Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 57


__ADS_3

Laju kereta Haramain Express melambat dan berhenti di Stasiun Madinah. Siang itu suasana stasiun lengang.


Barangkali belum banyak jamaah umrah yang mengetahui Saudi kini memiliki kereta cepat super mewah yang menghubungkan kota Makkah dan Madinah, dengan waktu tempuh dua jam. Memotong waktu perjalanan dengan bus yang biasanya butuh enam sampai tujuh jam, kalau tidak ada badai gurun.


Rombongan turun dan berkumpul di peron. Mereka manfaatkan waktu yang ada untuk foto-foto sambil menunggu antri check out.


Al sibuk menurunkan travel bag dari ruang koper yang langsung diangkut oleh petugas hotel ke bagian pemeriksaan bagasi, selanjutnya dibawa ke bus yang sudah menunggu di tempat parkir. Sementara Nidar mengeluarkan travel bag dari gerbong lain. Mereka dibantu bapak-bapak.


Setelah melewati pemeriksaan, Aisyah bersama rombongan pergi ke tempat parkir dan menunggu di dalam bus sampai travel bag semuanya terangkut.


Sekali lagi Al mengecek gerbong kalau-kalau ada yang ketinggalan. Dia adalah orang yang terakhir naik ke dalam bus. Dia absen jamaah satu-satu. Lengkap. Kemudian bis melaju meninggalkan Stasiun Madinah.


Bis meluncur kencang melewati jalan Abi Dhar Al Ghafari dan King Fahd Road. Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di Shaza Al Medina, tempat mereka menginap.


Hotel bintang lima ini terletak di depan Masjid Nabawi. Desain eksterior yang unik memancarkan keindahan dan spiritualitas. Interior bernuansa hangat, diterangi pencahayaan yang diciptakan dengan lentera Mesir bermodel antik, dinding hotel dihiasi ornamen Arab tradisional, memancarkan kemewahan yang khas.


Setelah check in rombongan naik ke lantai sembilan. Mereka menempati kamar sesuai nomor kartu yang diberikan Al.


"Travel bag kapan datangnya?" tanya Nek Surti sebelum masuk kamar.


"Sebentar lagi," sahut Al. "Sabar ya, Nek."


"Kalau lama aku pergi shopping. Ada mall di sekitar sini kan?"


"Banyak."


"Aku butuh baju segera."


"Istirahat dulu, Nek," kata Pamela. "Satu jam lagi kita shalat arbain, malah baju dipikirin."


"Dari Subuh belum ganti baju, bau keringat."


"Duilah, genggesnya," sindir Eyang Munzir. "Biar tiap jam ganti baju, kisut ya kisut."


"Daripada situ," sambar Nek Surti keki. "Muka topo."


"Kok ngomongnya disamakan kayak di kampung ya?" tegur Al halus. "Ini Kota Suci, berkatalah yang baik-baik."


"Astaghfirullah," pekik Eyang Munzir. "Aku khilaf."


"Khilaf kok setiap kali ketemu Nek Surti?"


"Berarti kalap," senyum Aisyah. "Jangan-jangan si Nenek sama si Eyang CLBK."


"Cinta Lama Bau Kentut?" sambar Nek Surti.


"Nenek...," tegur Pamela.


Aisyah tahu kisah mereka dari Oma. Dia heran setiap kali bertemu mereka pasti berantem. Kisah cinta sejoli abad lampau itu berakhir tragis karena salah paham dan hingga kini masih berlanjut.


Aisyah dan Oma berjalan menuju ke pintu kamar sesuai nomor kartu bagiannya. Di belakang, Al mengikuti sambil membawa hand bag mereka.


Aisyah membuka pintu dengan kartu. Mereka masuk.


Kamar ini bernuansa elegan dan menghadirkan suasana damai, terdapat tempat tidur king size, pembuat teh khusus ala Turki, TV kabel, meja tulis, dan fasilitas lain sebagaimana layaknya hotel bintang lima.


"Oma ingin berdua sama Aisyah," kata Oma. "Kamu tidur di kamar sebelah ya?"


"Terserah Oma," sahut Al. "Yang penting Oma nyaman. Ada waktu sekitar satu jam sebelum berangkat arbain."

__ADS_1


"Aku ingin bertemu Muhammadku."


"Selepas Dhuhur," tukas Aisyah. "Aku antar nanti."


"Lewat pintu 25?"


"Pintu 29 boleh. Kalau umrah tidak padat-padat banget kayak jamaah haji."


"Aku ingin lewat Babussalam."


"Itu buat laki-laki, Oma."


"Insya Allah aku mendapat berkah melalui cucuku. Aku percaya cah bagus bisa membawaku lewat pintu Baqi sekalipun."


"Selepas Dhuhur ya," kata Al. "Oma istirahat saja dulu."


Al berjalan ke kamar sebelah, Aisyah menyusul.


"Mau tidur di kamarku?" gurau Al. "Memang kamu bisa menahan diri seperti Sayyidah Maryam?"


"Halalkan dulu," sahut Aisyah tak mau kalah. "Berani gak?"


"Satu saja belum halal."


"Makanya."


"Terus mau apa mengikuti aku?"


"Bagaimana kamu bisa bawa Oma lewat Babussalam?" tanya Aisyah sangsi. "Banyak askar, tidak mungkin lolos."


"Ini kota yang penuh berkah. Aku yakin itu."


"Aku jemput Oma di pintu 25. Aku ingin wujudkan mimpinya bertemu dengan bagindaku dan bagindamu."


Al sendiri belum tahu bagaimana caranya. Nabawi tidak seperti Haram. Pintu laki-laki dan perempuan terpisah. Begitu pula shalat dan waktu berkunjung ke makam Nabi. Tapi ada keyakinan dalam hatinya bahwa Oma bisa bertemu dengan pemimpin para Ambiya melalui Babussalam atau pintu 1. Keyakinan yang dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya.


Allah telah memberikan sederet keajaiban kepada Oma di Makkah melalui dirinya. Apa yang menurut orang lain sulit terasa mudah baginya.


Oma bisa shalat di area thawaf persis di belakang Imam Besar Masjidil Haram. Lalu bisa mencium Hajar Aswad sepuasnya dan shalat di Hijir Ismail tanpa ada gangguan dari orang lain. Dia juga bisa berdoa dengan bebasnya di Multazam.


Ada sesuatu yang membuat Al begitu yakin keinginan Oma termakbulkan. Makkah dan Madinah adalah kota yang penuh berkah, berkah bagi orang yang ridha memenuhi panggilan-Nya, ridha menerima takdirnya.


"Terima kasih ya," kata Al sebelum Aisyah pergi. "Kamu sangat membantu."


Aisyah tersenyum manis. "Kirain terima kasih atas cintaku. Aku akan selalu menunggumu."


"Kamu terlambat hadir, Ay," keluh Al hambar. "Seandainya hari itu kamu ikut pulang bersamaku, mungkin saat ini perasaanku termanjakan."


"Aku tidak ingin membuka pintu masa lalu karena aku tidak memilki kuncinya."


Al bercanda, "Bagaimana kalau kita dobrak saja?"


"Aku tahu kamu lagi bimbang dengan Riany. Matamu tidak bisa berbohong. Aku tidak mau kamu berpaling dari ratu kecilmu karena ada bidadari lain di sampingmu. Miliki Riany dan miliki aku. Biarkan kami mencari surga di bawah lindungan cintamu. Itu harapanku."


Pada saat hati Al lagi galau begini, kata-kata itu terasa sangat menusuk. Seharusnya menyejukkan kalau dia mempunyai banyak cinta. Tapi cintanya cuma satu dan Al sudah terlanjur memilih.


Mereka ibarat sepasang kupu-kupu kertas. Menari-nari di taman surgawi tanpa saling memiliki.


"Aku percaya takdir," kata Aisyah. "Bertahanlah dengan satu cinta sebelum Allah berkehendak lain."

__ADS_1


Jujur pribadi Aisyah yang unik ini mulai melunturkan cintanya kepada Riany yang tidak memiliki hati untuknya. Al khawatir, kalau Aisyah selalu menghias hari-harinya, cintanya yang rapuh akan tersilaukan oleh pesona Arabia itu.


Tapi Al benar-benar butuh bantuan Aisyah saat ini untuk mengurus rombongan. Pengetahuannya tentang Madinah sangat baik. Dia sudah sering bolak-balik.


Al mengumpulkan rombongan di depan lobi hotel sebelum berangkat ke Masjid Nabawi dan memberikan arahan:


"Ingat nama hotel baik-baik, bila perlu foto. Hapalkan jalan yang dilalui. Jarak dari Shaza ke Nabawi sekitar 300 meter. Kembali ke masjid kalau kesasar, cari pintu terdekat. Insya Allah saya akan menemukan kalian. Ada yang ingin ditanyakan?"


"Kita masuk lewat gerbang berapa?" tanya Eyang Munzir.


"Gerbang tiga. Rombongan dibagi dua; laki-laki ikut saya ke pintu 1, perempuan ikut Aisyah ke pintu 25."


"Untung ada kamu," kata Nek Surti ke Aisyah. "Jadi rombongan perempuan tidak terlantar."


"Ibu ketua malah enak-enakan shopping," sindir Bu Hanif. "Seharusnya punya tanggung jawab sedikit."


"Riany lagi besuk sahabatnya yang dapat musibah," bela Al, "bukan jalan-jalan."


"Kita tidak tahu besuk apa jalan-jalan," sambar Pamela. "Kamu tidak curiga kalau Riany holiday sama Lukman? Riyadh kan beda tipis sama Kairo."


Mereka tidak mungkin bersenang-senang, batin Al, ada Faye yang menjadi tabir gelap. Bilamana gadis itu tiada, dia tidak tahu apa Riany akan mempersembahkan cintanya kepada laki-laki yang menunggu di Madinah?


Barangkali Riany hanya merelakan tubuhnya semata-mata karena ketaatan pada abinya, tapi tidak akan pernah menyerahkan hatinya. Dan itu sangat menyakitkan bagi Al.


"Cintaku hanya satu untuk selamanya." Al masih ingat baik-baik kalimat cinta yang didendangkan Riany. Dia kira cinta itu untuk dirinya, ternyata untuk Lukman, masa lalunya di SMA.


"Pernah ke Kairo?" balik Eyang Munzir separuh mencemooh. "Jangan sotoy."


"Kata Vidya," sahut Pamela.


"Riyadh beda sama Kairo," kata Oma. "Kehidupan Kairo itu mirip Dubai."


"Dengerin tuh kata orang yang sudah pengalaman," sindir Eyang Munzir.


"Vidya sudah pengalaman. Dia kuliah di Kairo."


"Alah, paling di Kairo cuma planga-plongo. Mana ada duit buat masuk tempat hiburan? Kuliah saja hasil sumbangan saudaranya."


"Susunya gak aku kasih nih?"


Nek Surti kaget. "Susu?! Kamu ngasih susu pada stok malaikat di alam kubur ini?"


"Susu onta," jawab Pamela buru-buru. "Eyang suka banget susu onta, tapi tidak tahu kayak apa."


"Kirain."


"Si Nenek...," goda Pak Hanif. "Di Kota Suci pikiran kelayapan."


Nek Surti ngegas lagi. "Dari mana kamu tahu pikiranku kelayapan? Tanganmu kali kelayapan sama nganu istrimu!"


"Nenek!" tegur Pamela agak keras. "Mulut nenek semakin blong deh!"


Nek Surti tidak mau disalahkan. "Memangnya nganu apa? Kamu saja casing gadis tapi otak terlalu dewasa!"


"Ada lagi yang ingin ditanyakan?" potong Al, bising kupingnya. Kalau sudah kebiasaan, susah menjaga mulut, padahal sudah ditegur berkali-kali. "Ingat ya jangan panik kalau kesasar, kembali ke masjid. Jelas?"


"Jelas," sahut mereka serempak.


Al berjalan di depan bersama Oma dan Aisyah sambil melihat situasi dan mengingat jalan.

__ADS_1


__ADS_2