
Kurang lebih setengah jam akhirnya Alvino tiba di rumah Adelio. Adelio sudah menunggu mantan bosnya itu di depan rumahnya.
“Assalamu’alaikum!” salam Alvino.
“Wa’alaikumsalam! Silahkan masuk tuan!” jawab Adelio.
“Gak usah memanggilku seperti itu, aku bukan lagi tuanmu!” ucap Alvino sambil masuk ke dalam rumah Adelio dan duduk di ruang tamu.
“Silahkan diminum Tuan!” ucap Hanna sambil menyuguhkan minuman untuk suaminya dan juga mantan bos suaminya itu.
“Silahkan diminum, Bro!” ucap Adelio.
“Dek, Tuan Alvino kesini ingin menanyakan sesuatu kepadamu.” Ucap Alvino kepada Hanna.
“Iya, Nona Hanna! Saya kesini ingin menanyakan sesuatu kepadamu.” Ucap Alvino.
Hanna pun akhirnya duduk disamping suaminya.
“Apa nona Hanna tau bahwa Freya memiliki janji dengan seorang pria?” tanya Alvino.
“Janji? Seorang pria? Ah iya saya ingat.” Ucap Hanna.
“Siapa pria itu? Kenapa nona Hanna tidak memberi tahu saya minimal suami Anda.” Ucap Alvino.
Adelio pun kaget begitu mendengar pertanyaan Alvino dan jawaban istrinya.
“Iya dek! Kenapa kakak gak tahu?” tanya Adelio menatap istrinya.
“Maafkan aku kak, maafkan saya juga tuan. Saya bukan tidak ingin memberitahu hal itu hanya saja itu adalah privasi yang sangat dia sembunyikan bahkan saya mengetahui itu hanya karena saat dia menitipkan ponselnya. Chat pria itu dia arsipkan tapi entah kenapa saat ponselnya ada pada saya pria itu tiba-tiba ngechat jadi saya tidak sengaja membacanya. Karena saya penasaran saya membacanya dari awal. Maka dari itu saya tidak mengatakan hal itu kepada siapapun karena saya pun merasa bersalah telah membacar privasinya. Selain itu, saya ingin tuan memperjuangkannya.” Jelas Hanna.
“Tapi bro kenapa kau menanyakan hal ini? Bukankah kau sudah melamarnya kepada orang tuanya?” tanya Adelio.
“Iya kau benar, aku memang sudah melamarnya tapi dia belum menjawabnya bahkan tadi dia datang ke rumah untuk meminta waktu tiga hari untuknya menepati janji.” Ucap Alvino sedih.
“Jadi tuan menanyakan ini karena dia ingin memberi waktu 3 hari kepada pria itu?” tanya Hanna.
Alvino hanya mengangguk.
“Dek, siapa pria itu? Apa kau tahu?” tanya Adelio.
“Pria itu adalah cinta pertamanya Reya sekaligus pacar pertamanya. Tapi hubungan mereka berakhir sebelum Reya menjalin hubungan dengan Faisal. Reya hanya memiki dua mantan kekasih dan Reza adalah pacarnya saat dia kelas 11 SMA. Reza juga adalah temannya dari SD sampai dia SMA mereka satu sekolah.” Ucap Hanna.
“Lalu dia orang mana?” tanya Alvino.
__ADS_1
“Dia berasal dari desa yang sama dengan Reya.” Jawab Hanna.
Setelah mendengar hal itu Alvino semakin merasa resah karena dia takut Freya hal itu akan mempengaruhi pilihan Freya.
“Tuan jangan sedih dia pasti akan memberi keputusan yang baik karena dia tidak ingin menyakiti salah satu pihak. Saya yakin dia pasti hanya ingin menepati janjinya.” Ucap Hanna.
“Kami doakan semoga yang terbaik untukmu!” ucap Adelio sambil menepuk bahunya Alvino.
Alvino hanya tersenyum menanggapinya. Tidak lama kemudian Alvino pun pamit. Adelio dan Hanna hanya bisa berdoa semoga yang terbaik yang akan terjadi kepada kedua sahabat mereka.
#####
Tiga hari kemudian,
“Nak, sekarang sudah hari senin tapi mereka belum datang melamarmu? Apa yang akan lakukan?” tanya Mama Najwa duduk di ranjang putrinya itu.
“Mah, aku hanya ingin menepati janjiku! Apa mama berpikir aku masih mencintai Reza? Gak Mah, aku sudah lama melupakannya hanya saja aku ingin menepati janji yang pernah kubuat untuknya.” Jawab Freya sambil memegang tangan Mamahnya.
“Mama harap kau mengambil keputusan yang tepat, Nak! Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Jika ingin jujur Mama belum ingin kau menikah tapi sepertinya takdirmu sudah menuliskan bahwa jodohmu sudah tiba.” Ucap Mama Najwa sedih.
“Hey, kenapa sekarang Mama jadi sedih? Bukankah saat aku memakai gaun saat akan ke pesta Hanna, Mama mengatakan bahwa merasa bahwa aku juga akan segera menikah. Semua ini doa Mama.” Ucap Freya.
“Hah? Iya kau benar. Entah kenapa Mama mengucapkan itu. Ingat, Nak! Mama percaya siapapun yang kau pilih adalah yang terbaik. Mama sekarang hanya bisa berdoa semoga jodohmu adalah yang terbaik untukmu.” Ucap Mama Najwa memeluk putrinya.
“Lalu apa kau sudah punya keputusan?” tanya Mama Najwa.
“Reya akan menunggu sampai pukul 13.00. Reya sudah mengatakan itu kepada Reza. Jika tidak ada maka Mama, Reya izinkan untuk segera menelpon orang tua Tuan Alvino untuk segera datang melamar Reya secara resmi.” Ucap Freya.
“Baiklah, jika begitu Mama ke dapur dulu.” Ucap Mama Najwa.
#####
Jam sudah menunjukkan pukul 11.30
From : Reza
“Assalamu’alaikum Re! aku disini ingin mengakui bahwa aku laki-laki pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cintanya. Sekarang aku sudah mengalah, aku izinkan kau menerima lamaran pria itu. Aku akan mengikhlaskanmu. Aku pasti akan datang ke pesta pernikahanmu seperti yang kau minta saat itu. Aku ingin melihat siapa pria yang beruntung memilikimu. Aku akan berusaha untuk tersenyum melepaskanmu bersamanya. Tapi kau harus tahu bahwa aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Tapi sepertinya takdir memang tidak berpihak pada kita. Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal Re karena kau tetap akan menjadi penghuni hatiku.”
Freya pun segera membacanya dan membalas pesan itu.
To : Reza
“Terima kasih sudah mengikhlaskanku. Terima kasih sudah membuatku lepas dari janjiku. Aku pastikan undangan pertama akan menjadi milikmu teman! Aku akan menunggu kedatanganmu dipesta pernikahanmu. Aku ingin kau tersenyum saat itu karena juga berhak bahagia. Satu hal lagi kau harus bisa melupakanku, jangan pernah menyimpanku dalam hatimu kasihan istrimu nanti karena dia hanya mendapatkan sisa hatimu. Aku doakan kau segera bertemu dengan jodohmu. Maafkan aku yang harus mengucapkan selamat tinggal padamu semoga kau bahagia. Kita tetap akan menjadi teman. Selamat tinggal!!”
__ADS_1
From : Reza
“Hahahhh,, iya. Teman? Sepertinya kita memang ditakdirkan hanya untuk menjadi teman. Aku akan berusaha mengosongkan hatiku tapi sepertinya itu butuh waktu.”
Freya pun hanya membacanya dan tidak membalasnya.
“Mah, Mama silahkan telpon saja orang tua Tuan Alvino!” ucap Freya.
“Tapi ini belum jam 13.00.” ucap Mama Najwa.
“Ah, baiklah mama akan segera menelponnya.” Sambung Mama Najwa yang sudah mengerti bahwa putrinya itu pasti sudah mendapatkan pesan dari Reza.
Mama Najwa pun segera menelpon Mami Sinta.
Tuut,, tuut,, tuut
“Halo, assalamu’alaikum jeng!” salam Mami Sinta.
“Wa’alaikumsalam jeng.” Jawab Mama Najwa.
“Ada apa Jeng? Apa sudah ada keputusannya?” tanya Mami Sinta.
“Iya benar! Putry kami sudah menyutujuinya kalian sudah bisa melamarnya secara resmi.” Ucap Mama Najwa.
“Ahaaa,, sungguh Jeng? Apa ini bukan candaan? Bukankah waktunya masih sekitar 2 jam lagi.” Ucap Mami Sinta.
“Semua sudah ada keputusannya jeng.” Ucap Mama Najwa.
“Ahh, baiklah. Jika begitu bisa tidak jeng saya bicara dengan calon menantu?” tanya Mami Sinta.
Freya pun segera menerima ponsel mamahnya, “Halo, assalamu’alaikum bu!” sapa Freya.
“Wa’alaikumsalam, Nak! Panggil Mami! Mami ingin mendengarnya. Terimah kasih sudah menerima lamaran kami. Kami pasti akan segera datang untuk melamarmu secara resmi.” Ucap Mami Sinta.
“Terima kasih kembali Mih!” ucap Freya kaku.
“Ah, senangnya akan memiliki menantu. Kau harus terbiasa memanggil seperti itu. Mami akan segera memberitahukan ini kepada Vino.” Ucap Mami Sinta senang.
Mereka pun segera mengakhiri pembicaraan itu setelah selesai.
Ahh,, ternyata perjuangan tidak menghayati hasil! Kita akan lihat nanti bagaimana Alvino meluluhkan sang Nona kita! Akhirnya Freya akan menikah dengan Alvino. Siapa nih disini yang senang seperti author?
Happy Reading Guys !!
__ADS_1
Jangan lupa Like, Koment, Vote, Gift dan Favoritin,,