
Lamborghini melambat dan belok memasuki halaman kantor imigrasi. Beberapa mobil parkir berjejer. Al menjalankan mobil pelan-pelan mencari tempat kosong dan masuk di sebelah Ferrari yang baru saja parkir.
Lin Wei keluar dari dalam mobil mewah itu, dan terpukau melihat Al yang sedang membukakan pintu buat Riany. Dia berseru, "Hai, Al!"
Lin Wei segera mendatangi pemuda itu dengan senyum mautnya. Lenggang lenggok tubuhnya sangat mempesona.
"Hai," balas Al dengan agak kikuk.
Lin Wei tampak lepas sikapnya. "Tinggal di sini?"
"Dua puluh kilo lagi."
"Kirain anak Yogya." Lin Wei tidak tahu latar belakangnya, tidak peduli. Dia cuma melihat kepribadiannya. "Setiap holiday soalnya stay di Yogya sama Wulan. Sekarang saja pisah, karena dia pengen tahu Dubai."
Riany terpukau. Matanya melirik Al sekilas. Pemuda itu merasa wajahnya seperti terbakar.
"Jalan-jalan sama keluarganya," kata Al, sekaligus ingin menutup kecurigaan hijaber yang berdiri di sampingnya. "Tidak pergi berdua."
Lin Wei tersenyum manis. "Berdua juga tidak apa-apa kali. Tiap harinya kan sama aku dan Aisyah."
Sekali lagi Riany melirik sekilas, dan Al merasa seakan ditelanjangi di depan umum.
"Kirain anak metropolis," ujar Al menghilangkan rasa rikuh yang tiba-tiba datang menyergap. "Ternyata anak kabupaten juga."
"Rumahku dekat-dekat sini."
"Perumahan elit itu ya?"
Lin Wei mengangguk lembut. "Kapan-kapan main ya. Liburan kan lumayan lama."
"Kalau ada waktu."
"Sempatkan dong."
"Kamu maksudnya. Ada di rumahnya kapan?"
"Jangan minggu-minggu ini."
"Traveling ke Hawaii ya? Nyusul Jonas?"
Jonas adalah mahasiswa beda fakultas yang mengejar-ngejar Lin Wei, tapi gadis itu sudah bulat dengan komitmen bersama kedua temannya, menjadikan Al pacar dan selanjutnya calon suami bersama.
"Memangnya Jonas siapa aku?"
"Jangan jual mahal."
"Aku jual murah kamu tidak beli-beli."
"Tidak pasang plank sih."
"Tahu rumahmu satu daerah, kita pulang bareng dari Bulaksumur." Dan Lin Wei seakan baru sadar kalau di dekat Al ada Riany. Gadis itu menunggu mereka selesai mengobrol dengan sabar. Dia bertanya dengan ramah, "Kamu siapa?"
"Calon istri Al," sambar Irma ketus. "Dijodohkan dari kecil."
Benar-benar, gerutu Irma dalam hati. Sudah ngobrol panjang lebar baru sadar di situ ada orang, bukan laler ijo! Ada perempuan kayak begini!
Dia pura-pura tidak melihat kalau Al jengkel mendengar jawabannya. Lagian, punya teman tidak tahu tata krama.
Irma tidak tahu kalau jawabannya akan menimbulkan masalah bagi Al. Tiga serangkai itu pasti mempertanyakan sikapnya karena selama ini terkesan memberi harapan.
Mereka pasti mencapnya PHP dan tidak percaya lagi, padahal Al menggantungkan harapan pada mereka untuk menghapus jejak masa lalu.
Tapi Lin Wei ternyata tidak kecewa. Dia sudah menduga ada gadis yang menunggunya karena Al bersikeras ingin pulang kampung. Dia cuma menyayangkan kenapa pemuda itu tidak jujur.
"Apakah benar yang dikatakan temanmu?" tanya Lin Wei dengan sinar mata sedikit layu. "Kok tidak bilang-bilang kalau sudah punya calon?"
Irma mendahului menjawab, "Gak percayaan banget sih? Dasar...."
"Cebong."
"Bukan aku yang ngomong."
"Dasar...."
"Onta."
"No, no, no," kata Riany sambil menggerakkan telunjuknya. "Kita orang terpelajar. Cebong onta tidak ada di dalam kamus besar kita."
"Aku sebetulnya benci bilang onta," kata Lin Wei.
"Aku juga muak bilang cebong," jawab Riany.
"Sepakat."
"Harus."
"Lin Wei."
"Riany."
"Irma."
"Nidar."
"Gatel," sindir Al pelan saat Nidar berjabat tangan. "Sekalian cipika cipiki kayak mereka."
"Nasionalis."
"Modus."
Lin Wei memandang mereka. "Kalian tinggal satu kompleks?"
"Kami bukan orang perumahan," sahut Nidar gesit. "Tinggal di kampung."
"Anak singkong," tambah Al. "Maka itu tubuhku bau tapioka."
"Anak singkong mainannya Lamborghini. Jadi kamu ngetes aku ya? Pura-pura gembel?"
Hanya Aisyah yang tahu Al cucu pengusaha. Apartemen gadis itu pernah dipinjam untuk menyambut kedatangan opanya. Tapi dia tidak tahu kenapa cucu konglomerat hidup sederhana di Yogya. Dia tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan keluarganya.
"Kamu ngurus paspor juga?" tanya Nidar.
"Kepo deh," tegur Irma.
"Ambil visa," sahut Lin Wei. "Kalian?"
"Ngurus paspor," jawab Nidar. Santri yang satu ini paling betah mengobrol dengan gadis cantik. Untuk menguji iman katanya, padahal mata keranjang.
__ADS_1
"Traveling juga?" tanya Lin Wei.
"Umroh."
"Tidak perlu diumumkan kali," sindir Irma.
"Bareng-bareng?"
"Ya."
"Amazing."
"Of course."
"Riya deh," gerutu Irma.
"Riya itu gede, kan?"
"Raya."
Lin Wei bertanya ke Riany, "Married-nya kapan?"
Riany gelagapan ditanya seperti itu. "Married? Aku maksudnya?"
"Kalian belum cari tanggal?"
"Tanggal ya?" Riany tampak bingung.
"Pasti habis wisuda, kan?"
"Ya," jawab Irma segera. "Kartu undangan dikirim lewat pos apa Ojol?"
"Kamu ini ngomong apa sih?" sambar Al jengkel, kemudian berkata pada temannya, "Riany lagi ta'aruf, tapi ..."
"Tapi married-nya belum tahu kapan," potong Riany lincah. "Pokoknya tunggu saja."
"Aku tidak apa jadi yang keempat," senyum Lin Wei jujur. "Di agama kalian boleh kan sampai empat?"
Lin Wei sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia pikir jika ada aturan yang membolehkan, buat apa menahan diri untuk menjalankan? Kesederhanaan pikirannya ini tentu saja mencengangkan Riany dan kawan-kawan.
"Yang kedua sama ketiganya siapa?" selidik Riany iseng.
"Aisyah sama Wulandari."
"Siapa itu Aisyah?"
"Puteri Solo keturunan Quraisy."
“Quraisy Makkah?”
“Lah, iyalah. Masa Quraisy Shihab?”
"Wulandari?"
"Gadis berdarah biru, kerabat dekat keraton."
"Ada lagi?"
"Batasnya kan empat?"
"Cadangan. Main bola saja butuh pemain cadangan. Siapa tahu calon istri pertama cidera, eh, maksudnya gagal married."
“Coba ingat-ingat.”
"Oh, iya...tapi tidak mungkin."
"Kok?"
"Rivaldo."
Nidar dan Irma tak dapat menahan tawa. Suasana pecah.
"Bentar ya tas ketinggalan." Lin Wei pergi ke mobilnya.
"Pantesan tidak ingat pulang," sindir Riany. "Setiap hari dikelilingi bidadari."
"Rivaldo masa bidadari?" balik Al.
Irma tertawa geli. "Bisa saja kalau pakai gaun."
“Senang ya ketawa-tawa?” delik Al keki. “Lain kali jangan asal.”
“Kok asal sih?”
"Maksudmu apa bilang-bilang Riany calon aku?"
"Aku kan cuma jawab pertanyaan Lin Wei."
"Pikir-pikir dulu kalau ngomong. Sangkanya benar saja aku ini calon suami Riany.”
"Jadi hilang deh pasaran,” ledek Riany. “Mana mau cewek macan sama calon suami orang? Jomblo saja segambreng.”
Nidar membela, “Belum tentu. Buktinya Lin Wei mau jadi yang keempat.”
“Mereka cupu banget apa?” sambar Riany sambil melirik Al dengan sebal. “Sok laris.”
"Sok ganteng," timpal Irma.
Mereka pergi ke pintu masuk kantor imigrasi.
Al mengusap-usap kepala. "Kok jadi aku yang kena getahnya? Pikirnya aku nangka kali.”
"Itulah perempuan."
"Lagian kamu cari gara-gara saja sih."
“Jujur salah.”
“Mendingan tidak jujur.”
"Riany kayaknya jealous."
"Lin Wei harusnya."
"Kok Lin Wei?"
"Jelas-jelasan Irma kompor."
"Aku tahu kamu suka sama Riany."
__ADS_1
"Terus aku nunggu jandanya?”
“Jangan mendahului takdir.”
“Jadi kamu ingin mereka berpisah? Jahat banget."
“Bicara kemungkinan.”
"Kemungkinan adalah harapan. Jadi berpikirlah yang baik-baik."
"Apa misalnya?"
“Lin Wei. Dia rela pindah keyakinan kalau aku bersedia jadi suaminya."
Nidar terpana. "Pahala dobel tuh. Tunggu apa lagi?"
"Vidya bagaimana?"
"Lupakan."
"Pilihan Ibu."
"Cari dong alasan."
"Pamela?"
"Milik fans."
"Aisyah?"
"Tinggalkan."
"Wulandari?"
"Gak cocok kali. Dia berdarah biru, kamu berdarah merah, anakmu jadi belang nanti."
“Hellen?”
"Siapa lagi?"
"Cewek Klaten rasa Swiss."
Nidar menatapnya tanpa berkedip. "Jangan-jangan majlis ilmu cuma modus."
Pemuda itu pergi.
Al jadi bingung. "Lima menit yang lalu aku nyaris percaya Riany jealous karena Lin Wei, maka itu pergi. Nidar sekarang pergi juga. Masa iya jealous gara-gara Hellen?"
"Siapa yang jealous?" sambar Riany tiba-tiba di belakangnya. Dia balik lagi karena ada berkas yang ketinggalan. "Kamu mau jadi calon suami Lin Wei, Aisyah, Wulandari, atau Hellen, memangnya aku peduli?"
Al kaget, tapi segera menguasai diri. "Lagi siapa yang suruh peduli?"
"Nyebelin banget."
"Kan dari dulu."
"Mestinya kubiarkan kamu di sumur tua."
Mereka pernah berburu kelinci di hutan. Al terjatuh ke sumur yang lumayan dalam. Dia sampai kepayahan dan bisa mati lemas kalau Riany pendek akal.
Riany mengambil berkas di dalam mobil, sambil berkata, "Aku tidak tahu kalau gedenya bakal begini."
"Jutek banget."
"Biarin."
"Nyesel ya nolong aku?"
"Banget."
"Gedenya reseh ya?”
"Banget."
“Aku ingat kok hutang nyawa sama kamu. Maka itu...." Al tidak melanjutkan kata-katanya.
"Maka itu apa?" bentak Riany tak kenal kompromi.
"Maka itu aku ingin menghapus jejakmu." Padahal Al ingin bilang 'maka itu aku memutuskan untuk menjadikan kamu sebagai istri.' Banyak kejadian di masa lalu yang membuatnya memilih gadis itu sebagai pasangan hidupnya.
“Kamu bikin bete, tahu gak?”
"Ya sudah, aku minta maaf. Tapi bukan aku yang bilang kamu jealous. Aku tahu kamu tidak ada urusan dengan apa yang aku lakukan sama Lin Wei, seperti aku tidak ada urusan dengan apa yang kamu lakukan sama Harbi.”
Riany terpana seakan tak menyangka Al berbicara begitu. Dia memperhatikan pemuda itu sekilas dan berkata dengan suara lebih lunak, “Kamu tahu kenapa aku menolongmu hari itu?”
“Karena aku raja kecilmu.”
“Pede banget.”
“Kan dari kecil.”
“Karena hari hampir Maghrib.”
Menjelang Maghrib adalah waktu yang paling ditakuti anak-anak. Konon di waktu itu kalong wewe mencari anak yang masih bermain untuk dibawa ke negerinya. Padahal itu cara efektif orang tua tempo dulu agar mereka pergi mengaji sebelum datangnya adzan Maghrib.
“Aku takut diculik kalong wewe.”
“Padahal aku berharap banget kita diculik kalong wewe. Kalau berpasangan, konon dipelihara sampai gede untuk menghasilkan keturunan sebanyak-banyaknya.”
“Ngomong apaan sih?”
“Harapanku waktu itu.”
Riany menoleh dengan sengit. “Mau bikin paspor tidak?”
“Galaknya!”
“Nidar sama Irma lagi antri foto.” Riany memeriksa sekali lagi kalau-kalau ada lembaran arsip yang terjatuh di dalam mobil.
"Pasangan yang serasi,” komentar Al.
Waktu itu datang Lin Wei menyandang tas dan berdiri di dekatnya.
Riany jadi salah sambung. "Buruan deh ke pelaminan."
Lin Wei menatap surprise. "Beneran nih ikhlas aku jadi madu?"
Riany tidak bisa berkata-kata. Dia menutup pintu mobil dan pergi.
__ADS_1