Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 20


__ADS_3

Mereka tidak lama di kantor imigrasi. Di kantor Samsat juga tidak lama. Al bisa menjalani tes dengan lancar. Mereka lamanya mampir di supermarket dan butik langganan Riany. Bagasi penuh kantong belanjaan. Mereka jadi kemalaman di jalan.


Maghrib berlalu.


Lamborghini melesat kencang di jalan raya yang cukup ramai meninggalkan halaman musholla yang sepi. Mereka habis shalat Maghrib berjamaah. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Malam turun menggeser senja.


"Yang mau nge-date tidak sabaran banget," sindir Riany. "Telat sedikit tidak apa-apa kali."


"Boleh apa nge-date?"


"Di agama tidak boleh."


"Nah, terus maksudnya apa? Kok mancing-mancing?"


"Pengen aja."


Irma menggoda, "Pengen nge-date sama Al maksudnya? Mampir di hotel deh! Kesempatan bagus buat merebut dari Harbi!"


"Kepingin ya?" ledek Nidar. "Gak malu sama jilbab ngomong begitu?"


"Cewek jilbab juga manusia."


"Orang gila juga manusia."


"Jadi ke mana-mana deh," kata Al. "Gara-gara kamu tuh."


"Kok gara-gara aku?" protes Riany. "Irma saja kegatelan!"


Al sulit menerka perasaan apa yang tersimpan di balik pandangan yang terlempar ke trotoar itu. Riany seperti sengaja ingin pulang terlambat supaya acara makan malam dengan Vidya gagal. Dia kelihatannya tidak setuju mereka ta'aruf. Ajaran gadis itu menimbulkan kontroversi di semua golongan.


"Mestinya tidak banyak mampir," ujar Al. "Jadi kena marah Ibu deh."


"Banyak yang harus dibeli."


"Barang-barang itu di Saudi banyak."


"Biar fokus ibadah."


"Jamaah tidak mungkin ibadah sepanjang waktu. Mereka juga kepingin jalan-jalan."


"Kebanyakan jalan-jalan nanti."


"Berpikirlah positif, manakala kejadian seperti itu, maka kamu bisa mengambil keputusan terbaik."


"Alah, kamu juga negative thinking sama aku," sambar Riany ketus. "Palbis."


"Soal apa?"


"Kamu pasti menuduh aku sengaja banyak mampir biar kamu telat dinner."


"Yang benar apa?"


"Shopping!" 


"Gara-gara shopping aku telat dinner."


"Penting banget apa?"


Semua jadi penting sejak cinta berguguran, batin Al pahit. Dia ingin menghapus jejak masa lalu agar cintanya tidak ingat jalan pulang. 


"Aku berpikir positif saja," kata Al. "Kamu menggagalkan acaraku karena Vidya gadis kontroversial."


"Yang menggagalkan acara kamu siapa? Paling telat sedikit. Takut kesan pertamanya jelek?"


"Jadi kamu setuju aku ta'aruf sama Vidya?"

__ADS_1


Riany jadi gugup mendapat pertanyaan seperti itu. Dia coba menyembunyikan dengan pura-pura sibuk merapikan berkas di pangkuannya.


"Kok tidak dijawab?"


"Pendapatku tidak berguna."


"Berguna atau tidak, aku belum tahu pendapatmu."


"Kamu tidak bisa menolak keinginan ibumu, apapun pendapat aku. Jadi percuma aku ngomong."


"Tidak juga."


"Berani menentang ibumu? Jadi anak durhaka?"


Mata Al memandang jalan raya yang memendarkan cahaya lampu mobil. Dia tidak peduli siapa calon pilihan ibunya. Dia hanya punya satu cinta untuk satu perempuan, dan perempuan itu sudah jadi milik orang lain. Cintanya sudah mati.


"Kamu bisa usulkan Pamela jadi calon istri," saran Nidar. "Aku yakin Pamela tidak keberatan meninggalkan dunia hiburan."


"Kembali jadi Iis Komalasari," sambung Irma. "Yang hidupnya bukan setting-an."


"Pada senang jadi comblang ya," sindir Riany. "Sekalian saja buka biro jodoh."


"Bantu teman apa salahnya?" balik Irma. "Aku ingin Al punya istri orang kampung biar tidak jadi kacang lupa kulitnya. Sisa calon tinggal dua selir."


"Kamu saja mencalonkan diri kalau begitu," tembak Riany. "Buat apa menyodorkan orang lain? Gak pede?"


Irma terbelalak, "Tetanggaan? Ada masalah bentar-bentar pulang. Kapan dewasanya?"


Padahal Irma tidak menolak kalau Al mengajak ta'aruf. Dia tidak kalah cantik dengan Vidya dan Pamela, hanya penampilan kalah berani. Tapi keputusan bukan berada di tangannya.


Al sebetulnya sempat berpikir ke arah itu. Irma pendidikannya tidak terlalu tinggi. Gadis itu tidak berminat melanjutkan studi secara formal. Tentu lebih mudah untuk dibimbing jadi perhiasan terbaik.


Tapi Irma mengabdikan hidupnya di pesantren sambil menimba ilmu. Al pasti sering bertemu dengan Riany nanti. Dia pasti sulit untuk melupakan cintanya.


"Aku sebenarnya lebih condong ke Aisyah," kata Al datar. "Tapi aku menghormati Ibu karena Umi Halimah sudah daftar duluan."


"Nah, Wulandari simbol cinta sosial," sambar Irma. "Tidak pandang darah biru, darah merah, darah putih."


"Kayak bendera Belanda," sindir Riany. "Jadi tiang bendera sekalian."


"Comment-nya tidak mendukung banget," omel Irma. "Jealous ya?"


"Aku setujunya sama kamu," ujar Nidar. "Tapi perempuan masa punya suami dua?"


"Aku memilih Aisyah karena aku bisa jadi tiang bendera," kata Al santai. "Memiliki tiga-tiganya, darah putih, darah biru, darah merah."


Riany mendengus sebal. "Bangga ya jadi laki-laki? Tunggu ancamannya di akhirat!"


"Komitmen mereka sendiri."


"Masa?"


"Wah, boleh tuh," kicau Nidar. "Pahalanya berlipat-lipat."


"Dosanya juga berlipat-lipat kalau tidak adil," sambar Riany ketus. "Masuk neraka paling dasar."


"Jadi kamu yang rempong?" sindir Al. "Untung bukan calon istriku."


"Percuma kamu ta'aruf sama Vidya kalau ada niat ambil madu," tukas Riany keki. "Gadis Kairo itu paling benci sama diskriminasi hak."


"Nah, berarti kamu tidak setuju aku ta'aruf sama Vidya. Setujunya sama siapa?"


Riany jadi gelagapan sendiri didesak begitu. Dia kembali merapikan berkas.


"Perut lapar nih," cetus Nidar. "Warung bakso mampir ya."

__ADS_1


Irma melotot. "Spaghetti dua porsi masuk mana?"


"Masuk toilet musholla."


Al protes, "Lamborghini masa parkir di kaki lima?"


"Lagi kamu tidak boleh kenyang," tukas Riany. "Ada dinner."


Irma meledek, "Vidya lagi. Kepingin jadwal ya?"


Nidar menimpali, "Starbucks apa Tanamera?"


"Berisik," sergah Al santai. "Minta turun di jalan repot."


"Malah bagus," jawab Riany acuh tak acuh. "Jadi aku tidak merepotkan."


"Siapa bilang? Aku pasti kebawa-bawa kalau kamu digelandang Linmas karena dicurigai gadis bispak."


"Masa hijaber bispak?" bantah lrma.


Nidar menoleh dengan remeh. "Kamu lihat sesekali kehidupan di luar pesantren. Jangan ngerem terus, lama-lama bertelur."


"Ayam kali bertelur."


"Bulan ini sudah dua hijaber ketangkap basah di kampung kita. Anak SMP lagi."


"Salah asuhan," komentar Riany. "Akibat banyak berguru pada internet."


"Yang jelas salah masuk. Harusnya masuk kelas, malahan masuk apartemen. Kid jaman now hijab cuma aksesoris."


"Segelintir saja kali," bela Al.


"Tapi merusak susu sebelanga."


"Lagi ngapain naro susu di belanga?"


Lamborghini melintasi masjid yang lumayan terkenal karena keindahannya. Jaman now yang viral bukan berapa banyak jamaah, tapi berapa bagus view-nya. Barangkali karena update ibadah sering disebut riya, akhirnya selfie yang kurang bermutu. Kuliner berjejer di sisi halaman masjid.


"Tidak jadi mampir?" Irma mengingatkan. "Lihat bakso favorit jadi lapar."


"Tidak," sahut Riany tegas. "Ada yang mau dinner, tidak ingat apa? Aku nanti yang disalahkan kalau telat."


Al memutar setir secara tiba-tiba sehingga Lamborghini berbalik arah dengan ekstrim. Ban belakang berderit bergeser paksa. Riany terbanting dan kepalanya membentur badan mobil.


"Innalillahi," keluh Riany kesakitan. "Tidak bisa pelan-pelan apa?"


Manuver itu hanya butuh beberapa detik sehingga tidak membahayakan pengendara lain. Sebuah keahlian yang membuat kagum sopir minibus di belakang, tangannya keluar jendela angkat jempol.


"Ngapain balik lagi?" tanya Nidar heran.


"Katanya pengen bakso favorit."


"Gitu aja baper," gerutu Riany.


"Maunya itu apa sih?" balik Al santai. "Mampir salah, jalan terus tidak berhenti berkicau kayak perawan kehilangan lipstiknya."


"Kepalaku sakit, tahu gak?"


"Manja,” gumam Al.


"Apaan, apaan?"


"Gembul."


"Ngomongnya kayak kehabisan batere!"

__ADS_1


Melihat Riany seolah keberatan dengan acara ta'aruf itu, Al jadi tidak peduli seandainya telat dinner berjam-jam.


__ADS_2