
Riany semasa anak-anak jadi rebutan kepala suku beberapa kampung buat main pengantin. Suatu hari dia mengadakan lomba memanah. Kepala suku yang bisa mengalahkannya adalah yang berhak jadi pengantin.
Nidar memaksa Al ikut sayembara. Dia memenangkan lomba berkat akal licik temannya. Riany jadi ratu kecilnya.
Julukan ratu kecil begitu membekas di hati, mendendangkan simfoni indah disaat beranjak dewasa.
Al masih ingat kapan pertama kali cinta bersemi.
Orang tuanya hari itu datang membawa sekeranjang jeruk sunkist hasil panen. Tapi Al lebih tertarik pada beberapa novel detektif titipan Arya. Mereka penggemar novel dengan genre sama. Kalau adiknya sudah selesai baca, pasti dikirim ke Yogya untuk mengisi waktu senggang.
Al tengah membaca novel klasik A Study in Scarlet karya Arthur Conan Doyle saat menemukan foto seorang gadis di sebuah halaman. Di baliknya tertulis nama, Riany Mahera Ayubi, lengkap dengan nomor handphone di bawahnya.
Kelas XII SMA, Riany belum hijrah. Novel ini pasti miliknya. Arya sering pinjam ke orang lain kalau susah cari novel yang dibutuhkan.
Foto itu pasti sengaja diselipkan. Al sering menemukan hal seperti ini jika meminjam buku catatan temannya. Cara klasik yang masih populer digunakan kid jaman now untuk cari perhatian.
Riany demikian menawan bergaya di taman indah dengan seragam SMA yang fashionable.
Saat itu Al sudah hijrah. Tentu saja tidak elok melihat foto yang sangat seksi itu. Disimpannya foto itu baik-baik di halaman novel. Dia sadar betapa hatinya tidak bisa lepas dari pesona ratu kecilnya.
Semakin hari pesona itu semakin membelenggu hatinya, mendorong Al untuk bersujud di ujung malam, menyenandungkan doa agar Riany mendapat hidayah, dan meminta kepada Sang Pemilik Cinta agar menjadikan gadis itu sebagai perhiasan terindah dari yang pernah ada untuknya.
Al kira doanya termakbulkan saat melihat Riany sudah menyembunyikan segenap pesona di balik busana syar'i. Nyatanya hijrah itu bukan untuknya. Tapi dia tidak kecewa dengan Tuhannya. Barangkali Allah memiliki rencana yang lebih indah.
Masa lalu biarlah berlalu. Cukup sampai di sini perjalanan cintanya. Dia tidak boleh terjebak karenanya.
"Jadi bengong." Suara lembut Riany menyadarkan Al dari lamunan pahit itu. "Katanya cari Oma."
"Aku kayaknya keceplosan deh," kata Irma merasa berdosa. "Seharusnya aku tidak memberi tahu siapa Harbi."
Aku malah bersyukur, batin Al tawar. Kalau terlambat tahu, semakin sulit untuk mengusir simfoni itu dari hatinya.
Al berkata, "Aku lagi mengingat-ingat. Aku pernah dikasih novel Conan Doyle yang ada foto seksinya. Nah, aku lupa di mana menaruhnya. Tentu harus dikembalikan karena tidak baik menyimpan foto calon istri orang lain."
Irma mencibir ke Riany. "Hmm, jadi selama ini kamu bohong ke aku? Katanya hilang kontak?"
"Aku ngasih novel itu sudah lama banget," kelit Riany. "Pas Abi lagi bangun pesantren ini."
"Kamu ngasih foto tujuannya apaan coba? Pasti ngasih nomor HP juga. Kayak cewek bispak."
"Nah, itu yang ada di otakku," sahut Al separuh meledek. "Aku takut sama cewek bispak. Jadi aku lupa menyimpannya di mana."
Riany memandang muak. "Nyebelin banget."
"Aku pergi kalau nyebelin."
Al berjalan ke serambi masjid yang dipadati perempuan. Dia kesulitan menemukan omanya. Lagi jengah juga jadi perhatian perempuan sebanyak itu. Dia bukan crosshijaber.
Riany datang membantu. "Aku panggil omanya. Tunggu saja di taman."
“Terima kasih.”
Al pergi ke taman dan duduk di bangku outdoor. Surprise juga mendapati omanya ada di masjid pesantren. Barangkali cari keramaian untuk menghibur kecewanya pada Opa.
Oma datang dengan wajah kurang bercahaya, seperti belum dapat menerima kalau kehadiran Jennifer adalah takdir. Tapi adakah perempuan yang ikhlas?
__ADS_1
"Batang kurma saja bisa gosong karena cemburunya Sayyidah Aisyah," senyum Oma samar. "Tapi cemburunya jadi ibadah karena terbungkus taqwa. Itu yang lagi Oma jalani."
"Jadi bukan ikut-ikutan pindah ajaran?”
“Masjid ini selalu ramai, Oma suka.”
“Sehingga mudah melupakan masalah, begitu?"
Oma diam. Matanya memandang lalu-lalang santriwati di taman yang futuristik.
"Sebaiknya jangan kita bahas lagi kalau masalah ini tidak nyaman dibicarakan,” kata Al.
"Kamu sudah seharusnya tahu untuk menilai siapa yang salah siapa yang benar, atau ketiga-tiganya salah. Tapi yang mau disampaikan bukan itu. Oma ingin mengajakmu pergi umroh."
Al menatap tak percaya. "Oma ceritanya ngasih surprise? Bilangnya kok dadakan?"
“Daftarnya dadakan.”
“Kok bisa?”
“Minggu lalu istri bandar sayur mundur karena mengurus ibunya di rumah sakit, Oma daftar buat menggantikan. Kemarin bandar sayur mundur karena mengurus istrinya yang sakit kecapean, ya Oma daftarkan kamu.”
Al senang sekali. Ini mimpi yang jadi nyata. Sejak kecil dia bercita-cita ingin bertamu ke Tanah Suci, seperti Kong Haji Arifin yang pertama kali pergi haji di kampung ini, kakeknya Riany.
“Urus paspor dan visa secepatnya sama orang travel," ujar Oma. "Waktunya sudah mepet.”
“Siapa orang yang harus dihubungi?”
“Riany.”
"Masalah?"
"Tidak."
"Mereka booking pesawat Saudi, biayanya lebih murah."
"Bagi Oma."
“Bagi orang kampung juga.”
“Banyak orang kampung yang ikut?”
“Lumayan.”
"Kalau bisa pergi ke kantor imigrasinya jangan sama Riany."
Oma tersenyum. "Takut jatuh cinta?"
Cinta itu malah sudah berlalu, keluh Al dalam hati. Dia tidak mau terperangkap dalam fantasi semu. Maka itu dihalau dengan cepat bayangan masa lalunya.
"Ajak Harbi," saran omanya.
"Mendingan urus sendiri saja."
"Memangnya kamu tahu kantor imigrasi di mana?"
__ADS_1
"Ada taksi online."
"Mesti pakai aplikasi."
"Tinggal download.”
"Ponselmu cuma bisa SMS-an.”
Al menoleh dengan heran. "Oma tahu dari mana kalau handphone aku jadul?"
“Oma tahu kehidupanmu di Yogya seperti apa. Oma minta ibumu menahan diri atas perlakuan tidak adil ayahmu. Keras kepadamu tapi lunak sama Arya.”
Jadi ibunya sering curhat? Pantas saja kalau Oma memberi hadiah, dia suka mendesaknya untuk menerima. Barangkali tidak tega mengecewakannya, karena bujukan beliau sehingga Opa merestui pernikahan mereka.
“Al adalah anak sulung yang kelak menggantikan posisi Ayah jika sudah tiada," kata Al datar. "Jadi wajar Ayah mendidik secara keras.”
“Itu yang Oma suka darimu, melindungi orang tua di keadaan baik atau buruk.”
Lagi pula, Al tidak suka barang-barang mewah, lebih melihat kepada fungsinya. Banyak barang jauh lebih murah tapi fungsinya sama.
“Riany sudah biasa urus-urus," ujar Oma. "Jadi bisa lebih cepat."
"Timbul fitnah nanti kalau sama Riany."
"Ada Irma."
"Dua masih boleh, batasnya kan ...." Al tidak melanjutkan kata-katanya melihat paras Oma berubah. "Bercanda."
"Perkara itu bukan candaan.”
"Al cuma ingin mengenal satu cinta untuk satu perempuan."
"Pelihara itu hingga akhir hayat. Jangan sampai kenikmatan sesaat jadi kesengsaraan abadi di akhirat."
"Insya Allah."
"Sudah minta izin ke ibumu untuk masuk kompleks ini?"
"Apa itu perlu?"
"Tidak segampang itu bagi ibumu."
"Bagi pesantren juga."
"Sudahlah, sebentar lagi Isya. Sholatlah di masjid kampung."
"Ada larangan untuk sholat di masjid ini?"
"Tentu saja tidak. Cuma kamu bisa jadi polemik."
"Sudah saatnya perselisihan dihentikan. Hari sudah mau kiamat masih ribut dengan perbedaan."
"Kamu belum tahu banyak soal kampung ini, cah bagus," tegur omanya dengan wajah berawan. "Kamu akan menuai badai kalau berani menabur angin."
Al tertegun. Jadi sudah sedahsyat itu buah dari perbedaan?
__ADS_1