
Lukman Firmansyah. Teman main Al sejak kecil tapi sering luput dari perhatian, karena orangnya jarang bicara. Kalau dibukukan, kata-kata yang keluar dari mulutnya hingga hari ini mungkin belum sampai satu jilid.
Lukman satu-satunya teman kecil Al yang kaya raya, dari keluarga rendah hati dan dermawan.
Lukman sering di-bully karena lidahnya cadel. Al adalah pelindungnya. Dia tidak suka mereka main fisik. Merendahkan Yang Menciptakan.
Karena takut di-bully, Lukman jadi jarang bicara. Kebiasaan ini terbawa sampai dewasa. Jadi laki-laki pendiam.
Al hampir tidak ingat Lukman pergi umrah kalau tidak tinggal satu kamar. Tapi mulutnya saja jarang bicara. Tangan rempong habis. Chatting siang malam. Entah sama siapa.
Ketika Al masuk kamar, Lukman berdiri dekat jendela kaca, memperhatikan keramaian di Masjidil Haram. Sebentar-sebentar melihat handphone seperti menunggu balasan. Kelihatan gelisah.
Lukman cuma menoleh sekilas ketika Al meletakkan kantong belanjaan di meja.
"Tin sama ajwa," kata Al. "Kalau mau ambil saja."
"Terima kasih."
Sekali lagi Lukman melihat layar handphone. Dia mengetik sesuatu. Al tidak peduli lagi, mengambil bantal lalu tidur bersandar.
Al butuh bangun cepat, maka itu mengambil posisi yang kurang nyaman. Kalau tidur terlentang seperti Nidar, dia kuatir kasur empuk melalaikan dari kewajiban, telat Dhuhur. Dia harus datang satu jam lebih awal kalau ingin shalat di areal thawaf.
Ketika Al bangun, Lukman masih berdiri dekat jendela sibuk dengan ponselnya. Nidar tidur pulas.
Al pergi mandi. Hangatnya air shower menyegarkan badan, kemudian mengambil handuk di towel rack, mengeringkan tubuh, dan keluar.
Setelah rapi berpakaian, Al meniup kuping Nidar, kebiasaan membangunkan kalau temannya ketiduran di dangau.
Nidar bangun. "Telat ya?"
"Siap-siap."
Nidar turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Sementara Al mengambil botol zam zam di meja dan meneguknya. Menyantap ajwa tiga biji. Minum lagi.
Riany sampai kuatir Al jarang makan. Tapi dia yakin dengan apa yang disantap di kota penuh berkah ini. Nasi Bukhari bagiannya mampir ke perut Nidar. Temannya yang satu itu berperut karung.
Nidar adalah orang yang paling sedikit membawa uang, buat beli oleh-oleh saja tidak cukup. Tidak ada persiapan. Al tidak membiarkan temannya kekurangan.
"Putri Hassa," gumam Lukman sambil memandang ke luar jendela kaca.
Putri Hassa adalah anak bungsu Raja Salman dari istri pertamanya Sultana, yang mewarisi kecantikan khas Arab.
"Lagi melek mengigau," sindir Al. "Istighfar."
"Setiap kata-kataku diakhiri istighfar."
"Masya Allah."
"Baarakallahu laka fiih." Lukman membaca chat masuk, mengetik balasan sebentar, lalu matanya terlempar lagi ke luar jendela. "Putri Hassa minggu ini pulang dari Avenue Foch Paris."
"Minta ussie bareng?"
"Putri Hassa tidak singgah di Haram."
"Singgah di HP-mu?"
"Ya."
"Chatting-an?"
"Ya."
"Amazing."
"Putri Hassa dosen di King Fahd University."
"Tahu."
__ADS_1
"Aku kuliah di situ."
"Tahu."
"Ada tugas buat mahasiswanya."
"Nah, ini aku tidak tahu. Tugas jadi raja gombal?"
"Kau tahu aku tidak pandai merayu."
Dan ingin mendapatkan Putri Hassa, pikir Al. Mimpi kali. Kau itu cuma pangeran dari kampung.
Al kuatir Lukman berfantasi dengan Putri Hassa, lalu kirim chat rayuan karena dia pandai menulis kata-kata indah, tidak sadar kalau yang dikirim chat adalah putri raja. Maka itu dia gelisah. Atau Lukman berfantasi dengan Riany? Putri Hassa cuma untuk mengelabui curiganya?
Riany kelihatan lebih seksi dan natural pesonanya dengan dandanan ihram tanpa niqab.
Astaghfirullah, pekik Al. Pada tanah yang suci ini, dia telah mengotori pikiran dengan keindahan calon istrinya, dan berprasangka buruk pada Lukman. Banyak sekali dam yang harus dibayar.
Tapi curiga itu susah hilang semenjak Al resmi jadi calon imam Riany, karena gadis itu belum bercerita apa-apa tentang Lukman.
Riany dan Lukman satu sekolah dari SD sampai SMA, sekolah khusus orang kaya karena bayarannya selangit, dan mereka sahabatan. Kuliah baru pisah tapi masih satu negara. Riany di Madinah, Lukman di Riyadh.
Al pertama kali melihat Lukman saat manasik. Sebentar saja karena Lukman banyak keperluan.
Dua sahabat itu kini bertemu tiap hari di lantai 33 Makkah Clock Royal Tower.
"Cah bagus," panggil Oma dari luar kamar.
"Ya, Oma." Al berjalan ke pintu kamar.
"Buat makan siang aku pesan nasi mandi dua porsi," kata Nidar selesai memasang sorban di kepala, membuntuti Al. "Kamu makan siang nanti?"
"Tidak."
"Lah, nasi mandinya?"
Al mengeluarkan uang 1.000 riyal dari kantong gamis, diserahkan ke Nidar. "Pesan apa yang kamu suka. Kalau tidak pesan, menunya monoton."
Al membuka pintu. Di luar sudah menunggu rombongan.
"Lukman mana?" tanya Riany.
Al menoleh ke dalam kamar, Lukman keluar dari kamar mandi habis gosok gigi, sudah rapi berpakaian.
"Riany minta bareng," kata Al.
"Selama ini selalu bareng." Lukman berjalan keluar kamar. "Kamu saja tidak sadar."
"Belum tidur?" tanya Riany.
"Susah."
"Aku tidak tanggung jawab kalau sakit."
"Lagian siapa yang minta tanggung jawab?"
"Terus cari dokter sendiri?"
Karena sibuk menemani Oma, perhatian Al kurang buat rombongan, khususnya mereka. Dia tidak menyangka mereka sangat akrab. Tidak canggung meski ada dirinya. Riany tak habis-habisnya menceramahi Lukman sepanjang jalan ke Masjidil Haram. Perhatian yang belum pernah didapatkannya.
Rombongan tidak memaksakan diri untuk thawaf sunah di terik matahari. Mereka shalat tahiyyatul masjid di kawasan pintu Ismail yang sangat ramai. Dari pintu ini datangnya mayit yang hendak dishalatkan. Mereka senang berebut mengangkat mayit, terutama yang mati syahid.
Rombongan pasti protes kalau tahu pintu itu tempat datangnya mayit. Di kampung, jangankan berlomba mengangkat mayit, keranda lewat halaman saja langsung masuk rumah, takut.
Entah mementingkan rombongan atau ada Lukman di sisinya, Riany memilih shalat tahiyyatul masjid dengan dijaga Lukman dan Irma karena banyak orang lalu-lalang. Kepala bisa terinjak pas sujud kalau tidak dihalangi.
Oma ikut Al pergi ke areal thawaf. "Pahala thawaf lebih besar karena lebih berat dari tahiyyatul masjid."
__ADS_1
Terik matahari menikam kepala di saat thawaf. Setiap putaran Oma minum zam zam. Ada yang membawa payung atau menudungi kepala dengan sorban. Kepala Al dibiarkan tidak terlindungi.
Dalam panasnya matahari, telapak kaki Al terasa dingin menyentuh lantai thawaf dari marmer thassos berwarna putih kristal.
Marmer ini didatangkan dalam bentuk bongkahan dari Yunani Utara, lalu diolah oleh para ahli jadi marmer thassos berkualitas tinggi, bisa memantulkan panas.
Manakala berkumandang adzan, Al mengantarkan Oma ke pintu Ismail bergabung dengan rombongan. Meski Dhuhur tidak lama karena baca surah-surah pendek, Oma tidak sanggup terpanggang matahari.
Al melanjutkan thawaf sunah. Saat iqamah berkumandang, dia kebagian di rukun Yamani.
Selesai shalat Dhuhur, lanjut shalat mayit. Al menyemprot kepala dan wajah dengan air zam zam lalu takbir. Shalatnya tidak seperti shalat Umar bin Khattab yang mampu mengakhiri dua rakaat Subuh tanpa merasakan 6 tikaman pisau bermata dua. Al merasakan panasnya matahari.
Habis shalat, Al menyentuh rukun Yamani, berdoa lirih, "Ya Allah, khusyu'ku bukan khusyu'nya para ambiya, sahabat, tabi'ut tabiin, kyai, ustadz. Kalau tidak Engkau terima shalatku selama ini, maka celakalah aku."
Al segera bangkit karena orang-orang sudah mulai thawaf lagi. Dia ikut thawaf dengan langkah setiap putaran makin menjauh dari Ka'bah sehingga tidak susah keluar. Lalu mendatangi pintu Ismail dan menemukan Oma mengaji di antara perempuan Hindustan. Riany dan rombongan tidak ada.
Al tidak berani masuk karena spot perempuan ramai. Oma mengakhiri bacaan. Dia mendatangi cucunya sambil mendekap Al-Qur'an.
"Riany pamit barusan, katanya tidak bisa menemani, kurang istirahat dan belum makan siang."
Al sempat melihat Riany pergi bersama Lukman. Dia tidak melihat rombongan. Barangkali pergi duluan.
"Riany ingin menunggu kamu, tapi Lukman lapar katanya. Jadi dia ikut pulang. Dia kelihatan capek sekali."
"Laporannya tidak usah lengkap-lengkap, Oma. Tidak ada pahalanya."
"Siapa bilang?"
Al tersenyum sedikit.
"Oma kepingin khatam Al-Qur'an di Masjidil Haram, kau tidak keberatan kan, cah bagus?"
"Tidak."
"Nunggu di mana?"
"Kita pindah ngajinya di pilar hijau."
"Betul, cah bagus. Kalau ngantuk tinggal pergi ke keran zam zam."
"Kalau ngantuk ya istirahat, Oma. Tiap habis shalat cukup satu juz. Banyak waktu."
"Oma ingin khatam dua kali, cah bagus."
"Jaga kondisi."
"Capek ya menemani Oma?"
"Tidak."
"Zam zam dan 7Days membuat Oma bugar."
"Hakekatnya Allah."
"Pasti."
Mereka berjalan di lorong spot yang tidak terlalu ramai, kemudian duduk di kawasan pilar hijau. Oma mulai mengaji. Al mengaktifkan handphone dan mengaji pula.
Berkumandang syahdu suara orang mengaji dengan berbagai naghoom; bayati, shaba, hijaz, nahawan, rast, jiharkah, dan sika. Naghoom populer di berbagai bangsa.
Naghoom bagi Al tidak penting, tajwid dan makhraj yang diutamakan. Tapi tidak lebay juga, dia tidak pakai langgam pelog atau salendro. Apa kata dunia?
Wayang golek saja ada pakemnya. Apa jadinya suara Semar diganti suara Bon Jovi, atau suara Gatotkaca diganti suara Lady Gaga. Benar memperkaya khasanah, tapi parah habis.
Kecuali Nabi lahir di Pantura, Al gunakan langgam jaipongan atau dangdut. Nama suratnya Wangsit Pajajaran, Goyang Dombret, dan Secangkir Kopi.
Astaghfirullah, pekik Al. Gara-gara Lukman otakku jadi somplak!
__ADS_1