Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 30


__ADS_3

Kini Freya dan Hanna disibukkan oleh praktik mereka untuk pendidikan profesi mereka.


“Re, bagaimana dengan pasien yang kau tangani?” tanya Hanna.


“Alhamdulillah semua baik-baik saja. Pasiennya juga akan pulang dalam beberapa hari ini.” Jawab Freya.


“Re, kita jadi jarang ketemu karena kita tidak tugas ditempat yang sama.” Ucap Hanna.


“Hey, masih lebih baik kita bisa di rumah sakit yang sama walau tidak berada di ruangan yang sama.” Ucap Freya.


“Tapi aku ingin selalu bersamamu Re.” ucap Hanna.


“Sudah, kan kita bisa ketemu seperti ini!” ucap Freya.


“Iya juga sih. Re, kapan kita ujian?” tanya Hanna.


“Mungkin dalam beberapa hari lagi.” Ucap Freya.


“Huhh,, aku ingin rasanya mengambil konsentrasi yang sama denganmu,Re. Tapi aku lebih suka maternitas.” Ucap Hanna.


“Maternitas juga bagus kok. Kita itu harus melakukan apa yang kita cintai Han. Jangan paksa dirimu melakukan apa yang tidak kau sukai hanya untuk mengikutiku.” Ucap Freya.


“Iya juga. Aku harap kita selalu bersama walau nanti kita akan bekerja nanti. Aku ingin kita selalu bekerja di rumah sakit yang sama denganmu!” ucap Hanna.


“Tentu saja, kita harus wujudkan itu. Jadi mari bekerja sama.” Ucap Freya sambil menarik tangan Hanna.


“Ayo kita bekerja!” ucap Hanna berdiri dan mengikuti Freya untuk segera bekerja.


“Re, bagaimana pendapatmu jika aku menikah lebih dulu darimu?” tanya Hanna saat mereka berjalan menuju ruangan.


“Hah? Kau akan menikah? Kak Lio sudah melamarmu?” tanya Freya kaget.


“Re, aku hanya bertanya, itu buka berarti aku akan menikah bukan?” ucap Hanna.


“Sepertinya benar Kak Lio sudah melamarmu!” ucap Freya.


“Ah, gak kok Re.” ucap Hanna.


“Lalu ini apa?” tanya Freya sambil memegang jari manis Hanna yang terpasang cincin.


“Ah, itu hanya cincin biasa kok, Re.” ucap Hanna mengelak.


“Masa sih? Ayo sejak kapan kau membohongiku? Aku pasti akan mendukungmu jika memang kau akan menikah. Menikah itu juga ibadah bukan?” ucap Freya berhenti dan mengajak Hanna duduk di kursi yang disediakan untuk keluarga jika menunggu pasien. Untung juga jam istirahat mereka masih lama.


“Iya juga sih, tapi..” ucap Hanna.


“Tapi kenapa? Apa kau ragu? Jika kau ragu sholat istikharah Han.” Ucap Freya.


“Sudah Re. aku sudah melakukannya dan hatiku seolah-olah mengatakan aku harus menerima lamaran Kak Lio, dan rencananya aku akan menjawab lamarannya hari ini sebelum dia melamar secara resmi kepada keluargaku. Makanya aku memakai cincin ini.” Ucap Hanna.


“Lalu apa lagi yang kau pikirkan, jika kau sudah yakin maka terimalah. Menurutku Kak Lio adalah laki-laki baik, dia juga sangat mencintaimu bukan? Apa ada keluarga kalian yang tidak merestui hubungan kalian?” tanya Freya.


“Gak kok Re. Alhamdulillah keluarga kami sangat merestui hubungan kami. Tapi bagaimana dengan studi profesiku?” tanya Hanna.


“Jadi kau memikirkan ini. Hey, pendidikan kita tinggal empat bulan lagi maka kita akan wisuda profesi. Jadi itu tidak akan jadi masalah walau kau hamil sekalipun. Dan pasti Kak Lio sudah memikirkan semuanya sebelum melamarmu.” Ucap Freya.


“Re, kok malah bahas hamil sih?” ucap Hanna.


“Hey, apa yang salah dengan itu? Setiap pasangan yang menikah pasti akan melalui itu. Aku yakin kau sudah dewasa pasti kau bisa memutuskan mana yang baik untuk hidupmu. Aku hanya menyarankan kau menerima Kak Lio, menurut pandanganku dia laki-laki baik. Tapi apapun keputusanmu nanti, kau harus ingat bahwa aku adalah orang pertama yang akan mendukung keputusanmu.” Ucap Freya memeluk sahabatnya.

__ADS_1


“Re, terimah kasih atas saranmu. Aku merasa lega dan sudah tahu apa yang akan aku lakukan setelah bicara denganmu. Aku pasti akan melakukan yang terbaik.” Ucap Hanna mambalas pelukan Freya.


“Itu baru sahabatku. Ingat jika ada masalah apapun kau harus ceritakan padaku. Jangan sembunyikan apapun dariku. Okay!” ucap Freya.


“Tentu saja” ucap Hanna.


“Ya sudah ayo kita kembali bekerja jam istirahat akan selesai.”


“Ayo!” ucap Hanna.


Mereka pun segera kembali ke ruangan mereka masing-masing.


######


Sementara disisi Alvino.


“Tuan, boleh saya izin pulang cepat hari ini?” Tanya Adelio.


“Ada apa?” pandang Alvino.


“Ah, itu. Saya akan ketemu Hanna sore ini.” Ucap Adelio.


“Bicaralah sebagai teman! Apa yang akan kau bicarakan dengan Hanna?” ucap Alvino.


“I-itu saya telah melamarnya Tuan dan hari ini Hanna mengajak ketemuan dia akan menjawab lamaran itu.” Ucap Adelio gugup.


“Kenapa kau tidak bilang? Baik aku akan memberikanmu cuti!” ucap Alvino.


“Ah, itu. Belum tentu juga dia akan menerimanya!” ucap Adelio.


“Hey, berkatalah yang baik. Aku yakin Hanna akan menerima lamaranmu! Kau itu adalah temanku.” Ucap Alvino.


“Apa hubungannya Tuan?” tanya Adelio.


“Bukan aku tidak ingin mengatakannya Tuan hanya saja belum pasti apa dia mau menerimaku atau tidak.” Ucap Adelio.


“Ku doakan semoga kau diterima oleh Hanna.” Ucap Alvino.


“Terimah kasih. Semoga saja!” ucap Adelio.


“Kau harus yakin! Tapi bagaimana jika dia menerima lamaranmu, apa yang akan kau lakukan setelahnya?” tanya Alvino.


“Jika dia menerima lamaranku, aku akan segera melamarnya secara resmi kepada keluarganya.” Ucap Adelio.


“Aku iri padamu! Kau sudah bisa melamar wanitamu! Tapi walau begitu, aku ikut bahagia untukmu” ucap Alvino.


“Aku doakan untukmu juga semoga Nona menjadi istrimu kelak.” Ucap Adelio.


“Aamiin. Tapi bagaimana dengan pendidikan Hanna?” tanya Alvino.


“Aku pasti akan tetap mendukung untuk studi profesinya Tuan. Aku hanya ingin menghalalkan hubungan kami saja.” Ucap Adelio.


“Aku salut padamu!” ucap Alvino.


“Lalu ini bagaimana, di izinkan tidak aku pulang cepat hari ini?” tanya Adelio.


“Tentu saja! Katakan jika kau punya masalah apapun aku pasti akan membantumu. Jangan sungkan padamu!” ucap Alvino.


Tiba-tiba masuk seorang wanita.

__ADS_1


“Kak Lio mau kemana pakai izin segala?” tanya Salwa.


“Hey, kau main nyelonong saja. Bisa gak salam dulu!” ucap Alvino tegas.


“Ah, maafkan aku kakakku, aku lupa bahwa kakakku ini sudah berbeda. Assalamu’alaikum kakak tampanku!” ucap Salwa.


“Wa’alaikumsalam. Mau apa kau kesini?” tanya Alvino.


“Tentu saja untuk menemui kakakku dan juga menagih janji kakakku. Kakak jahat sudah tidak menjemputku, lalu tidak mengunjungiku juga!” ucap Salwa.


“Hey, aku itu hanya memberikanmu waktu untuk bersama paman dan bibi.” Ucap Alvino.


Adelio yang melihat kedua saudara yang asik bertengkar itu pun, akhirnya bicara.


“Maaf Tuan, Nona. Saya izin kembali ke ruangan saya. Silahkan lanjutkan acaranya!” ucap Adelio segera berlalu.


“Kak Lio mau kemana?” tanya Salwa memandang kakaknya.


“Ke ruangannya tentunya, apa lagi?” ucap Alvino.


“Hah, aku tahu. Maksudku Kak Lio mau kemana hingga harus izin pulang cepat!” ucap Salwa.


“Kau mendengarnya!” ucap Alvino.


“Maaf sedikit, gak sengaja. Ayo katakan Kak Lio mau kemana?” ucap Salwa.


“Dia mau melamar kekasihnya. Emang kau yang gak punya kekasih!” Ledek Alvino.


“Ouhh,, Kak Lio sudah punya kekasih. Eehh,, kakak meledekku tidak punya kekasih, emang kakak punya?” ucap Salwa.


“Tentu saja!” ucap Alvino.


“Hah, cinta diam-diam itu? Siapa gadis itu? Membuatku penasaran saja. Ayo katakan siapa dia? Bukankah kakak sudah berjanji untuk memenuhi keinginanku. Maka sekarang katakan siapa gadis yang kakak cintai itu.” Ucap Salwa.


“Hah, belum saatnya!” ucap Alvino.


“Kakak! Kau sudah janji padaku!” ucap Salwa.


“Baiklah!” ucap Alvino.


Dia pun segera menyerahkan dokumen yang berisi identitas Freya. Salwa pun segera menerimanya lalu membaca dengan teliti.


“Wow, Hebat! Seorang mahasiswa keperawatan tapi mengerti bisnis. Baiklah aku akan merestuinya setelah bertemu dengannya.” Gumam Salwa.


“Aku akan menemuinya! Kakak dia bertugas di rumah sakit F?” Tanya Salwa.


“Hmm..” gumam Alvino.


“Okay! Sekarang aku akan memulai misi yang diberikan aunty!” ucap Salwa semangat.


“Jangan aneh-aneh! Aku harap kau bisa menjaga rahasia ini. Aku belum memberi tahu Mami dan juga Papi karena aku tidak ingin mengganggunya. Selain itu juga dia tidak tahu apa-apa tentang ini. Jadi aku gak ingin kau melakukan hal aneh-aneh” ucap Alvino.


“Justru karena dia gak tahu, maka aku akan mencoba menjadi temannya. Jika aku menyukainya maka aku pasti akan merestuinya jadi kakak iparku. Dan kakak tenang saja, walau aku mendapat misi dari aunty tapi aku lebih menjunjung hormatku kepadamu.” Ucap Salwa.


“Baiklah terserah padamu. Aku mempercayaimu!” ucap Alvino.


Mereka pun bercerita tentang kegiatan mereka serta membahas bagaimana Freya. Alvino selalu tersenyum jika menceritakan Freya. Dari situlah Salwa paham jika kakaknya itu sangat mencintai gadis bernama Freya. Dia pun bertekad untuk membantu kakaknya mendapatkan kekasih hatinya itu.


Happy Reading readers😊

__ADS_1


Jangan Lupa Like, Vote dan Komen yaa Guys..🙏🙏


Maaf jika banyak typo guys😉😊


__ADS_2