Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 118


__ADS_3

Aisyah menerima buket bunga dengan sumringah. "Terima kasih."


"Sorry ya aku gak bisa besuk," kata Ryan.


"Gak apa-apa."


Sekilas Ryan memandang perempuan yang memegang besi sandaran kursi roda, pesona Arabianya sungguh luar biasa, kemudian bertanya, "Saudaramu dari Al Khanza?"


"Namanya Riany, istri Al."


Ryan tersenyum senang seakan mendengar kabar lulus sidang dengan yudisium cum laude.


Travelingnya ke Dubai ternyata membawa berkah. Pulang-pulang menerima berita yang sangat menggembirakan.


Al adalah ganjalan terbesar untuk mendapatkan cinta Aisyah. Ryan yakin gara-gara pemuda itu, gadis impiannya belum bersedia membuka dermaga hati untuk berlabuh.


Padahal Al menutup pintu hati untuk Aisyah, dan ternyata karena perempuan yang sedang menilainya secara diam-diam ini.


Barangkali dia heran ada cowok seganteng suaminya, pikir Ryan bangga. Super tajir lagi. Tapi harta dan tahta bukan bidikan utama dua hijaber itu.


Buktinya Riany mau jadi istri cowok gembel. Dilihat dari pakaian dan tas yang dibawa, nilai penampilannya lebih dari satu miliar. Crazy rich.


"Kalian bersaudara?" tanya Ryan penasaran.


"Of course," jawab Aisyah. "The big family moslem."


"Maksudku saudara sedarah."


"Satu tumpah darah," tukas Riany. "Saudara sebangsa dan setanah air."


"Kok mirip ya?"


"Mirip dari mana?"


"Cantiknya."


"Kamu muji aku?"


"Gak boleh muji istri orang?" tatap Ryan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Lagian Al sombong banget, married gak bilang-bilang."


"Bilang juga ngapain?" sambar Wulandari. "Kamu lagi di Dubai."


"Seenggaknya aku ngirim ucapan selamat."


"Buat apaan ngirim ucapan selamat?" sindir Lin Wei. "Nggak dikirim ucapan juga, Riany selamat kok sampai malam pertama."


"Pengennya dikirim apa?"


"Telat."

__ADS_1


"Kamu mau mengajukan proposal juga?" tanya Aisyah.


Ryan tersenyum. "Mengajukan proposal urusan belakang."


"Urusan depannya apa?"


"Ketemu kamu. Pas denger kamu kena musibah, aku gak bisa tidur."


Al heran dengan hatinya. Ia merasa tidak enak melihat Aisyah pamer senyum demikian manisnya.


"Gak bisa tidur bukan mikirin kamu, Ay," bantah Lin Wei muak. "Bingung milih cewek di Dubai, pada cakep-cakep."


"Aku bukan cowok mata keranjang."


"Tapi mata ke kasur," sambar Wulandari sebal. "Bawaannya pengen ngamar terus."


"Pengalaman sendiri ya?"


"Udah deh minggir," potong Lin Wei tidak sabar. "Aku mau ngantar Aisyah setor proposal. Kamu sudah banyak makan waktu, tahu gak? Acara kami padat hari ini."


Mereka berdua tidak mau Ryan akrab dengan temannya. Dia memiliki segudang pesona yang bisa membuyarkan kesepakatan bersama.


Al adalah satu-satunya lelaki dalam hidup mereka! Jadi cowok lain tidak boleh masuk! Tidak juga Ryan!


Tapi Aisyah seolah membuka pintu dengan menegur kedua temannya, "Kalian nggak boleh gitu. Ryan jauh-jauh datang ke kampus untuk ketemu aku. Masa kalian suruh pergi cepat-cepat?"


"Kita banyak acara, Ay," protes Lin Wei.


"Begini saja," usul Ryan. "Kalian bisa pergi ke acara kalian, Aisyah biar aku antar pulang nanti."


"Kamu siapa berani ngatur-ngatur aku?" sambar Wulandari geram. "Acaranya itu berempat. Jadi Aisyah harus ikut."


Aisyah memandang Wulandari dengan sinar mata seakan menyalahkan, "Kamu tega banget ngomong begitu sama Ryan."


"Kenapa sih kamu jadi membela dia?" tatap Lin Wei tidak suka.


"Aku tidak membela. Aku cuma ingin kalian jangan bersikap kasar pada orang yang sudah berbaik hati sama kita."


"Berbaik hati apaan?" sergah Wulandari. "Dia sudah membuang waktu kita."


"Cowok yang baru pulang dari Dubai dan langsung pergi ke kampus untuk menemu aku, bagiku cowok itu punya empati yang sangat tinggi. Jadi patut diapresiasi."


"Dia begitu karena ada maunya," gerutu Lin Wei. "Kamu paham nggak sih?"


"Kalian juga begitu karena ada maunya. Jadi aku sangat paham."


Ryan tetap cool menyaksikan perdebatan mereka, padahal dalam hati senang bukan main mendapat pembelaan dari Aisyah. Dia merasa ada kesempatan untuk masuk, tapi tidak perlu terburu-buru.


Aisyah tidak suka pemuda yang berbuat sesuatu dengan terburu-buru. Dia ingin segalanya mengalir seperti air.

__ADS_1


Alangkah indahnya malam pengantin jika memiliki istri yang tidak ingin tergesa-gesa!


"Kelihatannya kedatanganku bukan di waktu yang tepat," kata Ryan. "Aku kira cukup untuk bertemu denganmu hari ini. Aku senang kamu tidak apa-apa."


Aisyah memandang tak percaya. "Apa kamu bilang? Aku tidak apa-apa? Kau tidak lihat aku duduk di kursi roda? Kedua kakiku tidak bisa digerakkan?"


Ryan seakan meremehkan. "Masalah kecil bagiku. Aku jadi ahlinya nanti. Aku banyak kenalan dokter di dalam dan luar negeri."


"Kamu yakin kakiku bisa sembuh?" tanya Aisyah dengan tatap mata penuh harap.


Ryan balik bertanya, "Lalu kalau kakimu tidak bisa sembuh, kenapa? Kau pikir aku akan berhenti mencintaimu? Aku jatuh cinta pada Aisyah yang percaya diri, bukan pada kakinya."


Ryan memandang sekilas, lalu pergi ke mobilnya.


Riany kagum dengan sikapnya. Di jaman berdebu ini, ternyata ada pemuda yang memelihara cintanya agar tetap mengkilap.


Dia jadi tertarik untuk membantu perjuangan Ryan dalam mendapatkan Aisyah.


Pemuda dengan cinta yang agung tidak layak untuk dikecewakan.


Namun niatnya ini pasti mendapat tantangan berat. Wulandari dan Lin Wei pasti tidak rela kalau sahabatnya jadi milik Ryan.


"Kamu ngapain sih pakai masang muka manis sama si Ryan?" protes Wulandari. "Cowok itu jadi kepedean seolah kamu ngasih harapan."


"Bermuka manis sama setiap orang adalah ibadah," jawab Aisyah. "Jadi jangan hubungkan dengan perasaan."


"Pasti dihubungkan sama si Ryan," bantah Lin Wei. "Cowok mana sih yang nggak GR dikasih senyum sama kamu?"


"Udah deh, kalian nggak usah men-justice si Ryan kayak gitu," bela Aisyah. "Dia satu fakultas sama aku, kami sering ketemu. Lalu kalian ingin aku manyun setiap hari? Capek, tahu gak?"


Riany setuju dengan Aisyah. Sebagai perempuan, mereka harus pandai menjaga sikap di depan laki-laki. Tidak elok, kalau benci, langsung diekspresikan pada raut wajah. 


Mereka harus pandai mengemas perasaan sehingga laki-laki tidak tersinggung.


Membuat laki-laki sakit hati akan mengurangi daya tarik perempuan.


"Cowok bisa nekat kalau kita jutek," kata Riany seolah membela Aisyah. "Banyak cara untuk menghadapi mereka tanpa perlu berbuat kasar."


Wulandari tidak sependapat, "Mereka salah arti bahaya. Kids jaman now mana ngerti sindiran, atau penolakan secara halus."


"Ryan adalah cowok intelektual. Dia pasti paham cintanya ditolak atau diterima tanpa perlu dikatakan."


Sikap Aisyah menunjukkan kalau penolakan bukan jalan terbaik untuknya. Dia seakan tertawan oleh keluhuran cinta Ryan yang tidak terpengaruh oleh keadaan kakinya.


Situasi ini sangat menguntungkan Riany. Dia ada harapan untuk tidak berbagi. Al tidak perlu menghalalkan Aisyah untuk menyelamatkannya dari keruntuhan hidup.


Ryan adalah pasangan sempurna untuk Aisyah!


Gadis itu bisa bertahan dari pesona Lukman, tapi dia sulit untuk menolak cinta teman satu fakultasnya!

__ADS_1


"Ryan merasa sangat percaya diri," kata Rivaldo separuh berbisik, untuk menghindari pendengaran para bidadari yang berjalan di depannya, memasuki pintu gedung. "Dia merasa saingan terberatnya sudah tumbang."


Al tersenyum samar. "Belum ada sejarahnya cowok beristri kalah bersaing sama cowok jomblo."


__ADS_2