Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 94


__ADS_3

Al baru saja selesai ganti pakaian. Dia tidak betah mengenakan pakaian dari rumah sakit. Lagi pula, sudah tidak ada lagi jarum dan alat medis yang terpasang di tubuhnya. Semua sudah dilepas kemarin.


Al kaget sekali mendengar kabar dari istrinya kalau Aisyah akan pergi berobat ke Tokyo. Apa kondisinya separah itu sehingga perlu perawatan di luar negeri?


Lin Wei dan Wulandari sudah melihat kondisinya secara langsung, Aisyah sudah bisa bercanda seperti biasa. Lalu dia pergi ke Tokyo untuk apa?


Abinya sudah dua kali menjenguk Al, tidak ada percakapan khusus tentang putrinya. Barangkali dia sungkan ada Riany di sampingnya, atau tidak ingin membicarakan penyakit anaknya dengan orang lain.


Bukan kebiasaan abinya kalau berusaha menyembunyikan masalah yang terjadi dengan Aisyah. Dia selalu bercerita sekecil apapun persoalan yang terjadi, tujuannya agar Al membantu memonitor tingkah lakunya.


Orang tua Aisyah begitu mengkuatirkan perkembangan putrinya yang tidak membatasi pergaulan, padahal Aisyah hanya ingin diterima oleh semua kalangan.


Al secara tidak langsung diminta untuk menjaga permata yang gampang retak itu. Sebuah pandangan orang tua yang terlalu mengkhawatirkan anaknya.


Aisyah adalah gadis yang berkepribadian, tidak mudah goyah terhantam badai, apalagi terbawa angin ke mana bersemilir.


Rasa ingin tahu yang menggunung membuat Al melangkahkan kakinya ke pintu kamar.


"Mau ke mana?" tanya Riany sambil menghabiskan chicken steak bekas makan siang suaminya. Hari ini Al tidak mau menyantap makanan yang disediakan oleh rumah sakit. Bosan. Menunya monoton.


"Jalan-jalan," jawab Al. "Bosan di kamar terus."


Riany memandangnya separuh protes. "Kok gak ngajak aku?"


"Aku tahu kamu capek. Kamu belum istirahat dari pagi mengurus semua keperluanku."


"Ngurus suami kok capek? Jangan punya suami kalau ogah ngurus."


"Kamu bukan baby sitter."


"Kamu menganggap aku begitu?"


"Maksudnya Riany Mahera Ayubi adalah istriku, yang harus dimanjakan, disayang, di-charger...."


"Peres."


"Kok peres?"


"Nyatanya kamu nggak jujur sama aku. Kamu pengen besuk Aisyah, kan? Jadi kamu gak mau ngajak istrimu?"


Al heran Riany selalu tahu isi otaknya kalau soal gadis yang satu itu. Giliran urusan makan sampai tanya berkali-kali, padahal tahu apa makanan favoritnya.


Atau pikirannya sudah diprogram untuk curiga dan cemburu? Jadi dia bisa menebak semua perlakuan suaminya terhadap gadis yang patut dicurigai dan dicemburui!


"Apakah salah kalau aku membesuk seorang teman?" tanya Al.


Riany balik bertanya, "Apakah salah kalau istri ikut?"


"Aku tidak melarangmu untuk ikut."


"Aku tidak melarangmu untuk besuk."


"Lalu masalahnya apa?"


"Masalahnya kamu mulai suka bohong."


Al sudah tahu pasti ribet menghadapi istri yang posesif. Selagi ta'aruf saja sering bikin pusing. Dia merasa berkuasa atas dirinya, padahal Al tidak berniat untuk menguasai istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak bohong," kilah Al. "Aku pengen jalan-jalan."


"Ngeles."


"Jalan-jalan ke kamar Aisyah."


Riany buru-buru merapikan bekas makan. Dia buang ke tong sampah di sudut kamar.


"Aku ambil buah-buahan dulu di bawah," kata Riany. "Tidak enak tangan kosong."


"Aisyah di ruang ICU," ujar Al. "Memangnya boleh makan buah-buahan dari luar?"


"Buah dari luar atau dari rumah sakit sama saja, kecuali buah simalakama."


"Kita langsung saja ke kamarnya."


"Aisyah boleh makan lobster, jus strawberry, buah apel, sama pir. Lin Wei dan Wulandari juga makan itu."


Riany tidak sadar kalau makanan, minuman, dan buah-buahan itu adalah kesukaannya. Mereka meniru apa yang digemari, hobi, dan aktivitas dirinya, model fashion juga sama.


"Kok bisa ya mereka punya selera yang sama?"


"Bukankah semua itu adalah kesukaanmu?"


"Apa mungkin mereka mencontoh aku?"


"Mereka menerima undangan darimu bukan semata untuk menghadiri pesta pernikahan, untuk mengetahui siapa kamu, hobi, kebiasaan, sampai warna pakaian dalam favorit. Maka itu mereka banyak nanya sama Umi."


"Buat apa?"


"Tanya sama mereka."


"Kesukaan mereka lain sebelum kamu undang."


Apa maksud mereka meniru semua kebiasaan dirinya? Apakah mereka berharap Al tidak melihat ada perbedaan?


Riany menatap suaminya dengan selidik. "Kamu tidak memberi harapan sama mereka, kan?"


"Harapan apa?" tanya Al. "Harapan jadi istri?"


Ada perubahan pada paras Riany, dan perubahan itu menggambarkan kalau kata-kata Al adalah benar.


Riany telah terjerat oleh kecurigaannya sendiri. Dia jadi memiliki beban dan membuat capek hatinya. Dia mewaspadai setiap gerak-gerik mereka, padahal mereka mengandalkan takdir.


Jika mau, Aisyah sudah berhasil merebut suaminya di Tanah Suci karena kesetiaan Al sedang berada di titik terendah. Dia tidak berniat untuk merebut. Dia ingin Al berbagi cinta.


"Jadi nggak besuk Aisyah?" tanya Riany separuh membentak. "Apa pengen sendiri?"


Al menegur secara halus, "Memangnya boleh ya seorang istri berbicara dengan suara tinggi sama suami?"


Riany serentak mengukir senyum dan berkata dengan suara lembut, "Habis kamu kayak orang banyak pikiran."


"Pikiran aku bukan pada Aisyah, Wulandari, atau Lin Wei."


"Jadi urutannya begitu?" sindir Riany. "Mereka bicara tentang apapun selalu urutannya begitu. Kamu juga."


Al angkat bahu sedikit. Dia jadi serba salah. Di hadapan istri yang pencemburu, apa saja yang disampaikan selalu dihubungkan dengan madu.

__ADS_1


Al menyebutkan nama dengan urutan begitu berdasarkan masa persahabatan. Dia lebih dulu mengenal Aisyah dibanding Wulandari dan Lin Wei.


Riany adalah seorang gadis yang sangat cantik dan seksi, namun dia kehilangan rasa percaya diri saat berhadapan dengan mereka. Padahal mereka tidak lebih hebat darinya.


Curiga dan cemburu telah mengikis akal jernihnya.


"Kok diam?" tanya Riany.


"Aku selalu salah kalau ngomong."


Riany tersenyum dan memeluk suaminya dari belakang dengan mesra. "Aku istri yang nyebelin ya, beb? Kamu jadi tertekan."


Kemanjaannya membuat hati Al luluh dan sulit berpaling. "Harusnya kamu yang merasa tertekan karena aku yang menekan. Belum kita coba sih, jadi kamu tidak tahu."


Riany berlagak bodoh. "Kamu ngomong apaan sih, beb?"


Nidar muncul bersama pengacara dan polisi. Mereka terpukau. Riany segera melepaskan pelukannya. Wajahnya sedikit memerah karena tertangkap basah lagi bermesraan.


"Aku datang di waktu yang tidak tepat," komentar Nidar.


"Jangan salahkan waktu," kata Al. "Salahkan dirimu yang tidak memberi salam. Biasakan itu meski bukan masuk kamar pribadi."


"Perlu rekonstruksi ulang?"


"Kalau kursi ingin melayang."


"Pengantin baru kalau diganggu jadi gampang emosian."


Al tahu polisi datang untuk kepentingan penyidikan, sesuai dengan permintaannya kemarin.


Al memberi keterangan tanpa berbelit-belit, berdasarkan apa yang dilihat dan dialaminya.


"Aku kira untuk kasus pelecehan seksual, jangan anda tanyakan kepada korban," pinta Al. "Saat kejadian, korban dalam keadaan tidak sadarkan diri. Jadi keterangan apa yang bisa anda peroleh dari orang yang pingsan?"


Al perlu menyampaikan hal itu karena tidak ingin Aisyah diinterogasi. Cukup Lin Wei dan Wulandari, dan dampaknya hampir tiap jam handphone bunyi karena mereka ingin menanyakan kebenaran kasus itu.


"Anda sudah memberikan teror psikis kepada mereka dan saya yang terkena dampak. Kalau tidak masuk delik dakwaan dengan pengakuan saya, kasus pelecehan itu mendingan saya cabut."


"Saya minta maaf untuk hal ini," kata penyidik. "Saya merasa perlu bertanya kepada korban untuk memastikan kalau mereka tidak ingat apa-apa tentang pelecehan itu."


"Teman saya yang satu lagi belum keluar dari kamar ICU, dan saya yakin dia sama seperti dua korban yang sudah anda mintai keterangan. Dia adalah orang pertama di dalam mobil yang tidak sadarkan diri. Jika anda tetap memaksa ingin minta keterangan, maka saya cabut aduan tentang pelecehan sekarang juga. Saya tidak mau anda memberi teror psikis kepada teman saya."


"Saya kira kasus ini bisa diajukan sebagai delik aduan," kata pengacara. "Cukup anda dan dua teman anda jadi saksi. Mereka siap."


"Siap apanya? Mereka pingsan. Anda ingin menghadirkan orang pingsan sebagai saksi?"


"Mereka hanya dimintai kesaksian kalau mereka tidak tahu apa-apa tentang pelecehan itu, meski mereka adalah korban."


"Saya tidak mau mempermalukan mereka di depan umum. Aduan ini jadi kebodohan saya kalau begini akhirnya."


"Kita bisa minta sidang tertutup," ujar pengacara. "Jadi anda tenang saja."


"Bagaimana saya bisa tenang kalau teman saya yang berada di ruang ICU akan kalian kasih kabar tentang kejadian yang dia tidak tahu? Saya berharap lebih baik dia tidak tahu!"


"Saya berencana cukup mengajukan tiga saksi saja. Dokter yang menangani teman anda itu tidak mengijinkan pasiennya untuk diinterogasi. Dia dan orang tuanya sedang menunggu sampai pasien siap mental untuk memberi tahu apa yang terjadi pada dirinya."


"Maksud anda?"

__ADS_1


"Akibat kecelakaan itu, pasien mengalami lumpuh total."


Al hampir tidak percaya dengan telinganya. Aisyah lumpuh total?


__ADS_2