Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 100


__ADS_3

Al melangkah dengan lunglai saat meninggalkan gedung rumah sakit umum itu. Dia mestinya senang terbebas dari segala jarum dan alat medis, meski tidak mengurangi rasa syukurnya.


Gedung bertingkat dua itu laksana istana megah yang berat untuk ditinggal pergi. Ada seseorang yang membuatnya seolah kehilangan semangat menyongsong kehidupan di luar.


Al tidak biasa meninggalkan suatu tempat dengan masalah menggantung. Dia pasti gelisah jika pergi tanpa ada solusi yang jelas, sekurangnya pesan perpisahan yang dapat diterima dengan baik.


Persoalan yang menggantung membuat pikirannya kacau. Dia kuatir jadi perkara yang memberatkan jika dipanggil oleh Sang Pemilik Perkara, karena tidak sempat menyelesaikan urusan itu di dunia.


Al bukan laki-laki sok suci yang ingin terhindar dari segala perkara yang memberatkan di akhirat. Dia ingin berhati-hati dengan hidupnya, karena dia percaya ada perjalanan abadi dengan perbekalan yang dikumpulkan selama mengembara di dunia.


Aisyah seolah tidak memberi kesempatan untuk menghilangkan perasaan risau di hatinya. Atau dia sengaja ingin membuat pikirannya tidak tenang?


Astaghfirullah! Al sering sekali mempunyai pikiran negatif sejak masuk rumah sakit! Entah pada Aisyah atau istrinya! Dia seakan tidak sabar menghadapi cobaan yang sebenarnya sanggup dipikul!


"Kamu ini aneh deh," komentar Bu Haikal. "Wajahmu tidak ada ceria-cerianya keluar dari rumah sakit. Kamu harusnya bersyukur sudah bebas dari musibah tanpa kekurangan apa-apa."


Al tersenyum samar. Dia coba menampilkan matahari di wajahnya, meski sangat sulit. "Rasa syukur tidak perlu diproklamirkan, cukup didendangkan di setiap nafas di kala tidur dan terjaga."


"Apa kamu mau istirahat lebih lama lagi di rumah sakit?" tanya Bu Haikal. "Aku bisa urus."


Ibu tentu gembira kalau anaknya bersedia memperpanjang masa tinggal di rumah sakit. Tapi berarti semakin panjang penderitaan Ayah. Dia harus bolak-balik dengan energi yang terkuras mengurus perkebunan. Capek segalanya.


"Ibu ini aneh deh," kata Al seolah mengembalikan kata-kata ibunya. "Ibu harusnya bersyukur anak pulang dengan segera dari rumah sakit tanpa kekurangan apa-apa."


Bu Haikal mendelik, "Sejak punya istri, mulai berani ya sama orang tua."


"Al takkan pernah berani melawan orang tua sampai bumi terbelah juga, istri adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati."


Ibu seperti memanfaatkan betul ketaatan anaknya pada orang tua. Al ikhlas karena surganya ada di telapak kaki beliau. Lagi pula, permintaan Ibu hanya sebatas bentuk kekhawatiran agar tidak kehilangan apa yang dimilikinya.


Istri tidak akan membuat Al kehilangan kepatuhan pada orang tua. Dia hanya perlu bersikap bijak jika ada keinginan yang berbeda dari mereka. Jangan sampai apa yang diinginkan ibunya jadi konflik dalam rumah tangga.

__ADS_1


Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Munculnya masalah untuk mendidik pribadi Al agar lebih matang, bukan merusak kehidupan yang dilaluinya.


Jadi, persoalan Aisyah adalah masalah yang tidak perlu mengganggu hari-harinya. Dia perlu mencari solusi, tapi bukan dengan perbuatan basi, apalagi sampai tergelincir dalam kecewa berkepanjangan.


Pemikiran berlarut akan membebani perjalanan hari-harinya, sementara roda kehidupan tidak boleh berhenti, harus terus berjalan.


Mereka berkumpul di halaman parkir. Kendaraan berderet rapi dan tidak terlalu banyak. Al melihat ada Ferrari model terbaru di dekat mobil Ayah, harganya lebih mahal dari punya Lin Wei.


Arya keluar dari dalam mobil dengan penampilan sangat trendy. Ah, anak itu ganti mobil kayak ganti pacar. Pasti hadiah dari Jennifer. Oma muda itu terlalu memanjakan cucunya. Anak SMA sungguh bisa bergaya dengan mobil puluhan milyar!


Dia pasti bangga memiliki mobil terkeren di sekolahnya! Mobil mewah milik Al seakan kecil!


Makin kembung hidungnya dikerubuti banyak cewek! Untung tampang ada jadi bisa menggaet bintang sinetron teman sekolahnya. Satu-satunya pacar yang seumuran dengannya.


Arya tersenyum melihat kakaknya terpukau. "Biasa aja kali. Katrok banget. Keren ya?"


"Oma muda betul-betul ingin mencetak kamu jadi playboy terhebat di kabupaten," decak Al kagum, banyaknya meledek. "Denger-denger ada orang ketiga, artis sinetron juga."


"Aku cuma tidak ingin kamu bermegah-megahan di dunia. Selaku kakak aku cuma menasehati, seandainya tidak didengarkan berarti kamu siap menanggung risiko."


"Ngancam namanya."


"Sebelum kamu dapat ancaman yang lebih pedih di keabadian kelak."


"Nyerempet-nyerempet dikit wajarlah, namanya anak muda. Bawa motor saja kadang nyenggol."


"Asal jangan sengaja nyenggol."


Arya mengusap-usap kepala, serba salah. "Mau dilawan durhaka, gak dilawan makin terjajah."


Al memandang kesal. Namun ucapannya tetap terkendali, tenang dan sedikit dingin. "Jadi kamu merasa terjajah? Kamu anggap aku kompeni? Kamu bisa minta bantuan gang motormu untuk merdeka dari aku!"

__ADS_1


"Jadi baperan ya. Keluar dari rumah sakit bukan bertobat, malah makin tobat galaknya!"


"Karena aku sayang sama kamu! Jika keberatan dengan kasih sayangku, mulai detik ini aku tidak akan turut campur urusanmu. Aku biarkan kamu untuk berbuat apa saja."


Arya segera memasang wajah imut-imut, senyum mengalir laksana tetes embun di pagi hari. "Jangan. Aku cuma punya kakak satu-satunya. Kau bebas khotbah setiap hari, anggaplah klakson butut yang mengingatkan aku di kala berkendara."


"Berani ya menganggap aku klakson butut?" sergah Al.


"Semua klakson kan butut dibanding klakson Ferrari ini."


"Jadi sombong kan?"


"Ferrari itu untukmu, cah bagus," kata Bu Haikal lembut. "Hadiah dari Opa. Hari ini kamu ulang tahun."


Arya memotong, "Tumben Ibu ngomongnya bener, kemarin masih bilang kenari, bukan Ferrari."


Al seakan diingatkan kalau hari ini adalah hari kelahirannya. Aisyah sering memberi kejutan dengan menyiapkan kue ulang tahun di apartemen yang gelap.


Dia sempat kuatir situasi gelap bisa menyeretnya pada sisi hitam kehidupan. Kue ulang tahun yang dihidangkan oleh adiknya saat lampu dinyalakan menghapus segala keraguan.


Aisyah sulit dihilangkan dari pikirannya!


Sejak kepergian Oma, Al sering sekali mendapat limpahan kasih sayang dari opanya. Barangkali untuk menebus segala dosanya pada Oma dengan memberi barang-barang berkelas pada cucu kesayangannya, atau untuk menarik simpati karena sampai detik ini Al belum dapat menerima sepenuhnya kehadiran Jennifer dalam keluarga besar mereka.


Pada pesta perkawinan, Opa memberi kado Mercy sport dengan model keluaran terbaru, yang hampir ditolaknya karena biasa begitu untuk menghormati Ayah. Ibu memintanya untuk menerima dan akhirnya mobil itu parkir di garasi rumah.


Ayah memberi hadiah BMW, keluaran terkini juga, dan untuk kado yang satu ini Ibu mengendus adanya modus untuk mencari dukungan. Al terima juga meski tahu ibunya beharap ditolak. Jadi, saat ini dia punya empat mobil mewah. Apakah ini...pertanda?


"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu," bisik Riany yang tak pernah jauh darinya. "Rencananya untuk siapa mobil yang paling mahal ini?"


Al hampir tersedak.

__ADS_1


__ADS_2