Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Season 2 : Episode 78


__ADS_3

Kini Devano dan Salwa sudah di bandara akan segera pulang dengan di antar oleh Keenan.


“Ken, kau beneran sudah gak apa-apa kan?” tanya Salwa khawatir pada temannya itu.


“Kamu tenang aja Wa, aku baik-baik aja kok. Pokoknya kamu jangan khawatirkan aku, kamu baik-baik di sana. Aku juga menunggu undangan darimu.” Balas Keenan tersenyum.


“Tapi aku tetap khawatir Ken.” Ucap Salwa.


“Maka jika kamu khawatir, mau gak kamu menikah saja denganku?” goda Keenan.


Devano yang ada disana segera menatap tajam kepada Keenan. Keenan yang menyadari tatapan tajam dari Devano hanya tersenyum, “Kamu apa-apaan sih Ken. Kamu itu temanku.” Ucap Salwa.


“Yah, kita adalah teman.” Ucap Keenan.


“Ken, apa kamu akan menatap disini atau kembali ke Jerman?” tanya Salwa.


“Hmm,, sepertinya aku belum memikirkannya.” Jawab Keenan.


Sementara Devano segera melakukan cek in, sedangkan Salwa serius bicara dengan Keenan.


“Wa, ayo kita berangkat!” ajak Devano begitu dia kembali.


“Ken, aku pamit ya. Kamu baik-baik disini. Jika nanti kamu akan pulang ke Jerman hubungi aku.” Ucap Salwa.


Keenan pun hanya membalasnya dengan jempolnya, “Tapi jika aku melakukan itu maka kau harus masih single Wa karena aku tidak ingin menghubungi gadis yang sudah menikah.” Lanjut Keenan.


“Kamu apa’an sih Ken. Kamu itu temanku jadi kamu bisa menghubungiku kapan saja.” Ucap Salwa tersenyum.


Devano segera berdehem mengganggu percakapan kedua teman itu, “Eeh,, baiklah Ken aku pamit.” Ucap Salwa.


“Iya, kamu baik-baik disana yaa.” Ucap Keenan memeluk Salwa. Hal itu dia lakukan untuk melihat reaksi dari Devano dan benar saja Devano yang melihat itu segera menatapnya tajam dan segera menarik Salwa dari pelukannya.


“Wa, kamu duluan!” ucap Devano.


Salwa pun segera pergi, “Kamu apa-apa’an memeluknya?” tanya Devano tajam kepada Keenan.


“Apa salahku dengan itu? Bukankah kamu mendengar aku itu adalah temannya dan kapan pun bisa menghubunginya.” Ucap Keenan.


“Kamu itu hanya temannya. Apa pukulanku saat itu masih kurang?” Tanya Devano.


“Masih mending aku tuan, sedangkan dirimu siapa-nya dia? Kau itu hanyalah asisten dari kakaknya. Apa hakmu melarang?” tanya Keenan.


Devano yang mendengarnya itu seketika terdiam karena apa yang dikatakan oleh Keenan benar, diapun akhirnya pergi.


Keenan segera menahan tangan Devano, “Ingat kau harus cepat menyadari perasaanmu jika tidak ingin kehilangan dia. Jika suka bilang suka, jika cinta bilang cinta. Jangan menyia-nyiakannya bro. Aku merestuimu menjadi suaminya, aku yakin kau bisa menjaganya tapi jika nanti aku mendengar kau menyakitinya aku pasti akan mewujudkan perkataanku untuk menikahinya. Segera sadari perasaanmu sebelum terlambat bro.” ucap Keenan menepuk bahu Devano. Setelah itu Keenan segera pergi, Devano pun mencerna perkataan Keenan.


***


“Halo, Assalamu’alaikum hubby!” salam Freya begitu panggilannya dijawab oleh suaminya.


“Iya sayang, ada apa menelpon?” tanya Alvino lembut.


“Hubby aku merindukanmu.” Ucap Freya.


“Hubby juga sangat merindukanmu sayang.” Balas Alvino.


“Hubby, aku ingin menjemput kak Salwa. Boleh ya?” izin Freya.

__ADS_1


“Salwa? Apa hari ini dia pulang?” tanya Alvino.


“Astagfirullah suamiku, iya Kak Salwa hari ini pulang. Apa kau melupakannya?” tanya Freya balik.


“Maafkan aku sayang aku melupakannya. Baiklah aku akan menjemputmu. Kita sama-sama kesana. Tunggu aku.” Ucap Alvino.


“Iya baiklah. Hati-hati hubby.” Pesan Freya.


Sambungan telepon pun segera terputus.


***


Kini Freya dan Alvino sudah tiba di bandara sembari menunggu pesawat Salwa. Tidak lama kemudian Salwa segera terlihat dari pintu kedatangan.


“Kakak ipar!” panggil Salwa begitu melihat Freya dan Alvino menjemputnya. Salwa segera berlari memeluk kakak iparnya itu.


Freya pun hanya tersenyum membalas pelukan Salwa, “Jangan erat-erat Wa. Kasihan keponakanmu!” ucap Alvino.


“Ouh God, maafkan aku kakak ipar. Apa aku menyakitinya?” tanya Salwa melepas pelukannya dan segera menyentuh perut Freya.


“Gak apa-apa kok Kak Salwa, dia baik-baik aja.” Balas Salwa.


Freya pun mengamati perubahan Salwa, “Kak kau sangat cantik!” puji Freya sambil menyentuh hijab Salwa.


“Ah, kakak ipar kau bisa aja. Ini semua karenamu, karena aku mengagumimu. Terimah kasih kakak ipar.” Ucap Salwa malu.


“Tidak, ini karena kemauan kak Salwa sendiri.” Ucap Freya.


“Kamu cantik seperti itu, semoga kau istiqamah. Ohiya mana barangmu?” tanya Alvino.


Salwa yang melihat itu segera mendekati Devano untuk mengambil barangnya tapi Devano menolaknya. Hal itu tidak luput dari pandangan Alvino dan Freya, pasangan suami istri itu hanya saling menatap lalu tersenyum.


“Apa kabar bro?” sapa Alvino kepada asistennya.


“Alhamdulilah baik tuan. Semuanya berjalan lancar.” Balas Devano.


“Syukurlah jika begitu, aku harap semuanya memang berjalan lancar.” Ucap Alvino menekan kata lancar.


Devano pun hanya tersenyum dan langsung memindahkan barang-barangnya ke bagasi mobil yang dibawa oleh tuannya. Sementara kedua wanita itu sudah masuk lebih dulu ke mobil sambil bercengkrama.


“Tuan, biar saya yang menyetir.” Pinta Devano.


“Sudahlah, biar aku yang menyetir. Kamu pasti lelah.” Tolak Alvino segera duduk didepan kemudi. Devano pun segera masuk di bangku samping kemudi karena Freya dan Salwa sudah duduk dibangku belakang dan fokus berbagi cerita.


***


“Sayang, kau sudah tiba?” ucap Mami Santi begitu melihat mobil keponakannya tiba.


“Mih!” peluk Salwa erat.


“Akhirnya kamu pulang juga anak nakal.” Ucap Papi Budiman dari belakang istrinya.


“Papi!” peluk Salwa berlari memeluk papinya.


Sejujurnya dia memang sangat merindukan kedua orang tuanya tapi kalian tau sendiri kan kenapa dia tidak ingin pulang. Yah karena Devano, laki-laki yang membuatnya jatuh cinta dan sulit dia lupakan tapi siapa yang tahu justru dia pulang bersama laki-laki yang ingin dilupakannya.


“Nak, kalian disini juga?” peluk Mami Santi kepada Freya.

__ADS_1


“Apa calon cucu kami baik-baik aja?” sambung Mami Santi.


“Dia baik-baik aja kok bi.” Jawab Freya.


“Mih, apa kau akan mengajak mereka bicara diluar?” tanya Papi Budiman.


“Ah, baiklah maaf. Ayo masuk nak!” ajak Mami Santi.


Papi Budiman, Mami Santi, Salwa, Alvino, Freya pun segera masuk, “Kamu ikut juga.” Ucap Alvino yang melihat Devano diam saja.


Papi Budiman yang mendengar perkataan Alvino segera melihat ke belakang, “Iya nak, kamu ikut juga. Anggap saja rumah sendiri. Kau harus terbiasa dengan itu.” Ucap Papi Budiman tersenyum. Semua orang tersenyum mendengar perkataan Papi Budiman kecuali Salwa dan Devano yang diam saja tidak mengerti dan menganggap perkataan papi Budiman biasa aja.


Devano pun akhirnya masuk ke rumah Salwa yang sama megahnya dengan kediaman Alvino, “Nak, kalian pasti lelah. Ayo minum dulu.” Ucap Mami Santi.


“Nak, kamu harus menemui jodohmu seminggu lagi.” Ucap Papi Budiman.


Salwa yang mendengar itu langsung tersedak karena Papi Budiman mengatakan itu saat dia sedang minum. Devano yang memang dekat dengan Salwa segera mengambilkan tisu untuk membersihkan wajah Salwa.


“Terima kasih.” Ucap Salwa menerima tisu dari Devano. Lagi-lagi semua orang hanya tersenyum melihat itu.


“Pih, apa itu tidak terlalu cepat? Aku baru saja pulang.” Ucap Salwa kemudian.


“Papi tidak ingin menunda lagi. Umurmu itu sudah lebih dari cukup untuk menikah. Lihatlah kakak iparmu dia saja baru berumur 25 tahun lebih sedikit sudah mau punya anak sedangkan dirimu itu sudah mau 28 tahun dan masih kucing-kucingan begini. Pokoknya kamu gak boleh menolak.” Ucap Papi Budiman.


“Mami!” panggil Salwa meminta pembelaan dari maminya.


“Maaf sayang, untuk kali ini mami setuju dengan papimu.” Ucap Mami Santi.


“Kakak! Kakak ipar!” panggil Salwa meminta pembelaan dari Alvino dan Freya.


Alvino hanya mengangkat bahunya, “Kak Salwa aku yakin kau pasti akan bahagia. Terimalah keputusan paman dan bibi.” Ucap Freya lembut.


“Apa aku memang sudah tidak bisa menolak?” tanya Salwa memelas.


“Yes!” jawab Papi Budiman dan Mami Santi bersamaan.


“Ah, baiklah. Aku akan menemuinya. Atur sajalah!” ucap Salwa pasrah.


Devano yang mendengar Salwa menyetujuinya hanya dian saja tapi hatinya seolah-olah merasa kehilangan. Dia tidak tahu kenapa dia merasa tidak rela jika Salwa dijodohkan. Sampai saat ini Devano tetap saja belum menyadari perasaannya, Lebih tepatnya dia menampik perasaannya.


*


*


Hmm,, kira-kira Devano akan menyadari perasaan tidak ya? Apa Devano sangat bodoh?


*


*


Happy reading guys !!😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,🙏🏻😊


Mohon maaf jika ada typo guys,🙏🏻😉


Mohon mampir di novel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Tinggalkan jejak yaa, author tunggu !!🙏🏻😉🥺

__ADS_1


__ADS_2