
Hari ini acara 7 bulanan Freya dilaksanakan di kediaman orang tua Alvino. Semua keluarga hadir baik keluarga pihak Alvino maupun pihak Freya. Dan seperti permintaan mami Sinta, Freya pun tidak tahu menahu dengan acara ini, yang mengurus acara 7 bulanan ini yaitu Mami Sinta dan Mama Najwa.
“Sayang, bagaimana kandunganmu?” tanya Mama Najwa.
“Baik-baik aja Ma.” Jawab Freya.
“Ah, tau nggak Mama tidak sabar melihat cucu mama nanti.” Ucap Mama Najwa tersenyum sambil mengelus perut putrinya.
“Itu benar sayang, bukan hanya mamamu yang tidak sabar melihatnya mami juga ingin segera melihatnya.” Ucap Mami Sinta ikut bergabung.
“Ah, Mami, Mama kalian membuatku terharu. Aku menyayangi kalian. Sekarang aku memiliki dua ibu.” Ucap Freya memeluk kedua wanita itu.
Acara 7 bulanan pun segera dimulai dan semuanya berjalan lancar.
“Kak Salwa kenapa kau gak pulang?” tanya Freya begitu Salwa menelponnya.
“Maafkan aku kakak ipar. Aku janji akan pulang sebelum keponakanku itu lahir. Aku juga janji akan membawakan hadiah yang bagus nanti untuk keponakanku.” Ucap Salwa dari seberang.
“Kak Salwa, Freya gak butuh apapun. Aku hanya ingin kakak pulang saja.” Ucap Freya.
“Kakak ipar aku sungguh minta maaf karena tidak bisa pulang menghadiri acara 7 bulananmu karena masih ada yang harus aku kerjakan.” Ucap Salwa.
“Kak Salwa gak bohong kan?” tanya Freya.
“Ayolah kakak ipar, mana mungkin aku bohong padamu.” Ucap Salwa.
“Kak, aku tahu kau masih menutupi sesuatu dariku. Tapi aku tidak akan memaksamu menceritakannya jika memang itu tidak ingin kau ceritakan. Aku hanya berharap semoga kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan.” Ucap Freya.
“Kakak ipar, maafkan aku.” Ucap Salwa merasa bersalah karena tidak bisa menceritakan semuanya kepada Freya.
“Jangan merasa bersalah kak. Aku tahu kau pun punya privasi.” Ucap Freya tersenyum.
“Terima kasih kakak ipar, kau paling mengerti aku.” Ucap Salwa.
“Siapa itu nak?” tanya Papi Budiman.
“Eehh,, ini kak Salwa paman.” Jawab Freya.
“I-itu Salwa?” tanya Papi Budiman kaget, pasalnya Salwa selalu menolak panggilan dari mereka.
“Ada apa pih? Ada apa dengan Salwa?” tanya Mami Santi begitu mendengar suaminya menyebut nama putri semata wayang mereka.
Papi Budiman pun segera meminta ponsel Freya, Freya pun yang tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya bisa memberikan ponselnya. Sementara Salwa disana ingin memutuskan sambungan telepon begitu mendengar suara papinya menjadi tidak enak karena bagaimanapun dia harus bicara dengan orang tuanya karena selama ini dia selalu menolak panggilan dari Papi dan Maminya itu.
“Salwa! Ini kau kan? Kenapa kau selalu menolak panggilan dari kami?” tanya Papi Budiman.
“Hmm,, maaf pih.” Ucap Salwa.
“Pokoknya kamu harus segera pulang, sudah cukup kau disana. Jangan beralasan lagi. Kau harus segera menikah dan menerima perjodohan yang kami buat.” Ucap Papi Budiman.
“Pih, aku masih harus menyelesaikan masalah disini. Begitu selesai aku pasti akan pulang.” Ucap Freya.
“Papi tidak ingin mendengar alasanmu.” Ucap Papi Budiman sambil menyerahkan ponsel kepada istrinya karena dia pusing entah bagaimana lagi dia harus membujuk putrinya itu menikah.
__ADS_1
“Halo, sayang. Ini mami.” ucap Mami Santi.
“Iya mih.” Ucap Salwa.
“Pulanglah. Dengarkan papimu. Dia hanya mengkhawatirkan nak.” Ucap Mami Santi lembut.
“Mih, aku pasti pulang tapi belum saat ini. Tolong bujuk papi.” Ucap Salwa.
“Mami sudah gak bisa membujuk papimu lagi nak. Karena sejujurnya mami pun ingin segera melihatmu menikah. Mami juga ingin mempunyai cucu seperti Aunty-mu.” Ucap Mami Santi.
“Ah, mami. Baiklah aku akan pulang tapi nanti.” Ucap Salwa segera memutuskan sambungan telepon.
“Dasar anak itu, beraninya dia memutuskan sambungan telepon.” Ucap Mami Santi.
“Mih, sebenarnya aku ingin pulang. Aku juga merindukan kalian tapi aku belum bisa melupakannya.” Batin Salwa begitu sambungan telepon dia putuskan.
Sementara di sisi lain, ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraan antara orang tua dan anak itu.
“Jadi benar kau akan segera dijodohkan?” gumam Devano. Yah, pria itu adalah Devano yang dari tadi mendengar percakapan antara Salwa dan orang tuanya.
***
Kini Alvino sedang mengantar Devano ke bandara untuk berangkat ke Singapore.
“Apa semua berkasnya sudah kau bawa?” tanya Alvino.
“Sudah tuan. Semuanya sudah aku siapkan.” Jawab Devano.
“Aku percaya kau bisa. Aku tunggu kabar baik darimu.” Ucap Alvino menepuk bahu Devano.
“Aku juga berharap kau menyadari apa yang seharusnya kau sadari.” Ucap Alvino.
Sementara Devano hanya diam mendengar perkataan Alvino.
***
“Apa kak Vano sudah pergi?” tanya Freya melalui telepon kepada suaminya.
“Iya, mungkin dia sudah tiba sekarang. Sayang, sejujurnya hubby cemburu kau menanyakan laki-laki lain.” Ucap Alvino cemberut.
“Astaga, suamiku. Kenapa kau menjadi seperti ini. Ayolah hanya kau satu-satunya pria yang aku cintai tapi tentu saja setelah papaku.” Ucap Freya tesenyum.
“Sayang, aku merindukanmu.” Ucap Alvino.
“Masa sih?” tanya Freya menggoda suaminya.
“Beneran sayang. Entah kenapa hubby sangat merindukanmu.” Ucap Alvino.
“Hubby, jangan begini. Kau harus bekerja karena tidak ada yang membantumu. Kak Vano gak ada jadi kau harus serius bekerja. Aku janji akan memberikanmu hadiah jika kau bekerja dengan baik.” ucap Freya.
“Sungguh?” tanya alvino bersemangat.
“Tentu saja, istrimu ini tidak pernah tidak menepati janjinya.” Ucap Freya.
__ADS_1
“Beneran ya?” tanya Alvino lagi.
“Iya sungguh. Reya gak bohong.” Jawab Freya.
“Hmm,, baiklah jika begitu telepon hubby tutup dulu yaa. Hubby harus melanjutkan pekerjaan. Daa,, sayang.” Ucap Alvino.
“Iya suamiku. Semangat bekerjanya.” Ucap Freya.
Sambungan telepon pun segera berakhir begitu mereka mengucapkan salam.
***
Ternyata benar, seperti dugaan Alvino kini Devano sudah tiba di Singapore.
“Aku besok harus menemui tuan Smith. Jadi hari ini aku harus kemana?” tanya Devano kepada dirinya sendiri.
“Oh tidak aku harus mencari tahu dimana nona Salwa tinggal.” Ucap Devano.
Entah kenapa Devano sangat ingin menemui Salwa sebelum menemui klien besok. Jadi dia memutuskan untuk mencari tempat tinggal Salwa terlebih dahulu.
Setelah sekitar 2 jam dia mencari dari hotel satu ke hotel lainnya dan dari apartemen satu ke apartemen lainnya akhirnya dia mengenali sosok gadis di sebuah restoran setelah menemui kliennya. Yah, Devano setelah lelah memasuki hotel dan apartemen satu persatu akhirnya dia memutuskan makan dulu.
“Nona!” panggil Devano menahan lengan gadis itu.
Gadis itu pun segera menengok untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi.
“Ka-kak Vano?” tanya Salwa tidak percaya. Yah, gadis itu ternyata beneran Salwa.
“Nona! Ini beneran kau?” tanya Devano kagum tidak berhenti menatap sosok gadis dihadapannya yang penampilannya sudah berubah. Gadis tetap saja cantik tapi saat ini auranya semakin terlihat. Gadis dihadapannya itu kini sudah memakai hijab.
“Kak Vano, ini beneran kau? Aku takut jika aku hanya berhalusinasi menganggapmu ada disini. Mana mungkin kau ada disini? Kakak pasti tidak akan mengizinkan pergi. Apa ini mimpi? Jika memang ini mimpi maka jangan bangunkan aku karena aku sangat merindukanmu kak. Ah, aku pasti sudah gila berharap ini bukan mimpi tapi kenapa ini terasa nyata.” Ucap Salwa.
Devano yang melihat itu hanya bisa diam mendengarkan gadis itu bicara, “Apa masih terasa seperti mimpi?” tanya Devano memberanikan diri memeluk gadis dihadapannya itu. Devano tahu apa yang dilakukannya itu salah tapi entah kenapa dia ingin sekali memeluk gadis dihadapannya itu.
Salwa hanya diam saja menerima pelukan itu, logikanya mengatakan itu salah tapi hatinya menginginkan itu. Sungguh saat ini dia membenci hatinya karena tidak bisa diajak bekerja sama, “Apa kau beneran disini kak?” tanya Salwa.
Devano pun segera melepaskan pelukan itu lalu menatap gadis dihadapannya itu dengan dalam, “Apa kau pikir aku masih mimpi, aku beneran ada disini.” Jawab Devano bicara informal tanpa embel-embel nona lagi.
“Kau beneran disini? Aku tidak bermimpi? Apa kau mendengar semuanya?” tanya Salwa tidak percaya serta bercampur malu karena menganggap laki-laki itu hanya ada dalam mimpinya sehingga mengatakan semuanya begitu saja.
Devano hanya tersenyum melihat tingkah Salwa yang tengah malu, “Gak usah malu nona, aku senang kok mendengarnya.” Ucap Devano.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😉
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻
Maaf yaa hanya bisa up satu part, author masih sakit guys,,🙏🏻🥺
__ADS_1
Jangan lupa juga mampir dinovel author yang satu yaa “Takdir Hidup Zia” author tunggu kedatangannya dan jangan lupa tinggalkan jejak. 🙏🏻🥺😉