Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 131


__ADS_3

Al terkejut. Ayahnya sudah dua hari pergi bersama Fatimah. Ada keperluan apa mereka? Bukankah urusan harta gono gini Ustadz Bashori sudah selesai? Pantas ibunya marah-marah!


Al bertanya dengan hati-hati, "Ayah tidak bilang mau pergi ke mana?"


"Katanya mengurus anak Fatimah masuk ke pesantren bekas Ustadz Bashori dulu."


"Karena permintaan almarhum?"


"Apa lagi? Senjata ayahmu cuma itu! Dia bilang sebelum meninggal Ustadz Bashori minta diurus anaknya untuk masuk ke pesantren kalau sudah cukup umur."


Ustadz Bashori adalah alumni pesantren terkenal di Jawa Timur. Barangkali dia ingin sang anak mengikuti jejaknya, dan tidak cukup dua hari untuk mengurusnya.


"Aku curiga sebentar lagi pasti ada amanah untuk mengurus jandanya. Amanah munculnya kok dicicil?"


"Jandanya kan sudah diurus, Bu. Mereka berempat di bawah tanggungan Ayah."


"Maksudku Fatimah! Ada amanah untuk dinikahinya!"


Ayahnya beruntung kalau benar ada wasiat demikian. Dia bisa menjadikannya kedok untuk melalap perempuan eksotis itu. Fatimah dengan pesona Arabianya banyak mengundang perhatian laki-laki untuk datang melamar. Mereka menahan diri karena janda Ustadz Bashori dekat dengan ayahnya.


"Ayah pergi tentu tidak berdua," kata Al. "Orang kepercayaan Ibu tidak ikut?"


"Pak Husni bawa mobil ayahmu."


"Nah, Ibu bisa tanya sama dia, apa saja yang dilakukan Ayah selama pergi bersama Fatimah. Apa sewa kamar yang ada pintu penghubungnya atau beda lantai?"


"Aku lama-lama ragu sama Pak Husni. Setiap ditanya jawabannya itu-itu saja; lagi ngobrol sama pengurus DKM."


"Ibu coba video call sekalian minta buktinya secara live."


"Aku setiap ngebel pakai video call, dan betul lagi ngobrol."


"Lalu apa yang membuat Ibu ragu?"


"Kamu tahu pengurus DKM kelakuannya kayak apa? Paling sedikit punya istri dua! Mereka sudah pengalaman untuk membohongi istri!"


"Terus mereka mengajari Ayah, begitu?"


"Bisa saja kan? Mereka bersekongkol untuk membohongi Ibu. Mereka pergi dengan dua mobil. Janda Ustadz Bashori empat-empatnya diangkut."


"Barangkali Ayah mau meyakinkan Ibu. Dia bosan dicurigai karena hanya Fatimah yang diperhatikan. Nah, sekarang empat-empatnya diangkut, Ibu masih curiga juga."


"Jelas curiga! Mereka pergi ke Surabaya dengan empat laki-laki dan empat perempuan!"


"Termasuk sopir?"

__ADS_1


"Mereka tidak masuk hitungan."


"Tapi mereka laki-laki. Jadi berangkatnya berarti enam laki-laki dan empat perempuan."


"Kenapa kamu jadi ribut soal bilangan?"


"Karena kita lagi membicarakan bilangan."


Semula Al mengira mereka pergi berdua bersama sopir dan anaknya. Kemungkinan untuk selingkuh sangat besar, tapi dia percaya mereka pasti menjaga kehormatan masing-masing.


Al justru curiga kalau mereka berani pergi berdua, berarti Fatimah sudah resmi jadi madu. Ayahnya tidak mungkin nekat membawa janda Ustadz Bashori untuk perjalanan jauh tanpa stempel halal. Maka itu dia kaget.


Tapi berangkat secara rombongan bukan jaminan untuk tidak terjadi pengkhianatan. Semua tergantung keberanian untuk melanggar kesetiaan, dan pengurus DKM sudah membuktikannya.


"Mereka bisa saja kawin massal dan kedua sopir jadi saksinya, tinggal cari orang untuk menikahkan," ujar Bu Haikal sinis.


Al geleng kepala. Dia sempat berpikir negatif tentang ayahnya, tapi tidak seheboh ibunya. Kecurigaan yang berlebihan membuatnya tidak bisa berpikir secara logis.


"Di kampung kita banyak ustadz yang menikahkan dirinya sendiri karena agama memberi kemudahan pada laki-laki. Semua yang berangkat ke Surabaya adalah ustadz. Mereka bisa saling gantian mengadakan ijab kabul."


"Ibu lebih baik tidur," kata Al. "Sudah malam."


"Aku sudah dua malam tidur sangat larut memikirkan ayahmu."


"Buat apa dipikirkan? Yang penting Ayah selamat. Ibu jatuh sakit nanti kalau memikirkan masalah yang belum jelas."


"Tapi pikiran Ibu sudah terlalu jauh. Masa pengurus DKM kawin massal? Apa kata jamaah nanti?"


"Ayahmu tidak pernah ngomong sama kamu soal Fatimah?"


"Buat apa?"


"Kok buat apa? Dia pasti berani mengkhianati Ibu kalau didukung penuh anaknya."


"Dukungan Al tidak berarti. Ayah bisa menikah lagi setiap saat tanpa perlu dukungan siapa-siapa."


"Ayahmu tidak mungkin berani seculas itu."


"Menikah lagi tidak culas, ada dasar hukumnya di agama. Sekarang begini saja, Ibu hubungi istri pengurus DKM. Barangkali ada informasi berbeda dengan Pak Husni."


"Sudah. Mereka bilang mau mengantar ayahmu mengurus anak Ustadz Bashori."


"Ibu video call saja Ayah kalau begitu."


"Ayahmu hampir setiap jam video call."

__ADS_1


"Terus apa lagi informasi yang dibutuhkan?"


"Ayahmu seolah meledekku. Dia pernah memperlihatkan orang-orang di dalam mobil dan bertanya, siapa di antara mereka yang pantas dicemburui? Pak Husni? Pak Sulaiman? Atau Pak Abdullah yang duduk mepet aku?"


Al tersenyum. Barangkali ayahnya sudah kehabisan akal untuk menghilangkan kecurigaan ibunya, akhirnya berbuat alay.


Al kuatir ayahnya nekat mengambil Fatimah sebagai madu. Suami kadang kesal juga dicurigai terus-terusan. Mendingan dibuktikan sekalian. Jadi ibunya terhindar dari dosa fitnah.


"Istrimu kelihatannya sangat lelah," kata Bu Haikal. "Kalian lebih baik istirahat. Kamar sudah disiapkan."


"Oh, tidak apa-apa, Bu," kata Riany tidak enak. "Teruskan saja kalau Ibu masih kepingin ngobrol sama suamiku. Aku mendengarkan, karena aku tidak tahu harus ngomong apa."


"Aku mau kamu ngomong sama suamimu, jangan sekali-kali berani mengambil madu, karena dia akan berhadapan dengan ibunya."


Al terhenyak. Dia jadi kena imbasnya gara-gara ayahnya pergi bersama janda muda dari Palestina itu. Dia mencoba bercanda, "Aku sudah berhadapan dengan Ibu."


Al segera bangkit sebelum ibunya kebablasan. "Aku sama istriku istirahat dulu. Ibu juga istirahat. Malam sudah larut. Jangan pikirkan Ayah. Dia lagi cari pahala mengurus anak yatim."


Berpikir positif, itulah jalan keluar terbaik untuk menghilangkan keresahan. Ibunya masih terjaga di rumah karena dihantui pikiran macam-macam, sementara ayahnya sudah tidur nyenyak di Surabaya.


"Takut dikutuk jadi batu bata ya?" sindir Riany sambil berjalan di samping suaminya menaiki anak tangga menuju ke lantai atas. "Lumayan buat bangun garasi."


"Istriku jadi merasa ada dukungan," kata Al hambar. "Kamu pikir takdir bisa terhalang oleh ibuku?"


"Jadi kamu tetap berharap pada Aisyah?"


"Aku tidak akan pernah berhenti berharap sampai Aisyah memperoleh suami terbaik untuknya."


"Dan itu kamu?"


"Aku berharap bukan aku."


Al membuka pintu kamar, kemudian menutupnya lagi setelah istrinya masuk. Mereka berjalan ke tempat tidur yang indah, terbuat dari kayu langka dengan ukiran berlapis emas.


"Pintu tidak dikunci?" tanya Riany.


"Tidak ada yang berani masuk ke kamarku, apalagi malam-malam."


"Ada hantunya ya?" canda Riany.


"Ada pengantin baru."


"Aku kepingin mandi. Tubuhku tidak karuan rasanya menempuh perjalanan seharian."


"Kimono dan peralatan mandi ada di dalam lemari di kamar mandi. Tinggal pilih mana yang kau suka."

__ADS_1


Al menghempaskan tubuh dan berbaring di kasur empuk. Matanya menerawang ke langit-langit yang diterangi cahaya lampu kristal.


Riany tersenyum menggoda. "Aku ingin mandi bareng."


__ADS_2