
Kini Alvino dan Freya sedang makan malam bersama orang tua Alvino setelah tadi siang acara unduh mantu selesai. Maka malam ini mereka menginap di kediaman Alvino. Saat ini hanya mereka berempat yang ada di meja makan itu karena seluruh keluarga sudah pulang sejak tadi sore baik keluarga Alvino maupun Freya. Acara unduh mantu itu berlangsung dengan megah dan tanpa kendala apapun.
“Nak, setelah ini kalian akan tinggal dimana?” tanya Papi William melihat anak dan mantunya itu.
Freya yang mendengarnya hanya memandang suaminya karena dia gak tau mereka akan tinggal dimana.
“Kalian tinggal di sini saja ya,,” ucap Mami Sinta.
“Maaf Mih, bukannya Vino tidak ingin tinggal bersama mami dan papi tapi Vino ingin mandiri bersama istri Vino.” ucap Alvino.
“Lalu kalian akan tinggal dimana?” tanya Mami Sinta lagi.
“Kami akan tinggal di apartemen.” Jawab Alvino.
“Sejak kapan kamu punya apartemen?” kali ini Papi William yang bertanya karena dia tidak tahu bahwa putranya itu sudah memiliki apartemen.
“Itu sudah lama Vino beli tapi belum Vino tempati.” Jawab Alvino.
“Nak, bagaimana denganmu? Apa kamu setuju?” tanya Mami Sinta beralih kepada Freya.
Freya tersenyum, “Tentu Mih, Reya akan ikut keputusan kak Vino. Reya akan ikut kemanapun kak Vino pergi.” jawab Freya.
Alvino yang mendengar jawaban istrinya itu merasa terharu karena dia pikir Freya akan menolak keputusannya.
“Baiklah jika itu sudah keputusan kalian, kami tidak bisa apa-apa walau Papi dan Mami berharap kalian bisa tinggal di rumah ini. Tapi jika itu sudah menjadi keputusan kalian kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik.” Ucap Papi William.
Mereka pun mengakhiri percakapan mereka dan melanjutkan makan malam. Setelah makan malam mereka kembali berkumpul di ruang keluarga karena Papi William masih ada yang ingin di sampaikan.
“Terus kapan kalian akan pindah ke apartemen?” tanya Papi William membuka percakapan.
Freya lagi-lagi memandang suaminya itu, “Kami akan pindah besok.” Jawab Alvino.
“Apa harus secepat itu?” tanya Mami Sinta sedih.
“Mih, jangan sedih dong. Vino hanya ingin keluarga Vino mandiri. Mami sama Papi bisa kok datang kapan aja kesana.” Ucap Alvino.
“Baiklah jika itu sudah jadi keputusanmu. Papi sama Mami hanya ingin memberikan ini untuk kalian, setidaknya terima ini.” Ucap Papi William memberikan sebuah amplop.
Alvino langsung membukanya, “Tiket pesawat ke Belanda?” tanya Alvino.
“Iya, itu kami siapkan untuk bulan madu kalian.” Ucap Papi William.
“Mami harap kalian gak menolaknya.” Ucap Mami Sinta.
“Tapi ini,,”
“Kau gak bisa menolaknya, bukankah kau sudah meminta cuti sebulan bahkan Freya juga nanti akan mulai praktik nanti bulan Mei. Jadi kalian harus menerima itu, kami sudah menyiapkan semuanya di sana. Papi sudah menelpon rekan bisnis Papi yang ada disana.” Potong Papi William.
“Iya. Kami harap setelah pulang darisana Mami akan mendapatkan kabar baik.” ucap Mami Sinta tersenyum.
“Tapi Mih, Pih,,” ucap Alvino.
“Terimah kasih atas hadiahnya Mih, Pih. Kami pasti akan pergi kesana.” Ucap Freya sambil memegang tangan suaminya.
“Baiklah jika begitu kalian akan berangkat lusa.” Ucap Papi William.
“Terimah kasih Pih.” Ucap Freya tersenyum kepada mertuanya itu.
Sementara Alvino yang kaget akan keputusan istrinya itu hanya diam memandang Freya, pasalnya dia berusaha menolak bulan madu itu karena memikirkan Freya tapi tau-taunya Freya sendiri yang menyetujuinya.
__ADS_1
“Aku tahu kakak kaget dengan keputusanku. Kakak bisa bertanya nanti.” Bisik Freya.
Mereka pun segera pamit menuju kamar Alvino yang kini juga sudah menjadi kamar Freya tentunya.
#####
“Dek, kenapa kau menerima ini? Apa karena hanya gak enak sama Mami dan Papi?” tanya Alvino begitu mereka duduk di ranjang yang ada di kamar Alvino.
“Reya tahu kakak berusaha menolak bulan madu itu karena memikirkan Reya, tapi kasihan Mami sama Papi yang sudah menyiapkan itu. Mereka pasti akan sedih jika kita menolaknya.” Jawab Freya.
“Tapi dek mereka pasti akan mengerti.” Ucap Alvino.
“Apa kakak tidak ingin bulan madu itu denganku.” Tanya Freya pura-pura sedih.
Alvino yang melihat istrinya itu sedih segera memeluk Freya, “Kata siapa kakak gak ingin bulan madu denganmu dek. Jika kakak bisa jujur itu adalah impian kakak karena bisa jalan-jalan bersama wanita yang kakak cintai tapi kakak hanya tidak ingin kau terpaksa melakukan ini.” Ucap Alvino tetap masih memeluk istrinya itu.
“Kakak juga gak usah modus sampai peluk juga.” Ucap Freya tersenyum usil.
Alvino pun segera melepas pelukannya dan meliha istrinya itu tersenyum usil segera menggelitik perut istrinya.
“Hahahahh,, maaf kak! Jangan kak! Geli kak!” ucap Freya tidak tahan digelitik.
Alvino pun segera berhenti menggelitik istrinya itu, lalu kemudian tertawa dan ikut berbaring di samping istrinya, “Jadi kita akan bulan madu?” tanya Alvino memandang wajah Freya.
Freya pun yang tadinya melihat langit-langit kamar suaminya segera menghadap suaminya sehingga pandangan mereka bertemu, “Iya. Tapi,,” ucap Freya malu.
“Iya kakak ngerti. Kakak gak akan melakukan itu tanpa seizinmu.” Potong Alvino yang melihat kekhawatiran di wajah istrinya.
“Terima kasih kak!” ucap Freya.
Mereka pun akhirnya tertidur setelah cukup lama bicara dan bercanda.
#####
Semua barang Alvino segera di muat ke apartemennya dan hanya meninggalkan beberapa pakaian saja di rumah orang tuanya.
“Kak, pakaian Reya masih banyak di rumah mama.” Ucap Freya saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju apartemen.
“Kau tenang saja. Oke?” ucap Alvino.
Kurang lebih 20 menit akhirnya mereka sampai di apartemen yang bernama “Paradise Apartement”. Apartement yang Alvino berada di lantai 5 gedung itu.
Singkat cerita, kini mereka sudah sampai di pintu apartement. Alvino segera membuka apartement dengan mengetik beberapa angka. Mereka pun masuk ke dalam setelah pintu terbuka.
“Kamar kita yang ini. Ayo masuk!” ajak Alvino kepada Freya setelah mengelilingi apartement mereka.
Freya pun segera masuk ke dalam kamar itu dan kaget karena melihat barangnya sudah ada di kamar itu.
“Kak, kapan barangku di pindahkan kesini?” tanya Freya.
“Kemarin, mama sama papa yang membawanya.” Ucap Alvino.
“Kok aku gak tahu.” Ucap Freya.
Freya pun segera membuka semua barangnya itu dan membaca pesan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Untuk : Putri kami yang paling kami sayangi.
“Re, maafkan mama dan papa memindahkan barang-barangmu tanpa sepengetahuanmu. Kami melakukan ini bukan karena ingin mengusirmu nak. Jujur saja kami sedih saat mengatur barangmu tapi kami tetap harus melakukan itu karena sekarang putri kami sudah memiliki suami. Jadi kami harap kau selalu bahagia dengan suamimu nak. Doa kami selalu menyertaimu. Satu hal yang harus kamu ingat bahwa pintu rumah Mama dan Papa selalu terbuka untukmu dan suamimu. Kami akan merindukanmu Nak. Kami juga tahu bahwa besok kalian akan bulan madu kan, jadi Mama sama Papa titip cucu yaa . Jangan sedih sayang. Kami menyayangimu!”
__ADS_1
Dari : Mama dan Papa
Freya sampai-sampai berkaca-kaca membaca pesan itu. Alvino yang melihat istrinya sedih membaca pesan itu segera memeluk istrinya itu, “Jangan sedih dek, nanti kita akan mengunjungi mama sama papa. Oke?” ucap Alvino sambil menghapus air mata istrinya itu.
“Terima kasih kak!” ucap Freya membalas pelukan suaminya itu.
Alvino pun mengeratkan pelukannya kepada istrinya karena Freya membalas pelukannya.
Mereka pun segera mengatur barang mereka di wardrove yang telah di sediakan. Yah, kamar utama itu dilengkapi dengan wardrove, kamar mandi, ruang kerja mini samaruang sholat.
“Kak, ini pakaian siapa?” tanya Freya saat melihat beberapa gamis sudah tergantung rapi disana.
“Ini pakaianmu.” Jawab Alvino.
“Pakaianku? Tapi sepertinya ini masih baru. Aku gak punya pakaian seperti ini.” Ucap Freya.
“Iya, itu kakak yang beli dek untukmu.” Ucap Alvino.
“Untukku? Tapi aku masih punya banyak pakaian, kapan kakak membelinya?” tanya Freya.
“Itu,, sebenarnya apartement ini sudah lama kakak beli. Apartement ini kakak beli saat kita pertama kali bertemu saat kau menolong kakak saat itu. Apartement ini sebagai penanda bahwa kakak bertemu dengan gadis yang kakak sukai bahkan password apartement ini adalah tanggal hari itu. Jadi pakaian itu kakak beli setiap kakak membeli pakaian maka kakak pasti akan ikut membelinya dan itu di simpan di sini.” Jelas Alvino.
“Jadi pakaian ini sudah lama kakak beli?” tanya Freya sambil melihat banyak gamis yang ada disana dan Alvino hanya mengangguk.
Freya pun segera memeluk suaminya itu karena terharu dengan ketulusan cinta pria itu, “Terima kasih sudah mencintai Reya selama ini.” Ucap Freya.
Alvino hanya tersenyum lalu membalas pelukan istrinya itu. Freya pun segera melepas pelukannya begitu menyadari bahwa dia memeluk suaminya lebih dulu. Freya menunduk malu.
“Gak usah malu dek, kakak senang kok!” ucap Alvino usil.
Freya mengabaikan ucapan suaminya itu dan melanjutkan pekerjaannya mengatur pakaian. Alvino hanya tersenyum melihat istrinya yang malu itu. Mereka pun segera melanjutkan pekerjaan mereka.
“Kakak senang kok dek kau memeluk kakak seperti tadi.” Ucap Alvino memeluk istrinya dari belakang setelah mereka selesai mengatur barang-barang.
“Ah kakak jangan godain Reya.” Ucap Freya malu.
“Hahahah,, kakak gak godain kamu dek, beneran!” ucap Alvino.
“Sudah ah, lebih baik kakak sana mandi.” Ucap Freya.
Alvino pun segera melepas pelukannya dan mengambil handuk menuju kamar mandi, “Gak mau mandi bareng dek?” tanya Alvino usil.
“Kakak!” teriak Freya, sementara Alvino sedang tertawa di dalam kamar mandi.
Mereka pun bergantian untuk mandi lalu mencari makan siang di bawah karena asisten rumah tangga yang ditugaskan Alvino untuk membersihkan apartemennya nanti akan datang besok.
*
*
Cie,, cie,, Alvino sudah berani yaa godain Freya.
*
*
*
Ayo dong like, komen, vote dan beri gift agar author lebih semangat menulis 😊
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak typo guys,,