
Al tahu Riany ingin segera menikah bukan karena takut terseret dosa baik sengaja atau tidak, tapi ingin memagari dirinya dari perempuan lain. Padahal laki-laki tidak terikat dengan perkawinan. Laki-laki hanya terikat dengan keinginan.
Keinginan ini bergantung pada keberanian untuk mengambil risiko. Tidak jarang madu menyebabkan kehancuran rumah tangga. Kalau kondisinya seperti itu, malah timbul kemudharatan. Anak-istri jadi korban.
Astaghfirullah, pekik Al kaget. Hatinya sudah terlalu jauh terseret oleh pesona perempuan-perempuan itu. Satu saja belum pasti. Sudah berpikir macam-macam.
Lebih baik Al memikirkan oleh-oleh apa saja yang belum dibeli buat orang rumah dan tetangga. Arbain sudah selesai. Tinggal wisata ziarah sekalian belanja kuliner. Namun bukan berarti shalat boleh terlambat. Shalat tepat waktu adalah prinsip Al, kecuali ada halangan. Pergi wisata bukan halangan yang patut jadi alasan.
Mereka memanfaatkan waktu tersisa untuk pergi ke Masjid Qiblatain.
Masjid Qiblatain artinya masjid dua kiblat. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah karena dibangun di tanah bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju Universitas Madinah, kampus Riany. Di sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah.
Pada permulaan Islam, Nabi melakukan shalat dengan kiblat ke arah Masjidil Aqsha di Yerusalem. Kemudian turun wahyu, pada saat sedang shalat, untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram.
Di bagian luar masjid, yang paling megah adalah menara dan kubah.
Menara ada dua, dengan bentuk dan ukuran yang sama. Masing-masing menara diberi ukiran-ukiran khas yang terlihat mirip benteng pertahanan dan daun jendela.
Kubah jumlahnya ada lima, dua dengan bentuk dan ukuran sama yang posisinya membelah menara. Kubah utama menunjukkan arah kiblat yang benar, kubah kedua dijadikan sebagai pengingat sejarah ketika terjadinya perubahan arah kiblat.
Selesai shalat Dhuha, Al menemui Aisyah yang duduk-duduk di teras menikmati pemandangan sekitar.
"Dari bandara langsung ke Yogya?" tanya Al sambil berdiri di sampingnya.
"Liburan di pesantren," sahut Aisyah. "Riany kepingin aku main ke rumahnya."
Al tertegun. Apa maksud Riany mengundang Aisyah? Padahal hijaber itu adalah gadis yang paling dicemburuinya.
Aisyah melirik sekilas. "Kayak tidak suka?"
"Riany itu jarang keluar, paling-paling ngajak kamu tadarusan."
"Katanya banyak mall."
"Aku belum pernah lihat Riany jalan-jalan ke mall."
"Tidak perlu sama Riany."
Tapi tidak mungkin jalan-jalan sendiri, Al tersenyum pahit. Kalau dia mengantar keluar masuk mall, apa kata masyarakat?
"Lalu sama siapa?" tanya Al ingin tahu.
"Kamu keberatan?"
"Tentu saja tidak. Hanya kampungku biar sudah kayak kota satelit, penduduknya masih memegang teguh tradisi."
"Kamu benar-benar pencitraan ya kalau di kampung?"
"Apa salahnya mempersempit peluang untuk jadi bahan gosip?"
Dia bukan ingin menjaga image, tapi mencegah warga dari dosa fitnah. Nama baik akan terbangun dengan sendirinya.
Di kota besar, muda mudi pergi berdua sudah biasa sehingga bukan sesuatu yang pantas dibicarakan lagi. Namun di kampungnya, bepergian berdua termasuk pemandangan langka. Kencan di kafe kadang pergi rombongan, kayak piknik keluarga. Nonton saja perlu bawa pengawal.
__ADS_1
Tradisi yang mulai banyak diakali oleh kids jaman now. Pengawal dan yang dikawal berpisah di tengah jalan. Yang penting uang pelicin cukup.
"Kalau begitu tidak apa aku jalan sendiri," kata Aisyah. "Kampungmu aman kan?"
Aisyah mirip Dinar. Hobinya jalan-jalan ke mall, sekedar melihat-lihat atau nongkrong di kafe. Menurutnya hijaber tidak perlu menutup diri dengan berdiam di rumah atau saban hari menunggu datangnya waktu shalat. Maksiat muncul bukan dari kemajuan pergaulan, tapi pergaulan yang terlalu maju.
"Siapa yang nyuruh kamu jadi sopir?" balik Riany ketika Al menyampaikan hal itu. "Kan bisa pergi sama Lukman."
"Ceritanya jadi comblang?"
"Keberatan?"
"Aisyah bukan boneka yang bisa kamu mainkan seenaknya."
"Jadi kamu yang rempong?"
"Aisyah menerima tawaranmu benar-benar buat liburan, bukan untuk yang lain."
"Aku kira Aisyah cocok buat Lukman."
"Berarti kamu belum kenal Aisyah."
"Maka itu aku tawari liburan di rumahku biar kenal."
"Lalu kamu pertemukan mereka dengan tipu daya situasi?"
"Apa itu salah?"
"Jangan paksakan, Aisyah bukan kembaran kamu."
"Tapi itu yang Lukman cari."
"Lukman harus belajar melupakan aku."
"Sudah dilakukan sejak dulu kalau bisa."
"Jadi kamu ingin aku menerima cinta Lukman?"
"Itu yang kamu mau?"
"Itu yang jadi alasan kenapa aku ingin segera menikah sama kamu. Biar Lukman sadar kalau aku bukan takdirnya."
"Demi Lukman kamu rela mengorbankan masa depanmu?"
"Sudah kubilang cuma nikah saja. Lalu kita raih impian masing-masing, aku ke Madinah, kamu ke Yogya."
"Bukan karena kamu ingin melupakan Lukman?"
"Ini alasan pertama kenapa aku ingin nikah segera. Aku tidak mau dicurigai."
"Aku tidak mencurigai."
"Terus apa namanya?"
__ADS_1
"Aku tidak mau kalian menyakiti hati sendiri."
"Aku kira masalah ini sudah selesai, ternyata malah melebar ke mana-mana."
"Ngomongnya harus gimana ya biar kamu tidak salah tangkap?"
"Habis kamu nuduh macam-macam."
"Yang nuduh itu siapa? Aku cuma kuatir kalian korbankan cinta kalian demi aku."
"Itu menuduh namanya. Apa yang dikorbankan? Aku tidak pernah tahu cinta Lukman, dan tidak pernah ada cinta kepada laki-laki lain. Aku malahan curiga, kamu menghalangi rencanaku karena takut kehilangan Aisyah."
"Curiga lagi. Aku bisa tidak keluar rumah nanti kalau dicurigai terus. Suami apa tahanan rumah?"
"Kalau sudah jadi istri, ya lain dong."
"Lebih parah?"
"Maka itu kita segera nikah biar tahu aku perhiasan yang seperti apa."
"Jangan-jangan tembaga."
"Enak saja."
"Jarak antara Yogya dan Madinah bisa membuat emas jadi tembaga."
Al tersenyum kecut, kemudian pergi ke bis. Kunjungan sudah selesai. Mereka semua naik. Dia absen satu-satu.
"Lengkap," kata Al. "Kita berangkat."
"Lengkap apaan?" gerutu Riany yang baru muncul di pintu bis. "Sengaja ya mau meninggalkan aku?"
"Ikut juga?" balik Al enteng. "Kirain mau nengok kampus?"
"Benar juga," sambar Nek Surti. "Aku kepingin tahu tempat kuliah Riany."
"Buat apa kepingin tahu tempat kuliah Riany?" sindir Eyang Munzir. "Cari brondong? Kuliah libur. Ada laler Arab, mau?"
"Lumayan deh, daripada kolor ijo."
"Masih ingat saja celana favoritku."
Kemudian bis bergerak meninggalkan Masjid Qiblatain menuju ke kebun kurma Majeed.
Kebun kurma itu konon merupakan sebagian kecil dari peninggalan Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi yang termasuk delapan orang pertama masuk Islam, atau dua hari setelah Abu Bakar.
Mereka adalah delapan orang awal yang dijanjikan masuk surga atau dikenal sebagai Assabiqunal Awwalun.
Kebun kurma itu salah satu perkebunan yang ramai dikunjungi oleh rombongan dari Indonesia, letaknya tidak jauh dari masjid Quba.
Kebun kurma didominasi oleh bangunan toko yang menjual aneka macam kurma. Kebunnya sendiri berada di belakang dan samping kanan kiri.
Mereka mampir beli kurma buat oleh-oleh. Jalan-jalan sebentar melihat kebun kurma, lalu pulang ke hotel, berkemas-kemas.
__ADS_1
Selepas Isya mereka berangkat ke bandara untuk pulang ke tanah air.