
Allah memiliki rencana yang menakjubkan, sehingga Al perlu mengingat-ingat nikmat Tuhan yang mana lagi yang belum disyukuri hari ini?
Undangan makan malam itu ternyata bukan tiba-tiba. Ayah sudah merencanakan jauh-jauh hari. Ketika Riany mengatakan kepada orang tuanya ingin datang ke rumah Al, disaat bersamaan Abi dan Umi mendapat undangan makan malam.
Riany sampai terpana dibuatnya. "Ada masalah apa Abi? Mendadak sekali Pak Haikal mengundang Abi sama Umi?"
"Tidak mendadak sebenarnya," sahut Abi Hamzah. "Tapi sudahlah. Kamu sama Umi tahu sendiri nanti."
"Aku jadi penasaran," kata Umi Hamzah tidak sabar. Dia tidak tahu sama sekali ada apa Pak Haikal mengundang mereka makan malam. Barangkali untuk membahas konflik yang terjadi antara pesantren dan warga. Syukurlah. Dia jadi bisa bertemu dengan sahabat lamanya, Bu Haikal.
Riany juga beranggapan mereka akan membahas perseteruan yang semakin meruncing. Maka itu Abi membawa Nidar dan Irma. Nidar pernah ada konflik dengan Kyai Rojali, dan Irma adalah mediator dengan pemuda setempat.
Riany tidak berpikir bahwa mereka hendak membahas tentang postingan Arya yang membuat heboh. Keluarga pesantren tidak menanggapi secara berlebihan sehingga tidak perlu diadakan pertemuan khusus antar keluarga.
Riany justru ingin memanfaatkan momen ini untuk memperjelas tentang perkataan Bu Haikal. Dia sangat berharap apa yang dikatakan wanita itu bukan pepesan kosong.
Maka itu Riany langsung berbisik kepada Al begitu tiba di rumahnya, "Aku datang. Siapa suruh jatuh cinta?"
"Maafkan aku," kata Al pelan. "Sekalinya pulang membuat kegaduhan."
"Aku harap undangan ini adalah undangan terakhir untuk perempuan."
"Aku tidak tahu apakah ada undangan lain?"
"Kalian bisik-bisik ada apa sih?" tegur Umi Hamzah halus. "Kamu lagi Riri, bukannya segera salim sama orang tua."
"Biarkan saja, Umi," sahut Bu Haikal tersenyum. "Namanya anak muda, bisik-bisik tetangga sudah biasa."
Mereka tertawa lembut.
"Kan antri nunggu Umi," dalih Riany. "Umi lama banget cipika cipiki."
"Umi kangen sekali, sudah lama tidak bertemu. Beliau ini sahabat Umi sewaktu gadis."
"Sungkem aku buat Ibu," kata Riany sopan sambil mencium tangan Bu Haikal. Padahal dia ingin bilang, "sungkem calon menantu buat ibu mertua."
"Anakmu ini cantik sekali, Umi," puji Bu Haikal. "Aku baru lihat dari dekat."
Riany tersenyum manis. "Kalau dari jauh jelek ya, Bu?"
"Kamu tidak seperti bulan. Dilihat dari jauh indah, tapi dari dekat...banyak kerikilnya."
Bu Haikal dan Umi Hamzah tertawa. Al hampir tak percaya melihat bagaimana hangatnya Ibu menyambut keluarga pesantren. Barangkali saking kuatirnya suami terperangkap ranjau Fatimah sehingga melupakan permusuhan yang ada.
Dari pertemuan itu Al tahu siapa Harbi sebenarnya.
Bangsawan Arab itu ternyata cuma calon pura-pura. Kedatangannya dari Saudi sengaja untuk jadi benteng keluarga pesantren. Abi Hamzah sudah kehabisan alasan untuk menolak orang-orang yang datang melamar Riany.
Kecantikan puteri bungsunya jadi magnet yang dapat menghilangkan perbedaan yang dikumandangkan.
Penolakan Abi Hamzah itu justru menanamkan duri-duri baru sehingga kian runcing hubungan pesantren dengan warga. Banyak orang sakit hati, salah satunya Ben Muzakir.
Pemuda itu tidak segan-segan menunggangi agama untuk membalas sakit hati. Setiap peristiwa digoreng jadi indoktrinasi yang tak terbantahkan. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran.
Ben Muzakir tidak asing bagi Al. Musuh bebuyutan sewaktu kecil. Al benci orang kaya yang sombong, sedang Ben Muzakir benci orang miskin yang so pahlawan.
__ADS_1
Dia pandai sekali mengompori anak kampung lain, sehingga anak kampung ini hilang kebebasan untuk bermain.
Kebencian Ben Muzakir semakin menjadi-jadi karena kalah lomba memanah. Berkali-kali terjadi tawuran di batas kampung karena dia ingin merebut ratu kecilnya.
Ben Muzakir adalah anak kepala dusun dan memiliki pesantren.
"Bagaimana mungkin," desis Al kaget. "Ayahnya adalah rentenir kelas kakap."
"Begitu juga aku kepadamu," jawab Riany syahdu. "Bagaimana mungkin raja kecilku yang terkenal sangat nakal jadi idola kampung karena ketaatan pada khaliknya."
"Idola kampus juga."
"Sombong."
"Ngasih tahu aja."
"Ayah Ben mendapat hidayah," jelas Pak Haikal. "Konon berguru di Turki dan pulang mendirikan pesantren."
"Konon?"
"Orang kampung tidak ada yang tahu pasti kebenarannya."
"Kan ketahuan dari ilmunya."
"Dia tidak pernah berdakwah. Kyai Rojali yang aktif. Yang jadi aktor utama berdirinya pesantren itu."
"Ben sendiri?"
"Belajar Islam dua tahun di Masjid Nabawi," sahut Riany. "Kebetulan aku sering jumpa."
"Kayak kamu sama Lin Wei?"
"Mulai deh."
"Tidak enak kan dicurigai?"
Pulang dari Madinah, Ben Muzakir jadi tokoh muda papan atas di kampung sebelah. Namanya selalu disebut di setiap acara pengajian, perayaan hari besar atau kegiatan agustusan.
Kedudukan yang terhormat itu diperoleh karena kedermawanannya. Sejak kecil dia terkenal sangat royal. Ayahnya seakan tidak pernah kehabisan uang. Konon punya saham di beberapa perusahaan publik, tidak lagi jadi rentenir karena sudah punya pesantren.
"Bagaimana Kyai Rojali bisa jadi pimpinan pesantren di kampung Ben?" tanya Al. "Padahal banyak kyai di kampung itu."
"Kyai Rojali banyak pengikutnya di kampung ini," sahut Pak Haikal. "Ben ingin manfaatkan ketenaran beliau untuk menjatuhkan pesantren Abi sampai Riany bersedia jadi istrinya."
Kebencian Ben Muzakir membuat ilmunya dari Madinah sia-sia belaka.
Dari undangan makan malam itu Al tahu kalau di antara Ayah dan Abi Hamzah ada perjanjian yang menurutnya bukan sekedar ingin mempererat tali kekeluargaan, lebih didasari untuk memperbaiki hubungan pesantren dan orang kampung.
Perjanjian itu sudah ada sejak Al dan Riany duduk di bangku kuliah.
"Maka itu Abi menolak setiap lamaran yang datang," kata Abi Hamzah. "Ada janji yang mesti ditepati."
"Aku sudah minta cah bagus ta'aruf sama Vidya," komentar Bu Haikal. "Tapi syukurlah tidak kejadian."
"Aku malah tidak tahu kalau Harbi cuma calon pura-pura," keluh Umi Hamzah. "Jadi aku sering mengingatkan puteriku agar menjaga jarak dengan Al, yang justru calon sebenarnya."
__ADS_1
"Maka itu sebelum bola menggelinding semakin liar, perlu kusampaikan hal ini," sahut Pak Haikal. "Dan tidak perlu semua orang tahu."
"Ayah mulai main rahasia-rahasiaan ya sama Ibu?"
"Habis kamu suka ember ke ibu-ibu pengajian."
"Abi juga mulai tidak terbuka ke Umi."
"Habis kamu suka bikin pengumuman."
Mereka tertawa bahagia. Al dan Riany saling pandang sekilas membiarkan ayat-ayat cinta bersenandung di hati.
"Jadi kamu sudah tahu semua ini?" tanya Al pelan.
"Aku tahu Harbi cuma calon pura-pura," bisik Riany merdu. Wajahnya bergelimang bahagia. "Tapi aku tidak tahu kalau kamu adalah calon imamku."
"Doa-doamu termakbulkan, anakku," kata Umi Hamzah terharu. "Sujud-sujud malammu terjawab."
"Doa apa?" tanya Bu Haikal ingin tahu.
"Meminta kepada Sang Pemilik Cinta agar menjadikan Al Farisi sebagai calon imam yang terbaik dari yang pernah ada."
"Umi," tegur Riany halus. "Riri kan malu."
"Sekarang tidak boleh ada rahasia lagi."
"Tapi Al masih ada rahasia ke aku."
"Rahasia apa?" toleh Al tidak mengerti.
"Kamu belum cerita tentang teman-teman gadismu. Aku baru tahu Lin Wei."
"Bisa berbusa kalau cerita," senyum Al samar. "Nanti dibukukan."
"Mereka berdua kelihatannya sudah siap ta'aruf," potong Pak Haikal. "Bagaimana menurut Abi?"
"Perlu disegerakan."
Jadi Nidar dan Irma hadir malam ini untuk keperluan ta'aruf, pikir Al senang. Untuk jadi pendamping selama proses ta'aruf.
Nidar dan Irma turut bahagia atas peristiwa yang di luar dugaan ini. Surprise terindah bagi keluarga besar pesantren dan warga kampung.
"Agenda ta'arufnya yang seru-seru ya, Al," gurau Nidar. "Dubai, Paris, Roma, terakhir sujud syukur di Nabawi dan Haram."
"Pendamping ini usulan Ayah atau Abi?" tanya Al ke mereka.
"Kesepakatan kami berdua," sahut Pak Haikal. "Tidak cocok?"
"Aku kuatir Nidar dan Irma bukan mengawasi, malah ikut ta'aruf."
Mereka tertawa. Makan malam sungguh nikmat. Al kira bukan karena lezatnya masakan orang rumah, tapi karena malam yang penuh kemuliaan.
Al tahu bahagia ini disertai tanggung jawab besar. Dia jadi tumpuan untuk menjembatani perdamaian antara orang kampung dan pesantren.
Tantangan paling berat tentunya datang dari masa lalu, Ben Muzakir. Tapi Al tidak menyangka kalau tanggung jawabnya dimulai dari malam ini....
__ADS_1