
Iqamah berkumandang. Al berdiri siap-siap untuk shalat berjamaah. Dia berada di shaf paling depan.
Imam rawatib meminta Al untuk maju, "Jadi pengantin baru adalah sebuah berkah. Alangkah baiknya kalau jamaah mendapat berkah juga."
"Saya belum pantas, Pak Kyai," tolak Al. "Saya tempo hari jadi imam karena Pak Kyai berhalangan, dan pasukan bandring menginginkan."
"Subuh ini saya dan jamaah menginginkan ananda jadi imam."
"Semoga bukan karena suara saya bagus, itu akan memberatkan saya jika muncul sepercik riya."
"Insya Allah tidak. Ananda adalah suami dari calon pemilik pesantren ini, sudah selayaknya ananda jadi pemimpin kami."
Al maju dan bersiap-siap untuk memimpin shalat Subuh. Terlebih dahulu dia memeriksa shaf karena shaf adalah salah satu syarat sempurnanya shalat berjamaah. Kemudian takbiratul ihram. Pada rakaat pertama membaca surah as-Sajdah, pada rakaat kedua membaca al-Insan. Surah yang biasa dibaca Nabi sewaktu shalat Shubuh, selain beberapa surat lainnya, dan tidak membaca qunut.
Alunan suara yang merdu dengan makhraj dan tajwid yang pas sungguh meresap di hati. Bahkan jamaah yang mengerti maknanya sampai menitikkan air mata karena ayat-ayat yang dibaca mengandung filosofi hidup yang sangat dalam.
Selesai shalat Subuh, Al bertemu dengan pasukan bandring yang berkumpul di beranda depan masjid.
"Aku kira tempo hari kau lupa membaca qunut," komentar Nidar. "Ternyata sengaja tidak dibaca."
"Aku menghargai dan menghormati jamaah," kata Al tenang. "Aku adalah pemimpin mereka dalam shalat dan sudah seyogyanya begitu."
"Aku kira pindah."
Al tersenyum samar. "Jadi suami calon pemilik pesantren tidak merubah pendirianku, karena tidak ada sesuatu yang perlu dirubah, hanya kebiasaan yang perlu diperbaiki."
"Kamu harus jadi perekat warga kampung dengan warga pesantren," ujar Ridwan. "Kampung ini sudah capek terjebak dalam perbedaan."
"Insya Allah. Maka itu aku menugaskan kamu dan Nidar untuk memimpin pasukan bandring jadi jembatan dan pelopor kebersamaan, sementara aku menyelesaikan kuliahku. Atau kalian berdua ingin menggeserku jadi pemimpin pasukan bandring?"
"Mulai deh," gerutu Nidar. "Aku dan Ridwan cukup jadi wakil saja."
"Kalian perlu belajar keras kalau ingin jadi ketua," sahut Al santai. "Kemampuan yang kalian miliki sekarang belum cukup untuk mengalahkan aku."
"Pengantin baru sombong betul."
"Ngomong fakta itu bukan sombong, tolong bedakan dengan tong kosong berbunyi nyaring. Tidak bedanya aku mengaku saat ini aku memiliki aset kekayaan tiga ratus milyar, apa itu sombong? Nyatanya begitu."
"Iya, iya."
"Belum warisan dari Opa dan ayahku nanti. Gak kehitung deh."
"Iya, iya! Kamu miliarder yang bikin aku minder!"
"Jangan minder juga. Aku minta untuk pasukan bandring yang belum bekerja, tolong pikirkan mau buka usaha apa, aku siap membantu."
"Nah, ini yang lagi kami musyawarahkan," tukas Ridwan serius. "Aku punya lahan kosong, dan kami sepakat untuk membuka koperasi sembako untuk melayani kebutuhan warung di beberapa kampung, tapi butuh dana sangat besar."
"Sangat besar itu berapa?"
"Untuk bangunan saja sekitar dua ratus juta. Untuk pengadaan sembako lengkap dan order langsung ke petani dan perusahaan, butuh modal awal sekitar lima ratus juta, jadi total tujuh ratus juta. Kami sedang membicarakan agunan untuk cari pinjaman."
"Kalian tidak usah pikirkan agunan. Aku siap kasih modal."
"Kamu bersedia memberi pinjaman tanpa agunan?"
"Aku pemimpin kalian, dan punya uang banyak. Jadi tidak butuh agunan."
"Serius?"
__ADS_1
"Aku kasih modal satu milyar."
"Lalu mengembalikannya bagaimana?"
"Mengembalikannya begini saja. Kebetulan pasukan bandring hadir semua. Kamu dan Nidar adalah yang paling tinggi ilmu silatnya. Kalian lawan aku, kalau menang, kalian cicil setiap bulan setelah usaha berjalan. Ben Muzakir yang menurut kalian ilmunya satu tingkat di atas kalian, cuma membuat tanganku gatal. Aku kira kalian berdua cukup jadi obat. Bagaimana?"
Nidar melongo. "Waduh, kamu mau bikin aku bonyok seharga satu milyar?"
Ridwan usap-usap kepala. "Aku lawan, pasti nama baikku jatuh di depan murid-muridku."
"Makanya kalian jangan macam-macam. Cukup dengarkan kata-kataku. Aku minta uang itu kalian kelola dengan baik. Jika ada keuntungan, jangan lupa bayar zakat dan sedekahkan sebagian keuntungan kepada anak yatim dan janda jompo. Itu lebih berarti bagi Oma. Kapan kalian butuhnya?"
"Secepatnya," sahut Nidar.
"Secepatnya itu kapan?!"
"Waduh! Galak betul! Kebanyakan apa semalam, otak jadi somplak begitu?"
"Bicara sama kalian harus begitu, biar paham!"
"Iya, iya, aku paham. Jadi setiap kegiatan amal dari hasil usaha koperasi harus atas nama Oma, begitu kan maksudmu?"
"Tumben cerdas."
"Istri nunggu tuh! Kelihatannya sudah kebelet banget!"
Padahal Riany menunggu dengan sabar sambil duduk di beranda lain.
"Kamu kirim nomor rekening ke aku."
"Nah, itu lagi calon istri kedua ikut nunggu!"
"Kamu dengarkan aku tidak?!"
Nidar cengengesan. "Nomor rekening sudah dikirim lewat WA. Mereka baru musyawarah aku sudah bertindak."
"Ya sudah aku pergi."
"Jangan salah masuk kamar."
Sungguh tidak elok membicarakan perempuan lain di usia perkawinan baru dua hari. Anehnya Riany tenang-tenang saja, atau dia mencoba menyembunyikan gelembung hati karena masih pengantin baru?
Al jadi risih ketika berpapasan dengan santriwati. Mata mereka seakan mencemooh Aisyah yang berjalan di sampingnya, padahal di sebelah lagi ada Riany menggandeng tangannya.
Al tidak mungkin mengusir Aisyah pergi dari sisinya karena dia adalah tamu istrinya. Lagi pula, sekali lagi, Riany tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka berpisah jalan ketika sudah sampai di dalam rumah.
Al segera memeriksa berkas laporan keuangan butik begitu tiba di dalam kamar. Dia duduk di sofa dengan tampang serius, istrinya menemani sambil menggelendot manja.
"Pengantin baru bukan buka-buka istri, malah buka-buka berkas," goda Riany.
"Maksudnya apa?" tatap Al sambil merangkul istrinya.
Riany tersenyum manis. "Bercanda."
"Hal itu jangan dibuat bercanda, karena jadi tanggung jawabku untuk memberi nafkah batin."
Riany mencium wajahnya dengan lembut. "Aku tidak akan mendakwamu di akhirat karena tidak memberi nafkah batin selama enam bulan ini."
"Jangan juga mancing-mancing. Kamu bisa apa kalau aku tidak tahan?"
__ADS_1
"Iya, iya."
Al melepaskan pelukannya dan membuka berkas baru. Untung dia aktif di organisasi, jadi tidak terlalu pusing untuk membaca laporan keuangan. Sabrina juga melampirkan laporan keuangan bulan sebelumnya. Prospek butik itu cukup menjanjikan. Kemudian Al mempelajari hitung-hitungan bonus pada lampiran berikutnya.
"Aku sampai saat ini masih belum percaya, kalau aku bebas untuk berbuat apa saja denganmu," bisik Riany sambil merebahkan kepalanya di bahu Al. "Terima kasih sudah menjadi suamiku."
Al seolah tidak ingin melayani ucapannya, dia bertanya, "Besok jam berapa pergi ke bandara?"
"Jam tujuh pagi."
"Berarti Sabrina sore ini aku suruh datang untuk mengambil laporan keuangan," ujar Al sambil membubuhkan tanda tangan pada berkas laporan. "Aku akan memberi tambahan bonus sebagai sedekah Oma."
"Kau tidak mampir ke butik besok?"
"Aku mengejar jadwal keberangkatan kereta siang hari."
Riany terkejut. "Kau tidak bawa mobil?"
"Aku ingin hidup seperti apa yang selama ini aku jalani di Yogya; tinggal di asrama dan jalan kaki ke kampus."
"Lalu apartemen?"
"Aku sewakan lagi ke mahasiswa lain."
"Kamu masih ingat Oma ya?"
"Aku akan ingat Oma sampai kapanpun karena aku harus mengelola hartanya dengan baik agar jadi pahala baginya."
Tinggal di apartemen hanya membuat kenangan di Dua Kota Suci kembali menjelma jadi bayangan hitam dalam hidupnya. Dia tidak ingin kesendiriannya dihabiskan untuk membangun kenangan masa lalu. Kebersamaan dengan Oma adalah kenangan terindah yang cukup menjadi catatan hidupnya, dan bukan untuk dibuka lagi.
"Berarti kita sewa hotel kalau aku berkunjung ke Yogya?"
"Kau tidak dapat bertahan di Madinah selama enam bulan?"
"Sehari pun rasanya aku tidak bisa berpisah denganmu."
"Jangan mellow. Kamu bisa VC kalau kangen."
"Aku ingin bertemu langsung. Apa bedanya dengan sebelum menikah kalau cuma VC?"
"Kita tidak pernah VC sebelum nikah."
"Maksudku waktu di Dua Kota Suci."
"Aku kira jadwal kuliahku tidak padat. Aku akan mengunjungimu setiap ada kesempatan sekalian bikin skripsi."
"Aku berharap begitu sebenarnya, aku kira kamu pasti jaga gengsi. Kita bisa tinggal di apartemenku di Madinah."
"Kita sudah jadi pasangan suami istri, gengsi itu tidak ada lagi."
Al mengeluarkan sebuah kartu ATM, dan ditaruh di meja. "Isinya dua milyar untuk biaya hidup di Madinah. Kau bilang saja nanti kalau kurang."
"Jadi kau sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk istrimu?"
"Aku tidak menyiapkan."
"Lalu kartu ini?"
"Kartu itu yang buat Ayah. Isinya adalah biaya hidup di Yogya selama aku kuliah, yang ditabung karena Ayah ingin mendidik aku hidup prihatin."
__ADS_1
"Suamiku sungguh baik hati memberiku uang belanja sebesar itu. Semoga berkah bagi istrimu."