Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 26


__ADS_3

"Seandainya jadi ta'aruf, banyak hal yang perlu diselaraskan," kata Al dalam perjalanan pulang usai memenuhi undangan makan siang keluarga Vidya. "Al ragu bisa mencapai titik temu."


"Jangan ta'aruf kalau ragu."


"Segampang itu?"


"Bagaimana lagi," sahut Bu Haikal pasrah. "Vidya kayaknya ngebet banget jadi pacar kamu."


"Cuma selingan sebelum pergi ke Mesir."


"Sebenarnya Ibu tidak enak saja sama Umi Halimah."


"Tidak enaknya sudah terbayar tunai."


"Maafkan Ibu. Ibu tahu kamu datang karena menghormati Ibu."


"Al sudah seharusnya menghormati Ibu."


"Ibu bersyukur anak Ibu tidak membuat malu. Umi Halimah sudah mendapat malu dari puterinya."


"Lalu?"


"Mendingan Lin Wei sama keluarganya suruh datang."


"Lagi di Hawaii."


"Iis bagaimana?"


"Artis YouTube itu ya? Pamela Bordin."


"Ibu tahunya Iis."


"Menyenangkan orang itu ibadah, Bu. Tidak sulit kan panggil Pamela?"


"Ya terus?"


"Biaya hidupnya sangat tinggi."


"Tidak masalah. Kamu banyak menerima warisan dari keluarga besar kita nanti."


"Semua yang ada pada Pamela bukan cuma untuk suaminya."


"Sudah nikah kan bisa suruh berhenti jadi artis?"


"Sejak kecil Pamela akrab sama Vidya."


Pamela dan Vidya adalah kepala suku yang berseberangan dengan Riany. Anggotanya sedikit. Mereka kadang membantu kalau kampung diserang. Tapi tidak seberani ratu jamparing. Mereka cuma selir.


Di pernikahan Yudi semua hadir sehingga Al bisa menggali satu-satu kisah masa kecil. Dari tiga nama itu, hanya satu yang tersisa. Dan sudah jadi milik orang lain.


"Jangan-jangan ajarannya sama dengan Vidya," kata Bu Haikal waswas. "Jadi ngeri, kampung ini mau jadi apa nantinya?"


"Jangan buruk sangka dulu. Ibu kan belum kenal betul siapa Pamela."


"Lebih baik Ibu selidiki dulu. Jangan sampai gagal lagi."


"Tidak apa, Bu. Al sudah ada pilihan kalau Pamela tidak cocok." 


Bu Haikal penasaran. "Siapa?"


"Aisyah. Bebet, bibit, dan bobot jauh di atas Pamela dan Vidya."


"Ibu malah kuatir kalau jauh di atas mereka. Nanti kamu malah dijajah sama istri."

__ADS_1


"Nyatanya Ibu tidak menjajah Ayah."


"Ibu ingin mencari surga pada suami."


"Aisyah malah ingin jadi bidadari bagi suami di surga."


"Kalau begitu kenapa tidak kamu perkenalkan ke Ibu?"


"Kapan-kapan kalau Ibu ke Yogya."


"Jangan kapan-kapan, secepatnya."


Tiba-tiba saja Al merasa menyesal tidak membawa Aisyah pulang ke rumah. Dia adalah solusi terbaik untuk menghilangkan kekhawatiran ibunya. Menunggu Lin Wei pulang dari Hawaii kelamaan, Wulandari baru berangkat ke Dubai.


"Agamanya bagaimana?" selidik Bu Haikal. "Sama seperti Riany?"


"Namanya keturunan Quraisy. Tapi teman Al tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan."


"Lin Wei dan Wulandari juga boleh bawa ke Ibu. Sekalian ingin tahu anak Ibu pandai tidak memilih calon istri."


"Tiga-tiganya jadi calon istri?"


"Satu!"


"Buat apa suruh datang tiga-tiganya kalau cuma satu yang terpilih? Memangnya mereka barang dagangan apa?"


"Mulai ketularan ayahmu rupanya!"


"Kan anaknya."


"Mulai kompak ya?!"


"Jadi ngegas deh."


"Iya."


"Jadi siapa pilihanmu?"


"Aisyah."


"Sudah bawa ke Ibu secepatnya."


"Secepatnya itu kapan, Bu? Saat wisuda?"


"Tidak bisa calonmu itu suruh datang minggu ini?"


"Mendadak banget ya, Bu?"


"Kamu sebenarnya serius tidak cari calon istri?" tatap Bu Haikal mendesak. "Atau kamu mau coba dulu sama Pamela?"


Minggu ini Al sebetulnya ingin mengundang Riany. Gonjang-ganjing agama adalah perkara mendesak yang perlu segera diselesaikan. Dia tidak mau kampung hancur karena sebuah perbedaan. Masalah calon istri gampang. Hari ini dihubungi, besok Aisyah datang.


"Bagaimana kalau Al undang Riany makan malam?" pancing Al hati-hati. "Keluarganya juga kalau perlu."


"Riany sudah punya Harbi."


"Ngobrol-ngobrol soal agama barangkali."


"Banyak-banyakin piring kotor saja."


Belum apa-apa ibunya sudah menutup diri untuk islah. Bagaimana mencapai titik temu kalau duduk bersama saja tidak mau?


Setiap perbedaan perlu dimusyawarahkan, bukan diperdebatkan di masing-masing mimbar. Mencari titik temu bukan berarti pandangan tentang ajaran mesti sama. Tapi mereka harus berpendirian sama dalam menyikapi perbedaan sehingga tidak saling curiga.

__ADS_1


Curiga adalah perkara biasa tapi dampaknya luar biasa. Kadang orang keliru, tidak boleh curiga tapi waspada perlu. Padahal waspada muncul karena curiga.


Nidar jadi pemicu bom waktu dari situasi yang memanas. Tindakan anarkis di pesantren Kyai Rojali membuat marah warga kampung sebelah dan akhirnya merembet ke kampung ini.


Segala yang dilakukan pesantren patut dicurigai. Pernah santunan anak yatim ditolak mentah-mentah, uangnya dibakar di hadapan perwakilan pesantren, padahal niatnya tulus. Ketika orang yang membakar uang itu berurusan dengan polisi, kepala desa kebagian pusing.


Modus. Segala-gala itu yang tertanam di otak orang kampung.


Tatkala curiga sudah melampaui logika, maka perlu remediasi agar tidak jadi penyakit berbahaya.


"Ada satu cara." Al teringat kembali ucapan Irma. "Supaya pesantren dan orang kampung akur, kalian duduk di pelaminan."


Kelihatannya konyol tapi masuk akal juga.


Ayahnya adalah tokoh masyarakat nomor wahid. Kepala desa sering minta pendapat tentang peristiwa yang terjadi, atau tokoh agama minta pencerahan sebelum memutuskan perkara umat. Maka permusuhan bisa mencair jika Al menikah dengan Riany.


Ayah terkenal konservatif, berpegang teguh pada ajaran yang diterima dari orang tuanya, sehingga penduduk pasti mengira pernikahan itu karena takdir, bukan karena beliau sudah berpaling dari ajarannya.


Pernikahan Al dan Riany bisa jadi simbol perdamaian.


Tapi semua sudah terlambat. Ratu kecil telah menentukan pilihan. Untuk perempuan sempurna seperti Riany menunggu yang tak pasti adalah sebuah keniscayaan, sementara laki-laki antri ingin jadi calon imam.


"Jika kedatanganku membuat kamu ragu dengan pilihanmu," kata Al waktu mengurus visa. "Maka aku akan pergi selama-lamanya."


"Pede bangat," sahut Riany sinis. "Biar tiap detik kamu gentayangan di mataku, aku tidak pernah ragu dengan pilihanku."


Ada rasa kecewa menyelusup ke relung hati Al. Setianya pada Harbi membuat putik-putik harapan berguguran menyisakan kehampaan, tapi lebih baik daripada tumbuh liar.


Al menyodorkan novel detektif Conan Doyle yang dipegangnya. Novel itu terawat baik. "Aku kembalikan novel ini."


Riany kelihatan kaget. Matanya memandang sekilas. "Novel itu hadiah ulang tahunmu. Aku susah carinya. Simpan saja."


"Aku tidak bisa merawat foto calon istri orang lain."


"Bakar saja fotonya."


"Lebih tidak bisa lagi."


"Kamu benci padaku karena aku calon istri Harbi?"


Al tersenyum pahit. "Kalau benci, sudah dibuang ke comberan novel berikut fotonya. Nyatanya aku merawatnya baik-baik."


Mulanya Al ingin memulangkan novel itu saat melamar Riany di telaga tempat mereka berperahu sewaktu kecil, dan sewa fotografer untuk surprise. Tapi mimpi itu berantakan.


Riany mengambil foto di halaman novel dan memasukkan ke mesin penghancur kertas yang ada di dekatnya. Novelnya dikembalikan.


Al terkejut. "Kok dihancurkan?"


"Foto itu adalah masa laluku," jawab Riany. "Kamu saja tidak mau melihatnya, apalagi aku."


Kemudian Riany pergi menemui petugas imigrasi yang memanggilnya.


"Mempersengketakan perempuan adalah hak laki-laki," kata Nidar mengompori. "Persengketaan baru selesai saat ijab qabul terjadi."


"Kayaknya bukan tipe aku deh, biar perempuan tinggal satu di dunia."


"Cinta tidak datang sendiri. Mesti diperjuangkan. Dapat sukur, tidak dapat ya kebangetan sialnya."


"Ngasih motivasi apa meledek?"


"Jadilah pejuang tangguh yang tidak gampang menyerah."


"Tolong bedakan pejuang tangguh dengan perebut calon istri orang."

__ADS_1


Riany akan jadi istri Harbi kalau tidak ada halangan. Al tidak mau jadi halangan itu.


__ADS_2