
Keesokan harinya, lab komputer sudah selesai di buat dan kini semua sudah aktif dan siap di pakai. Freya pun melihat ke empat anaknya yang begitu antusias dengan fasilitas yang super lengkap di lab komputer itu hanya bisa tersenyum walau di sisi lain dia khawatir.
“By, apa kau yakin ini terbaik untuk perkembangan mereka?” tanya Freya begitu mereka hanya berdua di kamar.
Alvino hanya tersenyum menanggapi istrinya itu, “Ada apa sayang? Jangan khawatir kita akan mengawasi mereka.” Ucap Alvino.
“Huh, baiklah aku percaya padamu by.” Balas Freya.
“Jangan khawatirkan apapun aku sudah membuat peraturannya dan mereka sudah menyetujuinya bahkan kau pun sudah membacanya bukan?” tanya Alvino.
“Tetap saja by aku khawatir jika mereka,,” ucap Freya tidak melanjutkan perkataannya.
“Jangan pikir yang tidak-tidak sayang. Percaya kepada anak kita.” Balas Alvino memeluk istrinya itu.
***
Setahun berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa kini Azwa putri kecil Alvino dan Freya seudah setahun lebih dan tidak kalah cerdas dari ke empat sang kakak yang baru saja menerima penghargaan karena berhasil membuat aplikasi.
“Kakak, lihat ini!” ucap Azlen memperlihatkan sebuah program yang sedang dia rancang. Balita berusia belum genap 4 tahun itu membuat Freya pusing karena kecerdasannya yang melebihi ketiga kakaknya.
__ADS_1
“Hmm,, bagus. Kita akan membuatnya untuk program kita selanjutnya.” Jawab Anand.
Freya yang mendengar kedua putranya itu hanya bisa berdehem, “Ehemm,,”
“Hehh,, bunda!” ucap mereka cengesan.
“Kalian itu jangan hanya terus mempelajari itu nak. Bermainlah dengan teman-teman kalian. Bunda ingin melihat teman kalian, ajaklah mereka ke rumah.” Ucap Freya.
“Maaf bunda Azlen lebih suka ini dari pada mereka.” Jawab Azlen dengan ciri khasnya.
“Ouh astagfirullah.” Ucap Freya.
“Bunda kau jangan khawatir walau kami tidak terlihat tidak memiliki teman tapi kami memiliki banyak koneksi.” Ucap Anand.
Putri kecil itu mengangguk, “Ouh jangan ajak dia dengan kegilaan kalian. Biarkan putry bunda itu hidup dengan normal.” Ucap Freya menatap kedua putranya.
Anand dan Azlen hanya tersenyum karena walau mereka tidak mengajak Azwa tapi Azwa sendiri yang mengikuti mereka.
Freya pun segera menggendong putri kecilnya itu, “Kamu harus jadi anak yang biasa saja yaa sayang, jangan ikut kakakmu.” Ucap Freya.
__ADS_1
“Gak bisa gitu dong bun, dia harus ikut kami karena kami saudara dan darah yang mengalir dalam darah kami itu sama. Jadi wajar jika kami sama.” Timpal Anind memegang jari adik kesayangannya itu.
Freya hanya bisa memijit kepalanya karena dia pasti akan kalah jika berdebat dengan anaknya itu.
***
Seminggu kemudian, Freya dan Alvino mengadakan makan malam bersama di rumah mereka yang hanya di hadiri oleh keluarga dan sahabat terdekat.
“Kak Salwa dimana Nata?” tanya Freya karena tidak melihat putra sulung Salwa dan Devano itu.
“Hmm,, sepertinya dia ada di Lab Komputer kalian kakak ipar. Apa kau juga melihat anak-anakmu ada di sini. Jangan tanya mereka ada di mana.” Balas Salwa yang memang tidak melihat ada anak-anak mereka di sana.
“Ouh God. Bukankah Azwa tadi ada di sini? Kemana dia?” tanya Freya yang baru menyadari bahwa putri kecilnya juga tidak ada.
“Tenang Re, Danisha sudah mengajaknya.” Balas Hanna.
“Kemana? Jangan katakan mereka juga kesana?” tanya Freya.
“Terus kemana lagi kakak ipar.” Balas Salwa tertawa.
__ADS_1
“Huh, aku tidak ingin dia terjangkit dengan mereka.” Ucap Freya lemah.
“Hahah, kau tidak akan bisa melarangnya kakak ipar. Darah dalam tubuh mereka sama.” Balas Salwa tertawa.