Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 31


__ADS_3

Tiga minggu kemudian, Freya dan Hanna disibukkan dengan urusan rumah sakit mereka dan juga kunjungan ke desa-desa untuk penyusunan ujian akhir profesi. Selain itu, Hanna juga disibukkan dengan persiapan untuk pernikahannya karena seminggu lalu dia telah dilamar secara resmi oleh Adelio kepada keluarganya dan rencananya pernikahan mereka akan dilangsungkan tiga minggu lagi.


Kini mereka sedang melakukan sosialisasi di desa-desa.


“Han, sudah sampai tahap apa persiapan pernikahanmu?” tanya Freya.


“Alhamdulillah sudah sekitar 35%” jawab Hanna.


“Jika kau butuh apa-apa katakana padaku, aku pasti akan membantumu!” ucap Freya.


“Hey, aku tahu. Bukankah kau juga selalu ikut dalam persiapannya!” ucap Hanna.


“Pokoknya aku gak mau terlewati satupun moment pernikahanmu. Aku ingin menjadi bagian kisahmu menemukan cinta sejatimu.” Ucap Freya.


“Iya, baiklah. Aku harap kau juga segera menemukan cinta sejatimu!” ucap Hanna.


“Aku belum kepikiran sampai sana! Aku hanya ingin melihatmu menikah!” ucap Freya.


“Bagaimana jika ada yang akan melamarmu nanti?” tanya Hanna.


“Ah, aku belum memikirkannya. Tapi jika memang dia jodoh yang telah dipersiapkan Allah untukku maka aku pasti akan menerimanya dengan senang hati.”balas Freya.


“Aku harap kau tidak menghianati perkataanmu!” ucap Hanna.


“Maksudnya?” tanya Freya tidak mengerti.


“Maafkan aku, Re! Aku gak sengaja membukanya.” Ucap Hanna.


“Apa kau sudah mengetahuinya? Kapan kau membacanya?” tanya Freya.


“Tiga hari yang lalu saat kau meninggalkan ponselmu di ruang kerjaku. Aku gak sengaja membukanya Re. Kau tahu kan jiwa kepoku seperti apa.” Balas Hanna.


“Jadi kau sudah mengetahuinya?” Tanya Freya.


“Iya, maafkan aku. Aku tahu itu privasimu. Aku juga gak mungkin menyuruhmu untuk menolaknya nanti. Aku hanya berdoa semoga yang akan menjadi pasangan sahabat terbaikku ini adalah pria terbaik yang bisa menjagamu.” Ucap Hanna.


“Hahahh,, aku gak mungkin marah padamu hanya karena masalah itu. Aku justru bersyukur kau telah mengetahuinya karena selama ini aku merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan ini padamu.” Ucap Freya.


“Jadi apa kau akan menerimanya?” tanya Hanna.


“Hey, kenapa malah membahas masalahku. Tapi aku gak bisa menjawab pertanyaanmu untuk saat ini karena aku gak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.” Ucap Freya.


“Lalu bagaimana jika ada dua orang yang melamarmu dalam waktu bersamaan?” tanya Hanna.


“Hahahh, kau seperti peramal masa depanku saja. Tapi jika itu terjadi, seperti perkataanku tadi aku akan memintanya kepada Allah. Sudah ah jangan bahas aku, lebih baik pikirkan pernikahanmu dengan Kak Lio. Ayo kita pergi sudah dipanggil tuh!” Ucap Freya sambil berlalu pergi.

__ADS_1


“Aku harap jodohmu nanti adalah yang terbaik, Re!” batin Hanna sambil memandang Freya.


“Dan untukmu tuan Alvino, maafkan aku tidak bisa memberitahu hal ini karena ini adalah privasi sahabatku. Aku hanya bisa mendoakanmu semoga perjuanganmu selama ini akan membawamu menjadi jodohnya.” Batin Hanna lagi.


Hanna pun segera berlari untuk bergabung dengan Freya.


#####


Sementara di kediaman orang tua Alvino.


“Bi!” panggil Mami Sinta. Yah,, dia adalah Sinta Khalida Putry maminya Alvino.


“Iya nyonya! Apa ada yang nyonya butuhkan?” tanya bibi Mia.


“Tolong yaa bi, siapkan makanan untuk Vino karena sepertinya dia terburu-buru hingga melupakan sarapannya jadi saya akan mengantarnya ke kantor.” Ucap Mami Sinta.


“Maaf nyonya sepertinya tuan muda sedang puasa karena ini hari kamis!” ucap Bi Mia.


“Puasa? Maksud bibi?” tanya Mami Sinta kaget.


“Iya nyonya. Tuan muda sering melakukan puasa senin-kamis!” ucap Bi Mia.


“Sejak kapan?” tanya Mami Sinta.


“Itu sejak sebulan setelah Tuan Muda pindah kesini Nyonya!” ucap Bi Mia.


“Ah, itu saya juga baru mengetahuinya sekitar dua bulan lalu nyonya, dan tuan Muda juga berpesan untuk tidak mengatakan kepada nyonya dan tuan mengenai hal ini jika tuan dan nyonya tidak menanyakannya.” Jelas Bi Mia.


“Ah, anak itu bisa-bisanya dia main rahasia-rahasiaan dengan Maminya ini. Bibi apa ada yang aneh lagi selain itu?” tanya Mami Sinta.


“I-itu tuan Muda juga sering melarang untuk membersihkan kamarnya. Kata tuan Muda dia ingin membersihkan kamarnya sendiri.” Ucap Bi Mia.


“Ini sudah pasti ada yang dia sembunyikan!” ucap Mami Sinta.


“Bih, ayo sekarang kita masuk untuk membersihkan kamarnya. Saya yakin ada yang dia sembunyikan dan saya juga yakin dia tidak akan mengatakannya. Jadi sudah diputuskan kita harus mencari tahu.” Sambung Mami Sinta.


“Ada apa ini Mih?” tanya Papi William. Yah,, itu adalah William Aryawiguna papinya Alvio.


“Itu Pih, anak kita sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Masa Mami gak tahu bahwa dia sering puasa senin-kamis dan juga melarang Bibi untuk membersihkan kamarnya. Ini pasti ada yang aneh, pih!” ucap Mami Sinta.


“Puasa senin-kamis?” tanya Papi William heran.


“Iya pih. Mami yakin papi pasti kaget kan, mami juga begitu pih. Ini pasti ada yang dia sembunyikan!” ucap Mami Sinta berapi-api karena semangat untuk membongkar rahasia anaknya.


“Sudahlah, Mih. Seharusnya kita senang dong karena putra kita akhirnya kembali mencintai Allah dan juga ingin mandiri dalam membersihkan kamarnya.” Ucap Papi William.

__ADS_1


“Ini gak sesederhana itu, Pih. Mami yakin dia menyembunyikan sesuatu. Jika papi tidak ingin ikut membantu Mami maka biar Mami sama Bibi saja yang mencari tahu. Ayo Bi!” ucap Mami Sinta berlalu menuju kamar Alvino.


“Ah, Mami!” ucap Papi William ikut menyusul istrinya karena sebenarnya dia juga penasaran akan hal yang disembunyikan putranya.


Mereka pun segera masuk ke kamar Alvino dan menggeledah kamar itu seperti oarng yang kehilangan barang saja dan Alvino adalah tersangkanya.


“Nyonya, ini!” ucap Bi Mia setelah menemukan selembar foto dibawah bantal Alvino.


Sebenarnya di meja lampu tidur Alvino ada foto Freya yang diletakkan dalam bingkai tapi semua foto Freya selalu dia letakkan dalam lemari saat dia akan bekerja tapi hari ini dia lupa mengambil foto yang ada dibawah bantalnya. Jadi inilah yang terjadi.


“Ini? Seorang gadis? Siapa ini?” tanya Mami Sinta.


“Papi juga gak tahu!” ucap papi William.


“Pih, apa ini calon menantu kita? Ah, gadis ini sangat cantik dan juga berhijab.” Ucap Mami Sinta.


Papi William hanya mengangkat bahu.


“Bi, bagaimana menurut Bibi? Cantik gak calon menantu saya?” tanya Mami Sinta.


“Cantik kok nyonya, dia juga menyembunyikan kecantikannya dibalik hijabnya. Kecantikan yang terpancar berasal dari dalam hatinya!” ucap Bi Mia.


“Ah, Bibi sangat pintar. Saya setuju, dia memang sangat cantik. Pih, bagaimana menurut papi calon menantu kita?” tanya Mami Sinta.


“Mih, kok mami sangat yakin dia calon menantu kita? Bisa saja kan itu hanya temannya?” ucap Papi William.


“Yah,, mami sangat yakin lah pih, karena putraku itu sepertiku. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti ini jika dia tidak menyukainya, bahkan sampai menyembunyikan foto gadis itu di bawah bantal.” Ucap Mami Sinta sambil berlalu keluar kamar.


“Bi, jangan lupa atur kembali seperti semula ya Bi karena Vino adalah orang yang sensitive.” Ucap Papi William segera menyusul istrinya keluar.


“Mih, emang Mami akan merestuinya?” tanya Papi William setelah mereka duduk dan melihat istrinya masih saja memandang foto itu.


“Maksud Papi apa?” tanya Mami Sinta sambil meletakkan foto diatas meja.


“Maksud Papi, bagaimana jika dia berasal dari keluarga….” Ucap Papi William.


“Mami mengerti apa maksud Papi. Apa Papi pikir Mami mata duitan. Mami pasti akan merestui pilihan putra kita, yang terpenting putra kita bahagia. Lagian juga Mami yakin gadis ini pasti yang telah mengubah putra kita menjadi religius. Selain itu juga, kita kan sudah punya uang, jadi pasti Vino bisa membiayai istrinya.” Potong Mami Sinta.


“Papi sangat bangga pada Mami. Papi pikir Mami akan menantang pilihan putra kita. Jadi papi yakin Mami pasti bisa menahan rasa ingin tahu Mami tentang gadis itu sampai Vino yang akan mengatakannya sendiri.” Ucap Papi William.


“Ah, itu Mami gak bisa janji Pih. Mami ingin segera berkenalan dengan calon menantu Mami. Salwa pasti mengetahui ini, Mami akan menelponnya!” ucap Mami Sinta segera berlalu mengambil ponsel ke kamar tidur mereka.


Papi William hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia tahu istrinya itu tidak akan bisa menahan rasa ingin tahunya.


Happy Reading readers😊

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Vote dan Komen yaa Guys..🙏


__ADS_2