
Seminggu berlalu, kini Freya sudah bisa bergerak dengan bebas. Proses pemulihannya berjalan dengan cepat karena Alvino sangat memastikan kesehatan istrinya itu. Hari ini juga akan di adakan perjodohan Salwa. Semua sudah bersiap di rumah orang tua Salwa, Salwa juga sudah bersiap tidak seperti pertama kali dia menolak kali ini dia sudah setuju dengan apapun keputusan orang tuanya.
“Sayang, ayo kita berangkat. Mami sama papi sudah menunggu kita di bawah.” Ajak Alvino lalu segera menggandeng Freya.
“Semua sudah siap nak, semua barang Anand papi dan mami sudah masukkan ke mobil. Jadi tidak ada yang ketinggalan. Kami tinggal menunggu kalian.” Ucap Mami Sinta begitu melihat Alvino dan Freya.
“Makasih mih.” Jawab Freya tersenyum segera mendekati putranya yang saat ini ada dalam gendongan mami Sinta.
“Biar mami yang gendong sayang. Iya kan ganteng, kamu sama nenek yaa!” ucap Mami Sinta sambil mengajak bayi kecil itu bicara.
“Ya sudah ayo kita berangkat!” ajak Papi William.
Akhirnya semuanya pun segera berangkat.
***
“Kakak ipar, aku takut!” peluk Salwa begitu melihat Freya masuk ke kamarnya.
“Hey, apa yang bisa membuat kak Salwa takut? Bukankah proyek bernilai miliaran pun gak membuat kakak takut masa iya bertemu calon suami saja takut.” Goda Freya.
“Kakak ipar jangan menggodaku.” Rajuk Salwa.
“Hahahha,, baiklah maaf. Sudah pokoknya kak Salwa tenang saja. Semua pasti akan berjalan dengan baik, lagian juga ini kan baru pertemuan belum lamaran. Jadi kakak masih bisa menolak, lamaran saja masih bisa di tolak apalagi hanyalah pertemuan.” Ucap Freya sambil tersenyum.
“Beneran kakak ipar aku bisa menolak?” tanya Salwa antusias dan Freya pun hanya mengangguk.
“Tapi aku yakin kakak pasti tidak akan menolaknya.” Ucap Freya tertawa.
“Ouh ayolah kakak ipar berhenti menggodaku. Tapi,, apa maksud perkataanmu itu? Apa kamu tahu sesuatu yang tidak aku ketahui?” tanya Salwa penasaran.
Freya hanya menggeleng sambil tersenyum, “Senyumanmu itu membuatku makin penasaran kakak ipar.” Ucap Salwa.
“Kakak pasti akan segera mendapatkan jawabannya tapi maaf aku gak bisa memberitahumu. Ya sudah kau tenang kak di sini aku akan memanggilmu setelah calon suamimu itu datang. Aku masih harus menyusui Anand.” Ucap Freya segera keluar sambil tersenyum, sementara Salwa semakin penasaran, “Sebenarnya laki-laki seperti apa yang di jodohkan denganku? Kenapa aku tidak di beri profilnya sama sekali bahkan kakak saja langsung menyetujui perjodohan ini padahal dia mengatakan akan menyeleksi calon suamiku.” Gumam Salwa setelah menyadari keanehan yang terjadi.
***
__ADS_1
Sementara di sisi lain, “Ayah, siapa sebenarnya wanita yang di jodohkan denganku?” tanya Devano. Saat ini mereka sudah di mobil dalam perjalanan menuju rumah wanita yang dijodohkan dengan Devano.
Arjun hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya, “Kenapa kau baru bertanya sekarang?” tanya Arjun.
“Karena Vano tidak ingin mengecewakan kalian dengan menanyakan siapa gadis itu karena Vano yakin pilihan Ayah adalah yang terbaik.” Jawab Devano.
“Maka yakinlah terus seperti itu pada ayahmu, ayah yakin kau tidak akan menolak gadis ini.” ucap Arjun.
Devano pun kembali diam larut dalam pikirannya karena percuma dia bertanya kedua orang tuanya itu tidak akan menjawabnya. Tiba-tiba dia merasa mengenali jalan yang di lewatinya tapi dia tidak banyak berharap dan tetap diam tapi tiba-tiba mobil yang membawa mereka itu berhenti di rumah yang sangat megah yang sangat dia kenali. Walaupun dia baru sekali datang kesini tapi dia hafal kediaman siapa ini.
“Ayah, apa maksud semua ini?” tanya Devano menahan ayahnya masuk.
“Kau akan tahu nanti. Ayo kita masuk kita tidak bisa membuat mereka menunggu bukan?” tanya Arjun.
Devano pun hanya bisa mengikuti dengan perasaan antara harus bahagia atau sedih. Di sisi lain dia bahagia jika apa yang dipikirkannya adalah benar tapi di sisi lain dia takut akan ditolak oleh wanita itu. Dia juga tidak bisa banyak berharap karena bisa saja dugaannya salah.
Tiba-tiba, “Selamat datang bro! Kami telah menunggu kalian.” Sapa Papi Budiman memeluk Arjun.
Devano pun hanya bisa bengong melihat itu, “Nak, kau datang! Kami menunggumu. Kau sangat tampan.” Puji Mami Santi.
“Tentu saja asistenku itu tampan bi tapi kau jangan terlalu memujinya karena bisa saja aku tidak akan merestuinya.” Ucap Alvino tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
Devano pun hanya bisa diam mendengar semua itu karena sebenarnya dia sangat kaget dengan apa yang terjadi. Semua keluarga pun segera masuk ke dalam rumah. Alvino segera menggandeng asistennya itu yang sebentar lagi mungkin akan menjadi adik iparnya.
***
Semua keluarga sudah membicarakan perjodohan itu, mereka sudah sepakat untu segera menikahkan kedua anak mereka itu.
“Nak, apa kau menerima perjodohan ini? Kau sudah tau kan siapa putri kami?” tanya Mami Santi menatap calon menantunya itu.
Devano pun segera melihat seluruh keluarga yang menatapnya menunggu jawaban darinya, “Saya menerima perjodohan ini om , tante. Tapi kalian tahu saya hanyalah seorang asisten.” Jawab Devano.
Papi Budiman pun tersenyum mendengar itu, “Kami sudah tahu siapa dirimu dan kata siapa kau seorang asisten kau adalah pria berbakat.” Ucap Papi Budiman.
“Terima kasih om.” Jawab Devano.
__ADS_1
“Panggil papi dan mami seperti Salwa memanggil kami karena sebentar lagi kau akan menjadi menantu kami.” Ucap Papi Budiman.
“Tapi,,” tolak Devano.
“Tidak ada penolakan, kamu harus memanggil seperti itu nak.” potong Mami Santi.
“Apa aku akan segera kehilangan asistenku lagi?” tanya Alvino.
“Sepertinya memang begitu.” Jawab Papi Budiman enteng.
“Sudahlah apa kalian tidak akan membawa Salwa kemari. Aku ingin melihat ekspresi keponakanku itu.” Ucap Papi William.
“Ah, kau benar William. Tapi William apa kau bisa meminta bantuan menantumu untuk memanggil putriku?” tanya Papi Budiman.
“Nak, bibi minta tolong!” ucap Mami Santi.
Freya pun segera berdiri dan pergi untuk menjemput Salwa. Tidak lama kemudian Freya segera membawa Salwa yang tengah menunduk. Devano pun sama dia juga menunduk karena sepertinya dia tidak siap dengan respon yang akan diberikan oleh gadis yang pernah ditolaknya itu yang kini telah dia cintai.
“Kak lihatlah siapa calon suamimu.” Bisik Freya begitu mereka tiba di tempat dimana seluruh keluarga telah berkumpul.
Salwa pun hanya memegang tangan Freya erat karena dia takut untuk melihat siapa sebenarnya yang di jodohkan dengannya, “Lihatlah kak, bukankah kau sudah penasaran dari tadi. Maka dapatkanlah jawaban atas semua pertanyaanmu.” Bisik Freya lagi.
Salwa pun segera memberanikan diri untuk melihat siapa pria yang ada di hadapannya yang kini juga berusaha menatapnya, “Kau?” tanya Salwa berdiri karena kaget begitu melihat siapa pria di hadapannya.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys.
🙏🏻😉
__ADS_1
Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻😉🥺