapat merasakan, kalau tubuh yang terbungkus rapi dalam baju muslim yang fashionable itu, sangat seksi dan berisi.
Al jadi teringat istrinya yang minta dibopong ke kamar mandi sehabis bercinta. Tapi Riany karena manja, bukan karena kakinya lumpuh.
Jadi pantas kalau Aisyah tidak mau dibopong oleh Rivaldo. Bagian tubuh terlalu banyak yang tersentuh, sehingga kuatir pemuda itu terjebak dalam imajinasi akan keindahan tubuhnya.
Aisyah sangat menjaga perasaan laki-laki bukan muhrim agar tidak timbul syahwat padanya.
Al pernah tanpa sengaja melihat tubuhnya secara utuh saat meminjam apartemennya dulu. Jadi Aisyah tahu, pemuda itu sangat menjaga rasa pada kenikmatan yang tidak halal.
__ADS_1
Saling menjaga rasa sangat penting untuk menyelamatkan pergaulan dari kehancuran akhlak.
Al merapikan kaki Aisyah supaya menginjak dengan pas pada alas kursi roda.
Rivaldo datang dan bertanya, "Ada apa manggil aku?"
"Oh, ngetes aja," jawab Al enteng. "Habis liburan telingamu masih normal nggak."
Rivaldo baru pulang liburan dari kota tak pernah mati, Las Vegas.
"Aku kira kamu mau minta aku jadi saksi buat tiga calon...." Kata-kata Rivaldo menggantung, matanya terpesona melihat perempuan yang baru keluar dari dalam mobil. "Cakep banget kayak bidadari turun dari Ferrari."
"Emang turun dari Ferrari!" sergah Al. "Matamu pulang dari kota judi jadi siwer!"
Tangan Al mengusap mata Rivaldo yang melotot. "Sudah cukup. Dia istriku."
"OMG!" seru Rivaldo terkesima. "Pantesan matamu merem sama cewek lain!"
"Aku nabrak mereka dong kalau merem."
"Bagaimana ceritanya cowok gembel bisa dapetin istri super tajir?"
"Harta bagi hijaber nomer dua."
"Nomer satunya gak ada?"
"Nomer satunya ... wajahku kaya akan anugerah. Kau kenal Sheikh Hamdan bin Mohammed Al Maktoum, putra mahkota Kerajaan Dubai?"
"Heh, kecoa got!" sambar Wulandari muak. "Aku bilangin ya. Ferrari keluaran terbaru ini punya Al."
Rivaldo terperangah. "Really?"
"Off course! Al cuma pura-pura jadi mahasiswa miss queen kayak di film-film Bollywood. Ayahnya punya perkebunan yang luasnya segambreng. Cucu konglomerat. Nah, kamu cucu apa? Cucurut?"
"Jadi promosi ya," tegur Riany tersenyum. Dia menyapa Rivaldo dengan rangkap tangan di dada, dan mengenalkan diri, "Aku Riany, istrinya Al Farisi."
"Aku Rivaldo ... teman dalam duka. Soalnya dia pasti lagi berkabung kalau ketemu aku. Married kok nggak ngundang-ngundang ya?"
"Kejauhan. Kasihan capek pulang pergi. Aku nggak menyediakan home stay."
"Lagian yang diundang cuma orang penting, bukan orang genting," sela Wulandari.
"Kamu senang banget ngebully aku, hati-hati fall in love."
"Tunggu kiamat deh."
"Kiamat aku sudah mati. Jadi buat apa nunggu kamu?"
__ADS_1
"Jangan berharap kalau begitu."
Rivaldo adalah sahabat Al yang paling dekat. Dia jadi kehilangan pasaran di depan gadis-gadis cantik, karena kalah ganteng.
Rivaldo sangat menyukai Wulandari, dan mendapat dukungan penuh dari Al. Mereka suka racing. Jadi klop.
Rivaldo siap pindah keyakinan kalau Wulandari bersedia duduk di pelaminan. Bulan madu keliling dunia adalah janji pasti karena uang bukan masalah baginya.
Tapi Wulandari sudah menentukan pendamping hidupnya, gara-gara permainan konyol saat perpisahan SMA.
Banyak mahasiswa jatuh hati pada ketiga bidadari itu. Namun semuanya mentok karena mereka sudah memutuskan jalan hidupnya.
Sebuah keputusan yang sangat membebani pikiran Al.
Dia kira ada yang korslet dengan otak ketiga gadis itu. Atau inikah kids jaman now? Tidak melihat apa dan siapa, hanya melihat cinta!
Jonas adalah teman Al di senat. Dia memburu cinta Lin Wei sampai ke pintu toilet, karena gadis itu sangat menjaga penampilan, muka keringatan sedikit langsung dipermak di cermin toilet.
Jonas menjanjikan rumah bak istana Monaco dan bulan madu ke mana suka, kalau Lin Wei bersedia mengikuti prosesi pemberkatan nikah di gereja.
Tapi Lin Wei berpegang teguh pada mitos, padahal bukan jaman dongeng.
Ada satu pemuda yang tidak dekat dengannya, tapi Al menaruh harapan besar padanya untuk meluluhkan hati Aisyah, karena gadis ini yang paling mungkin menggoyahkan cintanya.
Maka Al berusaha membentengi diri dengan membiarkan pemuda itu mendekatinya.
Namanya Ryan. Satu fakultas dengan Aisyah. Dia memiliki segalanya untuk dicintai. Harta dan tahta. Putera tunggal pengusaha besar.
Menurut perkiraan Al, hanya soal waktu kapan Aisyah bertekuk lutut dan menambatkan hatinya.
Tapi sejak tragedi itu, Al merasa Aisyah adalah miliknya! Dia sekarang menutup kesempatan bagi pemuda itu!
Aisyah adalah pembuktian baktinya pada Oma! Gadis itu harus jadi istrinya!
Lagi pula, Ryan pasti mundur melihat kondisi Aisyah sekarang. Dia cari calon istri, bukan cari pasien!
Ryan adalah calon dokter dan memiliki rumah sakit.
Ada sedikit kekuatiran dalam diri Al karena Ryan mengambil jurusan spesialis orthopedi, yang ada kaitannya dengan apa yang dialami Aisyah.
"Harta dan tahta adalah musibah, begitu pendapatmu," kata Rivaldo sambil berjalan di belakang mereka menuju ke pintu gedung sekretariat. "Berarti sekarang kau sedang tertimpa musibah besar. Aset satu triliun membuatmu jadi anak muda terkaya di kotamu."
"Semoga membawa berkah, tidak mencelakakan aku di dunia dan akhirat."
Sebuah sedan mewah berhenti di pelataran yang hendak mereka lewati. Sopir turun dan membuka pintu belakang. Ryan keluar sambil membawa setangkai bunga.
"Calon dokter tulang taleng ngapain nyamperin kita?" cetus Rivaldo. "Pakai bawa buket bunga lagi! Mellow banget!"
__ADS_1
Ryan berdiri di depan Aisyah, memandangnya sekejap, lalu berkata dengan setumpuk rasa sesal, "Aku lagi di Dubai saat kamu tertimpa musibah. Jadi aku tidak sempat besuk. Anggap bunga ini sebagai permintaan maaf dariku."
Al terpana.