
“Lio, bagaimana apa sudah ada kabar?” tanya Alvino to the point setelah dia berada di depan asistennya itu. Hal itu juga yang membuat Hanna sadar.
“Belum ada tuan muda, Hanna juga sudah menelpon ibunya nona Freya tapi tidak dijawab.” Ucap Adelio. Alvino pun berpikir.
“Oh, iya tuan muda, ini Hanna. Dan Hanna ini tuan mudaku Alvino.” ucap Adelio memperkenalkan.
“Hanna..” ucap Hanna sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Saya sudah mengenalmu! Jangan tanya bagaimana saya mengenalmu! Dan maaf saya tidak menyapamu! Ohiya, saya Alvino” ucap Alvino.
“Ah, gak apa-apa tuan” Ucap Hanna.
“Gak usah panggil tuan, kamu bukan pegawai saya. Panggil senyamanmu saja.” Ucap Alvino.
Sementara Hanna hanya mengangguk, Hanna terlihat masih terpesona oleh pemuda yang mencintai sahabatnya itu.
“Ohiya, bukankah dia memiliki saudara? Kenapa tidak menelpon saudaranya/” tanya Alvino setelah lama berpikir.
“Iya, Han. Ayo kita telpon mereka!” ucap Adelio.
“Itu,, Hanna gak punya nomor ponsel adik-adik Reya!” ucap Hanna. Mereka pun terdiam sejenak.
“Ah, apa kamu punya laptop?” tanya Alvino sambil memandang ke arah Hanna.
“Iya, tuan!” ucap Hanna.
“Bukankah sudah ku katakan untuk jangan memanggilmu seperti itu. Ah, terserah padamu saja. Boleh saya meminjam laptopmu?” ucap Alvino.
“Ah, tentu saja. Sebentar saya ambilkan!” ucap Hanna segera berlalu mengambil laptopnya.
“Ini Tuan!” ucap Hanna sambil menyerahkan laptopnya kepada Alvino.
“Terimah kasih!” ucap Alvino sambil menerima laptop dari Hanna.
Dia pun segera mengotak-atik laptop Hanna untuk mencari nomor telepon adik Freya.
“Ohiya, apa kau tahu nama lengkapnya adik Freya!” tanya Alvino tertuju kepada Hanna tapi matanya tetap memandang laptop.
“Adik Reya, Saya hanya tahu nama panggilan mereka, Friska sama Frisya. Ah, tapi nama mereka mirip dengan nama Reya. Jika nama lengkap Reya adalah Freya Nur Nabila Abraham maka nama kedua adiknya pun gak jauh-jauh dari itu.” Ucap Hanna.
Alvino pun mengingat biodata Freya yang pernah dia baca. Begitupun Hanna dan juga Adelio mereka juga melakukan hal yang sama.
“Ah, nama adiknya Friska Nur Sakila Abraham sama Frisya Nur Sadila Abraham” ucap Hanna sambil melihat ponselnya.
“Kamu dapat dari mana?” tanya Adelio penasaran.
“Heheheh,, aku lihat di sosmed mereka!” ucap Hanna cengesan.
Alvino pun segera memasukkan nama mereka dan segera muncul biodata mereka beserta nomor ponselnya.
“Cuma kau hubungi!” ucap Alvino.
Hanna pun segera menghubungi Friska pertama kali.
Tuut tuut tuut tuut
__ADS_1
“Halo, Assalamu’alaikum!” ucap Friska.
“Halo, Wa’alaikumsalam. Apa ini benar dengan nona Friska Nur Sakila Abraham?” tanya Hanna.
“Iya, benar. Kalau ini siapa ya?” Ucap Friska.
“Syukurlah, ini kak Hanna, temannya kak Reya. Kamu ingat kan?” tanya Hanna.
“Oh, kakak. Iya ingat kak. Ada apa kak hingga menelpon Riska?” tanya Friska.
“Iya, begini Riska. Kakak itu ingin bertanya tentang kak Reya, karena kakak punya janji dengan kak Reya tapi nomor ponselnya gak aktif dari kemarin.” Ucap Hanna.
“Oh, Kak Reya? Kak Reya sedang sakit kak, mama sama papa tadi pagi nganter kak Reya ke rumah sakit.” Ucap Friska.
“Hah? Sakir? Sakit apa?” ucap Hanna kaget. Begitu pun dengan Adelio dan juga Alvino yang dari tadi mendengar percakapan Hanna dan Friska karena ponsel Hanna diloudspeaker.
“Iya, kak. Riska juga kurang tahu tapi badan kakak sangat panas, makanya mama sama papa sangat khawatir langsung membawa kakak ke rumah sakit. Bahkan mama sama papa juga melupakan ponsel mereka sedangkan ponsel kakak memang mati total karena batereinya habis.” Ucap Hanna.
“Baiklah. Apa kamu tahu kakakmu dibawa ke rumah sakit mana?” tanya Hanna.
“Ah, mama sama papa akan membawa kakak ke rumah sakit F!” ucap Friska.
“Baiklah, terimah kasih yaa dek. Maafkan kakak mengganggumu belajar. Kakak akan segera menyusul kakakmu disana.” Ucap Hanna.
“Baik kak.” Ucap Friska.
Percakapan mereka pun segera berakhir.
“Kita segera kesana!” ucap Alvino dengan wajah yang sangat khawatir.
#####
Kurang lebih tiga puluh menit mereka telah tiba di rumah sakit. Alvino pun segera turun dari mobil dan berlari menuju meja recepsionis begitu mobil berhenti.
“Kenapa masih disini? Apakah dia gak dirawat disini?” tanya Adelio begitu sampai di depan recepsionis dan melihat tuan mudanya itu sepertinya menunggu mereka.
“Gak, dia di rawat disini. Di ruangan Melati nomor 03!” ucap Alvino.
“Yaa,, sudah tunggu apa lagi, ayo kita segera ke sana!” Ajak Hanna.
“Kalian saja. Aku akan menunggu kalian di sini.” Ucap Alvino.
“Tapi kenapa? Bukankah tuan ingin menemuinya?” tanya Hanna sedangkan Adelio sudah mengerti jika tuan mudanya itu belum ingin bertemu dengan calon nona mudanya itu.
“Sudahlah Han, Ayo kita kesana.” Ucap Adelio mengajak Hanna, Hanna pun hanya bisa menuruti karena dia juga sudah mengerti kenapa Alvino melakukan itu.
#####
Sementara di dalam ruangan Freya sudah sadar dan sedang makan.
“Mah, ponsel Reya mana?” tanya Freya setelah selesai makan.
“Ponsel? Ah, kami tidak membawanya bahkan ponsel mamapun tertinggal” ucap Mama Najwa.
“Papah?” ucap Freya sambil memandang ke arah papahnya. Dan papahnya menggeleng.
__ADS_1
“Apa papah ponsel papah juga tertinggal?” tanya Freya.
“Iya. Emang siapa yang ingin kau hubungi?” tanya Papa Khabir.
“Itu, Reya punya janji dengan Hanna hari ini, jadi Reya mau menghubunginya.” Ucap Freya.
Tok tok tok
“Assalamu’alaikum! Kamu gak usah nelpon, aku sudah disini!” ucap Hanna sambil membuka pintu ruang rawat Freya.
“Wa’alaikumsalam!” Jawab Freya dan kedua orang tuanya kaget.
“Hanna! Kak Lio! Kalian disini?” ucap Freya.
“Kamu jahat kenapa kamu sakit gak nelpon aku?” ucap Hanna segera berlari memeluk Freya.
“Maaf! Baterai ponselku habis dan lupa ngecarsnya bahkan skarang pun tertinggal di rumah” ucap Freya membalas pelukan Hanna.
“Silahkan duduk Nak!” ucap Papa Khabir kepada Adelio.
“Terimah kasih om!” ucap Adelio.
“Kamu gak marah aku gak nepatin janji?” tanya Freya
“Sebenarnya aku marah! Tapi aku lebih marah lagi jika kamu sakit tetap mau nepati janjimu. Aku juga marah kamu gak memberitahuku kamu sedang sakit” ucap Hanna sambil melepaskan pelukannya.
“Maaf!” ucap Freya.
“Kamu kenapa bisa sakit? Kamu gak sakit berbahaya kan?” tanya Hanna.
“Kok, nanyanya gitu? Kamu suka aku punya penyakit kronis?” tanya Freya.
“Ah, bukan itu.” Ucap Hanna.
“Heheheh, aku tahu kok. Kamu tenang saja aku hanya kelelahan sama kedinginan kemarin.” Ucap Freya.
“Kedinginan? Maksudnya?” tanya Hanna.
“Biasa nak Hanna. Dia main hujan-hujanan kemarin.” Ucap Mama Najwa ikut nimbrung pembicaraan dua sahabat itu.
“Tuh kan, apa aku bilang hujan itu membawa penyakit. Tapi bukankah kamu selalu bawa jas hujan kok bisa kedinginan?” tanya Hanna.
“Aku melupakannya!” ucap Freya.
“Pantas saja. Kamu sih bandel, mentang-mentang suka hujan kamu ingin menantangnya!” ucap Hanna.
“Bukan begitu Han.” Ucap Freya.
Mereka pun terus bercerita, Freya juga tidak lupa mengenalkan Adelio kepada orang tuanya, dan tak lupa juga menggoda Hanna dengan mengatakan bahwa Adelio adalah calon Hanna.
Happy Reading readers😊
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen yaa Guys..🙏🙏
Maaf jika banyak typo guys😉😊
__ADS_1