Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 78


__ADS_3

Al terbangun dari tidurnya. Jam berbentuk lemari berukir yang tersimpan di sudut kamar menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Waktu dimana dia biasa terjaga. Dia bersyukur telah dibangunkan oleh Sang Pemilik Waktu pada saat orang sedang terlelap. Sebuah berkah yang menghadirkan kenikmatan di hatinya. 


Al heran manakala menemukan seorang perempuan sangat cantik tertidur di sampingnya. Sebuah peristiwa indah kemarin pagi hadir di benaknya. Dia tersenyum bahagia. Sepenggal ijab membuat Riany berubah status dan halal untuk satu pembaringan dengannya. Ratu kecil yang jadi musuh bebuyutan semasa kanak-kanak kini setelah dewasa jadi ratu rumah tangga, dengan gelar Nyonya Al Farisi Haikal Najid.


Al turun dari pembaringan dan pergi ke kamar mandi yang berdinding kaca buram. Mandi pada waktu dini hari sungguh menyehatkan dan menyegarkan, perkataan Nabi yang sudah dibuktikan oleh ilmu kesehatan dimana struktur air berada dalam kondisi terbaik.


Kemudian Al mengambil air wudhu di keran yang agak jauh dari toilet untuk mencegah terdapatnya najis di lantai yang belum sempat dibersihkan atau tidak kelihatan. Keluar dari kamar mandi, dia membuka travel bag berisi pakaian. Kemarin dia capek menerima tamu sehingga tidak sempat mengeluarkan isi travel bag dan memindahkan ke lemari.


Al kaget saat mendapati travel bag dalam keadaan kosong. Riany pasti sudah menyimpannya di lemari. Perempuan itu terlalu memaksakan untuk menjadi perhiasan yang terbaik. Dia berusaha melupakan rasa lelah dengan tidak meninggalkan beban pekerjaan untuk suaminya, sekecil apapun pekerjaan itu.


Riany adalah puteri bungsu yang dimanja oleh keluarga. Dia biasa hidup dilayani. Dia tinggal di Madinah bersama asisten rumah yang mengurus segala keperluan. Membongkar isi travel bag dan menyimpannya di lemari adalah pekerjaan yang belum pernah dilakukannya. Kini dia mengerjakannya untuk suami.


Al harus membuka pintu lemari satu per satu karena tidak tahu di mana pakaian itu disimpan. Ah, rupanya di pintu keenam. Ada beberapa kurta dan sorban di rak atas, tapi pakaian dalam tidak ditemukan di rak setelahnya.


Barangkali di lemari satu lagi. Lemari itu lebih kecil dan lebih rendah, terdiri dari beberapa laci besar. Al memeriksa laci satu per satu. Pakaian dalam itu bercampur dengan pakaian milik Riany. Untung model dan bentuknya beda, jadi dia tidak kesulitan mencari.


Selesai berpakaian, Al mendirikan shalat tahajud dua rakaat, kemudian berdoa, "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan sifat yang Kau ciptakan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istriku dan keburukan sifat yang Kau ciptakan untuknya. Jadikanlah aku dan istriku pasangan yang penuh berkah."


Al bangkit dari bersimpuhnya dan berjalan ke tempat tidur. Kemudian mengecup kening istrinya yang terlelap. Terasa nikmat sekali. Ijab sudah membuat sesuatu yang tak berani dibayangkan jadi kenyataan.


Riany terbangun dan bangkit dengan kaget, "Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Kenapa kamu ada di kamarku?"


Al tersenyum penuh arti. "Semua yang ada pada dirimu adalah halal bagiku."


Riany merenung sejenak, lalu bibir mungil itu merekah dan tersenyum mesra. "Maafkan aku, beb. Aku seperti mimpi rasanya."


"Aku juga serasa tak percaya."


"Kau membangunkan aku untuk apa? Untuk minta hakmu?"


"Tahajud. Jangan tinggalkan itu bagaimanapun bahagianya kita. Kamu biasa dibangunkan?"


"Biasanya bangun sendiri. Aku capek sekali malam ini."


"Mandi dini hari membuat capeknya hilang."


"Kamu sudah mandi?"


"Aku tidak akan menyuruh istri kalau aku belum melakukan."

__ADS_1


Istri, pikir Riany lambat-lambat. Sungguh indah terdengar. Ijab sudah membuat kimono transparan yang dipakai ini jadi halal.


"Kamu ingin aku keluar dari kamar mandi pakai kimono model apa?" tanya Riany malu-malu.


"Pilihlah kimono yang kamu suka."


"Aku ingin pakai kimono yang kamu suka."


"Aku tahu kamu memaksakan diri untuk memakai kimono itu. Sebenarnya aku tidak serius memintamu untuk memakai kimono itu. Jika keberatan, katakan saja, dalam hal apapun. Aku tidak berharap memiliki istri yang sempurna dalam segala hal karena aku juga bukan suami yang sempurna dalam segala hal. Aku berlindung dari segala keburukanmu dan kamu berlindung dari segala keburukanku."


Riany tersenyum jujur. "Aku perlu mengumpulkan keberanian untuk keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono ini."


"Terima kasih sudah memenuhi permintaanku."


Riany pergi ke kamar mandi. Al merapikan kado yang berserakan di lantai. Dia simpan menjadi beberapa tumpukan di sudut kamar, kemudian menumpuk dus berisi amplop di sebelahnya. Dia heran tamu begitu keras kepala ingin memberi amplop, padahal dia sudah meminta mereka untuk menyedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Amplop itu kini jadi tanggung jawabnya untuk membagikan karena dia sudah terlanjur berucap.


Riany keluar dari kamar mandi mengenakan kimono dengan model tidak memperlihatkan keindahan tubuhnya. Dia berdiri sebentar di depan pintu seolah menunggu komentar suaminya.


Al tersenyum dan memuji, "Kamu kelihatan lebih seksi."


"Masa sih, beb?" cetus Riany dengan hati berbunga. "Kamu cuma ingin menyenangkan hatiku."


"Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang terlihat, sehingga kamu tidak lupa untuk membenahi jika ada kekurangan."


"Tugasmu adalah tugasku, dan tidak sebaliknya. Semoga aku dapat menjalankan amanah sebagai suami."


Riany memakai perlengkapan shalat, lalu mendirikan shalat tahajud dua rakaat. Al berbaring menunggu istrinya selesai shalat. Dia tidak ingin melakukan kegiatan yang sekiranya mengganggu konsentrasi istrinya.


Kemudian Riany berdoa tanpa suara. Al berharap apa yang jadi doa istrinya terkabulkan. Selesai istrinya berdoa, dia bertanya, "Mengapa doamu tidak diperdengarkan? Kau ingin merahasiakan doamu dari suami, padahal Allah akan membuka semua aibmu kepadaku?"


"Aku malu," sahut Riany tersenyum sipu. "Aku berdoa untuk suamiku."


Al tersenyum samar. "Kau merasa malu kepada suami tapi tidak merasa malu kepada Allah, padahal tersinggungnya suami adalah tersinggungnya Allah."


"Kau tersinggung aku berdoa tanpa sepengetahuan suami?"


"Aku mencoba menjaga perasaanku agar tidak menimbulkan murka Allah kepadamu."


"Aku berdoa semoga suamiku dapat menjadi imam yang baik dan memberi keberkahan bagiku, menyayangi aku untuk selamanya, dan bahagiaku malam ini tetap bertahan sampai ajal tiba."

__ADS_1


Al tersenyum kecil. "Jika diperdengarkan doamu, maka aku dapat meluruskan doa itu."


"Ada yang salah dengan doaku?"


"Kau ingin bahagiamu malam ini bertahan sampai ajal tiba. Malam ini tidak terjadi apa-apa di antara kita. Jadi bahagiamu seperti itu?"


Wajah Riany meranum. "Tentu saja aku ingin suamiku memberi nafkah lahir dan batin. Aku harus bertaubat atas kesalahan doaku."


"Allah sudah meluruskan doamu karena Dia tahu apa maksud hatimu. Pada saat kapan kau bertaubat?"


"Pada saat aku melakukan kesalahan dengan shalat dua rakaat."


"Aku minta kau shalat taubat pada saat suami pergi shalat Jum'at, berbuat kesalahan atau tidak, karena kita tidak tahu apa semua perbuatan yang menurut kita benar adalah benar juga di hadapan Allah."


"Dengan senang hati aku akan menjalankan perintah suamiku," sahut Riany ikhlas. "Kau ingin dibuatkan teh hijau?"


Al menatap surprise. "Sebelum tidur kau bilang tidak bisa membuat teh hijau, setelah bangun tidur kau tawari aku teh hijau. Apa kau belajar di dalam mimpi?"


"Aku bertanya ke asisten rumahmu, dan akan kucoba."


"Aku ingin tahu hasil belajarmu."


Riany pergi ke pintu kamar. Dia putar gagang kunci dan kepalanya hampir kena jitak Umi yang hendak mengetuk pintu.


"Umi mau ngapain?" tanya Riany.


"Membangunkan kamu untuk shalat tahajud."


Riany tersenyum manis. "Mulai malam ini bukan tugas Umi lagi, sudah jadi tanggung jawab suamiku."


"Aku harap kamu bisa bangun sendiri."


"Aku sudah berniat untuk bangun sendiri, tapi Umi selalu membangunkan aku lebih dulu," canda Riany.


"Dasar."


Riany menutup pintu dan pergi meninggalkan kamar.


"Mau ke mana kamu?" tanya Umi. "Ajak suami kalau berangkat ke masjid."

__ADS_1


"Bikin minuman buat suamiku."


Umi bengong. Sejak kapan puteri manja itu bisa bikin minuman?


__ADS_2