Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 89


__ADS_3

“Terima kasih nak sudah menjaga anak kami.” Ucap Mami Santi begitu melihat Devano dan Salwa kembali.


Devano pun hanya tersenyum sementara Salwa segera menyalami orang tuanya dan segera menuju kamarnya meninggalkan Devano bersama orang tuanya.


“Maafkan sikapnya nak.” ucap Mami Santi.


“Gak apa-apa kok mih. Vano ngerti!” balas Devano.


“Vano, papi harap kau bisa segera meyakinkannya.” Ucap Papi Budiman.


“Pih, mereka masih punya banyak waktu. Jangan pikirkan itu nak.” ucap Mami Santi.


“Gak apa-apa kok mih. Pih Vano janji akan segera meyakinkannya.” Jawab Devano.


Papi Budiman pun hanya tersenyum. Mereka pun bercerita sedikit sebelum Devano pulang.


***


Seminggu berlalu, kini Salwa sedang mengunjungi Freya yang saat ini masih ada di Kediaman Aryawiguna, “Kak, dia sangat lucu. Ah gantengnya!” ucap Salwa gemas melihat Anand.


Freya pun hanya tersenyum melihat itu, “Makanya cepatlah menikah kak dan punya anak sendiri.” Goda Freya.


“Kakak ipar jangan menggodaku.” Ucap Salwa.


“Wow, sepertinya kakakku ini sedang dalam suasana hati yang buruk. Ada apa ayo cerita!” ucap Freya.


“Huh, bagaimana aku tidak kesal kakak ipar. Dia sangat jarang menghubungiku padahal a-aku,,”


“Teruskan kak, jangan malu padaku.” Ucap Freya.


“Aku kan ingin dia memperhatikanku. Waktu yang diberikan papi pun tinggal 22 hari lagi tapi dia sepertinya memang tidak ingin menikah denganku. Sudahlah malas aku mambahas tentang dia, yang ada moodku langsung hilang.” Ucap Salwa.


Freya pun hanya tersenyum mendengar itu, “Kakak ipar jangan tersenyum!” ucap Salwa.


“Hahah, sepertinya kakak tidak tau apa yang di lakukan kak Vano selama ini hingga dia sangat jarang menghubungimu tapi bukankah dia selalu menyempatkan memberi kabar.” Ucap Freya.


“Kakak ipar apa kau mengetahui sesuatu lagi? Apa kau menyembunyikan sesuatu lagi?” tanya Salwa segera memandang Freya.


“Kak aku tidak menyembunyikan apapun darimu tapi kau saja yang tidak ingin mengetahui apa yang di lakukannya. Kau tahu saat ini dia sedang sibuk menacari penggantinya untuk menjadi asisten kak Vino.” jelas Freya.


“Asisten kak Vino? Maksudnya kakak ipar, aku tidak mengerti.” Ucap Salwa.


“Iya, asisten suamiku. Dia sedang sibuk dengan itu seminggu ini karena dia akan mengundurkan diri setelah menikah denganmu kak. Itu adalah permintaan paman dan bibi yang ingin dia menjadi penerus atau menemanimu mengembangkan perusahaan Stevano. Jadi dia harus mencarikan suamiku asisten baru sebelum dia mengundurkan diri, maka itulah dia sangat sibuk.” Jelas Freya.


Salwa pun hanya mengangguk mengerti sambil berpikir, “Kak kenapa kau yang biasanya selalu mengikutinya akhir-akhir ini menjadi seseorang yang tidak mengetahui apa yang dia lakukan.” Sambung Freya.


“Kakak ipar!” peluk Salwa. “Apa aku calon istri yang buruk?” tanya Salwa.


“Jangan ngomong begitu. Kak Salwa adalah calon istri yang baik. Aku yakin siapapun yang menjadi suamimu nanti dia pasti akan sangat bahagia.” Ucap Freya tersenyum.


“Semua yang di katakan nyonya benar, aku akan menjadi laki-laki yang beruntung jika menikah denganmu.” Ucap Devano tiba-tiba yang masuk dengan Alvino.

__ADS_1


Salwa pun segera melihat ke belakang dan menghapus air matanya, “Kakak!” ucap Salwa.


“Wa, ajak Devano berkeliling. Aku tahu kalian butuh waktu berdua. ” ucap Alvino.


Salwa pun segera keluar dan di ikuti oleh Devano.


“Hubby, apa kalian mendengar semuanya?” tanya Freya sambil menyalami tangan suaminya.


Alvino pun mengangguk lalu mengecup kening istrinya, “Aku harap kak Salwa mengerti jika Kak Vano juga mencintainya seperti dia mencintai Kak Vano.” Ucap Freya.


“Aku sangat beruntung juga memiliki istri yang sangat memperhatikan seluruh keluargaku. Terima kasih sudah mau hadir di hidupku.” Ucap Alvino.


Cup


“Sudah sana mandi.” Ucap Freya setelah mengecup bibir suaminya sekilas.


Alvino mengabaikan ucapan Freya dan langsung mencium bibir Freya dalam hingga mereka larut dalam ciuman yang panas. Setelah ciuman itu berakhir Alvino segera pergi menuju kamar mandi seolah-olah tidak bersalah.


“Dasar suamiku!” ucap Freya tersenyum lalu segera menyiapkan pakaian untuk suaminya.


***


Sementara di dekat kolam ada sepasang manusia yang dari tadi saling diam.


“Maaf!” ucap mereka bersamaan.


Akhirnya mereka pun tersenyum, “Maaf sudah mengabaikanmu.” Ucap Devano.


“Maaf yaa karena jarang menghubungimu itu karena,,” ucap Devano.


“Sudah jangan katakan! Salwa sudah tahu.” Ucap Salwa.


“Kenapa kakak ingin mengundurkan diri?” tanya Salwa kemudian.


“I-itu,,”


“Apa papi memaksa kakak?” tanya Salwa lagi.


“Gak kok mereka gak memaksa kakak tapi memang benar apa yang mereka katakan bahwa kakak harus selalu ada di sampingmu karena jika tidak maka kau pasti akan di culik oleh orang lain.” Goda Devano.


“Gombalan kakak aneh deh.” Ucap Salwa tertawa.


“Gak apa-apa aneh yang penting bisa membuatmu tertawa.” Jawab Devano.


Salwa pun segera menghentikan tawanya, “Jangan berhenti dek, kakak suka melihatmu tertawa.” Jawab Devano.


“Kakak makin pintar yaa menggombal padahal dulu aja,,”


“Maaf untuk itu dan untuk semuanya.” Potong Devano.


Salwa pun tersenyum kembali, “Baiklah aku akan memaafkan kakak tapi apa imbalan yang akan aku dapatkan?” tanya Salwa.

__ADS_1


“Imbalan? Aku gak punya apa-apa yang bisa diberikan padamu Jesy, kamu punya segalanya. Yang bisa aku berikan padamu hanyalah hatiku.” Ucap Devano.


“Kakak jangan menggombal aku bisa saja terbang ini karena gombalanmu itu. Ohiya Jesy? Maksudnya?” tanya Salwa.


“Jesy adalah nama panggilan yang aku buat untukmu sejak kecil. Aku lebih suka memanggilmu seperti itu sedangkan kak Vina dia memanggimu Jess. Jadi apakah bisa aku memanggilmu dengan Jesy?” tanya Devano.


“Jesy? Itu cantik! Aku suka. Jesy juga bagian dari namaku.” Ucap Salwa.


“Itu memang bagian dari namamu. Jadi mulai saat ini aku akan memanggilmu Jesy. Kamu gak keberatan kan? ” tanya Devano.


Salwa pun hanya mengangguk, “Kak bisakah kau menceritakan kisah kecil kita?” tanya Salwa.


Devano pun hanya mengangguk dan mulai menceritakan masa kecil mereka. Kurang lebih 30 menit Devano menceritakan masa kecil mereka yang sudah dia ingat, “Jadi aku tetap memanggilmu kak Vano yaa dari kecil?” tanya Salwa.


Devano pun mengangguk, “Apa bisa aku memberimu panggilan lain?” tanya Salwa.


“Tentu saja, kau bisa memanggil dengan apapun.” Ucap Devano yakin.


“Baiklah jika begitu aku akan memanggil kakak dengan Daren.” Ucap Salwa.


“Daren? Baiklah itu sangat bagus.” Ucap Devano dan Salwa pun mengangguk.


“Jesy!” panggil Devano.


“Iya!” jawab Salwa.


“Mari kita menikah! Aku tahu ini terlalu cepat dan mungkin kau masih ragu. Selain itu juga waktu yang diberikan masih tersisa 22 hari lagi. Tapi sungguh aku mencintaimu juga Jesy baik dulu, saat ini dan nanti.” Ucap Devano.


Salwa pun tersenyum, “Apa kak Daren hobi melamar di tempat yang kurang romantis? Minggu lalu di restoran dan saat hujan sedangkan saat ini di dekat kolam.” Ucap Salwa.


Devano pun akhirnya tertawa, “Hahahah, kau benar. Baiklah aku pastikan untuk lamaran ketiga kalinya akan romantis.” Ucap Devano.


“Tapi bisakah kau tetap menjawab lamaranku tadi?” lanjut Devano.


“Maaf kak aku akan menjawabnya nanti jika kau melamarku untuk yang ketiga kalinya. Aku menunggu lamaranmu.” Ucap Salwa.


“Yaa setidaknya berikan secercah harapan agar aku yakin bahwa kau tidak akan menolakku Jesy.” Bujuk Devano.


“Bukankah aku sudah memberikan hatiku sejak lama padaku kak Daren.” Jawab Salwa segera lari ke dalam.


Devano pun tersenyum karena sekarang dia yakin bahwa gadis itu masih mencintainya dan tidak akan menolak lamarannya. Devano pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa hanya Salwa satu-satunya gadis yang dia cintai baik dulu, saat ini dan nanti.


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊


Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉

__ADS_1


Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻😉🥺


__ADS_2