Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 22


__ADS_3

Al memberi isyarat agar Fatimah tidak meneruskan kata-katanya. Dia tidak mau Kyai tahu. Riany dan kawan-kawan pasti sudah tahu. Atau justru Kyai yang paling tahu? Bukankah menghalalkan perempuan tidak perlu restu istri pertama?


Astaghfirullah, pekik Al, gibah pada Kyai bukan sikap terpuji. Seandainya mereka benar sudah menikah, apa itu dosa?


Beberapa santri yang dihubungi Kyai datang membawa santri gadungan itu. Mereka pergi. Al berjalan memisahkan diri dari rombongan. Dia tidak tahu kecamuk apa yang ada di dalam hatinya. 


Riany berjalan di sampingnya. Dia khawatir melihat perubahan di wajahnya.


"Aku bisa bantu menjelaskan," katanya.


Al tersenyum samar. "Aku tidak apa-apa."


"Aku perlu menjelaskan supaya tidak timbul fitnah. Almarhum Ustadz Bashori memiliki perkebunan di daerah ini. Ayahmu dapat amanah mengurus harta gono-gini. Ketiga istri almarhum menunjuk Ustadzah Fatimah untuk mewakili keluarga. Mereka ada di sini karena ada pertemuan dengan pembeli, perkebunan itu akan dijual."


"Pertemuan bisa di rumah almarhum."


"Aku paham ke mana arah kata-katamu. Tapi apa pantas kamu mencurigai ayahmu?"


"Kamu kelewat pintar membaca kata-kata sehingga menuduhku seperti itu, padahal aku tidak ngomong begitu."


"Tapi maksudmu begitu, kan?"


Ada yang mengherankan dari kejadian ini. Ayahnya sedang mencari lahan alternatif karena perkebunan di kampung seberang banyak peminat untuk proyek. Mengapa dia tidak membelinya? Al kuatir amanah itu cuma modus.


Riany seperti tahu apa yang dipikirkannya. "Ayahmu sebenarnya berminat untuk membeli, tanah itu kurang luas. Pemilik tanah di sekelilingnya tidak berniat untuk menjual. Beliau tidak mau punya lahan perkebunan terpisah-pisah karena boros biaya operasional."


"Bagaimana kamu bisa lebih tahu dari anaknya sendiri?"


"Ustadzah Fatimah cerita."


Kejadian ini cukup menguras perasaan Al. Tapi apa Ayah salah? Seandainya dia yakin mampu berlaku adil, ada jalan halal untuk mengambil Fatimah sebagai madu!


"Ayahmu adalah laki-laki yang setia dengan janjinya," ujar Riany. "Dia merasa malu kepada Nabi seandainya hanya mengejar kenikmatan sunah, tapi meninggalkan kesengsaraan sunah."


"Maksudnya?"


"Pernahkah kamu sholat sampai kaki bengkak-bengkak? Pernahkah air matamu terkuras sampai kering saking takutnya pada api neraka? Padahal Rasulullah sudah ada jaminan masuk surga."


"Roman-romannya kamu ingin Harbi seperti ayahku. Setia pada satu istri dengan rasa malu yang ada."


"Kok Harbi sih?"


Jujur nama itu jadi mata air yang memadamkan api cinta di hatinya. Al tidak boleh membangun mimpi yang tertutup jalan ke mahligai perkawinan!


Al menjawab dengan santai, "Masa aku? Calon suamimu siapa?"


"Aku lebih senang mengambil perumpamaan calon suaminya kamu."


"Ucapan ada doa. Aku minta kamu istighfar."


"Dan perempuannya adalah Lin Wei."


"Aku kira...."


"Perempuannya aku maksudmu?"


"Seandainya kamu jadi Lin Wei, bagaimana?"


"Aku akan minta pada Tuhanku, suamiku tidak boleh masuk surga sebelum aku masuk."


"Kenapa kamu minta masuk lebih dulu?"


"Aku ingin menggantikan bidadari di surga yang disiapkan untukmu. Jadi istri di dunia dan akhirat."

__ADS_1


Al tidak berkomentar. Dia kuatir bercandanya akan membuatnya makin sulit mengubur cinta yang terlambat itu, dan terjebak dalam romantika masa lalu.


Al kembali ke persoalan awal. "Jadi menurutmu kedekatan ayahku dengan Ustadzah Fatimah sebatas amanah belaka?"


"Aku percaya sama mereka."


"Ustadzah Fatimah adalah perempuan rupawan dengan pesona Arabia yang memabukkan. Amanah bisa terlupakan kalau setiap saat jalan bersama."


"Ada pengurus DKM menemani."


"Apa mereka dapat menutupi pesonanya?"


"Jadi saat kamu bersama Lin Wei, kesetiaan Aisyah tidak dapat menutupi pesonanya? Lalu saat bersama Wulandari, yang dua itu tidak dapat menutupi matamu? Begitu juga ketika bersama Vidya dan Pamela. Berapa bilangan yang kamu inginkan?"


"Aku membicarakan Ustadzah Fatimah. Kok jadi ke mana-mana?"


"Suka-suka."


"Menang sendiri."


"Biarin," sahut Riany ketus. "Lagian ayah sendiri dicurigai."


"Barangkali karena simpatiku sama Ibu."


Mereka tiba di halaman parkir. Pak Haikal sudah menunggu bersama pengurus DKM. Teman-temannya juga.


"Ada yang mau Ayah jelaskan," kata Pak Haikal dengan wajah serius. "Jangan sampai ada prasangka jelek di pikiranmu."


Al tersenyum sedikit. "Sudah cukup dari Riany. Aku takut ilfeel kalau banyak orang menjelaskan."


"Ya sudah kalau begitu." Pak Haikal angkat bahu sedikit. "Jangan cerita sama ibumu. Urusannya jadi beda."


Al ingat sesuatu. "Oh ya, aku cuma menyampaikan curiga Ibu. Apakah benar Lamborghini itu sogokan buat aku?"


"Dengarkan saja apa katanya. Jangan bantah ibumu."


Mereka pamit dan pergi ke tempat Lamborghini parkir.


"Aku yang bawa," kata Riany menawarkan diri. "Aku tahu jalan pintas."


"Kasih unjuk saja."


"Yakin fokus?"


"Kelihatannya aku mussy banget apa?"


Irma memotong, "Lewat jalan bukit pas kita pulang dari Yogya itu, Ri?"


"Ya."


"Jalannya kecil, belok-belok, mana sepi lagi."


"Terus?"


"Ngeri!"


"Aku lebih ngeri kalau Al gagal dinner."


"Dinner lagi," keluh Al. "Terus terang saja kalau kamu tidak setuju aku ta'aruf sama Vidya."


"Dinner adalah momen paling penting bagi ibumu saat ini."


"Pengaruhnya apa buat kamu?"

__ADS_1


"Namaku tak bersisa di depan ibumu kalau sampai kamu gagal dinner."


"Namamu sudah berkeping-keping."


"Sekurangnya tidak jadi abu."


Nama Riany tidak ada artinya lagi sekarang. Al selalu membela gadis itu karena tidak mau ibunya terjebak dalam dosa fitnah.


"Ngomong-ngomong kalian ke Yogya kok tidak mampir?" tanya Al.


"Sebenarnya pengen mampir," sahut Irma. "Ada yang pergi ke Yogya bukan untuk studi banding, tapi kangen berat."


"Siapa?"


"Yang jelas bukan aku."


"Kamu tidak kangen sama aku?"


"Kangen sih, cuma sebagai sahabat."


"Jadi ini kangennya beda?"


"Tahu dong siapa orangnya?"


"Riany kayaknya tidak mungkin."


"Kok tidak mungkin?"


"Kecuali Harbi belum ada."


"Ember."


"Mudah-mudahan bukan karena aku telat datang temanmu memilih Harbi."


"Kalau ya?"


"Aku pasti menunggu jandanya. Dan itu jahat bangat."


"Jadi yang keempat?"


"Jadi yang pertama dan terakhir."


Riany terpesona. Ada sesuatu melintas di bola matanya. Entah apa. Yang jelas bukan penyesalan Al terlambat hadir.


"So sweet," kicau Irma.


"Tidak jadi mampir kenapa?"


"Masa cewek nyamperin cowok? Jaim dong."


"Terus kangennya?"


"Namamu disebut dalam doa-doa malamnya."


"Lalu datang bangsawan Arab itu." Tiba-tiba Al berubah pikiran. Dia menyodorkan kunci mobil ke Riany. "Kamu saja nyetir. Aku tidak mau disalahkan Harbi kalau kamu kenapa-napa. Banyak melewati jurang, kan?"


Riany menolak, "Aku tidak mau, takut kamu kenapa-napa. Nanti dikutuk sama pacarmu yang segambreng."


Gadis itu pergi ke pintu depan dan berdiri menunggu pintu dibuka. Al menekan remote dan membukakan pintu.


Riany menoleh ke arahnya sebelum masuk. "Asal kamu tahu, aku adalah calon istri yang ingin jadi perhiasan terindah dari yang pernah ada."


"Seandainya Harbi dengar ini."

__ADS_1


"Asal bukan Lin Wei yang dengar."


Riany masuk. Al menutup pintu, kemudian berjalan memutar. Sebelum masuk ke dalam mobil, dia melayangkan pandang sejenak menelusuri keramaian. Selalu, ada rasa sedih melihat paras masjid yang demikian elok tapi kosong jiwanya. Hanya para musafir.


__ADS_2