
Kesedihan mewarnai suasana di sepanjang jalan menuju bandara. Tak ada seorangpun yang bicara. Al mengendarai Ferrari dengan wajah tidak ceria. Mobil itu punya Lin Wei. Riany duduk di sampingnya dengan wajah berawan, dan air mata mulai meleleh menjelang detik-detik perpisahan di pintu imigrasi bandara.
"Sudahlah," hibur Aisyah. "Kalian berpisah bukan untuk selamanya. Antara Yogya dan Madinah bukan jarak yang sulit ditempuh. Kalian bisa bertemu kapanpun kalian mau. Jangan jadikan perpisahan ini sebagai kuburan cinta."
"Aku selalu sedih setiap kali akan meninggalkan tanah air," kata Riany sambil menghapus air mata dengan tissue. "Apalagi sekarang ada lelaki yang paling berharga dalam hidupku harus tertinggal di bandara."
"Jangan mellow," tukas Lin Wei. "Perpisahan sementara adalah ujian untuk keteguhan cinta kalian."
Al sendiri terus terang berat melepas kepergian istrinya. Seorang perempuan hidup di negara asing dengan segala problema yang harus diatasi sendiri tanpa keberadaan suami. Namun lebih berat lagi bagi dirinya yang ditinggalkan.
Riany hidup di Madinah bersama Surti yang mengurus segala kebutuhannya. Asisten rumah yang sudah setengah Arab itu tidak pulang ke tanah air. Entah kecewa karena dicerai suami yang tergoda daun muda, atau aji mumpung shalat di Nabawi dengan pahala yang istimewa. Yang jelas, keberadaan Surti sangat membantu sekalipun tidak dapat mencari solusi untuk setiap masalah yang dihadapi.
Sementara Al hidup di Yogya dengan tiga gadis yang mendatangkan masalah. Setiap hari pasti direpotkan dengan kebiasaan mereka yang tidak berubah. Mereka justru sekarang lebih berani karena slot pertama sudah terisi!
Ada satu yang membuat Al kagum dari ketiga gadis itu. Mereka tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Perpisahan ini harusnya membuat mereka senang karena batu sandungan pergi, bila perlu tidak kembali.
Anehnya mereka malah terbawa suasana dan menghibur Riany agar tidak bersedih dengan perpisahan itu. Mereka sama sekali tidak berniat merebut Al dari tangannya. Mereka ingin berbagi! Sebuah pemikiran yang sangat ajaib untuk kids jaman now!
"Lagi pula di semester akhir ini Al tidak terlalu sibuk," ujar Wulandari. "Dia bisa sering pergi ke Madinah untuk mengunjungimu."
Mereka memberi support kepada Riany untuk tegar menuntut ilmu di jazirah Arab. Di hati mereka sedikit pun tidak ada yang berharap agar Riany lama tidak kembali, seakan lebih senang kalau mereka berkumpul bersama.
Riany tak dapat menahan tangis untuk berpisah dengan suaminya. Kakinya seakan berat untuk melangkah ke gerbang pemeriksaan.
"Apa aku harus dapat Lc, beb?" tanya Riany tersendat. "Apa berada di sisimu setiap saat tidak lebih penting dari gelar itu?"
Al tersenyum menghibur. "Ada saatnya kamu berada di sisiku setiap waktu, setelah kamu meraih apa yang menjadi cita-citamu selama ini. Jangan sampai kehadiranku membuatmu melupakan semua impianmu."
"Kamu sepertinya biasa-biasa saja berpisah denganku?" pandang Riany dengan selidik. "Apa semua laki-laki begitu? Senang ditinggal pergi oleh istri?"
"Aku tidak perlu menunjukkan kepada semua orang di bandara kalau aku sedih ditinggalkan istri. Tangis laki-laki cukup di dalam dada."
"Aku pergi, beb."
Riany mencium tangannya dengan air mata berderai. Al mengecup kening istrinya dengan lembut. "Pergilah. Aku menunggu di tanah air dengan keluhuran cintaku. Menangislah di Raudhah ketika kamu sangat rindu padaku."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Riany mengayunkan langkah ke pintu pemeriksaan sambil menyeret travel bag. Kakinya begitu berat untuk melangkah seolah ada pegas yang menariknya untuk kembali, sehingga jarak beberapa meter itu cukup lama untuk ditempuh.
__ADS_1
Sebelum masuk pintu pemeriksaan, Riany menoleh sekali lagi. Al masih berdiri di tempatnya. Dia tersenyum seakan ingin memberi kekuatan, sambil membalas lambaian tangan istrinya.
Al berdiri di depan pintu imigrasi sampai Riany tidak kelihatan lagi. Dia tidak mau mata itu kecewa melihat dirinya tidak ada di tempat ketika kepalanya menengok.
"Istri bapak pertama kali jadi TKW ya?" tanya security bandara. "Kelihatannya berat banget untuk pergi."
"Pengantin baru," sahut Aisyah. "Baru tiga hari menikah, dan terpaksa harus pergi untuk menyelesaikan studinya di Madinah."
"Oh, pantesan. Lalu anda ini siapa?"
"Calon kedua."
"Calon ketiga."
"Calon keempat."
Security bengong. Dia menoleh kepada Al yang terlihat tenang-tenang saja. Tampang lelaki itu kelihatannya tidak pernah muncul di televisi. Jadi bukan selebritis. Hebat sekali dia bisa memiliki empat perempuan yang cantik jelita, dan akur!
Al menyentuh bahunya, dan berkata separuh berbisik. "Jangan dipikirkan, Pak. Cuma bikin pusing."
"Saya satu saja berantem melulu. Apa sih rahasianya mereka sampai rela antri begitu?"
"Aku juga bingung."
"Jangan bawa gelar agama untuk urusan perempuan, Pak. Karena belum tentu aku menikah karena agamanya."
"Mereka antri juga bukan karena agama ya, Pak? Karena bapak crazy rich?"
"Mereka itu bukan perempuan sembarangan. Orang tuanya bisa membeli bandara ini."
"Amazing."
"Cukup sampai amazing saja ya, Pak. Istri saya sudah terbang ke Madinah, saya juga harus pergi ke Yogya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Hari ini Al tidak ingin dipusingkan oleh urusan perempuan. Dia mulai memikirkan untuk mengajukan beberapa judul skripsi pada hari pertama masuk besok. Dia berharap salah satu ada yang disetujui.
"Jadi kamu belum mengajukan judul skripsi?" tanya Lin Wei sambil berjalan ke tempat parkir mobil. "Kamu banyak ngurusi kita kayaknya. Jadi tidak ada waktu untuk diri sendiri."
Mereka sudah mengajukan judul dan sudah disetujui. Tentu saja Al yang memberi ide tentang judul itu. Aisyah yang beda fakultas saja sampai minta pendapatnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin buru-buru," kata Al. "Lagi pula aku batal untuk ikut pelatihan kerja ke Yordan."
"Istri pertama tidak mengijinkan ya?" selidik Wulandari. "Lagian buat apa sih cari kerja di luar kalau di kita ada kesempatan?"
"Riany tidak melarang," sahut Al. "Aku harus mengurus butik Oma, pesantren dan yayasan juga."
"Banyak banget kerjaan kamu," komentar Lin Wei. "Apa sempat mengurus istri?"
Makanya jangan minta jadi istri keempat, keluh Al dalam hati. Satu saja aku repot membagi waktu. Dan dia ingin mengutamakan keluarga. Adalah aneh dia cari uang untuk istri, tapi tidak banyak waktu untuknya.
"Aku dengar kamu jadi ketua komisaris koperasi," ujar Aisyah. "Maka itu aku bersedia jadi ketua koperasi."
"Jadi karena aku, kamu menerima jabatan itu?"
"Ya," jawab Aisyah jujur. "Aku suka tinggal di perkampungan ini, kearifan lokalnya terasa sangat kental, udaranya juga cukup sejuk dan tidak ada polusi pabrik."
"Kamu baru lihat yang bagus-bagusnya. Di kampung ini tidak ada pabrik, tapi kau lihat air sungai, dapat kiriman limbah dari desa tetangga."
"Aku kan tidak tinggal di sungai. Aku tinggal di pesantren."
"Jadi Riany sudah mengambil keputusan untuk kamu tinggal di pesantren?"
Al sendiri belum memutuskan untuk tinggal di mana. Mereka bisa tinggal di pesantren berkumpul bersama keluarga Riany, atau tinggal di rumah orang tuanya sesuai permintaan Ibu. Tapi tinggal di manapun, dia tetap akan merawat rumah Oma baik-baik. Dia tidak ingin membengkalaikan harta peninggalannya.
"Sekalian menunggu kesempatan untuk jadi yang kedua," ujar Lin Wei. "Jangan bilang tidak karena kamu bukan pemegang takdir."
Al seolah ingin menghindari percakapan soal itu. Percuma menjelaskan karena mereka tidak butuh penjelasannya. "Jabatan ketua komisaris itu cuma penghormatan. Barangkali Riany yang terlibat banyak."
"Itu lebih bagus," tukas Wulandari. "Aisyah jadi bisa lebih akrab dengan istri pertama."
Al kayaknya lebih baik diam. Setiap apa yang disampaikan pasti dihubungkan dengan perkara itu. Sekali lagi dia menyayangkan Riany mengambil keputusan yang mendekatkan ketiga gadis itu dengan mereka.
"Aku dengar Pamela Bordin bersedia jadi bagian marketing," kata Lin Wei. "Apakah dia calon untukmu dari kampung ini?"
"Dia sahabatku semasa kecil."
"Riany juga sahabatmu semasa kecil. Berarti posisiku dalam bahaya."
Al jadi serba salah. Dia sebenarnya ingin mengatakan kalau posisi mereka semua dalam bahaya karena dia tidak berminat mengambil madu. Tapi mereka pasti tidak percaya.
"Riany kelihatannya lebih interest sama kamu dibanding Pamela Bordin," ujar Aisyah memberi semangat. "Buktinya kamu yang pertama kali ditawari jadi ketua koperasi."
__ADS_1
Tentu saja Aisyah tidak akan mendapat posisi apapun kalau Lin Wei bersedia, pikir Al kelu. Dia adalah gadis yang paling diperhitungkan oleh Riany untuk dapat menggeser kedudukannya sebagai istri. Al jadi merasa seperti permen yang diperebutkan anak kecil.
Mereka tiba di tempat parkir.