Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 67


__ADS_3

Kegembiraan bertebaran di dalam pesawat yang membawa mereka pulang ke tanah air. Dua puluh satu hari di Dua Kota Suci menciptakan rindu yang pekat untuk segera kembali ke kampung halaman. Ada yang berwajah sedikit mendung, gadis yang duduk di samping Al.


"Kamu cemburu di sebelahku ada Aisyah lagi tertidur?" tanya Al di dekat telinganya.


"Sudah tahu nanya," sahut Riany ketus.


"Kayak anak kecil banget."


"Lalu kamu kayak anak gede? Sudah punya calon masih lirik kanan kiri."


"Ya sudah, aku tukar tempat duduk sama Lukman, biar dia duduk di tengah sini."


Al melepas sabuk pengaman dan bergerak bangkit. Riany menahannya sehingga pemuda itu kembali duduk.


Riany berkata dengan muak, "Kamu orangnya nyebelin, tahu gak?"


"Aku ingin istirahat dengan nyaman," sahut Al santai. "Capek mengurusi cinta kamu."


Riany menatap tidak suka. "Kok capek sih?"


"Habis curiga terus."


"Yang curiga siapa? Kamu saja baperan orangnya."


"Muka dilipat kayak tissue begitu maksudnya apaan coba?"


"Mereka nanti mengira aku kurang waras kalau senyum-senyum tanpa sebab."


"Benar ya tidak jealous?"


Al memejamkan mata dengan kepala miring ke arah Aisyah, hampir bersentuhan.


Riany segera menegakkan kepalanya dengan sebal. "Tidak cari kesempatan juga kali."


"Kalau miring ke kamu, mulutnya bau."


Riany melepas niqab dan meniupkan udara ke tangan, kemudian mencium aromanya. "Tidak bau."


"Bau aroma cemburu."


"Kurang ajar," maki Riany merasa dikerjai. Dipasang kembali niqab ungu itu.


Al jadi berpikir, dapatkah dia bertahan bila sudah berumah tangga nanti? Ada banyak perubahan semenjak Riany beranjak dewasa, manja dan pencemburu.


Jika berdekatan dengan perempuan saja tidak boleh, bagaimana dia menjalani kehidupan nanti? Tentu di tempat kerja tidak hanya berinteraksi dengan laki-laki saja. Seorang istri posesif dapat menghambat kemajuan karir suami.


Aisyah lebih unggul dari segi kematangan. Suami dapat pergi bekerja dengan tenang karena mendapat kepercayaan penuh. Saking penuhnya bisa tumpah kalau tidak dapat mengendalikan diri.


"Kamu pasti lagi membandingkan aku sama Aisyah," kata Riany tiba-tiba. "Aku pasti dibilang posesif, manja, cemburuan. Kalau Aisyah dewasa, mandiri, percayaan. Begitu kan?"

__ADS_1


"Sudah tahu kelemahannya kok tidak diperbaiki ya?" sindir Al.


"Sengaja buat menguji suami, sabar tidak menghadapi istri kayak begitu."


Dosen apa istri pakai ngasih ujian segala, batin Al kecut. Kalau tidak lulus, bisa cari terminal baru. Astaghfirullah! Perempuan yang tertidur di sampingnya selalu membuat dia berpikir soal alternatif!


"Kamu pasti berpikir untuk cari istri kedua kalau aku kayak begitu," ujar Riany. "Dan gadis di sampingmu adalah pilihannya."


Gadis itu kalau untuk urusan madu selalu tepat membaca pikiranku, pikir Al. Atau didikan uminya sehingga Abi Hamzah tidak berkutik untuk berpikir tentang perempuan lain!


Sembilan jam mereka berada di udara, kemudian mendarat dan diangkut dengan bis bandara menuju kampung halaman. Lagi-lagi Al kebagian duduk bersama Riany dan Aisyah. Apakah ini pertanda?


Sudahlah! Dia tidak tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Dia ingin menikmati perjalanan pulang dengan segala pemandangan yang ada. Kemacetan. Apa lagi?


Udara panas, kering, berdebu, menghadirkan rasa rindu tersendiri di hati mereka.


Konvoi bis pelan-pelan memasuki gerbang pesantren dan berhenti di pelataran masjid. Sopir membuka pintu secara otomatis. Rombongan turun dengan tertib.


Al melayangkan pandang ke pelataran. Pertama kali yang ingin dilihatnya adalah Ridwan. Tapi pemuda itu tidak ditemukan di antara orang-orang yang menjemput.


Bu Haikal menangis rindu sambil memeluk anaknya erat-erat. Lalu Al berlama-lama memeluk ayahnya, Arya juga. Dia sekejap saja memeluk Opa dan Jennifer. Bukan karena Riany sudah tak sabar menunggu giliran, tiba-tiba saja Al teringat Oma.


Kemudian Al menyambangi keluarga Abi Hamzah yang berjejer menyambut, mencium tangan Umi dan kakak perempuan Riany, serta berpelukan dengan calon ayah mertua dan kakak ipar laki-laki.


Terakhir Al berpelukan dengan Yudi, sementara istrinya menyambut Nek Surti dan Pamela. Santri-santri senior sibuk mengurus travel bag yang dikeluarkan dari bagasi.


"Nanti aku ceritakan," sahut Yudi. "Ada banyak waktu."


"Aku tidak ingin ada banyak waktu karena waktu sangat panjang di dalam sel."


"Setidaknya kamu beristirahat dulu barang sejenak dan gembirakan orang-orang yang menyambutmu."


Selama di Tanah Suci Al tidak banyak mendapat kabar tentang Ridwan. Mereka menahan informasi karena takut mengganggu ibadahnya. Dari informasi yang sedikit itu, dia tahu kalau kasus Ridwan berkepanjangan.


Selesai kangen-kangenan, rombongan jamaah berkumpul di dalam masjid mengadakan tasyakuran. Yang memimpin doa adalah guru besar pesantren. Secara khusus beliau kirim doa buat Oma yang telah pergi meninggalkan mereka.


Sementara Arya mengurus barang-barang bawaan Al dan Oma, menaruhnya di bagasi Lamborghini.


Selesai acara tasyakuran, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan wajah penuh sukacita.


Al duduk bersama orang tuanya di dalam Lamborghini yang dikendarai Arya. Sementara Opa dan Jennifer di dalam sedan mewah yang membuntuti di belakang.


"Ambil kiri," kata Al ketika Lamborghini keluar dari pintu gerbang.


Arya menatap heran. "Kiri? Rumah kita belum pindah, Kak."


"Sekali-sekali kamu pulang ke rumah Oma," sindir Al. Wajahnya sedikit muram. "Bukan hanya mampir minta uang jajan."


Bu Haikal sebenarnya berharap Al pulang ke rumah sendiri. Rumah Oma tidak disiapkan untuk menyambut kedatangannya. Tapi suaminya memberi isyarat agar mengikuti keinginan anaknya. Terpaksa dia menyuruh asisten rumah untuk mengangkut semua hidangan ke rumah Oma. Tetangga dekat yang sudah siap menyambut tentu kecewa.

__ADS_1


Opa dan Jennifer sendiri kurang setuju. Buat apa Al beristirahat di rumah Oma? Hanya membangkitkan duka yang belum sirna. Tapi mereka tidak mengeluarkan komentar apapun, membiarkan sopir mengikuti.


Satpam segera membuka pintu gerbang begitu melihat Lamborgini datang. Akhir-akhir ini Arya sering mampir. Sekedar mengunjungi kamar Oma atau melihat barang-barang kesayangannya.


"Aku terlambat sadar," gumam Arya getir, "kalau di rumah ini ada perempuan tua yang merindukan cucunya."


"Penyesalan selalu datang belakangan," hibur Al pahit. "Tapi tidak perlu berlarut. Jadikan cermin. Ada surga di belakangmu. Sayangi Ayah dan Ibu dengan segenap nafasmu."


Perlahan-lahan Lamborghini memasuki halaman dan berhenti dekat beranda. Arya keluar dari dalam mobil membukakan pintu buat Ayah dan Ibu. Sementara Al membuka bagasi mengeluarkan hand bag dan travel bag. Satpam sigap hendak membawa ke dalam rumah, tapi mendadak tidak jadi.


"Biar saya," kata Al kelu. "Hari itu Oma bilang ke semua orang kalau cucunya akan membawakan barang-barangnya sampai kamar. Kiranya itu pertanda kepergiannya, bukan rasa bangga karena besarnya perhatian aku."


"Oma sangat bangga kepadamu, cah bagus," hibur Bu Haikal menahan sedih. "Kamu sudah mewujudkan semua yang diimpikannya di Dua Kota Suci."


"Kebanggaan yang terlambat," sahut Al sakit.


"Yang ini biar saya," cegah Arya ketika Satpam hendak membawa travel bag Al. "Tidak ada pelayan yang paling setia selain adiknya."


Al menoleh sekilas dengan tatap mata melecehkan. "Lebay."


"Itu kan balasan comment Kakak di statusku, kalau aku adalah adik terbaik yang pernah ada."


"Aku cuma ingin followers-mu bangga. Faktanya sih nol."


Al menjinjing hand bag dan menarik travel bag beroda menaiki beranda. Lalu memberi salam sebelum membuka pintu dan berjalan melintasi ruang tamu.


"Ada tahlilan di rumah Oma?" tanya Al.


"Tidak ada," sahut Arya. "Tahlilan diadakan di masjid kampung."


"Masjid bukan rumahnya."


"Rumah ini tidak dapat menampung orang sekampung."


Oma belum lama tinggal di kampung. Dia terkenal rendah hati, dermawan juga, tanpa pamrih menolong orang kesusahan. Dan menanam kebaikan akan berbuah kebaikan. Orang kampung datang berduyun-duyun ke masjid untuk tahlilan.


"Perwakilan dari pesantren juga ada," kata Arya. "Panitianya pemuda masjid dengan biaya dari Yudi dan kawan-kawan."


"Alhamdulillah."


"Sepeserpun tidak ada uang dari keluarga Oma."


"Opa pasti tersinggung karena merasa banyak uang."


"Pas dijelaskan itu adalah budaya yang ingin diterapkan Kak Al, Opa langsung diam."


"Laki-laki yang tidak pernah tahu betapa setianya Oma memang seharusnya diam."


Opa tersentak.

__ADS_1


__ADS_2