
Umi mengetuk pintu kamar Riany, dan berkata, "Makan dulu."
"Ya," sahut Riany sambil berjalan ke pintu.
"Ditunggu."
"Ya." Riany membuka pintu kamar.
"Suami kamu mana?"
"Aku sama Al masih kenyang, Umi."
"Makan apa kalian masih kenyang? Dari pagi belum makan apa-apa."
Riany tersenyum manis. "Makan cinta."
Umi tidak melayani candanya. "Kamu sakit nanti kalau telat makan."
"Iya, Umi." Riany menoleh ke dalam kamar. "Beb, makan dulu."
Al merapikan berkas laporan keuangan dan bangkit dari sofa. Mereka pergi ke ruang makan. Keluarga dan ketiga gadis dari Yogya sudah menunggu di meja makan.
"Perasaan aku waktu pengantin baru tidak begitu-begitu banget," sindir Dinar. "Memangnya tidak bosan mengurung diri di kamar?"
Dinar adalah kakak ketiga Riany yang paling usil kepada adiknya. Barangkali karena selisih usia mereka hanya dua tahun jadi tampak seperti sahabat yang saling mem-bully setiap ada kesempatan.
"Waktu gadis saja hobinya diam di kamar," kata Umi. "Apalagi sekarang ada temannya, tidak keluar-keluar kalau tidak Umi panggil."
"Bagaimana istrimu bikin teh hijaunya, sukses tidak?" tanya Dinar pada Al yang mengambil tempat duduk di hadapannya bersama Riany. "Cari sendok sama cangkir hampir tidak ketemu tuh kalau tidak aku bantu."
"Kakak yang satu ini kepo banget deh," gerutu Riany. "Dulu ngidam apa sih, Umi? Petasan? Jadi dar der dor tuh mulut."
"Biar suami kamu tahu kalau istrinya disuruh cari bawang putih saja malah ngambil bawang bombay."
"Terus saja jelek-jelekin aku."
"Habis yang bagusnya tidak ada."
"Adik bertiga ini bisa masak?" tanya kakak sulung pada Aisyah dan kawan-kawan.
Mereka menjawab serempak, "Tidak, Kak."
Kakak sulung tersenyum. Kids jaman now jarang yang pintar memasak. Mereka sering ambil gampangnya saja. Perut lapar tinggal pesan online atau makan di luar. "Bisa masak itu perlu supaya suami terbiasa makan masakan rumah. Jadi kebiasaan nanti kalau sering pesan online atau makan di luar. Lama-lama tidak betah di rumah."
"Iya, Kak," sahut mereka serempak.
"Pulang dari sini aku langsung belajar masak," kata Aisyah. "Jadi sudah siap kalau punya suami."
"Harus itu," tukas Lin Wei. "Kemudian kamu Wulan, terakhir aku."
"Belajar masak kok antri?" potong Umi tersenyum. "Memangnya beli karcis?"
Umi tidak tahu kalau ketiga gadis itu adalah perongrong kebahagiaan anak bungsunya nanti, pikir Al hambar. Mereka ingin berumah tangga dengan menantunya, dan mereka bersabar menunggu sampai Al membuka pintu hati
Sungguh dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran mereka. Ketiga bidadari itu tidak berhati jahat, namun ada keanehan dengan cintanya. Mereka tidak berusaha menjebak dengan segala pesona yang dimiliki, hanya menanti kedatangan Al dengan cintanya.
__ADS_1
Al jadi ingin tahu sekokoh apa keteguhan hati mereka jika dia bertahan dengan cintanya? Adalah konyol kalau mereka menjomblo sampai tua karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Tapi adakah insan yang hebat di depan cinta?
"Kamu sudah siapkan barangmu untuk berangkat besok?" tanya Umi kepada puteri bungsunya.
"Sudah, Umi."
"Biasanya Surti yang suruh beres-beres," ledek Dinar. "Apa karena ada suami? Pencitraan?"
"Orang kan tidak harus seperti biasanya, dan bisa berubah seiring berjalannya waktu."
"Adikku sudah mulai bisa berucap bijak," puji kakak sulung. "Barangkali karena tekanan suaminya."
"Ya iyalah pasti ada tekanan," sambar Dinar. "Apa jadinya malam pengantin kalau tidak ada tekanan? Main bola saja tidak seru kalau tidak terjadi gol!"
Di antara ketiga saudaranya, Dinar adalah kakak yang paling berani bicara menyerempet lembaga sensor. Dia bahkan tidak malu-malu untuk bercerita kepada keluarga tentang pengalaman pertamanya. Abi dan Umi kadang sampai geleng kepala.
Nah, orang yang paling pemalu dan tidak banyak bicara adalah kakak kedua. Irit sekali mengeluarkan suara kalau tidak penting sekali, atau ada yang bertanya. Tapi hampir tiap tahun melahirkan, maka itu anaknya paling banyak.
"Kak Fatimah itu perempuan langka," komentar Dinar suatu kali. "Bibir atas irit bicara, tapi bibir bawah boros!"
"Kamu atas bawah boros," balik Riany. "Baru dua tahun nikah, sudah mau punya dua."
Jika Fatimah diserang oleh saudaranya, maka Riany tampil sebagai pembela. Dia gatal melihat kakak keduanya itu hanya membalas dengan senyuman. Dipikirnya senyuman bisa membuat Dinar berhenti berkicau!
"Aku sama teman-teman boleh mengantarmu ke bandara, Ri?" tanya Aisyah.
Riany tersenyum. "Tentu saja boleh."
"Asyik," seru mereka senang.
"Oh ya, Al kan rencananya pergi ke Yogya naik kereta. Bagaimana kalau ikut kalian saja biar tidak ribet?"
Seumur-umur Al belum pernah naik mobilnya. Sampai berbusa mulutnya menawari, pemuda itu tetap jalan kaki. Nah, sekarang ada kesempatan emas, bagaimana dia tidak bahagia?
Al sendiri menganggap Riany sudah melakukan kesalahan besar dengan memintanya pergi ke Yogya bersama mereka. Perjalanan yang tidak sebentar membuat mereka leluasa menciptakan kesempatan. Dia bukan lelaki hebat yang dapat memberi jaminan untuk tetap setia di kancah cinta bidadari selama berjam-jam!
Barangkali Riany berpikir mereka tidak akan mengganggu Al karena sudah jadi suaminya. Dia terlalu menganggap remeh situasi. Mereka justru mendapat peluang untuk jadi calon berikutnya setelah calon pertama resmi menjadi istri!
"Kamu tidak cemburu aku pergi bersama mereka?" tanya Al separuh protes, ketika mereka sudah kembali ke kamar.
"Tentu saja aku sangat cemburu," sahut Riany sambil duduk di sofa bersama suaminya. "Pikirmu siapa yang tahan suaminya pergi bersama perempuan lain?"
"Lalu kenapa kau berkata begitu di depan mereka?"
"Mereka adalah tamuku."
"Jadi karena mereka tamu istriku lantas membiarkan suaminya dibawa pergi?"
"Aku percaya kamu tidak akan mengkhianati aku."
"Kita tidak perlu menikah dini kalau sejak dulu kamu menaruh kepercayaan padaku."
"Kamu menyesal kita menikah muda?"
"Aku tidak ada di kamar ini kalau menyesal. Kamu tidak melihat tatap mata keluargamu karena selesai makan kita langsung pergi ke kamar? Aku ingin mengobrol sebentar dengan mereka, kamu mengajak pergi dari meja makan."
__ADS_1
"Kamu banyak kesempatan mengobrol selagi makan."
"Aku tidak biasa ngobrol sambil makan."
"Kenapa kamu tidak menegur aku kalau tidak suka melihat istrimu bercanda di meja makan?"
"Aku tidak berharap kamu mengikuti semua kebiasaanku. Aku cuma ingin kamu tidak buru-buru pergi dari meja makan."
Al serasa ditelanjangi mukanya melihat sinar mata yang penuh arti itu. Dinar apalagi. Dia seolah sangat maklum mereka buru-buru masuk kamar. Mereka ingin berpesta kenikmatan karena besok akan berpisah. Padahal pesta apa!
"Sengaja," sahut Riany acuh tak acuh. "Aku senang lihat mata Dinar seakan kita ini tidak ada capeknya."
"Lagi capek kenapa? Mereka harusnya curiga melihat kita segar bugar."
"Justru itu Dinar curiga. Dia pasti minta ramuannya padaku sebelum pergi ke Madinah."
"Ramuan apa?"
"Kamu ini tidak mengerti apa pura-pura bodoh? Menurutmu pengantin baru mengurung diri di dalam kamar, apa yang dilakukan? Main ular tangga?"
"Kita kan tidak main ular tangga atau main congklak, bagaimana bisa capek?"
"Kita jelaskan juga Dinar pasti tidak percaya. Dia pasti minta ramuan padaku karena itu yang ditanyakan sama kakak-kakakku."
"Kamu tidak bosan apa mengurung diri di dalam kamar?"
"Aku ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersamamu sepuasnya," bisik Riany mesra. "Jadi kamu bosan, beb?"
"Aku selepas Dhuhur diajak Nidar menengok lahan untuk mendirikan koperasi."
"Oh ya, jadi kamu setuju mengucurkan dana?"
"Nidar cerita?"
"Itu ideku. Temanmu banyak yang kerja serabutan. Nah, mengapa mereka tidak mendirikan usaha bersama saja dan modalnya aku sarankan untuk pinjam sama kamu."
"Aku tidak meminjamkan uang."
Sinar mata Riany sedikit layu. "Kau tidak percaya pada teman-temanmu, beb? Mereka pasti kebingungan untuk cari pinjaman."
"Aku memberikan uang secara cuma-cuma kepada mereka atas nama Oma. Kamu keberatan aku tidak minta pendapatmu?"
"Kamu tidak perlu minta pendapatku untuk memberikan uang kepada siapapun, kecuali aku perlu minta persetujuan suami."
"Aku sebenarnya ingin bilang, tapi kecantikan wajahmu membuat aku lupa."
"Kau pandai menyenangkan hati istri. Pujian itu lebih bernilai dari kartu ATM yang kamu berikan."
"Aku hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya."
"Aku boleh ikut untuk melihat lahan?"
"Tamu kamu bagaimana?"
"Ya aku ajak. Mereka senang sekali kalau diajak ke alam pedesaan."
__ADS_1
Mereka sebetulnya senang karena istri pertama bersikap kooperatif, pikir Al kecut. Jadi mereka merasa ada peluang untuk menjadi calon berikutnya.
Entah kenapa, dia merasa keakraban Riany dengan mereka akan menciptakan masalah baru baginya.