
“A-aku,,”
“Jangan katakan kau,,” tebak Devano menatap Salwa.
Salwa hanya mengangguk, “Kakak bisa membantuku, tolong belikan aku,,” pinta Salwa memohon.
“Hahh,, baiklah. Aku akan membelikannya tapi sekarang kita harus pergi dari sini.” Ucap Devano.
“Kak, bagaimana aku bisa pergi jika begini?” tanya Salwa.
Devano pun segera melepaskan jasnya dan menyuruh Salwa berdiri serta mengingkatkan jasnya di pinggang Salwa.
“Kak, nanti jasmu?” ucap Salwa.
“Sudahlah, gak apa-apa daripada kau akan duduk seperti itu selamanya. Ayo kita pergi!” ajak Devano sambil membawakan dokumen Salwa dan juga beberapa dokumennya. Salwa pun segera menyusul Devano yang sudah pergi lebih dulu tidak lupa dia membawa tasnya sendiri.
Saat di dalam mobil hanya keheningan yang ada. Ya Salwa ikut bersama mobil bersama Devano karena Devano yang memaksanya. Devano menghentikan mobil di depan supermarket.
“Kau tunggu disini!” ucap Devano segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam supermarket.
Saat sudah di dalam dia bingung harus membeli pembalut dengan merk apa karena dia tidak sempat menanyakan kepada Salwa merk apa yang biasa dia pakai dan ponselnya pun ketinggalan di mobil. Akhirnya Devano membeli semua merk pembalut yang ada disana. Tidak lupa juga dia membelikan pakaian dalam untuk Salwa untuk ukurannya sendiri dia hanya mengira-ngira. Untunglah supermarket itu menyediakan semuanya.
Saat Devano membeli itu banyak ibu-ibu dan beberapa gadis yang memandangnya heran. Ada juga tatapan kagum karena tidak senua laki-laki mau membeli barang seperti itu. Bahkan saat Devano membayar kasir pun tersenyum memandang Devano. Devano tidak memperdulikan pandangan mereka yang ada dalam pikirannya sekarang yaitu bagaimana dia cepat keluar dari sana.
Sementara di mobil Salwa yang ingin menelpon Devano untuk memberi tahu merk pembalut yang biasa dia pakai terhenti ketika melihat ponsel Devano yang ada di dasbor mobil. Sebenarnya Salwa juga malu saat dia meminta Devano membelikan itu tapi mau bagaimana lagi dia tidak mungkin keluar dengan pakaian seperti itu. Entah kenapa juga tamunya harus datang disaat seperti ini, di saat dia belum membeli pembalut di apartemennya karena melupakannya.
“Ini!” ucap Devano memberikan belanjaannya yang sangat banyak kepada Salwa padahal yang dibelinya hanya dua macam.
“Apa ini?” tanya Salwa kaget pasalnya sangat banyak yang dibeli oleh Devano.
“Aku tidak tahu merk apa yang biasa kau pakai jadi aku membeli semua yang ada disana.” Ucap Devano segera menjalankan mobil meninggalkan supermarket menuju apartemen Salwa.
Salwa hanya bisa tersenyum karena Devano membelikan semua itu kepadanya.
“Jangan tersenyum seperti itu, asal kau tahu saja aku sangat malu berada di dalam sana membelikannya. Jika saja itu bukan kau maka aku,,” ucap Devano terpotong.
“Jika bukan aku apa?” tanya Salwa penasaran.
“Ah, sudahlah.” Ucap Devano fokus menyetir.
__ADS_1
Sementara Salwa memikirkan apa sebenarnya lanjutan dari perkataan Devano dengan mencuri-curi pandang kepada Devano. Devano yang sebenarnya mengetahui itu hanya tersenyum.
Tidak lama mereka sampai di apartemen Salwa segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Devano ada di ruang tamu membaca kembali dokumen dan segera melapor kepada Alvino bahwa semua urusan telah selesai.
Saat Salwa mengambil pembalut dia terkejut karena ternyata di sana ada pakaian dalam juga. Salwa mengangkatnya dan tersenyum malu sambil membayangkan bagaimana Devano membeli itu dan ternyata ukurannya sama dengan ukuran Salwa.
***
“Salwa!” panggil Devano.
“Iya kak.” Jawab Salwa dari dalam kamarnya.
“Ini dokumenmu.” Ucap Devano yang ada di depan kamar Salwa.
Salwa pun segera membukakan pintu untuk mengambil dokumennya.
“Tunggu!” ucap Devano menahan pintu ketika Salwa menguncinya.
“Iya ada apa kak?” tanya Salwa menunduk karena dia malu untuk menatap Devano.
“Kamu ada acara malam ini?” tanya Devano.
“Acara? Gak ada deh kayaknya.” Jawab Salwa.
Salwa pun terdiam karena tidak menyangka Devano mengajaknya keluar, “Kakak mengajakku?” tanya Salwa memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Devano hanya mengangguk, “Nanti saya jemput setelah isya. Kalau begitu saya pergi dulu kembali ke hotel. Kamu siap-siap saja, nanti akan saya jemput.” Ucap Devano segera berlalu.
Lagi-lagi Salwa hanya diam dengan sikap Devano karena dia belum menyetujui untuk ikut Devano tapi Devano sudah memutuskannya seolah-olah dia pasti menerima ajakan Devano. Walaupun kenyataannya Salwa tidak mungkin menolak tapi tetap saja dia merasa Devano menginjak-nginjak harga dirinya.
“Kak Vano apa-apaan? Aku kan belum menyetujuinya.” Gumam Salwa menutup pintu kamarnya.
“Ahh,, tapi aku pasti menyetujuinya juga sih. Ahh,, harga diriku kemana kau? Kenapa kau sangat senang dia mengajakmu keluar?” teriak Salwa.
Setelah itu dia segera berlari menuju lemarinya untuk melihat pakaian apa yang akan dia pakai malam ini.
***
Malam harinya, kini Devano dan Salwa sudah berada di dalam mobil. Salwa memakai pakaian gamisnya tapi tetap dengan style modis sementara Devano memakai pakaian kasual dan tidak lupa kacamatanya. Menurut Salwa penampilan Devano saat ini memang sangat menarik dan Devano terlihat lebih tampan dari biasanya. Ingin rasanya Salwa memeluk Devano dan menyembunyikannya hanya untuk dirinya tapi Salwa segera tersadar bahwa sebentar lagi dia akan menikah bahkan dengan laki-laki yang bahkan belum dikenalnya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Devano memandang Salwa yang dari tadi hanya termenung.
“Gak apa-apa kak!” jawab Salwa tersenyum menyembunyikan kesedihannya. Dia sudah memutuskan akan menikmati malam ini bersama laki-laki yang dia cintai tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Setidaknya untuk malam ini dia ingin merasakan bagaimana pergi bersama orang yang dia cintai sebelum dia pulang dan menerima perjodohan yang diatur oleh orang tuanya.
Devano hanya tersenyum melihat Salwa yang sudah berlari masuk taman hiburan yang sangat ramai itu, “Aku harap malam ini akan menjadi malam yang tidak akan kita lupakan sebelum kita menerima pasangan kita masing-masing.” Gumam Devano memandang Salwa yang sedang tertawa.
Mereka menikmati semua wahana disana dengan tertawa dan senyuman seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat berbahagia. Mereka juga tidak lupa menikmati aneka kuliner yang ada disana. Mereka benar-benar memanfaatkan malam itu dengan baik.
***
Keesokan harinya.
“Halo, Assalamu’alaikum mih!” jawab Salwa.
“Wa’alaikumsalam. Salwa mami ingin kau pulang bersama Devano. Mami sudah meminta Vino menghubungi asistennya itu.” Ucap Mami Santi to the point.
“Mih, aku bisa kok berangkat sendiri. Aku pasti pulang.” Tolak Salwa.
“Gak, pokoknya mami ingin kau segera pulang dan itu dua hari lagi bersama Devano. Tidak ada tapi-tapian.” Ucap Mami Santi tegas.
“Mih, bisa gak aku pulangnya nanti, aku masih ingin liburan disini.” Ucap Salwa.
“Gak ada penawaran apapun Salwa Jessika Putry Stevano. Pokoknya kau harus pulang dua hari lagi jika tidak jangan harap kau bisa bertemu mami lagi.” Ancam Mami Santi.
“Ahh, Mami gak asik. Masa iya pakai ngancam-ngancam segala.” Ucap Salwa.
“Bagaimana kau tidak mau pulang. Salwa mami tahu kau mencari alasan untuk tidak pulang karena perjodohan itu kan? Mami juga tahu jika saja tidak ada perjodohan itu maka kau pasti sudah pulang. Nak, dengarkan Mami dan Papi kali ini, kami tidak mungkin menjodohkanmu dengan laki-laki tidak baik. Percayalah pilihan kami ini adalah yang terbaik untukmu.” Ucap Mami Santi lembut.
“Baiklah. Aku akan segera pulang.” Ucap Salwa akhirnya karena mau tidak mau dia harus menghadapi situasi ini. Dia harus berani menghadapinya, dia tidak ingin menjadi pengecut lagi. Cukup dia lari beberapa bulan ini.
Sambungan telepon pun segera berakhir.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,🙏🏻😊
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉
Mohon mampir di novel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Tinggalkan jejak yaa, author tunggu !! 🙏🏻🥺