
“Sepertinya kau memang sudah gila karena mencintainya! Bukankah bisa mencari informasinya dengan cara lain” Ucap Adelio.
“Aku gak gila Lio.”Ucap Alvino tajam.
“Aku hanya ingin informasi yang ku dapat adalah informasi yang benar dan terpercaya dan hanya kau satu-satunya orang yang ku percaya” Sambung Alvino.
“Baiklah akan aku lakukan seperti yang kau inginkan.” Ucap Adelio.
“Terimah kasih Lio, kau memang temanku”Ucap Alvino.
“Hah,, seumur-umur aku bersamamu ini adalah pertama kalinya aku mendengar kau mengucapkan terimah kasih. Sepertinya memang cintamu untuk nona muda sangat besar hingga kau harus melakukan ini. Nona muda memang bukan orang sembarangan, dia bisa menyentuh hati laki-laki sepertimu yang tidak ingin dekat dengan wanita.” Ucap Adelio.
“Apa aku gak pantas untuknya?” tanya Alvino.
“Gak pantas? Kau sangat pantas dengannya. Kalian sepertinya pasangan yang cocok. Aku pun menyetujui dia sebagai nona mudaku nanti” Jawab Adelio
“Tapi…” Sambung Adelio
“Tapi apa?” Potong Alvino.
“Sepertinya kau memang sangat pantas untuknya dari segi ekonomi tapi dia bukan gadis yang mengukur orang dari materi. Kau hanya unggul di materi saja sedangkan itu gak cocok dengannya, Dia adalah gadis yang sangat mementingkan agama” Ucap Adelio.
“Apa aku gak pantas untuknya salam segi agama? ” Tanya Alvino
“Menurutmu?” Tanya Adelio balik.
“Kau benar aku memang gak pantas untuknya. Aku adalah pria yang hanya mementingkan urusan pekerjaan bahkan sampai lupa dengan urusan agama” ucap Alvino sedih.
“Tapi kau belum terlambat, kau masih bisa belajar. Aku yakin dengan otakmu itu kau bisa dengan mudah belajar” Ucap Adelio.
“Maksudmu aku harus belajar agama?” Tanya Alvino.
“Tentu saja, bukankah jodohmu adalah cerminan dirimu. Kalian sama-sama memiliki sifat dingin. Kau hanya kurang pengetahuan agama” Ucap Adelio.
“Baiklah aku akan mengikuti saranmu”Ucap Alvino bersemangat.
“Perlu ku carikan seorang ustad?”Tanya Adelio.
“Gak perlu. Biarkan itu menjadi urusanku. Kau fokus saja mencari tahu semua tentangnya.”Jawab Alvino.
“Baiklah. Kapan aku harus memulai pekerjaanku?”Tanya Adelio.
“Secepatnya! Aku ingin infonya secepatnya.”Jawab Alvino.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku sebagai asistenmu?”Tanya Adelio.
“Selama sebulan kau harus sudah memperoleh informasi tentangnya. Dan untuk urusan pekerjaanmu sebagai asistenku serahkan saja itu kepada sekretarisku.” Jawab Alvino.
“Dan juga untuk gajimu tetap akan aku bayarkan sesuai pekerjaanmu sebagai asisten”Sambung Alvino.
“Sudahlah, kau adalah temanku. Aku pasti akan membantumu semampuku untuk meraih cintamu.” Jawab Adelio.
__ADS_1
“Baiklah semoga kau juga segera menemukan gadis yang kau cintai”Ucap Alvino.
“Aku belum memikirkannya.”Balas Adelio.
“Terserah kau.” Ucap Alvino.
“Tapi sebelum kau melakukan tugas yang kuberikan, kau bantu aku untuk pindah ke kediaman mami.” Sambung Alvino.
“Tentu saja. Kapan kau akan pindah?” Tanya Adelio.
“Besok saja. Aku sudah bosan mendengar ocehan mami yang menerorku” Ucap Alvino.
“Hahahah,, baiklah aku akan segera membantumu berkemas” Ucap Adelio sambil tertawa.
“Ya sudahlah kita akhiri ini segera lanjutkan pekerjaanmu” Ucap Alvino mengakhiri percakapan diantara mereka.
Adelio pun segera kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum melaksanaakan tugas dari tuan mudanya.
######
Singkat cerita kini Alvino sudah pindah ke kediaman orang tuanya dan saat ini sedang sarapan bareng.
“Akhirnya kita bisa sarapan bersama seperti ini!”Ucap maminya Alvino.
“Tapi sepertinya papi gak menyukainya”Ucap Alvino yang tahu papinya kesal karena maminya hanya memperhatikannya dan melupakan papinya.
“Apa maksudmu?Hah?” Ucap papi Alvino kesal dengan putranya.
“Dasar anak ini!”Ucap papi Alvino.
“Sudah-sudah kenapa kalian selalu saja tidak akur jika bertemu. Kamu juga oih kenapa gak senang dengan kedatangan putra kita” Ucap mami Alvino.
“Itu karena mami!”Ucap Alvino asal.
“Kok mami?”Tanya mami Alvino.
“Yah, Karena papi cemburu padaku. Mami lebih memperhatikanku daripada papi.” Ucap Alvino
“Beneran pih?” tanya mami Alvino.
“Gak kok mih.” Ucap papi Alvino.
“Terus kenapa papi selalu bertengkar dengan anak kita? Papi gak senang anak kita pulang ke rumah?” Tanya mami Alvino menatap tajam suaminya.
“Tentu saja papi senang mih putra kita kembali tapi papi hanya tidak ingin mami melupakan papi..” Ucap papi Alvino.
“Lebay” Ledek Alvino
“Diam kau, kau selalu saja mengganggu.” Ucap papi Alvino.
“Pih, kau itu adalah segalanya bagiku mana mungkin aku melupakanmu. Tapi putra kita juga adalah kesayanganku. Kalian adalah hidupku. Jadi papi jangan cemburu lagi pada putra kita” Ucap mami Alvino memandang suaminya dalam.
__ADS_1
“Baik mih, tapi papi gak janji karena anak ini selalu saja menyebalkan” Ucap papi Alvino. Alvino menganggap perkataan papinya itu hanya angina lalu dan tetap melanjutkan sarapannya.
“Terserah papi” Ucap mami Alvino pasrah.
“Ohiya, Vin. Bagaimana perusahaan?” Tanya mami Alvino sambil memandang wajah putranya itu.
“Alhamdulillah berjalan lancar Mih.” Ucap Alvino.
“Ohiya, jika seperti itu. Lalu bagaimana soal istri , apa kau sudah memikirkannya?” Tanya mami Alvino.
“Mih, Vino masih ingin mengembangkan perusahaan.” Ucap Alvino.
“Apa kau gak ingin menikah? Menikah itu penting Vin? Dan untuk pengembangan perusahaan itu bisa kau lakukan setelah menikah nanti.” Ucap papi Alvino.
“Iya Nak benar tuh apa yang papimu katakan” Ucap mami Alvino.
“Pih, Mih, Intinya Vino masih belum ingin menikah. Jangan paksa Vino.” Ucap Alvino.
“Jika mami dan papi mengkhawatirkan apakah Vino menyukai sesame jenis karena hanya bergaul dengan Lio. Vino katakan bahwa Vino laki-laki normal hanya saja Vino masih belum ingin menikah” sambung Alvino.
“Lalu? Mami hanya tidak ingin putra satu-satunya mami dan juga papi yang sekaligus pewaris tunggal perusahaan “ARYAWIGUNA GROUP” di gosipkan penyuka sesama jenis. Selain itu juga mami ingin segera mengendong cucu seperti teman mami. Apa kamu gak kasihan pada mami?” Ucap mami Alvino pura-pura sedih.
“Mih, gak usah pura-pura gitu. Vino tahu Mih. Vino janji sama mami akan segera memberikan mami cucu dan memperkenalkan calon menantu untuk mami tapi tidak sekarang.” Ucap Alvino.
“Segera? Kapan mami bisa bertemu calon menantu mami?” Ucap mami Alvino antusias.
“Mungkin sekitar satu setengah tahun lagi” Ucap Alvino sambil mengelap mulutnya karena sudah selesai sarapan.
“Hah? Satu setengah tahun lagi? Itu masih lama Vin.”Ucap mami Alvino.
“Itu gak lama Mih. Vino yakin mami pasti bisa bersabar” Ucap Alvino sambil memeluk maminya itu dan berpamitan segera pergi ke kantor kepada mami dan juga painya.
“Eehh,, itu ayolah segera kenalkan mami kepada calon menantu mami!” Ucap mami Alvino walau Alvino sudah berlalu pergi ke kantor. Alvino yang masih mendengar ucapan maminya hanya tersenyum sambil membayangkan senyum Freya.
“Akh,, anak itu”Ucap mami Alvino sambil melanjutkan sarapannya.
“Sudahah Mih, biarkan saja. Dia sudah dewasa pasti tahu apa yang terbaik untuk dirinya, kita haragi keputusannya.” Ucap papi Alvino.
“Iya, tapi mami penasaran Pih” Ucap mami Alvino.
“Sudah lupakan itu. Biarkan putra kita menentukan keputusan dalam hidupnya. Kita sebagai orang tuanya hanya bisa mendukung keputusannya” Ucap papi Alvino.
“Baiklah” Ucap mami Alvino pasrah.
Merekapun melanjutkan acara sarapannya dengan candaan dan keromantisan.
Happy Reading readers😊
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen yaa Guys..🙏🙏
Maaf jika banyak typo guys😉😊
__ADS_1