Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 56


__ADS_3

Al melempar pandang ke luar jendela Haramain Express menikmati megahnya kota Rabigh.


Fasilitas kelas bisnis sangat nyaman sehingga Oma dan Aisyah yang duduk di hadapannya bisa tertidur.


Oma semalam bangun jam 2.00 dan tidak tidur lagi: shalat Tahajud, shalat Subuh, dan habis breakfast thawaf perpisahan.


Nidar sudah nyenyak sejak berangkat, kelelahan membantu Al mengangkut travel bag ke ruang koper. Lumayan berkeringat mengurus 45 travel bag. Di stasiun Makkah tidak ada jasa bagasi.


Al sangat lelah, tapi susah untuk memejamkan mata. Catatan diary Lukman menusuk pedih sehingga terbaca-baca di setiap kedip matanya.


Al sangat menyesalkan Riany tidak jujur sehingga ta'aruf terjadi. Di galeri handphone-nya tidak ada satupun foto laki-laki. Semua foto perempuan, kebanyakan foto bersama Faye yang wajahnya mirip sekali seperti anak kembar.


Riany begitu pintar menyembunyikan kisah cintanya dengan Lukman. Barangkali itu alasan dia ganti handphone sejak masuk Universitas Madinah. Menghapus jejak masa lalu.


Di satu sisi, Al tidak bisa menikah dengan perempuan yang terpaksa mencintainya, sementara di sisi lain ada banyak hal yang dipertaruhkan.


Gagalnya pernikahan akan menyisakan luka yang dalam. Al yakin dapat segera mengobati dengan menerima Aisyah atau Lin Wei. Persoalannya, adakah artinya bagi Ayah?


Tidak tahu bagaimana menghibur galau itu, akhirnya Al menulis beberapa bait puisi. Padahal dia belum pernah bikin puisi, tapi kata-kata itu demikian lancar tertuang di status yang pertama kali muncul sejak memiliki akun:


Aku menatap matahari yang tak dapat kulihat, terjebak kesunyian dalam tabir mega-mega, terkungkung kegelapan dalam benderang cahaya, kujumpai diriku bersimbah luka di persimpangan


Antara Makkah dan Madinah, putik-putik harapan berguguran, pada pucuk-pucuk batu, pada gemerisik pasir hitam, pada hati yang basah


Sungguh, tak sepatah jua tersimpan, karena janji suci, kepada bagindaku dan bagindamu


Al ingin melupakan semuanya sejenak, mempersiapkan hati untuk berkunjung ke kota Muhammad, manusia pilihan yang telah menyinari sanubarinya sejak mengenal dunia.


Emoji love bermunculan disertai komentar kagum.


Riany malah kirim inbox, "Mantap. Calon imamku pintar menulis puisi. Tapi kayak orang patah hati ya. Sedih meninggalkan Aisyah di Makkah?"


Entah kenapa, Al tiba-tiba ingin membalas apa adanya, barangkali karena terbiasa jujur, "Aisyah ikut."


"Kok bisa?" ketik Riany dengan emoji kaget.


"Oma minta ditemani. Pulangnya juga satu pesawat. Semua biaya ditanggung Oma, jadi tidak merugikan yayasan."


"Kok ngomongnya gitu sih?"


"Kata biro transportasi, enam puluh persen biaya sewa bis nanti dikembalikan. Lumayan kamu untung."


"Kalian naik kereta? Kok tidak bilang? Aku kan harus menghubungi pihak hotel untuk menjemput ke Stasiun Madinah."


"Sudah diurus."


"Sama Kak Ahmed?"


"Sama ketua rombongannya dong."


"Jadi cuma rombonganmu yang naik HHSR?"


"Itulah enaknya kalau satu rombongan orang tajir semua. Jalan-jalan ke ujung duniapun no problem."


"Sombong."


"Kata Eyang Munzir. Oh ya, bagaimana kondisi Faye?"


"Kecil harapan."


Berarti besar harapan mereka untuk mengulang kisah lama, pikir Al hampa. Bagaimana Riany dapat menjaga setianya sementara ada Lukman di sisinya?


Riany inbox lagi, "Lagi mikirin Aisyah ya?"


"Mikirin kamu."


"Peres."


"Demi."


"Kepingin banget sih pulang bareng sama Aisyah?"


"Maunya Oma."


"Kamu juga."


"Habis calon istri jarang di tempat. Cari serep deh."


"Aku tidak berangkat kalau tidak dikasih izin."


"BTW Faye kayak kembaranmu ya?"


"Cakepan aku."

__ADS_1


"Biar jelekan kamu, masalah buat aku? Kan ada Aisyah."


"Jadi menurutmu cakepan Aisyah?"


"Cakepan siapa ya?" ketik Al dengan emoji mengejek.


"Aku tidak suka dibanding-bandingkan," balas Riany dengan emoji marah.


"Ada saingan berat langsung saja ngegas."


"Biarin."


"Tidurnya cantik banget."


"Aku tidak ikhlas kalau Aisyah duduk di sampingmu."


Al tidak membalas. Di layar muncul sederet kalimat, "Kok diam? Jadi benar ya? Aku saja calon istrimu tidak pernah duduk berduaan denganmu."


Al selfie bersama Nidar yang lagi tidur. Lalu dikirim dan menutup kotak dialog. Cemburu Riany bagai pisau yang mengiris hatinya. Dia merasa cemburunya itu untuk menyingkirkan rasa cemburu kepada Faye!


Al yakin betul kalau Riany saat ini ada di samping Lukman yang begitu setia menunggui Faye, padahal ada gadis lebih cantik duduk menemani yang berharap diperhatikannya.


Ada chat masuk dari Riany dengan emoji love empat biji, "Kok ditutup? Aku kangen."


Al segera mengetik balasan, "Emojinya banyak banget. Buat siapa saja ya? Aisyah, Lin Wei, Wulandari ... satu lagi buat siapa ya?"


"Nyebelin banget."


"Cuma tanya."


"Tandanya cintaku sama kamu segambreng."


Riany tidak malu-malu lagi mengakui perasaannya, padahal sebelum berangkat egonya masih terlihat. Apa setia Lukman kepada Faye sudah menghabiskan sisa cintanya?


"Lukman ada di sampingmu ya?"


"Ada keluarga Faye juga. Kak Dinar baru datang habis shopping."


"Lukman tidak pergi-pergi dari sisi Faye?"


"Lukman tidak pernah ke mana-mana, kecuali shalat dan makan, tidur saja di sisi Faye."


"Setia banget ya?"


"Lukman tidak menanyakan kenapa kamu datang lagi?"


"Dia sempat tanya kamu."


"Soal apa?"


"Aku dapat izin tidak dari kamu."


"Lukman tidak tanya kamu datang lagi buat apa?"


"Kok jadi ngomongin Lukman sih? Coba mengalihkan obrolan ya? BTW aku tanya...."


Riany seakan menghindari pembicaraan tentang Lukman. Barangkali takut tumbuh tunas-tunas baru yang justru ingin dibasminya. Tapi bagaimana dengan pemuda itu? Apa dapat menghalau pesona yang semakin jelas di matanya?


Tampil chat yang lumayan panjang, "Kamu baru pertama kali update status dan sambutannya luar biasa. Semua kasih emoji love. Statusmu itu berisi kekecewaan. Kecewa sama siapa? Sama Aisyah tidak mungkin. Gadis dari Al-Khanza ada di gerbongmu. Sama Lin Wei ya? Dia dapat cowok di Hawaii? Padahal sungguh, seandainya takdirku mesti diduakan, Lin Wei akan jadi ladang pahala bagiku."


Al menanggapi kata-kata Riany dengan sindiran tersembunyi, "Lin Wei menunggu aku dalam kesendirian, tidak bedanya Aisyah, padahal belum tentu aku memilih mereka seandainya takdirku untuk menduakan. Tapi itulah cinta. Cinta kelihatan bodoh di mata orang yang tidak mengerti. Mantan Lin Wei dan Aisyah di SMA coba-coba untuk bernostalgia. Mereka anggap masa lalu adalah masa lalu. Kepada gadis seperti itu aku harus kecewa?"


Riany seakan tidak merasa tersindir, dia membalas dengan optimisnya, "Berarti aku harus lebih baik dari mereka agar kamu tidak kecewa. Tapi apa mereka benar-benar suci di SMA, tidak ada pria yang menjamah walau cuma menyentuh bibir?"


"Aku bukan laki-laki konservatif. Aku tidak peduli dengan masa lalu istriku. Akan kubimbing jadi istri solehah. Aku tidak terima kalau istriku tidak dapat menjaga kehormatan, membiarkan laki-laki lain menikmatinya padahal sudah jadi hakku. Aku tidak akan pernah menduakan selama istriku takut kepada Allah karena murkanya suami."


"Semakin sayang aku sama calon imamku." Riany kirim emoji love segambreng.


Membaca jawaban dengan emoji sebanyak itu Al malah tertegun. Apa sudah terjadi sesuatu di masa SMA sehingga Riany demikian senangnya? Lalu berhijab dan bertaubat untuk menebus dosa-dosanya? Sudah sejauh itukah hubungan Riany dan Lukman?


Al ketik kata penutup, "Sudah dulu ya. Lunch datang."


Pramugari menghentikan kereta dorong di samping Nidar yang sudah bangun. Temannya ini seperti punya insting khusus kalau hidangan makan siang sudah datang.


Interior Haramain High Speed Railway sangat mewah. Kursi dari kulit ditata dalam formasi dua satu dan bisa diatur dengan formasi berhadapan. Dilengkapi layar monitor sama halnya di pesawat. Ruang penyimpanan koper cukup luas, tersedia di setiap gerbong.


Di tengah ada meja untuk bersantap. Pramugari menaruh sandwich, salad, dan jus untuk santap siang. Tidak percuma bayar tiket one way 268 riyal.


"Jaman Oma kereta cepat ini belum ada," kata Oma sambil mulai bersantap. "Mulai dibuka kapan?"


"Oktober 2018," sahut Aisyah. "Empat kali keberangkatan dalam seminggu, transit di Jeddah."


"Stasiun kereta cepat ini lebih bagus dari London."

__ADS_1


Al mendengarkan saja mereka mengobrol. Sementara Nidar cuma bengong. Dengar kota London saja kapan tahu, bagaimana bisa mengimbangi obrolan mereka?


Pengetahuan Nidar cukup lumayan kalau tentang Liga Arab, jalur Gaza apalagi, hampir tiap hari dapat kiriman di Facebook.


Riany kirim chat, "Lunch bareng Aisyah ya?"


"Satu meja," jawab Al.


"Aku saja belum pernah lunch bareng kamu."


"Bareng Lukman sering, kan?"


"Masa SMA."


"Di kafe?"


"Masa kaki lima?"


"Terus nonton?"


"Kalau yang main aktor favorit."


"Habis nonton?"


"Pulang."


"Naik mobil Lukman?"


"Bentar deh. Kayaknya ada yang aneh."


"Apaan?"


"Tumben-tumbenan perhatian sama Lukman?"


"Lukman sahabatmu, sahabat kecilku juga."


Tiba-tiba Oma menegur, "Kamu itu jarang ngomong kalau makan, sekarang tangan sibuk main HP, sama saja, membuat kamu lupa akan nikmat yang didapat hari ini."


"Kan Al tunda dulu makannya."


"Lagi kamu pakai HP cah ayu, HP kamu sendiri mana?"


"Tukeran, Oma," sahut Aisyah. "Biasa, kayak ababil."


Tinggal Al belum selesai bersantap. Ketika pramugari datang mengambil sampah dan peralatan bekas makan, lekas-lekas dihabiskan sandwich dan jusnya.


"Dua hari tidak ketemu kangen kan, Oma," sindir Aisyah. "Makanya jari tidak bisa diam."


"Lagi penting banget apa Faye itu?" gerutu Oma sedikit kesal. "Sampai-sampai tanggung jawabnya ditinggalkan."


"Ada calon suaminya, Oma."


"Cah bagus belum tahu apa-apa dipaksa untuk tahu, repot kan?"


"Kelihatannya enjoy saja tuh."


"Kamu tidak ada niatan ta'aruf sama cah bagus?"


Ditembak begitu, Aisyah kelimpungan. Dia segera menguasai diri. "Aku?"


"Ya."


"Gimana ya?"


"Siapa tahu cah bagus tidak cocok sama Riany, cocoknya sama kamu."


"Enam bulan lagi mereka menikah."


"Kalau cocok, kalau tidak? Apa mau dipaksakan? Lagi enam bulan itu lama, dalam semalam saja pengkhianatan bisa terjadi."


"Kalau dua-duanya cocok, bagaimana?" canda Aisyah.


Gadis itu tidak tahu kalau Oma dimadu pada usia senja. Al dan Nidar sampai tersedak.


Oma tersenyum samar. "Kamu mau tidak?"


Aisyah tersenyum kecil. Senyum yang membuat Oma sedikit mengernyitkan dahi. Kid jaman now susah dimengerti. Merebut suami orang dianggap biasa. Tapi jadi madu apa itu merebut?


Kalau boleh jujur, perempuan itu sebenarnya ingin menguasai laki-laki seutuhnya, tidak mau berbagi. Tapi kadang lupa bagaimana cara membuat laki-laki agar bisa dimiliki seutuhnya.


Dalam menempuh bahtera rumah tangga tentu ada pasang surutnya. Kadang muncul kelalaian untuk memberi pelayanan yang terbaik karena kesibukan, dan laki-laki ada hak mencari perempuan yang memiliki perhatian penuh.


Oma terlalu sibuk dengan butiknya dan terlambat sadar ketika ada orang ketiga masuk di kehidupan mereka. Bagaimanapun, di mata agama, madu lebih baik daripada selingkuh. Jadi kalau ustadz madu empat ditinggalkan syiarnya, sedang artis selingkuh berulang kali dipuja siarnya, adalah hal yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2