
“Apa kamu menyukainya?” tanya Alvino setelah mereka selesai melihat-lihat.
Freya pun hanya mengangguk, “Ini sangat indah. Terima kasih My Lord.” Ucap Freya mencium pipi sang suami sekilas.
Alvino pun tersenyum, “Gak malu tuh dilihat,,” goda Alvino.
Freya pun melihat orang tua mereka yang ternyata ada di belakang mereka, seketika dia menjadi malu. Para orang tua yang melihat itu hanya tertawa.
“Kapan kalian akan pindah kesini nak?” tanya Papa Khabir.
“Hmm,, sepertinya lusa Pa.” jawab Alvino.
“Lusa? Apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Freya menatap suaminya.
“Gak kok. Kamu jangan mengkhawatirkan apapun. Semuanya biar jadi urusan suamimu ini.” ucap Alvino. Freya pun hanya mengangguk.
“Ah baiklah jika begitu. Berarti besok kita harus mengadakan doa syukuran di sini.” Ucap Mami Sinta. Alvino pun hanya mengangguk mengiyakan.
***
Dua hari kemudian, kini Alvino dan Freya sudah menempati rumah baru mereka. Semua sudah berada di rumah kediaman mereka itu bahkan Bi Wati dan Wina juga ikut pindah bahkan Alvino menambah pelayan tapi pelayan yang di gunakan Alvino semua sudah berumur.
“Hubby, Terima kasih!” ucap Freya memeluk suaminya itu.
__ADS_1
“Jangan berterima kasih sayang. Ini tidak seberapa dengan hadiah yang kau berikan untukku.” Ucap Alvino mengecup kening Freya.
Freya pun tersenyum.
Kamar utama Freya dan Alvino berada di lantai dua begitu juga dengan kamar anak-anak mereka.
“Kakak ipar, aku menyukai rumahmu ini.” ucap Salwa.
“Apa kau ingin rumah seperti ini juga?” tanya Devano.
“Ouh ayolah kak Daren aku hanya mengatakan menyukainya bukan menginginkanya. Rumah kita juga sudah besar kok.” ucap Salwa. Yah rumah Salwa dan Devano juga tidak kalah besar, rumah mereka terdiri dari 3 tingkat da nada lift juga di dalamnya.
Freya hanya tersenyum mendengar pertengkaran Salwa dan Devano itu, “Hmm,, lebih baik ayo kita makan.” Ajak Alvino.
“Hey, jangan ganggu putryku. Dia masih tidur.” Ucap Alvino.
“Jesy sayang lebih baik kita makan dulu karena kakak ipar sudah menyiapkannya untuk kita.” Ajak Devano.
“Ah, baiklah.” Ucap Salwa.
***
Tiga bulan berlalu dengan sangat cepat, keluarga Freya dan Alvino semakin hari semakin bahagia. Freya pun sangat menikmati kegiatannya yang mengurus dua anaknya sekaligus. Freya dan Alvino selalu mencurahkan kasih sayang yang sama untuk kedua anak mereka itu.
__ADS_1
Freya tetap tidak menggunakan jasa baby sitter, jika dia keluar bi Wati dan beberapa pelayan itu yang menjaga kedua anaknya. Freya juga belum bekerja kembali karena dia ingin memastikan putrinya itu mendapatkan ASI eksklusif.
“Mami!” panggil Freya begitu melihat Mami Sinta ada di sana.
“Mereka baik-baik aja kan?” tanya Mami Sinta yang melihat kedua cucunya itu sedang tidur.
“Iya Mih.”Jawab Freya.
“Mereka gak rewel kan? Anand gak mengganggumu kan?” tanya Mami Sinta.
“Gak kok Mih. Putraku ini sangat pengertian.” Ucap Freya menatap sang putra yang tidak pernah rewel jika dia sedang sibuk dengan sang putri.
“Dia memang kakak yang akan sangat menyayangi adiknya.” Ucap Mami Sinta.
Freya pun hanya mengangguk.
“Ohiya Mami ada perlu apa kesini? Apa ada yang bisa Reya bantu?” tanya Freya.
“Ouh Mami hampir lupa tujuan Mami kesini. Mami kesini ingin mengajakmu jalan-jalan. Kamu sudah lama keluar kan?” tanya Mami Sinta.
Freya pun hanya mengangguk, “I-itu,,”
“Kamu jangan khawatir Mami sudah memintakan izin dari Vino. Bi Wati juga sudah tahu.” Ucap Mami Sinta yang sudah tahu menantunya itu tidak akan ikut jika harus meninggalkan anaknya. Jadi Mami Sinta sudah melakukan persiapan terlebih dahulu untuk mengajak menantunya itu belanja.
__ADS_1