
"Ada yang mau aku sampaikan sama kamu," kata Riany sambil rebahan di samping suaminya. Mereka sudah siap untuk tidur. "Aku harap kamu jangan menanggapi secara berlebihan."
Al memperhatikan wajah istrinya. Ada hal penting kelihatannya yang mau dibicarakan. Padahal tiada hal penting malam ini selain apa yang sudah mereka lakukan.
Pikiran Al sangat capek. Persoalan Aisyah masih menggantung di kepala, meski hatinya sudah rela kehilangan. Dia kuatir Ryan hanya hadir untuk sesaat.
Ayah semakin berani membuat resah ibunya. Perjalanan ke Surabaya dengan memboyong empat janda Ustadz Bashori mengundang pertanyaan yang tiada jawaban. Dia tidak perlu berbuat seheboh itu kalau sekedar untuk menghilangkan kecurigaan ibunya.
Ada misteri di balik kepergian mereka ke Surabaya secara rombongan. Mengurus satu anak masuk pesantren, tidak perlu mengangkut semua anggota keluarga. Barangkali sekalian jalan-jalan.
"Cerita untuk pengantar tidur sebaiknya jangan terlalu berat," ujar Al. "Aku tidak mau mimpi buruk malam ini, karena kita sudah mengawalinya dengan indah."
"Ada awal berarti ada akhir?"
Al memandang istrinya dengan mesra. "Habis sholat Tahajud aku ingin mengakhiri malam ini dengan indah."
"Nah, tengah-tengahnya diisi dengan apa?"
Al jadi curiga, dia menatap istrinya dengan serius. "Kamu seperti mencoba melupakan apa yang mau disampaikan."
"Besok saja ceritanya," elak Riany. "Aku setuju banget denganmu, malam ini kita isi dengan keindahan."
Al bertanya dengan hati-hati, "Kamu ... hamil?"
"Risikonya begitu kalau kamu tidak pernah azlu."
"Jadi benar kamu hamil?" selidik Al makin curiga. "Aku belum sebulan jadi suamimu."
Riany menatapnya dengan keki. "Belum sebulan nikah kalau aku hamil, memangnya kenapa? Kamu curiga aku ada main sebelumnya? Aku sudah membuktikan di malam pertama. Asal kamu tahu, satu-satunya lelaki yang pernah menyentuh bibirku sebelum nikah adalah kamu, saat kita berusia delapan tahun."
"Jadi ke mana-mana ya," keluh Al. "Padahal jawabannya sederhana, ya atau tidak."
Riany jadi keterusan. "Jawabannya sederhana, tapi jadi rumit karena kamu banyak curiga."
"Aku tidak curiga, aku percaya dengan ucapanmu. Aku cuma nanya."
"Tapi nadanya kok begitu kayak orang tidak percaya?"
Al mengalah, "Ya sudah, aku minta maaf kalau kau merasa begitu."
__ADS_1
"Minta maaf ya minta maaf saja, jangan ada embel-embelnya, pakai 'kalau merasa' segala."
"Iya, aku minta maaf," kata Al mulai kesal.
Riany memasang muka lembut dan tersenyum manis. "Suamiku baru menghadapi satu istri saja tidak sabar ya, bagaimana kalau dua?"
"Maka itu aku tidak berniat untuk dua."
"Nah, terus bagaimana Aisyah?"
"Sudah deh, lupakan nama itu. Aku tidak mau dikutuk jadi batu bata sama Ibu."
"Nikahnya berarti setelah Ibu membangun garasi."
"Kamu sengaja ya bikin aku pusing?" gerutu Al dongkol. "Kamu tahu risikonya kalau aku pusing."
Riany tersenyum mesra. "Aku justru lagi nunggu risikonya."
"Tidak cukup di kamar mandi?"
"Mana pernah cukup satu kali."
Riany seolah sengaja melempar pancingan agar termakan oleh suaminya. Kebetulan Al lagi tidak berselera karena pikirannya terpusat pada perkataan awal istrinya.
Jadi Riany hamil atau tidak, sebenarnya tidak ada persoalan. Sederhana saja, kalau berat kuliah sambil mengandung, tinggal cuti. Lagi pula, kemanjaan istrinya mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Kayaknya tidak jadi beban jika dia hamil dan melanjutkan studi.
Al tahu kenapa Riany berubah cukup drastis, mulai menghilangkan sifat-sifat negatifnya. Dia takut ditinggal suaminya karena ada tiga perempuan antri menunggu.
Padahal Al tidak akan pernah menceraikan istrinya selama dapat menjaga statusnya sebagai perhiasan suami, apapun yang terjadi.
Sebuah persyaratan yang sebenarnya sudah dipenuhi Riany sejak mengenal cinta. Dia tidak pernah berpaling hati pada pemuda lain, tidak pernah terbersit untuk berkhianat. Dia cuma ingin mengenal satu laki-laki dan menjadi bidadarinya di surga.
"Aku tahu kamu tidak hamil," kata Al. "Jadi bukan kabar itu yang mau disampaikan."
"Aku sudah bilang besok saja ceritanya," ujar Riany. "Malam sudah larut. Aku kira kabar ini terlalu berat untuk dongeng pengantar tidur."
"Kan bisa ditutup dengan kisah pangeran dan puteri salju," bisik Al mesra sambil tangannya meraih tali kimono istrinya. "Cerita romantis dan bergelimang cinta."
Riany balas menatap dengan mesra, "Bagaimana kalau dongengnya langsung kita tutup saja dengan kisah romantis dan bergelimang cinta?"
__ADS_1
Al jadi berpikiran lain melihat istrinya seperti menghindar untuk bercerita. Dia bertanya, "Apakah Ayah dan rombongan bukan pergi ke Surabaya? Mereka merekayasa kejadian yang sesungguhnya?"
"Kalau mereka bukan pergi ke Surabaya, terus pergi ke mana?"
"Aku ingat istri kedua memiliki rumah di desa tetangga. Mereka kayaknya pergi ke sana untuk melangsungkan sesuatu yang dicurigai Ibu."
"Mereka pergi ke Surabaya untuk mengurus anak almarhum masuk pesantren."
"Tapi Ayah tidak perlu mengajak keempat janda Ustadz Bashori."
"Kau tahu kepergian Arya ke Yogya karena apa?"
"Dia ingin bertemu sama Belinda dengan kedok menjemputku."
"Arya bingung. Dia sudah menyaksikan sesuatu yang takut membuatmu marah. Maka itu dia tidak cerita sama kamu."
"Maksudmu?"
"Fatimah meminta untuk dihalalkan. Dia merasa tidak enak karena Ayah sudah terbebani amanah almarhum. Tanggung jawab kepada umat tidak cukup untuk membayar segala materi yang telah diberikan kepada mereka sekeluarga."
"Hasil pembagian harta gono gini aku kira cukup untuk menjalani sisa umur mereka."
"Hidup tidak sekedar menjalani, lagian harta yang ditinggalkan Ustad Bashori tidak banyak. Dia menjalani hidup dengan sederhana."
"Dia banyak menerima panggilan di mana-mana, Kyai Rojali saja kalah. Aku kira dia cukup tabungan untuk anak istrinya."
"Kamu keliru, hasil bisyaroh dari syiar agama dia sumbangkan untuk menyantuni anak yatim, dia cuma mengambil untuk makan. Nah, sekarang tanah yang sudah ditempati mereka selama puluhan tahun bermasalah. Tanah itu adalah wakaf dari keluarga Ustadzah Hamidah, beberapa anggota keluarga menuntut kepemilikan tanah itu."
"Tanah sudah diwakafkan oleh kakek mereka. Jadi seharusnya tidak perlu jadi masalah."
"Sayangnya tidak ada sertifikat wakaf, hal ini jadi senjata keluarga ustadzah. Mereka menuntut pembayaran. Kalau tidak, mereka akan menggugat ke pengadilan. Ayah bersedia untuk membeli tanah itu atas nama mereka. Tapi mereka menolak karena Ayah sudah terlalu banyak berkorban."
"Fatimah juga?"
"Dia bersedia menerima semua bantuan kalau Ayah menghalalkannya. Dia malu pada tetangga yang mencapnya pengemis berhijab, padahal dia tidak pernah minta apa-apa."
"Tetangganya justru tidak tahu malu. Mereka seharusnya membantu keluarga Ustadz Bashori, bukan mencelanya."
"Minggu kemarin Ayah mau mengurus anaknya untuk masuk pesantren di Surabaya sesuai amanah almarhum yang disanggupinya. Tapi Fatimah menolak keras, menurutnya amanah tidak perlu dilaksanakan karena dia tidak mampu."
__ADS_1
"Tapi Ustadz Bashori memberi amanah bukan pada keluarganya, dia tahu siapa yang bisa dipercaya dan siap membantunya. Almarhum adalah sahabat Ayah sejak kecil."
"Maka itu Ayah bersikeras untuk melaksanakan amanah, karena sudah terlanjur menyanggupinya. Tapi Fatimah mengajukan satu persyaratan karena rasa malunya, yaitu minta dihalalkan."