Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 09


__ADS_3

Langit gelap tanpa bintang tapi malam bermandikan cahaya. Lampu jalan sepanjang trotoar bercengkerama dengan warna-warni cahaya lampu kristal dari rumah penduduk.


Al tiba-tiba saja rindu sinar obor, manakala pergi mengaji atau malam takbiran dimana obor berjejer di sepanjang jalan berkerikil. Kesyahduan yang tidak diperoleh pada warna-warni cahaya lampu listrik.


Al mengayunkan langkah dengan santai dalam gemerlapnya trotoar, ditingkahi bising kendaraan yang berseliweran di jalan raya.


Oma menghubungi Al sebelum shalat Maghrib untuk datang ke rumahnya. Dia sebenarnya ingin menemuinya di hari pertama berada di kampung. Tapi beliau berangkat ke Jakarta ada urusan bisnis, atau menghindari Jennifer yang datang menyambutnya?


 


Oma tidak akan kehilangan daya magis di matanya meski sudah tersisihkan dari kehidupan opanya. Jujur dia kecewa di usia setua itu Opa masih mengutamakan syahwat, bukan memikirkan bekal apa yang disiapkan untuk menempuh perjalanan abadi.


Opa sudah sewenang-wenang mengeksploitasi wanita dengan stempel halal. Al melihat ke arah itu karena betapa bergairahnya Opa saat berada di dekat Jennifer. Dia sudah memanipulasi sunah rasul untuk kepentingan syahwatnya.


Rumah omanya lumayan jauh. Al sudah biasa menempuhnya dengan jalan kaki. Lagi pula, dia ingin menikmati suasana malam di kampung yang telah jauh berubah.


Al merasa kehilangan harumnya rumpun ilalang yang tergantikan oleh aroma makanan dari deretan gerai kuliner. Sungguh malam yang menakjubkan dengan keramaian manusia di lesehan.


"Bawa mobil saja," kata ibunya sebelum berangkat. "Ada Lamborghini buat apa kalau tidak digunakan?"


Arya meledek, "Memangnya si Kakak bisa nyetir apa? Naik sepeda saja jatuh melulu."


"Jadi begitu adikku ya?" delik Al. "Mengingat-ingat kejelekan kakaknya?"


"Nyatanya begitu kan?"


"Begitu apa?"


"Tidak bisa nyetir! Nyetir mobil-mobilan bisa?"


Arya tahunya Al tidak bisa berkendara. Sewaktu kecil sepeda saja tidak punya. Dia kepingin sekali BMX untuk pergi sekolah, tapi tidak tega menyusahkan orang tua. Bisa saja minta sama opanya. Tapi ayahnya selalu kelihatan sedih jika Opa membelikan mainan bagus untuk Arya, yang tak mampu diberikannya. Maka itu Al memendam keinginan di hati.


Opa sebenarnya menginginkan Al kuliah di Oxford. Ilmu cuma dapat kulitnya kalau kuliah di universitas lokal. Al bersikukuh masuk universitas lokal yang kebetulan dapat ditembus lewat jalur undangan siswa berprestasi.


Menuntut ilmu ke negeri jiran pada hakekatnya hanya untuk branded dan prestise. Kualitas ilmu yang didapat tidak mutlak ditentukan oleh lembaga pendidikan, kegigihan belajar adalah paling utama. Hingga tidak aneh jika ada alumni lulusan universitas di California, pola pikirnya kalah oleh lulusan universitas di Kalideres.


Al tidak silau oleh alumni lulusan luar negeri, dia silau pada alumni dengan kualitas ilmunya.

__ADS_1


Kuliah di Oxford sudah jelas yang berperan adalah opanya. Biaya hidup yang mahal di Britania Raya pasti sangat memberatkan ayahnya. Hasil perkebunan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka yang tinggi dengan sedikit tabungan. Dia tidak mau ayahnya kehilangan harga diri.


Hidup mewah adalah sebuah tuntutan untuk mengimbangi gaya hidup keluarga ibunya, agar Ayah dan Ibu tidak terlihat menderita di mata mereka. Orang tuanya mulai bisa liburan ke luar negeri. Ibu dulu sering menolak diajak traveling oleh saudaranya ke negeri jiran, karena harus meninggalkan suami di rumah.


"Apa yang kalian ajarkan pada cucuku sampai berani menolak kuliah di Oxford?" Opa sempat menegur kedua orang tuanya saat mereka berkumpul di rumah yang berada di Yogya. "Aku itu mau memperbaiki masa depannya supaya tidak mengikuti jejak kalian."


"Aku mengajari anakku seperti apa yang Papa ajarkan padaku," sahut Ibu. "Menanamkan nilai-nilai yang aku terima."


Opa memandang tak berkedip. "Jadi kau ajarkan cucuku untuk menentang aku?"


"Menentang apa?" Ibu balas menatap sekilas. "Aku tidak pernah menentang Papa, kecuali soal Haikal karena untuk kebahagiaan aku selamanya."


"Sudahlah," suara Opa melemah. "Jangan bahas masa lalu. Aku sudah ikhlas. Tapi aku tidak mau kau kekang cucuku karena ketidakmampuan suamimu. Cukup kalian menderita. Jangan bawa-bawa cucuku."


Sekali ini Al ikut bicara karena menyangkut masa depannya. Dia tidak pernah turut campur urusan mereka, kecuali mereka membutuhkan pendapatnya.


"Semua ini demi kebaikan Opa juga. Opa tinggal terbang ke Yogya kalau kangen. Nah, kalau Al kuliah di Oxford, berapa banyak waktu yang terbuang cuma buat menghilangkan kangen?"


Al tahu opanya pasti tidak sempat berkunjung ke Yogya karena kesibukan bisnis. Nyatanya selama ini baru sekali datang. Tapi sekali juga sudah membuatnya kelimpungan. Dia terpaksa meminjam apartemen Aisyah, kebetulan orang tuanya lagi tidak ada. Opa tahunya Al tinggal di apartemen, bukan di asrama dengan fasilitas terbatas.


Aisyah membimbingnya belajar menyetir. Dia sering mentraktir makan di restoran mewah, bahkan setiap bulan membelikan pakaian kurta yang mahal, termasuk yang dikenakan saat ini.


Wulandari sukanya lesehan di Malioboro dan hampir setiap minggu mengajak jalan-jalan ke pantai Baron atau Parangtritis. Dia mengajarinya naik motor, dan sering mengajak nonton balapan liar.


Semua kebaikan itu tentu saja ada risikonya. Al babak belur mengerjakan tugas mereka. Padahal Aisyah beda fakultas, tetap saja ikut terlibat, menemani cari buku referensi dan bantu mengetik. Dia kadang berpikir, mereka benar-benar suka padanya atau cuma butuh otaknya.


"Dua-duanya," kata Wulandari jujur. "Maka itu kamu pilih motor apa mobil buat transportasi kuliah?"


Al menampik tawaran itu. Tidak enak sama orang tuanya meski sudah akrab. Lagi pula, dia belum punya SIM.


Jalan kaki. Itu kebiasaan sejak SD. Padahal lumayan jauh jarak asrama ke kampus. Dia tidak inferior sekalipun teman kuliahnya ganti-ganti kendaraan.


"Tar kaki melar kayak permen karet," canda Lin Wei setiap kali Al menolak pulang bareng. "Kenapa sih kamu tidak mau naik mobilku? Karena aku cebong ya?"


"Cebong dan kadrun tidak ada dalam kamus calon intelektual seperti kita."


"Terus kenapa dong?"

__ADS_1


"Kita beda arah."


"Peres."


"Memang beda arah, kan?"


"Aisyah satu arah kamu tolak terus."


"Aku suka telat."


"Yang suka telat perempuan."


"Aku urus-urus tugas dulu di senat."


"Wulandari sama-sama sibuk di senat kamu tinggalkan."


"Wulandari naik motor sport. Ribet harus peluk-pelukan."


"Preet."


Al sebenarnya tidak enak menolak. Tapi pasti repot kalau menerima, dia harus membagi waktu untuk Aisyah dan Wulandari.


Mereka bertiga tidak pernah bersaing. Mereka ingin Al bersikap adil. Jadi dia milik mereka bertiga.


Sekelompok anak muda yang duduk-duduk di atas motor gede memandang heran ke arahnya. Pejalan kaki kiranya jadi pemandangan langka di kampung ini. Dia jadi ingat Arya. Tapi adiknya tentu saja tidak terdapat di antara anak motor itu. Mainannya kafe dan diskotik.


"Mereka adalah generasi yang menghambur-hamburkan waktu," kata Rivaldo, teman kuliahnya, dalam suatu kesempatan. "Coba kamu bayangkan, mereka duduk berjam-jam di atas motor melihat orang lewat. Kenapa mereka tidak memanfaatkan masa muda sebaik-baiknya?"


"Sebaik-baiknya menurut kamu belum tentu sebaik-baiknya menurut mereka."


"Kok begitu?"


"Setiap orang pasti ingin yang terbaik untuk dirinya, dan nongkrong itulah yang terbaik untuk mereka."


"Yang penting mereka tidak meresahkan dan merugikan warga."


"Nah, itu saja sudah harapannya."

__ADS_1


Anak seusia mereka belum memiliki beban kehidupan. Mereka cuma cari sensasi atau kabur dari suasana tidak menyenangkan di rumah.


Apakah fenomena itu yang terjadi di kampungnya?


__ADS_2