Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 124


__ADS_3

Riany merapikan pakaian dan memasukkannya ke dalam travel bag. Besok mereka pulang dan istirahat semalam, lusanya berangkat ke bandara.


Dia sebenarnya sangat senang tinggal di Yogya, tapi masa depan tidak boleh tertunda karena kesenangannya.


"Aku pikir pakaianmu tidak perlu dibawa," kata Al sambil berbaring di kasur yang empuk. "Untuk persediaan jika kita menginap di rumah ini."


"Kita tidak sebulan sekali ke Yogya, pakaian ini pasti bau apek kalau lama tidak dipakai."


"Tinggal pakai pewangi, beres kan?"


Riany semula tidak akan membawa pakaian karena mobil penuh dengan oleh-oleh, tapi Wulandari dan Lin Wei batal ikut, jadi travel bag bisa ditaruh di kursi belakang.


"Aku kebanyakan baju kalau di setiap rumah ada persediaan."


"Kamu sudah kebanyakan baju meski tidak menyimpan stok di setiap rumah. Bajumu ada berapa lemari di pesantren?"


"Aku tidak beli baju lagi kalau suamiku keberatan."


"Aku tidak masalah kamu penuhi rumah dengan baju, karena aku lihat baju itu kamu pakai."


"Aku akan mempertanggungjawabkan setiap baju yang dibeli, jadi semuanya pasti dipakai. Aku hibahkan ke Irma atau santri kalau aku bosan memakainya."


"Masa sahabat dekatmu dikasih baju bekas?"


"Baju yang aku berikan paling dua tiga kali dipakai."


"Namanya tetap baju bekas."


"Lemariku tidak muat kalau disimpan, lagi pula aku gampang bosan."


"Aku bersyukur punya harta satu triliun, jadi bajumu hanyalah persoalan kecil."


"Kamu minta aku memakai baju terbaik, harganya pasti tidak murah."


"Aku sebenarnya lebih suka kamu tidak pakai baju."


Riany memandang suaminya dengan sebal. "Jangan asal. Kamu mau tanggung dosanya?"


"Malam ini."


Riany baru paham ke mana arah kata-kata suaminya. Dia tersenyum manis. "Nggak capek seharian nyetir?"


Al sebetulnya sangat lelah, tapi matanya sulit terpejam. Peristiwa yang terjadi hari ini memadati pikirannya.


Terasa ada yang mengganjal di hatinya, yang membuat matanya tetap terjaga. Kebersamaan mereka berempat selama bertahun-tahun telah menanamkan sesuatu yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.

__ADS_1


Al sebenarnya mengharapkan mereka tetap bersatu meski sudah jadi sarjana nanti. Maka itu dia membiarkan istrinya membagi rumah kepada mereka untuk ditempati.


Tiga bidadari itu adalah sosok yang sudah banyak menggoreskan cerita di dalam hidupnya. Dia ingin mempertahankan mereka selamanya agar senantiasa mengisi hari-harinya. Apa yang sudah mereka lewati bersama tidak boleh tergerus oleh perjalanan waktu.


Tapi harapan itu ternyata malah jadi bumerang baginya. Mereka bertekad untuk tetap bersatu dalam ikatan yang di luar perkiraannya, dengan alasan yang kurang masuk akal.


Padahal maksud Al, kebersamaan mereka harus dipertahankan sampai hari tua dalam bentuk persahabatan yang hakiki, bukan dalam bentuk ikatan yang membuatnya terperangkap dalam kehidupan yang rumit. 


Al tidak tahu bagaimana mempertahankan kebersamaan yang sudah retak ini. Kehadiran Ryan membuatnya berada dalam posisi yang sulit.


Padahal hari-hari sebelumnya Ryan selalu ada di antara mereka, dan baru jadi persoalan setelah Aisyah berubah haluan.


Al bisa saja menyerobot masuk, tapi apakah dia siap untuk menerima konsekuensinya?


Dia berada di persimpangan jalan yang tanpa petunjuk arah ke mana kaki harus melangkah.


"Gendong," kata Riany manja, setelah kemesraan berlalu dengan segala kenikmatan. "Aku pengen mandi janabat."


"Jangan dulu," pinta Al sambil membuka chat yang masuk. Ibunya pesan kain batik tulis sutera canting. Harganya lumayan mahal. "Aku ingin melewati malam ini dengan kemesraan."


Riany mengecup pipinya dengan mesra. "Aku siap saji untukmu. Aku adalah hidangan istimewa yang siap disantap setiap saat. Tapi kamu nggak capek besok nyetir? Perjalanan lumayan jauh."


"Arya tiba sore tadi. Ibu belum mengizinkan aku untuk mengemudi jarak jauh."


Riany terkejut. "Dia nginap di mana?"


"Jangan-jangan tidur satu...." Riany tidak melanjutkan kata-katanya, karena lekas sadar. "Aku nggak boleh su'udzon sama adikku."


"Aku tahu Arya adalah cowok brengsek, tapi dia tahu batas."


"Kok Ibu nggak ngirim sopir, malah Arya?"


"Dia relawan yang pintar memanfaatkan situasi, dan Ibu selalu terperdaya olehnya."


"Sekalian ketemu pacarnya ya?"


"Namanya anak SMA, punya pacar anak SMA juga, teman sekelas. Bawaannya pengen bareng terus."


"Mereka bisa ketemu tiap hari di kelas, ngapain nyusul ke Yogya?"


"Sudah jadi bintang sinetron pasti sibuk. Tidak banyak waktu untuk bersama. Kayak nggak pernah bucin saja."


"Emang gak pernah! Kapan aku pacaran? Aku cuma kenal satu laki-laki, dalam satu ta'aruf."


"Pertahankan itu."

__ADS_1


Al menaruh gadget di meja kecil setelah membalas chat ibunya.


Riany bertanya, "Chat dari siapa? Jangan cerita kalau bukan urusan keluarga."


Al tersenyum kecut. Riany pasti cemberut kalau tidak dikasih tahu, padahal tidak semua urusan suami harus diketahui istri. Tapi dia lebih suka terbuka agar tidak mengundang kecurigaan, karena istrinya selalu memberi tahu setiap kali menerima chat dari seseorang.


"Ibu minta dibelikan batik tulis sutera canting," kata Al.


"Aku sudah belikan," jawab Riany. "Aku juga sudah belikan Ayah batik obate."


"Ayah baiknya dikasih kemeja yang harganya standar saja. Penampilannya keren sedikit malah jadi musibah."


"Dicurigai Ibu maksudnya?"


Penampilan sebenarnya tidak jadi ukuran kecurigaan ibunya. Ayah mengenakan pakaian sport saja dicurigai mau joging dengan Fatimah.


Al kagum melihat ketabahan ayahnya, atau segala sesuatu perlu kesabaran untuk meraih apa yang diinginkan?


Membantu Fatimah dan anaknya untuk hidup layak sebenarnya tidak perlu dengan menikahinya. Tapi pasti mengundang fitnah, dan timbul rasa tidak enak dalam diri ustadzah itu menerima jaminan hidup tanpa ada ikatan. Jadi Al tidak terkejut jika terjadi pernikahan secara diam-diam.


Kasusnya hampir serupa dengan Aisyah. Al tidak tahu bagaimana menghindari fitnah kalau membawa gadis itu berobat ke luar negeri, selain menghalalkan. Dia juga tidak memiliki kebebasan untuk mengurusnya.


Ryan sebetulnya adalah lelaki yang tepat untuk jadi suaminya. Dia mempunyai keahlian yang sesuai dengan penyakit yang dihadapinya. Dia bisa membawa Aisyah keliling dunia untuk berobat sambil menimba ilmu.


Tapi Wulandari dan Lin Wei akan jadi orang pertama yang membencinya jika hal itu terjadi.


"Aku boleh mandi sekarang?" tanya Riany, usai membangun kemesraan jilid dua. "Kamu bisa nunggu aku selesai mandi kalau kepingin lagi."


Al memandangnya dengan selidik, "Kenapa sih kamu pengen buru-buru mandi?"


"Aku tidak mau rebahan di samping suamiku dengan tubuh bau keringat."


"Keringatmu wangi."


Riany mengingatkan, "Katanya nggak mau ngasih pujian semu sama istri."


"Keringatmu memang wangi," tandas Al jujur, ia menggoda, "Sering mandi kembang ya setiap malam satu syuro?"


Riany sering mandi dengan bahan rempah alami untuk menciptakan aroma khas pada tubuhnya, sehingga keringatnya tidak bau.


Riany balik bertanya, "Apa salahnya melakukan acara ritual kalau tidak menyimpang dari syariat?"


"Jadi benar sering mandi kembang setiap malam Jumat Kliwon?"


"Ya nggaklah!"

__ADS_1


Riany senang wajah Al sudah kembali bersinar, berarti dia sudah melupakan peristiwa hari ini yang bikin capek hati.


Riany rela terjaga sampai larut malam, karena istri yang baik adalah istri yang mampu menjadi hiburan bagi suami.


__ADS_2