
Ting
“Kakak nggak mengganggu kan?”
“Nggak kok!”
“Dek sudah sholat belum?”
“Alhamdulillah sudah kak!”
“Alhamdulillah. Ohiya apa besok kamu ada kegiatan?”
“Besok Reya hanya akan mengisi seminar saja.”
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka melalui sambungan telepon tapi setelah Freya mengizinkan Alvino untuk menelpon.
Rumah Freya masih banyak anggota keluarga sehingga rumahnya terasa ramai. Tiba-tiba Zein masuk.
“Sedang apa kamu, Re?” tanya Zein.
Freya hanya menunjukkan ponselnya yang saat itu terhubung dengan Alvino. Zein yang melihat itu hanya tersenyum menggoda Freya, dia pun segera keluar karena tidak ingin mengganggu.
#####
Lima hari kemudian, Freya harus ke kampusnya karena ada yang harus dia urus, saat ini Freya sudah bersiap-siap akan pergi tinggal menunggu jemputan.
“Cie, kakak menunggu kakak ipar yaa?” goda Friska.
“Jangan ganggu kakak, kak Ris. Dia hanya sedang menunggu pujaan hatinya.” Ucap Frisya.
Freya yang digoda oleh kedua adiknya hanya diam saja.
“Sudah, ayo sana kalian pergi sekolah, jangan ganggu kakak kalian.” Ucap Mama Najwa.
Kedua adik Freya pun segera pamit ke sekolah.
“Nak, apa dia akan menjemputmu?” tanya Mama Najwa.
“Iya Mah, katanya sih seperti itu tapi jika memang dia tidak akan datang Reya akan berangkat sendiri, mungkin dia sibuk.” Ucap Freya.
“Apa kau sudah menyukainya?” tanya Mama Najwa.
“Reya gak tahu Mah, akhir-akhir ini kami hanya berkomunikasi lewat ponsel. Reya belum bisa memastikan bahwa menyukainya tapi dia sepertinya bukan sosok yang sulit disukai.” Ucap Freya tersenyum.
“Mama hanya bisa berdoa semoga kau selalu bahagia!” ucap Mama Najwa.
Tiba-tiba, sebuah mobil sudah tiba dan turunlah seorang pemuda.
“Dia sudah tiba, ayo!” ajak Mama Najwa.
Freya pun berdiri mengikuti Mamahnya.
“Assalamu’alaikum tante, dek! Maaf saya terlambat!” ucap Alvino.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam Nak! Gak apa-apa kok. Ayo masuk dulu.” Ucap Mama Najwa.
“Ah, gak usah tante sepertinya kami harus pergi karena,,” ucap Alvino menatap Freya.
“Gak apa-apa kok kak jika memang masih ingin mampir urusan Reya gak terlalu mendesak.” Ucap Freya.
“Ouh, tante mengerti kamu pasti ada urusan yang penting. Baiklah kalian boleh pergi, hati-hati dijalan!” Ucap Mama Najwa.
“Terimah kasih Mah!” ucap Alvino tiba-tiba.
“Mama?” tanya Mama Najwa dan Freya kaget.
“Ah, terserah kau, mama senang kau memanggil seperti itu.” Sambung Mama Najwa kemudian sedangkan Freya hanya memandang mamanya.
“Baiklah Mah. Jika begitu kami pamit dulu.” Ucap Alvino.
Alvino pun segera pamitan kepada Mama Najwa dan disusul Freya.
#####
Kini mereka sudah ada di mobil, mereka hanya diam saja dari tadi tidak ada yang berniat memulai pembicaraan.
“Kak, Dek!” ucap mereka bersamaan.
“Kamu lebih dulu dek!” ucap Alvino.
“Ah kakak saja lebih dulu!” ucap Freya.
“Kau saja dek!” ucap Alvino.
Alvino yang melihat Freya tertawa ikut tertawa juga, “Makanya kau saja lebih dulu, dek!” ucap Alvino.
“Hmm,, baiklah. Kenapa kakak bersikeras ingin menjemputku jika memang punya kesibukan? Aku bisa kok pergi sendiri!” ucap Freya.
“Gak kok, kakak gak sibuk.” Ucap Alvino cepat.
“Kakak bohong! Itu terlihat dari ekspresi kakak bahwa saat ini kakak sedang khawatir. Ingat satu hal kak, aku tidak ingin membebanimu. Jangan hanya karena aku kakak menyepelekan urusan kakak. Aku masih calon istri kakak sedangkan urusan kakak itu adalah tanggung jawab kakak sebagai seorang pewaris.” Ucap Freya tersenyum.
“Kakak memang sangat khawatir tapi bukan karena urusan kakak. Kakak takut kau akan lama menunggu lama sementara kau harus ke kampus. Dek, kakak akan selalu ingat tugas kakak baik sebagai pewaris maupun sebagai calon suamimu. Kakak melakukan ini hanya karena ingin kita lebih dekat tapi jika kau merasa tidak nyaman, katakan saja dek!” jujur Alvino.
“Reya bukan tidak nyaman kak! Reya pun ingin lebih dekat dengan kakak tapi Reya tidak ingin kakak terbebani.” Ucap Freya.
Alvino yang mendengar hal itu langsung menghentikan mobilnya, “Kakak gak pernah merasa dibebani olehmu dek. Ini adalah keinginan kakak! Asal kau tahu saja bisa dekat denganmu seperti ini adalah impian kakak sejak lama. Jadi kakak mohon kau jangan pernah merasa bahwa kau adalah beban karena kakak sangat menyayangimu. Satu hal yang kakak khatiwarkan yaitu kau merasa tidak nyaman. Jadi katakan jika kau merasa tidak nyaman dek.” Ucap Alvino.
“Terimah kasih kakak sudah menyayangiku, sudah melindungiku selama ini walau secara diam-diam. Reya mungkin belum bisa membalas rasa sayang kakak tapi Reya nyaman bersama kakak. Jadi maukah kakak menunggu Reya mencintai kakak?” tanya Freya.
“Tanpa kau minta pun kakak pasti akan menunggu dek! Jangan kau paksakan apapun yang tidak ingin kau lakukan. Kakak bisa menunggu!” ucap Alvino.
“Terimah kasih kak!” ucap Freya.
“Kakak yang harusnya berterimah kasih padamu! Kau maukan membuka hatimu untuk kakak?” tanya Alvino.
Freya hanya tersenyum.
__ADS_1
“Ah lebih baik kita pergi! Kakak akan menunggu sampai kau bersedia membuka hatimu untuk kakak.” Ucap Alvino segera melajukan kembali mobilnya.
Freya lagi-lagi hanya tersenyum karena tidak menyangka bahwa calon suaminya itu bodoh dalam hal perasaan karena tidak bisa mengerti bahwa Freya saat ini sedang berusaha mencintainya. Yah, Freya sudah bertekad akan mencintai calon suaminya itu, orang yang telah berjuang untuknya selama ini.
#####
Kini Freya sudah menyelesaikan urusannya dan menunggu Alvino menjemputnya. Freya hanya sendiri karena Hanna sudah dijemput oleh Adelio.
“Maaf menunggu lama dek!” ucap Alvino yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
“Ah kakak mengagetkanku! Gak lama kok kak Reya baru selesai.” Ucap Freya.
“Kau sudah pintar bohong yaa. Hanna sudah kembali setengah jam lalu dan kau mengatakan bahwa kau baru selesai. Jangan merasa tidak enak kepada kakak.” Ucap Alvino.
“Baiklah Reya akan lakukan itu.” Ucap Freya tersenyum sambil berlalu menuju mobil Alvino.
Mereka pun segera pergi dari kampus Freya.
“Kita akan kemana?” tanya Freya.
“Kau akan tahu nanti.” Ucap Alvino misterius.
Freya hanya mengangguk dan tidak lagi bertanya.
“Ini,,” ucap Freya.
“Iya, ini rumah Mami. Dia ingin bertemu denganmu. Dia meneror kakak saat tahu kau ikut kakak. Ayo masuk!” ajak Alvino.
Mereka pun segera masuk.
“Nak, kau ada disini. Ayo duduk!” ucap Mami Sinta begitu melihat calon menantunya datang.
Alvino yang melihat itu hanya bisa bernafas pasrah karena Alvino tahu bahwa kedudukannya sudah tergantikan bahkan seolah-olah dia sudah tidak terlihat oleh maminya itu.
“Apa sekarang kau tahu bagaimana perasaan papi?” tanya Papi William.
“Iya,,” ucap Alvino yang memandang maminya yang saat ini sibuk dengan calon menantunya bahkan tidak memedulikan dia dan papinya yang juga duduk bersama mereka.
Freya yang menyadari tatapan Alvino dan Papi William hanya tersenyum dan berbisik kepada Mami Sinta.
“Mih, apa arti tatapan mereka?” bisik Freya.
Mami Sinta segera melihat suaminya dan putranya itu dengan tajam, “Jangan menakuti menantu Mami!”
“Mih, aku yang mengajaknya kesini. Selain itu juga aku putramu tapi kenapa kau seolah-olah sudah tidak peduli lagi padaku. Biasanya mami senang jika aku datang tapi kenapa sekarang, ah aku cemburu. Apa kau sudah tidak menyayangiku?” Ucap Alvino.
“Sudahlah kau jangan manja, mami masih ingin bicara dengan putriku.” Ucap Mami Sinta tidak memedulikan Alvino, bahkan mengajak Freya ke kamarnya.
Alvino dan Papi William hanya bisa melihat hal itu dengan pasrah karena mereka tahu seperti apa itu Mami Sinta jika sudah bertemu dengan orang yang sangat disayanginya. Dia akan melupakan orang sekitarnya.
Alvino dan Papi William pun akhirnya membahas masalah pekerjaan karena mereka sama-sama orang yang tidak dianggap oleh Mami Sinta sekarang.
Ah,, kasihan Alvino! Akhirnya dia merasakan apa juga yang dirasakan Papi William. Siapa disini yang ingin memiliki ibu mertua seperti itu? Ah, author juga mau dong.
__ADS_1
Happy Reading Guys !!
Jangan Lupa Like, Komen, Vote, Gift, dan Favoritin,,