
Tiba di rumah sakit, Riany langsung menuju ke ruang UGD tempat Al dirawat. Dia tak kuasa menahan air mata saat melihat kondisi suaminya yang sangat mengenaskan. Di tubuhnya terdapat banyak peralatan medis yang tersambung ke monitor, jarum infus, dan ventilator.
Nidar dan Ridwan menunggu secara bergantian di depan ruang UGD. Mereka tidak diijinkan untuk menunggu di dalam ruang UGD karena Al sedang menjalani perawatan intensif oleh tim medis.
Riany sendiri hanya bisa masuk sebentar untuk menjumpai dokter yang tengah memeriksa kondisi suaminya. Dia tidak sabar untuk menunggu di luar.
"Saya istrinya," ucap Riany untuk menutup rasa heran dokter dan suster yang menoleh ke arahnya. "Saya baru datang dari Madinah. Dan anda ingin meminta saya untuk keluar lagi?"
Dokter tidak berkomentar apa-apa. Dia sibuk memeriksa data yang disuguhkan oleh suster. Ada perasaan lega di wajahnya setelah membaca semua data itu.
"Bagaimana kondisinya saat ini, dok?" tanya Riany ingin tahu.
"Alhamdulillah pagi ini ada perkembangan yang menggembirakan," jawab dokter. "Kondisinya mulai stabil. Siang nanti insya Allah bisa dipindahkan ke ruang ICU. Jadi tidak perlu dimonitor secara ketat seperti di ruang UGD."
"Terima kasih atas kerja kerasnya, dok," kata Riany dengan kabut yang mulai berangsur pergi dari wajahnya. "Jadi besar harapan suami saya kembali seperti sediakala."
"Saya harap begitu."
Kabar kepindahan Al dari ruang UGD ke ruang ICU tentu merupakan angin segar bagi mereka semua. Wajah-wajah tegang yang menunggu semalaman sedikit mengendur. Bu Haikal sampai sujud syukur dengan air mata berlinang.
"Jadi anakku akan sembuh?" cetus Bu Haikal dengan hati sedikit plong.
"Perkiraan dokter siang ini Al akan terbangun," jawab Riany. "Dia akan melewati stadium kritis. Jadi bisa pindah ke ruang ICU."
Bu Haikal menatap kaget. "Ruang ICU? Berarti kondisi Al tidak banyak perubahan?"
"Tentu saja banyak perubahan, Bu. Di ruang ICU tim medis hanya ingin memastikan kalau tidak ada dampak berbahaya pada organ dalam akibat kecelakaan itu. Satu dua hari Al pindah lagi ke kamar perawatan untuk pemulihan."
"Alhamdulillah," ucap mereka serempak.
"Akhirnya doa kita semua didengar oleh Allah," ujar Nidar .
"Kalian tetap harus berdoa karena teman Al satu lagi kondisinya sangat mengkhawatirkan," tukas Pak Haikal. "Menurut dokter hanya kebesaran Allah yang dapat menyelamatkan nyawanya, karena secara medis kemungkinan kecil harapan untuk tertolong."
Aisyah bahkan tidak boleh dikunjungi. Mereka hanya dapat melihat dari balik kaca. Tim dokter sedang menunggu keluarganya untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting, entah apa.
Ahmed dan Ridwan sudah pergi ke Yogya pagi tadi ingin minta bantuan pihak kampus untuk menghubungi keluarganya. Lin Wei dan Wulandari belum dapat dimintai keterangan karena kondisinya masih syok. Mereka tidak hapal satupun nomor yang bisa dihubungi. Ingatannya belum pulih betul.
"Jangankan nomor handphone keluargaku, nomorku sendiri aku tidak hapal," kata Lin Wei ketika Riany menjenguknya. "karena aku tidak pernah menghafalnya."
"Kok bisa? Saking sibuknya atau tidak peduli dengan nomor sendiri?"
__ADS_1
Lin Wei tersenyum kecil. "Dua-duanya. Aku mulanya merasa tidak perlu, pas kejadian begini baru aku sadar kalau menghapal nomor keluarga itu penting."
"Sekurangnya hapal salah satu, biar tidak salah semuanya," canda Riany.
"Aku pikir semua nomor tercantum di ponselku, giliran ponselku ada yang mencuri kelabakan jadinya."
"Tapi alamat rumah ingat, kan?"
"RT RW-nya aku tidak ingat."
"Parah."
"Kebanyakan yang perlu dihapal. Aku cuma ingat nama perumahan, jalan, dan nomor rumah."
"Untung kamu tinggal di perumahan elit, jadi gampang mencarinya. Coba kalau tinggal di rumah petak, pasti tidak ingat jalan pulang."
"Aku itu bukan pengingat yang baik, aku sering bolak-balik dari Yogya ke kota tempat tinggalku, tapi tetap saja tidak hapal jalan."
"Tandanya kamu tidak peduli pada sekelilingmu."
"Aku hidup terlalu bergantung pada teknologi. Jadi untuk apa aku mengingat sesuatu sementara teknologi bisa memberi tahu? Dalam situasi begini aku baru sadar kalau kita hidup tidak boleh bergantung pada apapun."
"Yang penting kamu tinggal menunggu proses penyembuhan, itu sudah cukup untuk saat ini. Wulandari juga."
"Kondisi Al sudah membaik, tinggal menunggu bangun. Aisyah kondisinya belum stabil, dia masih menjalani perawatan intensif karena setiap saat bisa masuk ke stadium shock."
"Jangan sampai. Aku tidak ingin ada penyesalan dalam perjalanan itu. Aisyah sebenarnya ingin naik pesawat, tapi aku mengajaknya untuk pulang bareng, dan akhirnya kami berempat mendapat musibah."
Riany tahu Aisyah bersedia pulang bersama mereka karena ada Al. Jika suaminya naik kereta, gadis itu tentu lebih memilih terbang dengan pesawat. Hemat waktu. Atau bisa saja dia naik kereta berdua bersama Al.
Kekhawatiran itu yang membuat Riany meminta suaminya untuk pergi bersama mereka. Tentu saja duduk berdua di kereta berjam-jam sangat berbahaya daripada duduk menemani Al berkendara dengan disaksikan Lin Wei dan Wulandari di kursi belakang.
"Sudahlah, musibah itu terjadi bukan karena kamu atau aku. Kita hanya sekedar alat untuk terjadinya takdir."
Riany sebenarnya ingin menghibur diri sendiri. Penyesalan itu belum hilang dari hatinya. Karena kuatir Aisyah naik kereta bersama Al, maka muncul ide itu yang akhirnya mendatangkan musibah bagi suaminya.
Dia takut musibah ini adalah peringatan buat dirinya agar dapat menjaga cemburu dengan baik. Al tentu tidak nyaman kalau di setiap lembar hidupnya tercatat rasa cemburu istrinya, sekalipun rasa cemburu itu ada karena dia takut kehilangan dirinya.
"Aku ada di luar kalau kamu bosan dengan makanan rumah sakit," kata Riany sebelum pergi. "Aku menengok Wulandari dulu."
"Aku ingin lobster dan jus strawberry."
"Sudah itu saja?"
__ADS_1
"Apel dan pir buat makan malam."
"Aku suruh nanti temanku buat beli. Sayangnya santriwati tidak ada yang ikut, jadi tidak ada yang bisa menungguimu, kecuali kalau kamu ingin ditunggui oleh cowok."
"Tidak usah. Aku akan minta suster untuk menghubungimu kalau aku ada perlu."
"Tidak apa begitu juga. Aku stand by di lobi."
Riany pergi untuk menjenguk Wulandari. Perhatiannya ini tentu saja membuat mereka senang. Mereka merasa jadi ada peluang untuk mewujudkan mimpi indah itu. Hidup satu cinta dengan empat hati!
Kebaikan Riany adalah perlambang kalau hatinya tidak tertutup terhadap mereka. Terlepas dari sekedar simpati karena mereka lagi tertimpa musibah, bentuk kepedulian itu untuk sementara waktu sudah cukup.
Mereka akan kesulitan untuk beradaptasi jika Riany menaruh rasa benci atau antipati. Keluhuran budi pekertinya jadi setitik harapan yang membesarkan hati. Jadi semua tinggal tergantung Al. Manakala dia sudi membagi cinta, maka mereka tinggal melunakkan hati Riany agar bersedia menerima mereka.
"Aku tidak ingat nomor orang tuaku karena mereka cuma bikin ribet hidupku," kata Wulandari saat Riany menanyakannya. "Aku ingin lari dari segala aturan feodal."
"Kau terlahir di lingkungan feodal," ujar Riany. "Kau tidak bisa lari dari kehidupanmu karena hal itu akan membuatmu jadi orang lain."
"Tidak bolehkah aku menentukan jalan hidupku sendiri? Melakukan apa yang kusuka tanpa aturan yang mengikatku?"
"Kau harusnya bersyukur karena ada aturan yang mengikat. Hidup tanpa aturan hanyalah kebahagiaan semenjana. Setinggi-tingginya burung terbang suatu saat butuh teratak untuk singgah."
"Bukan kehidupan bebas seperti itu yang kuinginkan, aku hanya tidak ingin terkungkung oleh aturan feodal. Dari mulai bangun pagi sampai tidur malam hidupku diatur."
Wulandari adalah gadis pemberontak, pikir Riany hambar. Dia ingin keluar dari zona hidupnya, padahal perbuatan itu justru akan membuatnya sengsara. Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing.
Gadis ini gampang terpengaruh dengan kehidupan orang lain. Dia mestinya belajar menikmati kehidupannya sendiri. Ningrat adalah identitasnya, dan percuma menjalani kehidupan dengan melepas jati dirinya. Dia tidak akan menemukan kebahagiaan sejati.
Wulandari ingin hidup seperti orang biasa, padahal orang biasa ingin hidup luar biasa seperti dirinya. Dia tidak mensyukuri keadaan. Pola pikirnya mengalami komplikasi. Ingin hidup bebas tapi bersedia menjadi istri ketiga!
"Boleh aku minta sesuatu?" ujar Wulandari sebelum Riany pergi meninggalkannya.
"Kau ingin apa?"
"Lobster dan jus strawberry."
Makanan dan minuman favoritnya sama dengan Lin Wei.
"Apel dan pir juga buat makan malam?" tanya Riany.
"Ya."
Kok bisa ya selera berjamaah?
__ADS_1