
“Cie,, Kak Salwa akhirnya dilamar juga.” Goda Freya saat mereka menikmati wahana yang ada di taman hiburan itu.
“Kakak ipar jangan menggodaku.” Balas Salwa.
“Jesy ini minumannya.” Ucap Devano sambil memberikan minuman kepada Salwa.
“Terima kasih kak Daren.” Balas Salwa.
“Cielah yang sudah ada nama panggilan kesayangan masing-masing.” Goda Freya lagi.
“Hubby kita kalah dong.” Lanjut Freya.
“Kita gak kalah sayang.” Balas Alvino lalu mengecup kening Freya.
“Kok bisa?” tanya Salwa.
“Yah karena walau kalian punya nama panggilan kesayangan tapi kalian belum bebas ngapain aja.” Jawab Alvino cuek.
“Hubby!” ucap Freya memeluk Alvino.
“Jangan pamer kemesraan di sini kak.” Ucap Salwa.
“Kamu juga mau bermesraan kaya mereka? Jika kamu mau ayo kita segera menikah saja.” Ucap Devano.
“Kak Daren gila yaa!! Gak-gak aku ingin menikmati semua proses pernikahanku dengan baik.” ucap Salwa.
“Baiklah, aku ikut maumu tuan putriku.” Balas Devano.
“Gombal!” ucap Alvino dan Freya bersamaan.
“Dulu aja gak mau tuh nerima jas dari kak Salwa.” Goda Freya.
“Jadi nyonya tau bahwa jas ini dari Jesy?” tanya Devano.
Freya pun hanya mengangguk, “Kamu menggunakannya untuk pertama kali saat kak Salwa gak ada, Reya yakin kak Vano pasti merindukan kak Salwa waktu itu.” Ucap Freya.
“Beneran kak?” tanya Salwa penasaran.
“I-itu,, iya aku merindukanmu saat itu.” Jawab Devano jujur.
“Maka dari itu kakak mengirimnya ke Singapore menemuimu.” Ucap Alvino.
“Jadi tuan?” tanya Devano tidak percaya karena dia berpikir Alvino mengirimnya memang untuk urusan bisnis.
Alvino mengangguk, “Apa kamu tidak menyadarinya?” Devano pun menggeleng.
“Sudahlah yang terpenting sekarang kalian sudah bersama dan kami berharap kamu bisa menjaga adikku dengan baik. Aku percayakan adikku padamu Van.” Ucap Alvino.
Devano pun mengangguk yakin lalu menatap Salwa penuh cinta, “Ohiya aku ingat, bukankah kak Salwa pernah berjanji akan memarahi calon suami kak Salwa karena dia tidak datang saat pertemuan pertama. Kok kak Vano gak dimarahi?” tanya Freya menggoda Salwa.
__ADS_1
Devano pun segera memandang Salwa kembali, “Kakak ipar!” ucap Salwa malu.
“Emang beneran sayang?” tanya Alvino menatap Freya.
Freya pun mengangguk, “Iya, ada waktu kakak dan semuanya segera ke rumah sakit malam itu, Kak Salwa marah-marah karena katanya calon tunangannya itu telah membuatnya rugi dandan cantik-cantik dan juga gaunnya. Dia berjanji akan memarahi laki-laki itu.” Jelas Freya tersenyum.
“Kakak ipar, i-itu kan aku hanya bercanda.” Ucap Salwa.
“Jika kamu mau beneran marah juga gak apa-apa kok dek.” Ucap Devano tersenyum.
“Maaf yaa sudah membuang-buang kosmetikmu dan juga pakaianmu.” Lanjut Devano.
Salwa pun hanya mengangguk tersenyum. akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan bermain-main wahana di sana.
***
“Bi, aku titip Anand ya.” Ucap Freya.
“Tentu nyonya.” Jawab bibi Wati.
“ASI-nya ada di kulkas ya bi.” Pesan Freya. Bibi Wati pun mengangguk.
Freya harus menghadiri pertemuan yang di adakan oleh rumah sakit, dia memang belum masuk kerja tapi dia tetap harus menghadiri pertemuan. Freya tidak menggunakan jasa baby sitter karena bi Wati sangat menyayangi anak-anak maka Freya pun hanya mempercayakan anaknya kepada bi Wati, begitu juga dengan putri bi Wati dia sangat menyukai Anand. Dia bahkan rela menemani Anand seharian jika dia libur bahkan kadang-kadang dia suka mengintip Anand jika baby kecil itu di bawa oleh Freya ke kamar utama mereka.
***
Lamaran itu dihadiri oleh keluarga dan rekan bisnis dari Papi Budiman, Papi William dan juga Alvino. Rangkaian acara lamaran itu berjalan dengan lancar dan hikmat dipenuhi oleh momen keharuan.
“Selamat kak!” ucap Freya, Salwa pun segera memeluk Freya karena dia tahu kakak iparnya itulah yang paling tahu apa yang dia rasakan.
“Terimah kasih atas semuanya kakak ipar.” Ucap Salwa.
Freya pun tersenyum sambil melepaskan pelukan mereka lalu mengusap air mata di pipi Salwa, “Hey masa iya calon pengantin menangis sih di hari pertunangannya, aku ikut bahagia untukmu kak.” Ucap Freya.
“Wa, lepaskan istriku. Kamu jangan memeluknya!” ucap Alvino yang saat itu sedang menggendong putranya.
“Lihatlah nak papimu, dia sangat posesif pada mamimu. Kamu jangan seperti dia yaa..” ucap Salwa bicara kepada baby kecil itu.
“Siapa papi? Aku tidak ingin di panggil papi oleh anak-anakku. Aku ingin di panggil Ayah. Iya kan sayang?” tanya Alvino.
Freya pun mengangguk, “Sudah, lebih baik sekarang kamu memberi selamat pada mereka hubby. Jangan bertengkar!” ucap Freya segera mengambil Anand dari gendongan Alvino.
Alvino pun memberikan selamat kepada adiknya itu dan asistennya yang sebentar lagi akan menjadi mantan asistennya. Freya juga tidak lupa memberikan selamat kepada Devano dan berpesan untuk selalu menjaga Salwa.
Setelah itu acara di lanjutkan dengan foto bersama.
***
Hari ini secara resmi Devano mengundurkan diri dari perusahaan Alvino dan posisi asisten segera di serahkan kepada Fazar yang baru saja lulus setahun lalu dengan pendidikan S1-nya.
__ADS_1
“Tuan, ini adalah laporan yang harus anda periksa hari ini.” ucap Fazar sambil memberikan dokumen dengan perasaan takut karena jangan sampai dia membuat kesalahan.
Alvino pun segera melihatnya dan memeriksa hasil kerja dari asisten barunya itu, “Bagus! Kamu hebat. Senang bekerja denganmu.” Ucap Alvino setelah melihat dokumen itu sangat sempurna.
“Terima kasih pak.” Jawab Fazar tersenyum.
Fazar pun segera pamit ke ruangannya untuk menyelesaikan beberapa dokumen, dia sangat senang bekerja di sini karena ternyata Alvino yang di gosipkan sangat keras kepada karyawannya justru yang saat ini dia alami tidak seperti yang dia dengar. Untuk itulah dia sangat senang bekerja disini yaa tentu saja selain gajinya yang sangat besar dia juga merasa nyaman dengan apa yang dia kerjakan.
Fazar pun keluar ke lantai bawa karena ada yang harus dia periksa, tiba-tiba dia melihat “Nyonya! Anda disini? Mari biar saya bantu?” ucap Fazar menawarkan diri begitu mengenali istri dari bosnya.
Freya pun tersenyum lalu meminta OB yang membawa perlengkapan putranya itu memberikan barangnya kepada Fazar yang dia ketahui adalah asisten baru suaminya, “Apa kamu asisten baru suamiku?” tanya Freya yang kini sudah ada di lift.
Fazar pun segera mengangguk padahal dia berada di belakang Freya, “Benar nyonya, saya asisten baru tuan Vino.” ucap Fazar begitu menyadari bahwa Freya tidak mungkin melihat dia mengangguk.
Tidak lama mereka segera sampai di ruangan Alvino, “Assalamu’alaikum ayah!” salam Freya memasuki ruangan suaminya.
Alvino yang jenuh dengan tumpukkan dokumen yang ada di hadapannya begitu mendengar suara istrinya langsung hilang semua kejenuhannya dan berganti dengan senyuman cerah menyambut istri dan putranya, “Kamu kok gak bilang sih mau kesini?” tanya Alvino segera mendekati Freya dan mengecup kening istrinya dan pipi putranya yang sedang tidur dalam gendongan Freya.
“Kamu letakkan saja itu di sana. Terima kasih yaa sudah membantu membawakannya.” Ucap Freya tersenyum kepada Fazar.
“Gak apa-apa nyonya.” Balas Fazar.
“Terima kasih!” ucap Alvino.
“Gak apa-apa tuan.” Jawab Fazar.
Freya pun tersenyum melihat kegugupan di wajah asisten baru suaminya itu, “Kenapa kamu canggung begitu? Apa kami menakutkan?” tanya Freya.
Fazar pun semakin gugup, “I-itu, gak seperti itu nyonya, ha-hanya,,” ucap Fazar terbata.
“Hahahah,, saya bercanda kok. Sudah sana kamu kembali bekerja. Ohiya kamu itu harus berani masa iya asisten dari pemilik Aryawiguna Group seperti ini.” ucap Freya.
Fazar pun mengangguk mengerti, awalnya dia sangat takut melakukan kesalahan kepada istri tuannya itu karena gosip beredar bahwa presdir mereka itu sangat mencintai istrinya dan siapapun yang menyakiti istrinya akan menanggung akibatnya. Maka dari itu dia sangat berhati-hati dengan istri presdirnya yang ternyata justru sangat baik dan ramah. Kini dia mengerti kenapa seluruh karyawan sangat menyukai istri dari presdir mereka yang terkenal sangat royal kepada karyawan.
“Asistenmu itu sangat lucu hubby!” ucap Freya setelah Fazar pergi. Alvino pun segera menatap istrinya itu dengan tatapan cemburu, “Jangan cemburu hubby, kamu adalah satu-satunya laki-laki yang aku cintai di dunia ini sebagai suamiku. Jadi jangan cemburu seperti itu.” Ucap Freya begitu menyadari tatapan cemburu suami posesifnya.
Alvino pun segera tersenyum sementara Freya segera meletakkan Anand di box yang memang sudah di sediakan oleh Alvino untuk putranya jika di bawa ke kantor.
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin.🙏🏻😊
Mohon maaf jika ada typo guys.🙏🏻😉
Mohon mampir dong dinovel author yang berjudul “Takdir Hidup Zia”. Author tunggu kedatangannnya, mohon tinggalkan jejak yaa!!🙏🏻😉🥺
__ADS_1