
Kondisi Al berangsur-angsur membaik. Dia mulai dapat berbicara tanpa merasa ada gangguan pada mulut. Asupan nutrisi sudah bisa dilakukan tanpa bantuan jarum infus.
Dia tinggal menunggu proses penyembuhan, hari kedua sudah pindah ke kamar perawatan sehingga bisa ditunggui oleh keluarga.
Riany tidak beranjak dari sisinya sejak pindah dari ruang ICU. Shalat dan tidur di kamar. Al jadi berbagi tempat tidur dengannya. Kamar VIP penuh. Dia kebagian di kamar kelas satu.
"Kamu baiknya gantian sama Ibu," kata Al saat sudah sehari semalam istrinya tidak keluar kamar perawatan. "Jangan sampai aku keluar rumah sakit, kamu gantian masuk."
"Aku ingin ada di sisimu, beb," jawab Riany. "Aku nggak bisa tidur di hotel."
"Di kamar ini orang sehat bisa sakit, karena namanya rumah sakit, bukan rumah sehat," kata Al bercanda.
Riany tersenyum. "Aku bahagia sekali kau sudah bisa bercanda."
Al jadi teringat pada ketiga temannya. "Mereka bagaimana?"
"Lin Wei dan Wulandari sudah sehat. Mereka sudah bisa berjalan, hanya dokter belum mengijinkan untuk berjalan keluar kamar."
"Aisyah?"
Keceriaan Riany berkurang tersaput mega. "Dia belum boleh dibesuk. Orang tuanya saja yang boleh masuk ke ruang ICU."
"Setidaknya dia sudah melewati masa kritis."
Al bersyukur teman-temannya selamat. Ia tidak dapat membayangkan seandainya di antara mereka ada yang mengalami fatality, apakah orang tuanya dapat menerima?
"Aku ingin bertemu sama Nidar," kata Al. "Ada yang mau kusampaikan."
"Tidak bisa lewat aku?" tanya Riany. "Suster melarang masuk kecuali pada jam besuk."
"Masalah ini bukan masalah perempuan, jadi aku perlu menyampaikan langsung ke Nidar. Bilang ke suster kalau dia melarang temanku untuk masuk kamar, maka dia akan berurusan dengan polisi. Aku memanggil temanku ada sangkut pautnya dengan kriminalitas."
"Ya sudah aku panggil," kata Riany. "Aku pamit dulu."
Riany mencium tangan suaminya, kemudian pergi meninggalkan kamar perawatan. Al heran istrinya repot-repot memanggil Nidar ke ruang lobi, padahal tinggal ngebel.
Musibah ini membuat pikiran Riany sangat kacau, sehingga tidak dapat berpikir efektif. Dia bahkan sempat ribut sama suster karena sudah tiga hari jarum infus tidak diganti, sama saja pihak rumah sakit ingin membunuh suaminya. Dia pernah mendengar dari anak kedokteran, seyogyanya jarum suntik diganti tiga hari sekali agar tetap higienis.
Nidar muncul di pintu dengan senyum cerianya. "Alhamdulillah. Doaku termakbulkan."
"Jadi seandainya doamu tidak dikabulkan, kamu tidak memuji Tuhanmu?"
"Gak gitu juga."
"Aku tidak mau kamu mengikuti orang kebanyakan. Mengucap hamdalah hanya pada saat menerima kesenangan. Jika doamu tidak termakbulkan, kau tetap harus mengucap hamdalah, karena kita tidak tahu rahasia di baliknya."
"Baik, Pak Ustadz."
"Jangan sembarangan menyandangkan gelar karena itu akan jadi pertanggungjawabanmu di akhirat."
"Jadi aku dipanggil untuk mendengarkan ceramahmu?"
"Kau dipanggil untuk melaksanakan perintahku."
__ADS_1
"Siap."
"Istriku mana?"
"Di ruang lobi. Kau hanya boleh ditunggui satu orang. Jadi gantian."
"Kata suster jaga begitu?"
"Ya."
"Dia berani berkata begitu kalau aku seorang pejabat?"
"Perlu ditanyakan. Maksudnya kau ingin bilang aturan tajam ke bawah dan tumpul ke atas?"
"Aku ingin bilang kalau setiap aturan ada pengecualian kalau sudah berurusan dengan hukum, kalau ada hal yang bersifat urgensi. Dia tidak mungkin bertahan dengan aturan kalau rumah sakit ini kebakaran misalnya."
"Aturan rumah sakit bawaannya bikin emosi, barangkali karena mood kita berada pada titik paling rendah."
"Aku tidak emosi, hanya mempertanyakan. Kamu datang ke kamar ini bukan untuk besuk, jadi aturan itu tidak berlaku. Riany pasti gelisah menunggu di ruang lobi, aku jadi tidak leluasa ngobrol denganmu."
"Barangkali karena banyak keluarga pasien yang menggunakan berbagai cara agar bisa besuk."
"Jangan pukul rata. Jangan ambil gampangnya. Profesionalisme mereka di mana kalau begitu?"
"Kau empat hari di rumah sakit jadi strong begini. Aku kuatir satu bulan dirawat, direktur rumah sakit kau tuntut! Aku berharap kau bisa segera keluar!"
"Jangan keras-keras. Aku tidak sendiri di kamar ini. Ada pasien lain."
"Buat apa? Di kamar semewah apa juga, selama itu rumah sakit, aku tidak ingin menikmatinya."
"Pindah ke hotel bintang lima saja kalau begitu, pakai layanan kesehatan khusus. Sekalian melanjutkan malam pengantin."
Al menyampaikan persoalan yang ingin dibicarakannya, 'Kamu masih ingat tiga santri gadungan yang coba merampok Fatimah?"
"Ya."
"Aku minta kamu lapor ke kepolisian. Tiga bromocorah itu sudah menjarah barang kami dan melakukan pelecehan pada tiga orang temanku."
"Pelecehan bagaimana maksudmu?"
"Urusan pelecehan kau ingin detail! Kau ini marbot apa marmot?"
"Sambil menyelam minum air."
"Airnya tidak higienis kalau dipakai menyelam," sambar Al keki. "Ponselku bisa dilacak. Aku ingin mereka segera ditangkap."
"Aku heran mereka bisa lolos dari jerat hukum, padahal perbuatan mereka terhadap Ustadzah Fatimah sudah termasuk kriminalitas."
"Aku tidak mau membahas kasus yang sudah basi. Aku sudah mewanti-wanti sama mereka untuk tidak bertemu lagi dalam kondisi yang sama. Rupanya mereka tidak mendengarkan."
"Begini saja, aku dan Nidar akan memaksa mereka untuk melepas kuping karena percuma punya kuping tapi tidak dipakai untuk mendengar. Aku minta ID untuk melacak ponselmu."
"Aku minta kamu lapor polisi. Jangan main hakim sendiri. Hakim sudah banyak di negeri ini."
__ADS_1
"Aku paling benci sama orang yang memakai atribut agama untuk berbuat kejahatan."
"Bukan hanya kau yang benci, tapi seluruh bangsa. Aku ingin mereka dihukum seberat-beratnya untuk memberi efek jera."
"Siap."
"Sudah pergi sana. Kasihan istriku kelamaan nunggu."
"Kasihan apa kangen?"
"Jangan pikir aku tidak bisa membuat babak belur marbot biar keadaan begini."
"Rumah sakit bikin gampang naik darah ya?"
"Kalau pengen gampang naik pesawat, di bandara! Pasukan bandring masih ada?"
"Komplit."
"Aku minta mereka pulang untuk mengurus pembangunan koperasi. Transferan aku sudah masuk ke rekeningmu, kan?"
"Sudah," jawab Nidar. "Oh ya, aku sudah minta pasukan bandring untuk membangun sendiri gedung koperasi karena di antara mereka banyak yang jadi kuli bangunan. Tapi sudahlah. Kau cepat sembuh dulu, jangan pikirkan hal lain."
Al berharap mereka dapat mengemban amanah dengan baik sehingga mendatangkan pahala bagi Oma. Dia sudah berencana tidak hanya mendirikan koperasi, ada potensi untuk membuka usaha katering dan percetakan.
Al ingin teman-temannya hidup berkecukupan. Ekonomi adalah fondasi utama agar mereka berdiri kokoh dalam hijrah. Kefakiran mendekatkan pada kekufuran.
Riany muncul dan bertanya, "Ada apa sih, beb? Kelihatannya Nidar serius banget ngomong sama Ridwan dan Kak Ahmed?"
"Kamu gak nguping?"
"Kamu bilang urusan laki-laki. Jadi aku gak berani nguping."
"Kalau mau patuh sama suami, jangan setengah-setengah."
"Iya. Aku gak jadi nanya."
"Aku justru ingin menjawab biar istriku tidak penasaran. Aku ingin Nidar melaporkan santri gadungan yang pernah berbuat kriminal sama Fatimah. Mereka sudah menjarah aku dan ketiga temanku."
"Biadab."
"Nah, keluar sumpah serapah kan? Maka itu aku tidak mau ngasih tahu kamu."
"Sorry, beb."
"Ibu di ruang lobi sama siapa?"
"Ibu sama Umi pergi ke hotel. Beliau ingin menunggui kamu, tapi Ayah melarang karena Ibu kerjanya cuma nangis, takut bawa pengaruh buruk sama kamu."
"Tangis seorang ibu adalah berkah bagiku."
Dengan kejadian ini, Al jadi tahu betapa tingginya kasih sayang Ibu kepada dirinya. Tapi dia tidak mungkin meminta beliau untuk menemani, takut mengganggu pasien lain.
Di balik musibah pasti ada hikmahnya. Al tahu pepatah itu tidak sekedar penghias bibir.
__ADS_1