
Al membuka mata. Hamdalah adalah yang pertama kali meluncur dari bibirnya tatkala melihat ruangan yang serba putih. Dia melihat begitu banyak slang dan jarum di tubuhnya.
Otaknya bekerja cepat. Rentetan peristiwa mengalir dalam ingatannya. Hingga dia dikeluarkan secara lambat dari dalam mobil ringsek oleh seseorang yang ia kenal sebagai santri kerempeng. Kemudian dunia gelap dan terbangun di kamar ini.
Alangkah panjangnya dia tertidur. Entah apa yang terjadi di rentang waktu itu. Dia berharap tidak ada musibah besar dengan teman-temannya.
Dia tidak mau jadi penyebab takdir itu terjadi. Ada banyak orang yang tidak bisa menerima bahwa sesuatu sudah dituliskan dalam lembaran kehidupan yang harus dijalani.
Jadi kambing hitam adalah sesuatu yang paling menyakitkan, baik kambing hitam dari sebuah tragedi maupun dari sebuah rekayasa kejadian.
Orang-orang tidak akan satu suara dalam menyikapi tabrakan beruntun itu. Masing-masing akan membenarkan diri atau mencari kesalahan orang lain untuk kebenaran diri. Fenomena yang marak di akhir jaman.
Riany bertutur tentang penyesalan melalui untaian air matanya. Dia duduk di kursi dan menggenggam hangat tangannya yang sulit untuk bereaksi. Al tidak tahu sejak kapan istrinya berada di dekatnya. "Maafkan aku, beb. Semua ini gara-gara aku. Jika kau naik kereta, tidak begini jadinya."
Al tidak ingin mencari kesalahan dari bencana yang terjadi, dia bukan hakim yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Musibah itu terjadi karena takdir, dan dia tidak tahu apa penyebab dari takdir itu.
Dia hanya ingat di depannya terjadi tabrakan beruntun dan dia tidak dapat menghindar dari situasi itu sehingga musibah menghampiri dirinya.
Riany menyusut air mata yang berderai pakai tissue. Matanya diliputi sejuta sesal. Sesuatu yang sebenarnya tabu untuk dipamerkan di jaman ini. Perasaan bersalah membuat orang mudah menumpahkan segala kesalahan padanya. Untung tidak berurusan dengan hukum. Jadi sesal itu sekedar cermin dari pengakuan luhur hatinya.
Jika setiap orang yang terlibat dalam sebuah tragedi diliputi perasaan bersalah, maka akan tercipta suasana tenteram dan damai dalam mengatasi suatu masalah.
Persoalan kecil jadi besar dan kasus sederhana jadi rumit karena setiap orang yang terlibat merasa benar, dan orang benar ingin membuat orang bersalah menderita, malah ada orang gemar meramaikan suasana.
Hukum dan kebenaran jadi kehilangan muka.
"Beb...," panggil Riany lembut. "Kamu bisa mendengarku?"
Al berusaha tersenyum meski sulit. Ada rasa sakit untuk menggerakkan bibirnya. Telinganya baru bisa menangkap secara samar kata-kata istrinya. Ingatannya belum pulih seutuhnya sehingga dia perlu berpikir saat Riany berani menggenggam tangannya.
__ADS_1
Cincin perkawinan di jari manis perempuan itu turut membantu ingatan Al kalau mereka sudah jadi pasangan suami istri, pantas Riany begitu bebas menyentuh dirinya.
Riany tersenyum manis. "Aku bahagia sekali kau bisa mendengar ucapanku...."
Perempuan sungguh aneh, pikir Al lambat-lambat. Dia bisa tersenyum dalam air mata kesedihan. Jadi wajar banyak suami yang tidak dapat memahami perasaan istrinya.
"Kata dokter kau jangan banyak bicara dulu, beb...."
Nah, ucapan ini adalah keanehan berikutnya dari perempuan. Al belum bicara sepatah kata juga karena lidahnya terasa berat. Jadi Riany menasehati diri sendiri atau suaminya? Dia tahu sebenarnya siapa yang banyak bicara. Apa saking bahagianya melihat Al siuman sehingga dia mengucapkan kata-kata yang tidak perlu?
"Cepat sembuh ya, beb. Aku ingin kita melewati malam pengantin di Madinah, merajut kemesraan dengan kesucian hati."
Kata-kata ini membuat Al sedikit kacau untuk memulihkan pikiran. Kemarin dulu Riany bersikeras ingin melewati malam pengantin tanpa momen kemesraan. Dia tak mau hamil selama masa studi dan tak mau menunda kehamilan dengan kontrasepsi atau azlu. Ketika suaminya mendapat musibah, keinginannya berubah. Padahal keinginan Al tetap sama, menyelesaikan studi lebih dulu.
Al tahu pernikahan itu terjadi karena perasaan sebuah hati yang takut cintanya bergeser, bukan takut terperangkap dalam dosa. Padahal Riany tahu ikatan perkawinan bukan penghalang bagi suami untuk berbagi. Itulah perempuan. Dia pura-pura tidak tahu atas apa yang dia tahu.
"Ibu menunggu giliran di luar. Hari ini kamu hanya boleh menerima dua tamu. Aku pamit ya, beb."
Bu Haikal muncul dengan air mata berlinang dan duduk di kursi sambil menangis tersedu dihantam gelombang sesal yang menderu.
"Ibu sudah bilang jangan perlakukan dirimu dengan kejam. Kamu banyak uang untuk naik pesawat. Kamu tidak berbaring di kamar putih ini kalau mendengar omongan Ibu."
Al merasa percuma untuk menjelaskan. Ibu pasti tidak menerima. Lagi pula, dia harus menghemat kata karena mulutnya terasa sakit untuk bicara.
Ibu seakan menyalahkan jalan untuk menuju takdir. Dia tidak berpikir jika naik pesawat mungkin akan menimbulkan musibah lebih besar. Dia hanya ingin membasahi hatinya yang kering akan makna kehidupan.
Ibu berpikir Al sudah berbuat kejam pada dirinya sendiri, padahal bisa memanjakan dengan duduk manis di kursi mewah pesawat. Dia lupa kalau satu bulan yang lalu anaknya pulang naik bis ekonomi.
Al sudah mendapatkan berbagai nikmat yang tidak terhitung banyaknya. Dia tetap mensyukuri hidupnya yang serba kekurangan dan tidak serta merta berubah drastis manakala tahu ayahnya ternyata seorang petani yang sukses.
__ADS_1
Dia juga memegang kendali atas aset Oma yang menjadikannya anak muda terkaya di wilayahnya.
Jadi dia tidak menggugat keadaan saat mengalami satu musibah di antara ribuan nikmat yang sudah dirasakannya. Kehidupan di dunia tidak selamanya manis, atau selamanya pahit.
Tangis Ibu semakin menyayat melihat di sekujur tubuhnya terdapat banyak alat dan slang yang terpasang. Dia berkata dengan sedihnya, "Kamu sangat menderita, cah bagus. Padahal apa dosamu? Kamu anak yang berbakti pada orang tua."
Al ingin bersuara agar ibunya tidak terlalu jauh menyalahkan keadaan. Namun rasa sakit di tenggorokan membuatnya hanya bisa mendengarkan.
Musibah bukan untuk para pendosa. Musibah adalah bahan renungan untuk setiap manusia yang mengalami. Untuk membersihkan hati dan menjernihkan pikiran dari segala perkara yang mengotori jiwa.
Peringatan, musibah, dan azab adalah rangkaian kejadian yang berbeda peruntukannya, tapi mempunyai tujuan sama yaitu meningkatkan kualitas keimanan manusia.
"Aku berdoa siang dan malam untuk kesembuhanmu," isak Ibu. "Aku bersyukur kepada Allah karena mendengarkan doaku."
Sebuah pemahaman yang sepintas benar, namun sebenarnya keliru. Jika doanya tidak didengar, apakah Ibu tidak bersyukur dan menggugat Tuhannya?
Bersyukur tidak hanya di kala senang, bersyukur berlaku untuk setiap keadaan, karena setiap peristiwa pasti mengandung makna bagi kaum yang berpikir, dan berpikir tidak hanya milik orang suci.
Suster datang dan mengingatkan Bu Haikal, "Maaf, Bu. Jam besuk habis."
Bu Haikal bukan berterima kasih atas pemberitahuan tersebut, malah tampak emosi. "Apa aku perlu membeli rumah sakit ini agar aku bebas mengunjungi anakku?"
Dia marah karena sejak pagi ditahan oleh suster itu. Sejak kapan bertemu dengan anak kandung harus pakai waktu?
Riany datang menenangkan ibu mertuanya. "Kita keluar, Bu. Al butuh istirahat."
"Dari tadi anakku istirahat. Dia hanya mendengarkan aku bicara."
"Mendengarkan juga butuh energi, Bu," kata Riany lembut. "Suster bukan melarang Ibu untuk bercakap sampai puas. Suster ingin Al segera sembuh."
__ADS_1
Al meminta ibunya untuk pergi melalui sinar mata yang penuh permohonan. Bahasa isyarat yang ampuh untuk komunikasi anak dan ibu.