
“Kok Rugsalim? Kenapa tidak Malhotra paman kecil?” tanya Mark.
“Gak ada alasan apapun sih. Aku hanya ingin memberinya nama itu untuk putra pertama kami.” Jawab Zein.
“Ah,, baiklah adik kecil sekarang kau sudah punya nama. Aku setuju sih denganmu paman kecil karena nama adik kecilku itu bagus.” Ucap Freya.
“Terus nanti dia akan di panggil dengan apa paman kecil? Masa iya aku harus memanggilnya Fauzan? Itu kan terlalu panjang.” Ucap Mark.
“Hey, apa yang terjadi padamu mantan adik kecil, kenapa kau selalu saja bertanya hal-hal yang tidak penting.” Ucap Freya.
“Ouh astagfirullah kakak. Aku kan hanya bertanya.” Ucap Mark.
“Dia akan di panggil dengan Nino nanti.” Ucap Deyana.
“Nino? Hmm bagus itu pendek.” Ucap Mark menyetujui.
“Seperti namamu saja pendek.” Ucap Freya.
“Kakak namaku pendek kok. Hanya Mark Arvand Malhotra dan di panggil Mark. Pendek kan?” tanya Mark.
“Terserahlah.” Jawab Freya.
__ADS_1
Seminggu kemudian, Deyana sudah pulang empat hari yang lalu. Mereka di rumah sakit hanya dua hari. Seluruh keluarga pun senang menyambut kehadiran anggota baru mereka itu dengan bahagia. Terlebih untuk para sepupunya, mereka sangat senang menyambut adik kecil mereka. Hanya Mark saja yang kesal karena dia di ledek sebagai mantan adik kecil oleh kakak-kakaknya.
***
Seminggu berlalu dengan cepat, “Dek, kamu belum merasakan apapun kan?” tanya Devano saat dia akan berangkat ke kantor.
“Gak ada kok kak.” Jawab Salwa.
“Ingat,,”
“Iya, aku pasti akan segera menelpon jika aku sudah merasakan kontraksi. Jangan khawatir suamiku kan di sini ada mami dan ibu yang menjagaku.” Potong Salwa.
“Iya, hati-hati kak Daren.” Balas Salwa lalu menyalami tangan suaminya itu.
Yah, Salwa sudah tidak bekerja di perusahaan sejak usia kandungannya 33 minggu. Kedua orang tua mereka melarang Salwa ke kantor karena mereka sangat menantikan cucu pertama mereka itu.
Singkat cerita, kini setelah zuhur entah kenapa selesai sholat dia mulai merasakan kontraksi, “Apa aku akan segera melahirkan?” tanya Salwa sambil mengelus perutnya.
“Ah!” ucap Salwa mengelus perutnya karena dia pun mengalami kontraksi lagi.
“Sabar nak!! Apa kamu ingin segera melihat dunia ini. Sebentar yaa mami menelpon papimu dulu.” Ucap Salwa meraih ponselnya.
__ADS_1
Tuut tuut
“Halo, Assalamu’alaikum kak, sepertinya aku akan segera melahirkan. Aw!” ucap Salwa begitu sambungan telepon terhubung.
“Apa? Terus kamu di mana sekarang? Apa Mami dan Ibu sudah tahu?” tanya Devano panik langsung memakai jasnya dan segera keluar kantor bahkan mengabaikan asistennya. Devano segera melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
“Sayang, ini kakak sedang menuju rumah. Kamu segera panggil Mami dan Ibu.” Ucap Devano lalu segera memutuskan sambungan telepon dan segera menambah kecepatannya ke rumah.
“Mami!” panggil Salwa setelah sambungan telepon terputus.
Mami Santi dan Ibu Azana segera menuju kamar Salwa begitu mendengar Salwa memanggil, “Sayang, ada apa?” tanya Mami Santi segera masuk.
“Nak, kau akan melahirkan?” tanya Ibu Azana.
“Mami, Ibu sakit!!” ucap Salwa merintih.
Mami Santi pun segera meminta sopirnya untuk menyediakan mobil sementara Ibu Azana mencoba menenangkan Salwa.
Tidak lama kemudian Devano segera datang. Dia langsung berlari masuk ke kamar Salwa lalu segera menggendong istrinya menuju mobil yang telah di sediakan oleh Mami Santi.
Devano ikut menemani Salwa sementara Mami Santi dan Ibu Azana mengikutinya dari belakang dengan mobil lain.
__ADS_1