
Keesokkan harinya, kini Vino, Freya, Salwa dan Devano sudah ada dibandara untuk mengantar Salwa berangkat ke Singapore. Yah, Salwa hanya diantar mereka karena keluarga yang lain masih memiliki urusan.
“Wa, apa harus hari ini berangkatnya? Apa tidak bisa ditunda dulu?” tanya Alvino.
“Oh, ya ampun kakakku, gak bisa ditunda karena aku sudah memesan tiket dan juga harus menemui beberapa klien penting disana.” Ucap Salwa.
“Kamu juga sih kenapa tiba-tiba begitu perginya. Kenapa kau tida mengatakan kepergianmu padahal kau selalu datang ke kantor kakak.” Ucap Alvino.
“Maaf kakak. Apa kau rindu jika tidak ada aku? Seharusnya kau bersyukur kak karena tidak akan ada yang menganggumu.” Ucap Salwa.
“Hey, kau itu adikku. Tentu saja aku aku akan merindukanmu. Ingat jaga dirimu baik-baik disana.” Ucap Alvino.
“Iya.” Jawab Salwa.
“Kak Salwa baik-baik disana. Jaga diri dengan baik. Jangan lupa memberi kabar.” Ucap Freya memeluk Salwa.
“Tentu saja kakak ipar. Kau juga baik-baik disini. Jaga keponakanku dengan baik. Aku janji akan kembali sebelum keponakanku lahir.” Ucap Salwa menyentuh perut Freya.
“Kakak jaga kakak iparku dan keponakanku dengan baik.” ucap Salwa.
“Tentu saja. Kamu jangan mengkhawatirkan mereka tanpa kamu minta pun kakak pasti akan menjaga mereka.” Ucap Alvino memeluk Freya dari samping dengan posesif.
“Ahh,, dasar tuan muda posesif.” Ledek Salwa.
Tiba-tiba pemberitahuan pesawat keberangkatan Salwa akan lepas landas sebentar lagi.
“Kak, kakak ipar aku pamit.” Ucap Salwa.
“Jaga dirimu!” ucap Alvino.
Salwa pun segera pergi dengan Devano yang mengantarkan kopernya.
“Hati-hati nona!” ucap Devano setelah mengantarkan barang Salwa.
“Terima kasih. Kau juga.” Balas Salwa segera berlalu.
Devano pun segera pergi lalu dia melihat ke belakang, “Jaga dirimu dengan baik, mungkin ini yang terbaik untuk kita.” Batin Devano melihat punggung Salwa.
Tiba-tiba Salwa juga melihat ke belakangnya dan melihat punggung Devano yang sudah jauh, “Mungkin ini memang yang terbaik, aku harap kau menemukan gadis yang terbaik menurutmu.” Batin Salwa meneteskan air mata.
***
Sebulan berlalu dengan cepat, kini usia kandungan Freya sudah memasuki trisemester kedua. Hubungan Alvino dan Freya berjalan dengan sangat romantis setiap harinya karena Alvino entah kenapa sudah berubah menjadi tuan muda romantis setelah menikah.
Drt,, drt,, drt,,
“Halo, Assalamu’alaikum dek!” ucap Freya.
“Wa’alaikumsalam kak. Kak bisa gak hari ini Mark nginap dirumah kakak?” tanya Mark.
“Hmm, itu yaa. Bisa sih tapi kakak harus izin dulu sama suami kakak kalau dibolehin gak kamu nginap. Emang sudah minta izin sama paman dan bibi belum?” tanya Freya.
“Sudah kak, mereka sudah tahu.” Jawab Mark.
__ADS_1
“Ah, baiklah jika begitu. Kakak harus minta izin dulu sama suami kakak. Nanti kakak kabari lagi deh.” Ucap Freya.
“Baiklah. Aku tunggu kak.” Jawab Mark. Yah, dia adalah Mark Arvand Malhotra sepupunya Freya yang saat ini sedang menempuh pendidikan kelas 5 SD..
***
“Bibi, apa anak bibi hari ini akan pindah kesini?” tanya Freya.
“Iya nyonya. Dia akan kesini.” Ucap Bi Wati.
“Ohiya, sepupu saya juga akan kesini. Dia akan menginap disini.” Ucap Freya. Yah, Mark diizinkan oleh Vino untuk menginap. Begitu juga dengan anak dari bibi Wati, mereka sudah diizinkan untuk tinggal bersama mereka agar bibi Wati tidak lagi pulang-pulang.
Sore harinya, Mark baru saja tiba.
“Kakak!” ucap Mark begitu masuk dan langsung berlari untuk memeluk kakaknya tapi belum juga sampai langsung dihalangi oleh Vino.
“Kakak ipar, aku hanya ingin memeluk kakak.” Ucap Mark.
“Gak boleh, kakakmu sudah memiliki suami.” Ucap Alvino.
“Astaga kakak ipar, apa kau cemburu padaku? Kepada anak kecil?” tanya Mark.
“Siapa yang cemburu?” ucap Alvino.
“Ya sudah jika memang kau tidak cemburu maka menyingkirlah karena aku sangat merindukan kakakku.” Ucap Mark.
“Gak boleh, pokoknya kau gak boleh memeluk kak Reya. Bukan mahram!” Ucap Alvino.
“Hey, kau itu tidak memiliki kakak. Jangan sembarang deh memeluk istri orang.” Ucap Alvino.
“Kakak!” rengek Mark memandang Freya yang ada dibelakang Alvino.
“Hubby!” panggil Freya.
“Gak boleh.” Ucap Alvino.
“Kakak ipar, aku gak mungkin mengambil istrimu tapi sebelum dia menjadi istrimu dia adalah kakakku. Aku sudah terbiasa memeluknya setiap kami bertemu dan bukan hanya aku saja kak Kenzo juga melakukan itu. Kak Reya adalah kakak kami semua. Salah kau sendiri menikahi kakak kami.” Ucap Mark malas.
“Kau, pokoknya mulai hari ini kalian gak boleh memeluk kak Reya lagi.” Ucap Alvino.
“Yah gak bisa gitu.” Ucap Mark tidak mau mengalah.
“Hubby sudahlah jangan bertengkar dengan anak kecil. Dia itu sepupuku, dia sudah terbiasa seperti itu kepadaku. Ayo Mark sini!” ucap Freya merentangkan tangannya. Mark pun segera berlari memeluk kakaknya itu. Sementara Alvino yang melihat itu cemburu segera pergi darisana karena istrinya lebih mementingkan adiknya daripada dia. Freya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Mark, ingat mulai hari ini kau gak boleh lagi memeluk kakak. Ini terakhir kalinya, kakak sudah memiliki suami.” Ucap Freya.
“Tapi kak? Aku sudah terbiasa begitu.” Ucap Mark.
“Kakak yakin kau anak yang pintar maka kau pasti mengerti.” Ucap Freya lembut.
“Baiklah.” Jawab Mark pasrah.
“Ayo kakak antar ke kamar.” Ucap Freya.
__ADS_1
***
Sudah malam, Alvino masih saja mendiamkan istrinya itu. Dia tidak marah kepada Freya hanya saja dia cemburu karena istrinya itu juga seperti tidak melakukan kesalahan padahal dia ingin istrinya itu meminta maaf karena mengabaikannya.
“Bibi, anak bibi kok belum datang?” tanya Freya.
“Dia akan segera datang kok nyonya.” Jawab Bi Wati.
Ting
“Ah, sepertinya itu dia.” Ucap Bi Wati.
Bibi Wati pun segera membukakan pintu untuk anaknya dan membawanya bertemu Freya yang saat ini sedang didapur.
“Apa ini anak bibi?” tanya Freya.
“Iya nyonya.” Jawab Bi Wati.
“Siapa namamu gadis kecil?” tanya Freya tersenyum memandang gadis itu.
“Namaku Winanda Derina Fadil panggil saja Wina nyonya.” Jawab Wina.
“Hahha, kamu bisa memanggil saya dengan kakak. Nama kakak Freya.” Ucap Freya.
Wina hanya menunduk tidak berani menatap Freya sepertinya dia takut kepada Freya. Freya pun memakluminya dan menyuruh bibi Waty untuk mengantar Wina ke kamar.
Saat makan malam tiba, kini sudah ada Alvino dan Freya yang ada di meja makan dengan Alvino yang masih saja diam sementara Freya hanya tersenyum melihat suaminya yang hanya diam saja.
“Mau kemana?” tanya Alvino yang melihat Freya pergi.
“Mau memanggil Mark.” Jawab Freya.
“Gak usah biar dia datang sendiri. Kamu sedang hamil kamu gak boleh lelah.” Ucap Alvino.
“Gak lelah kok lagian juga dekat.” Ucap Freya.
“Kamu duduk aja diam disitu. Bibi tolong panggilkan bocah itu.” Ucap Alvino.
Bibi Wati pun segera pergi memanggil Mark sementara Freya kembali duduk.
*
*
*
Happy reading guys !!😊
Jangan lupa like, komen, vote, dan favoritin,,🙏🏻
Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻
Jangan lupa mampir di novel author “Takdir Hidup Zia” mohon tinggalkan jejak yah !!🙏🏻😊
__ADS_1