Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 45


__ADS_3

Sementara Alvino selama tiga hari ini hanya bisa berdoa agar Freya bisa mengambil keputusan yang bisa dia terima nanti. Dia selalu melakukan sholat malam untuk meminta yang terbaik.


Selama tiga hari ini juga Alvino menyibukkan diri dengan urusan kantor bahkan sering lembur agar waktu tiga hari itu cepat berlalu. Karena menurutnya waktu tiga hari itu berlalu sangat lama. Dia sering kurang tidur, dia tidur hanya sekitar dua jam dan selama tiga hari ini juga Alvino menginap di kantor. Dia juga jarang istirahat dan hanya istirahat hanya saat waktu sholat bahkan makan pun sampai dia lupakan.


“Tuan, makanlah dulu!” ucap Devano.


“Kau saja! Aku masih menyelesaikan dokumen ini.” Jawab Alvino tanpa memandang Devano dan tetap fokus dengan dokumennya.


“Tuan ini sudah hari ketiga, kenapa Anda tetap masih melakukan ini. Saya tahu ini adalah hari terberat untuk Anda tapi Anda juga tetap harus makan.” Ucap Devano.


Tiba-tiba,


“Kakak!” ucap Salwa dari balik pintu.


“Wow, sepertinya kakakku yang tampan ini belum makan siang ya?” tanya Salwa setelah melihat makanan di atas meja.


“Wa, kenapa kau selalu saja datang ke ruangan kakak dan selalu tidak mengucapkan salam. Apa kamu sudah lupa aturannya? Apa aku harus segera menelpon paman agar dia menjemputmu?” ucap Alvino tegas.


“Hahahh, kakak aku bercanda! Ayolah! Come on! Jangan menjadi patung hidup. Kau harus makan. Aku janji setelah itu aku akan melakukan apapun yang kau inginkan.” Bujuk Salwa.


Salwa juga sudah berencana mengakhiri masa-masa bermainnya dan segera mengambil alih perusahaan Papinya.


“Kakak belum lapar” cuek Alvino.


“Huh! Ternyata jatuh cinta itu bisa membuat gila yaa? Kakak saja orang yang selalu perfect kini menjadi orang bodoh.” Ujar Salwa yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alvino. Tapi Salwa bersikap seolah-olah dia tidak melihatnya.


“Kak Vano lebih baik kita makan saja, biarkan kakakku ini kelaparan.” Ucap Salwa mengambil makanan yang dibelikan Devano untuk Alvino.


“Salwa letakkan makanan itu sekarang!” perintah Alvino.


“Kakak! Kau kan tidak ingin memakannya jadi aku yang akan memakannya daripada rugi, kasihan kan uangnya kak Vano.” Ucap Salwa acuh.


Alvino pun segera menutup dokumen yang dia baca dan segera merampas makanan yang ada ditangan Salwa dan langsung makan tapi terlebih dahulu berdoa.


Salwa yang melihat hal itu pun tersenyum karena tidak sia-sia dia melakukan banyak drama agar kakaknya itu makan. Devano yang melihat hal itu juga kagum dengan persaudaraan mereka karena walau mereka hanya saudara sepupu tapi mereka saling memperhatikan satu sama lain walau secara sembunyi-sembunyi untuk menunjukkannya.


Setelah Alvino selesai makan tiba-tiba.


“Assalamu’alaikum, Nak!” ucap seseorang dari balik pintu dengan tersenyum.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam!” jawab Alvino, Salwa dan Devano bersamaan.


“Mami? Ada apa kesini?” tanya Alvino yang langsung menyalami maminya diikuti oleh Salwa dan hormat Devano.


“Apa kamu langsung bertanya tanpa menunggu Mami duduk dulu?” tanya Mami Sinta segera duduk di sofa di ruangan itu diikuti oleh Alvino dan juga Salwa.


“Nak! Apa kau tidak cape berdiri? Ayo duduklah!” ucap Mami Sinta sambil menatap Devano yang berdiri. Devano yang ditatap pun langsung ikut duduk.


“Nah, sekarang lebih baik!” ucap Mami Sinta.


“Ada apa Mami kesini?” tanya Alvino lagi.


“Sepertinya putra Mami ini sangat penasaran kenapa Mami kesini. Yah, tentu saja ingin melihat keadaanmu selama tiga hari terakhir ini? Dasar anak nakal! Kenapa kau tidak pulang? Lihatlah kau seperti patung hidup saja, hampir saja Mami tidak mengenalimu. Kantung mata ini dan kau terlihat kurus.” ucap Mami sinta.


“Iya aunty, kakak juga kalau gak Salwa paksa pasti belum makan siang.” Adu Salwa dan hanya ditatap malas oleh Alvino.


“Nak, apa yang kau khawatirkan? Bukankah kau menempatkan mata-mata untuk mengawasi apa ada yang melamarnya atau tidak? Sekarang sudah pukul 13.51, sedikit lagi kau akan mendengar keputusannya.” Ucap Mami Sinta bersikap seolah-olah belum tahu keputusannya.


“Vino memang menempatkan mata-mata tapi hal itu diketahui olehnya.” Ucap Alvino pasrah.


Yah, tiga hari yang lalu setelah pulang dari rumah Adelio dan Hanna, Alvino segera menelpon anak buahnya untuk memata-matai Freya tapi setelah dua jam berlalu anak buahnya segera memberitahukan bahwa Freya berpesan kepada mereka untuk mengatakan pesan kepada tuan mereka, dimana pesan itu yaitu Freya tidak ingin dimata-matai jika tidak ingin ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Alvino yang mendapat pesan itu dari anak buahnya segera memerintahkan anak buahnya untuk menuruti pesan Freya.


“Hah, ternyata kakak ipar lebih perfect darimu kak! Akhirnya ada juga yang bisa mengalahkan keperfect-kanmu kak. Aku jadi fans berat kakak ipar.” Ucap Salwa.


“Kau tenang saja dia sudah membuat keputusan!” ucap Mami Sinta akhirnya.


“Sungguh Mih? Apa keputusannya?” tanya Alvino.


Mami Sinta pun segera memutar rekaman pembicaraan mereka tadi ditelepon.


“Ahh kakak, selamat akhirnya kau akan menikah juga!” ucap Salwa girang.


“Mih, ini sungguhan?” tanya Alvino tidak percaya.


“Apa kau tidak mengenali suaranya?” tanya Mami Sinta.


“Selamat tuan!” ucap Devano ikut bahagia.


“Mih, aku ingin mendengar rekaman itu lagi!” ucap Alvino mengambil ponsel Maminya dan segera mengulang-ngulang rekaman suara Freya.

__ADS_1


Mami Sinta, Salwa dan Devano hanya tersenyum melihat kelakuan Alvino.


“Kakak, apa kau tidak dengar dia sudah memanggil aunty dengan sebutan Mami. Apa sampai sebegitunya kau menjadi bodoh kak?” goda Salwa diikuti tawa dari Mami Sinta.


“Mih, jika begitu kita segera melamarnya secara resmi.” Ucap Alvino tiba-tiba setelah puas mendengar rekaman suara Freya.


“Hah?” ucap Mami Sinta dan Salwa bersamaan.


“Apa kau tidak lihat itu sudah jam berapa? Lamaran itu butuh persiapan.” Ujar Mami Sinta.


“Bukan seperti ini juga ngebet nikah kak!” ledek Salwa tapi tak dipedulikan Alvino.


“Mih, Vino hanya tidak ingin dia berubah pikiran lagi.” Ucap Alvino.


“Ya ampun kak! Seorang wanita itu jika sudah memutuskan maka itu pasti akan ditepatinya, apalagi kakak ipar adalah orang yang selalu menepati janjinya.” Ucap Salwa.


“Kau seperti sudah mengalaminya saja.” Ucap Alvino.


“Nak, Mami mengerti apa yang kau rasakan tapi kita juga butuh mempersiapkannya. Apa kau ingin saat kau melamar wanita pujaanmu hanya dengan persiapan yang biasa.” Ucap Mami Sinta.


“Jika begitu besok saja! Mami tenang saja untuk persiapannya, Vino yang akan melakukannya.” ucap Alvino.


“Baiklah terserah kau saja, tapi kita harus menelpon mereka dulu.” Ucap Mami Sinta segera meraih ponselnya.


Tuut,, tuut,, tuut,,


“Halo, Assalamu’alaikum!” ucap Mama Najwa dari seberang.


“Wa’alaikumsalam Jeng.” Ucap Mami Sinta.


“Ada apa jeng? Apa ada masalah?” tanya Mama Najwa.


“Nggak kok jeng gak ada masalah hanya saja putra kami ingin melakukan lamaran besok. Apa bisa?” tanya Mami Sinta.


“Besok? Apa tidak terlalu cepat jeng? Anak kita juga belum saling mengenal secara langsung.” Ucap Mama Najwa.


Alvino yang mendengar hal itu segera meminta ponsel Maminya.


“Jeng putra saya ingin bicara!” ucap Mami Sinta segera menyerahkan ponselnya kepada Alvino.

__ADS_1


Happy Reading Guys !!


Jangan Lupa Like, Koment, Vote, Gift, dan Favoritin,,


__ADS_2