Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 42


__ADS_3

Al dan Oma merasa betah berlama-lama di Masjidil Haram. Lelah mengaji, mereka jalan-jalan berkeliling masjid sambil menunggu datangnya waktu shalat. Oma terkagum-kagum melihat perluasan masjid dari tahun ke tahun.


Saat waktu Isya tiba, mereka melaksanakan shalat di bagian sayap yang desain interiornya meniru Masjid Nabawi. Al sebenarnya ingin shalat di areal thawaf, tapi tidak berani meninggalkan Oma sendirian. Lokasi ini tidak kelihatan dari lantai thawaf. Jika mengajak Oma, tentu ketinggalan karena tidak bisa bergerak cepat.


"Kalau mau shalat di dekat Ka'bah, pergilah, cah bagus," kata Oma. "Biar Oma sendiri."


"Di sini saja, Oma."


"Oma tidak apa sendiri."


"Al ingin bersama Oma."


Dia tidak mau ambil risiko. Ketika Oma ingin pergi ke toilet dan tiba-tiba penyakitnya kambuh, repot. Dia akan merasa tersesat di tempat yang dia kenal, dan tidak terpantau olehnya.


Selesai shalat Isya, mereka kembali berkeliling Masjidil Haram. Mata mereka sangat dimanjakan dengan interior yang begitu indah. Mereka pulang agak terlambat.


Al mengantar Oma sampai pintu kamar. Dia tidak berani masuk ke dalam karena ada Riany dan Irma. Mereka tentu tengah beristirahat dan tidak mengenakan hijab. Setelah Oma masuk, dia pergi ke kamarnya.


Nidar bersama dua pria separuh baya duduk-duduk di koridor minum kopi, semakin ramai dengan kehadiran Eyang Munzir.


"Belum pada tidur?" tanya Al. "Jangan sampai Subuh telat."


"Memangnya di kampung tidur kebluk?" sahut pria berkumis. "Di sini dua jam saja cukup."


"Bisa begitu?"


"Kota penuh berkah."


"Sugesti juga."


Al membuka pintu kamar. Kosong. Ke mana Lukman? Apa anak itu belum pulang dari Haram?


"Lukman dan Riany pergi ke Riyadh," kata Nidar.


Al tidak jadi masuk, menoleh ke Nidar dan bertanya, "Menyambut Putri Hassa?"


Puteri kerajaan itu hari ini pulang dari Perancis. Dia ada keperluan di kampus Riyadh. Para pangeran pasti sibuk menyambut kedatangannya.


"Siapa Putri Hassa?"


"Calon istri Lukman...dalam mimpi."


"Dibel gak jawab-jawab."


"Putri Hassa?"


"Kamu!"


"Ponselku ketinggalan di meja."


"Makanya gantungkan di leher biar tidak lupa. Sekalinya ada urusan ribet deh."


"Orang dulu tidak ada ponsel gak ribet."


"Ini jaman apa?"


"Jangan menggantungkan segala sesuatu sama HP, lama-lama HP jadi berhala."


"Ini bukan perkara berhala atau berhalu. Kita ada di negeri orang, kalau ada masalah kayak sekarang gimana?"


"Masalah apa?"

__ADS_1


"Calon harim Lukman kecelakaan."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."


"Tabrakan beruntun."


"Kondisinya?"


Nidar angkat bahu. "Tahu."


"Nah, yang selalu bawa HP saja informasinya setengah-setengah. Sekali nggak bawa setengah gila kali ya."


"Mereka buru-buru banget."


Mungkin kritis, pikir Al sambil masuk ke dalam kamar, atau mereka belum tahu keadaannya. Maka itu pergi cepat-cepat.


Di voice note, Riany tidak menjelaskan kondisi korban. Tapi Al merasa tidak perlu menghubunginya. Gadis itu juga tidak ingin tahu kondisi hatinya saat ini.


Jarak Makkah ke Riyadh kurang lebih 900 km. Butuh waktu tempuh sekitar 7-8 jam. Bukan perjalanan sebentar. Apapun alasannya, hanya butuh beberapa menit menyusulnya ke Haram.


Riany seakan tidak menganggap penting dirinya. Merasa tidak perlu pamit. Dan sangat disesalkan meninggalkan rombongan begitu saja, terkesan kurang tanggung jawab.


Al duduk bersandar di tempat tidur. Dia tidak mau terlalu jauh memikirkan hal itu. Dan dia tidak tahu kapan shalawat Ibrahimiyah lepas dari lidahnya.


Al bangun jam dua dini hari, pada ketukan Oma yang ketiga di pintu kamar. Nidar tertidur pulas di kasurnya.


"Cah bagus," panggil Oma dari luar.


"Ya," sahut Al sambil turun dari tempat tidur.


"Waktunya Tahajud."


Al pergi ke kamar mandi. Dia tidak lama membersihkan badan, kemudian berpakaian dan membangunkan Nidar.


"Aku berangkat duluan," kata Al setelah Nidar membuka mata. "Rombongan bawa ya."


"Bareng-bareng saja sekarang."


"Biarkan mereka cukup istirahat."


Karena Riany tidak ada, maka rombongan jadi tanggung jawab Al. Mereka sebenarnya sudah hapal jalan ke Masjidil Haram, tapi dia tidak mau mereka berangkat sendiri-sendiri. Kalau mampir di toko dan kesasar, repot mencarinya.


Kepergian Riany mengundang protes Nek Surti ketika Nidar membangunkannya satu jam kemudian.


"Kok kamu?" Kepala Nek Surti muncul di pintu kamar yang terbuka sedikit. "Riany mana?"


"Pergi ke Riyadh."


Nek Surti melotot. "Kok malah pergi? Terus rombongan bagaimana?"


"Ada Al."


"Al tahu apa? Dia belum pernah ke Makkah."


"Al tahu banyak kota Makkah."


"Kata syekh google!"


"Nyatanya lancar-lancar saja kan, Nek?"


"Kalau ada masalah, bagaimana? Apa bisa ngatasi?"

__ADS_1


Protes yang sama dilancarkan anggota rombongan yang lain. Riany dianggap tidak bertanggung jawab. Menyerahkan urusan kepada orang yang belum berpengalaman, padahal mereka berada di negeri orang.


"Memang benar kok tidak tanggung jawab," komentar Al ketika mereka bertemu di Masjidil Haram. "Dia pergi begitu saja. Pamit saja lewat voice note."


"Kamu ini bukan membela calon istri, malah makin menyudutkan."


"Kalau aku tidak membela calon istri, kubiarkan rombongan biar terlantar."


"Kamu ada di Haram saat itu," dalih Nidar. "Riany barangkali tidak sempat pamit."


"Berapa menit sih nyusul ke Haram? Sempatkan waktu kalau rombongan dianggap penting. Pergi ke Riyadh itu bukan waktu sebentar."


"Jadi ribet dah."


"Gak ribet. Cuma apa salahnya ngomong dulu? Biar aku siap-siap."


"Cuma ngasih komando apa susahnya? Semua sudah disiapkan sama yayasan. Lagi pula, kalau ada masalah, kan bisa ngebel Riany?"


"Begini kalau otak kebanyakan micin. Ngasih komando itu tidak gampang, tahu gak?"


"Terus gimana?"


"Kamu pegang! Katanya gampang!"


"Waduh! Mereka bisa berontak semua!"


"Makanya jangan menggampangkan sesuatu yang kamu belum pernah melakukannya!"


Pagi ini mereka akan mengambil miqat di Masjid Aisyah. Kerjaan Al jadi dobel, mengurus Oma dan rombongan.


Selesai breakfast, Al keluar kamar. Di koridor sudah berkumpul beberapa orang.


"Bagaimana?" tanya Eyang Munzir. " Jadi ke Masjid Aisyah?"


"Yang percaya silakan ikut saya. Yang tidak percaya silakan gabung sama rombongan lain."


"Rombongan lain sudah berangkat."


"Kok bisa?"


"Katanya nunggu di Masjid Aisyah."


"Mestinya bareng."


"Rombongan kita kan seenak-enaknya."


Al terpaksa harus bersabar menunggu. Nidar sudah mengetuk pintu kamar satu per satu, memberi tahu untuk segera berkumpul. Lambat sekali mereka muncul. Setengah jam kemudian baru berangkat ke Jiad dimana bis sudah menanti.


"Calon Lukman kecelakaan, kenapa Riany ikut-ikutan pergi?" gerutu Nek Surti belum hilang jengkelnya. "Tidak tanggung jawab."


"Calon Lukman itu teman kuliah Riany," jelas Irma, "sahabat dekat."


"Gara-gara sahabat dekat terus rombongan ditelantarkan? Logika macam apa itu?"


"Rombongan tidak ditelantarkan, Surti," kata Eyang Munzir. "Ada Al."


"Al itu bukan orang yayasan!"


"Dia calon suami Riany."


"Calon kan? Belum jadi suami? Calon gubernur saja bisa gagal!"

__ADS_1


__ADS_2