Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 21


__ADS_3

Al melajukan mobil lambat-lambat dan menghidupkan lampu sen, lalu belok memasuki halaman masjid raya. Dia berbalik arah sebenarnya bukan karena bising mendengar kicauan mereka, ada kejadian yang menarik perhatiannya di sudut serambi masjid. Matanya melihat ada sesuatu yang mencurigakan.


Lamborghini parkir di ujung halaman dekat gerai bakso yang cukup ramai didatangi pengunjung. Al segera turun membukakan pintu untuk Riany.


"Laki-laki yang sangat memuliakan perempuan," komentar Irma. "Harbi saja tidak pernah."


Nidar yang membiarkan Irma membuka pintu sendiri merasa tersindir. "Jadi aku merendahkan perempuan karena tidak membukakan pintu?"


"Kamu tidak tahu tata krama! Egois!"


"Antara memuliakan perempuan dan sopir pribadi beda tipis ya?"


"Ibarat motor, kamu cuma pengen menunggangi saja, tidak mau merawatnya."


"Kapan aku menunggangi kamu?"


"Ngerti ibarat nggak?!"


"Ibaratnya jangan membuat KPI gerah."


"Bangsawan Arab tidak tahu cara memanjakan perempuan," kata Al. "Jadi wajar Harbi tidak pernah membukakan pintu."


Riany tidak suka Al bicara berbau rasis. "Jangan menghakimi suatu bangsa sebelum kamu tahu kehidupan mereka yang sebenarnya. Kamu orang terpelajar. Jangan permalukan intelektualitas kamu."


"Jadi dapat ceramah deh."


"Belajar cerdas kalau tidak mau diceramahi."


"Kamu makin jutek saja sejak ketemu Lin Wei."


"Riany memandang tajam. "Kamu mau bilang aku jealous?"


"Yang bilang kamu jealous siapa?"


"Lalu maksudnya apa ngomong Lin Wei di depanku?"


"Aku menyesal membukakan pintu."


"Aku cuma ingin ngasih tahu, bangsawan Arab banyak yang pandai menghargai perempuan."


"Jadi kamu ta'aruf ke setiap bangsawan Arab?"


"Jangan asal."


"Bagaimana kamu tahu kebiasaan mereka?"


"Caranya seperti kamu tahu tentang Aisyah, Lin Wei, Wulandari, Hellen, Pricillia, Kelly, dan siapa lagi yang aku belum kenal?"

__ADS_1


"Kok bisa hapal ya?"


Riany menatap sekilas lalu pergi ke gerai bakso menyusul Irma dan Nidar. Al tidak mengikutinya.


Riany berhenti dan menoleh. "Kamu tidak jajan?"


"Aku nyusul nanti."


Al berjalan ke arah berlawanan. Wajahnya sesekali terciprat cahaya blitz kamera handphone dari gadis remaja yang sibuk ussie. Ibu-ibu tidak ketinggalan, malahan lebih heboh. Di jamannya belum ada gadget, balas dendamnya sekarang.


Al berhenti di sudut serambi. Matanya beredar ke pengunjung yang duduk membentuk kelompok kecil di beberapa tempat. Sosok yang dicari tidak ada.


Al mengayunkan kaki menelusuri serambi sampai ujung. Matanya mencari ke setiap bagian serambi. Orang itu tidak ditemukan. Curiganya makin kental.


Al melanjutkan langkahnya memasuki koridor sempit menuju ke bagian depan masjid dengan rasa penasaran yang memuncak. Suasana remang-remang disinari cahaya lampu yang temaram.


Al berlari ketika mendengar ada suara ribut-ribut di depan masjid. Curiganya benar. Seorang perempuan bercadar lagi dikerubungi tiga orang santri. Tas wanita itu ditarik-tarik secara paksa oleh santri yang berbadan atletis. Fatimah!


"Assalamu'alaikum," sapa Al.


Mereka spontan menghentikan aksinya. Tidak ada yang menjawab salamnya, kecuali Fatimah. Wanita itu berlari ke arahnya dan berlindung di belakang.


Al heran bagaimana Fatimah bisa berada di masjid ini. Barangkali dia singgah sholat Maghrib. Habis dari mana wanita itu? Apa mungkin melakukan perjalanan seorang diri?


Fatimah bukan perempuan yang berani bepergian tanpa muhrim. Dia biasanya membawa anak atau asisten rumah. Kadang bersama istri pertama almarhum kalau berangkat sholat ke masjid pesantren.


"Wa'alaikumussalam," jawab Al menyindir.


"Jangan ikut campur urusan orang."


"Urusan apa?" tanya Al tenang.


"Perempuan itu mencuri uang kotak amal," sambar santri kerempeng. "Kamu ingin melindungi orang bersalah?"


"Aku butuh bukti kalau wanita ini bersalah."


Fatimah mengadu, "Aku tidak mencuri. Aku habis dari toilet. Mereka datang dan menuduh tanpa bukti. Kemudian mereka membawa aku ke tempat sepi ini."


"Aku percaya."


Al sudah sering melihat modus seperti ini. Menuduh orang lain maling lalu diproses di tempat sepi, tujuannya untuk memeras dan merampas barang berharga.


Mereka sengaja berpakaian santri untuk mengelabui orang di sekeliling. Menggunakan atribut agama untuk tindakan kriminal adalah kejahatan serius karena dampaknya sangat luas. Masyarakat jadi tidak percaya dengan orang yang berpakaian agamis. 


"Kita selesaikan masalah ini baik-baik," kata santri bersorban yang bergaya paling kalem.


"Masalah apa?"

__ADS_1


"Kupingmu gembul ya," sergah santri atletis. "Apa kamu tidak mendengar kata temanku tadi? Perempuan itu maling."


"Kenapa tidak diselesaikan di sekretariat?"


"Di sekretariat banyak orang," sahut santri bersorban. "Aku ingin menjaga kehormatan wanita itu."


Al meledek. "Di suasana sepi dan remang-remang? Kalian santri apa tamu PSK?"


"Cari gara-gara," geram santri atletis. "Ada yang mau jadi pahlawan rupanya."


Al mengangkat sudut bibirnya sedikit. "Badan besarmu tidak membuat aku takut. Aku curiga tasbih itu cuma modus."


"Kurang ajar!"


Santri atletis mengirimkan tendangan belakang secara tiba-tiba, Al sambut dengan tendangan serupa. Dua kaki bentrok di udara. Disaat santri itu meringis kesakitan, dia susul dengan tendangan lurus dan mendarat dengan telak di dadanya. Santri itu terjengkang dan terhempas ke rumpun bunga.


Santri kerempeng datang menyerang. Al hadang dengan tendangan gantung ke dagu. Santri itu terpelanting dan menimpa santri atletis yang bergerak bangun. Santri atletis kembali terjerembab dengan tubuh tertindih oleh santri kerempeng.


Santri yang paling kalem melepaskan sorban. Dibelitkan di tangan menyerupai sarung tinju, lalu kaki dan tangan bergerak lincah meniru gaya petinju. Al mengikuti gerakannya dengan gaya yang berbeda. Santri itu tampaknya menunggu serangan. Al mengayunkan tendangan sabit ke pinggang, dapat ditangkis. Kemudian mengirim tendangan tusuk ke dada, menghantam angin. 


Al melayangkan tinju ke mukanya secara beruntun, dapat diblok. Penasaran dia melompat ke udara dan melepaskan tendangan lengkung ke kepalanya. Tangkisan santri itu tidak dapat menahan derasnya hantaman kaki. Dia terhuyung. Al sambut dengan tendangan jejag. Santri itu jatuh terkapar. 


Kedua temannya sudah bangun berdiri. Al tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk bernafas dengan mengirimkan tendangan belakang secara beruntun. Mereka sempoyongan dan jatuh tergeletak. Dia injak leher santri atletis sehingga tubuhnya kelojotan sulit bernafas.


"Cukup!" Sebuah seruan yang berat dan berwibawa menghentikan aksi Al. Pria separuh baya bergamis menatapnya dengan sinar mata melumpuhkan emosi. Dia datang bersama Nidar, Riany, dan Irma. "Kendalikan emosimu, anak muda."


"Santrinya Kyai?" tanya Al.


Kyai mengamati ketiga santri yang babak belur itu, lalu menggeleng. "Mereka musafir yang singgah."


"Mereka copet berkedok musafir, Kyai." Al mencengkeram kerah baju santri atletis dan mengangkatnya untuk berdiri. Matanya memandang lekat-lekat. "Kamu sudah kuhabisi seandainya negeri ini adalah negeri barbar. Jangan sampai kita bertemu untuk kedua kali sebelum kamu sempat bertobat."


"Sabar, anak muda," kata Kyai. "Kita selesaikan secara baik-baik."


"Saya paling benci kepada orang yang memakai atribut agama sebagai kedok kejahatan, agama apapun."


Kya tersenyum teduh. "Saya paham, biar saya urus."


Al melepaskan cengkeraman tangannya.


Kyai berkata ke Fatimah, "Baiknya ustadzah ke kantor DKM. Saya ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya."


"Baik, Kyai."


"Lagi pula, Pak Haikal sudah menunggu di kantor."


Al terpukau. Semua pandangan bergulir ke arahnya. Ada kekhawatiran di mata Fatimah. Al sudah menduga perempuan bercadar itu tidak bepergian seorang diri. Sudah sejauh itukah hubungan mereka?

__ADS_1


Fatimah jadi gugup. "Aku bisa jelaskan. Semua tidak seperti yang ada di pikiranmu...."


__ADS_2