Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 57


__ADS_3

Setelah dari makan siang di restoran yang berada di apartemen mereka kembali mengurus barang yang mereka bawa ke Amsterdam.


“Kak, berapa hari kita akan kesana?” tanya Freya sambil melihat suaminya.


“Hmm,, seperti kata papi seminggu kita disana?” jawab Alvino sambil mengambil kopernya dan koper Freya.


“Ouh, baiklah. Kak kira-kira kita harus bawa pakaian berapa?” tanya Freya sambil menatap pakaiannya.


“Terserah kau saja dek. Tapi lebih baik kita bawa pakaian secukupnya aja.” Jawab Alvino.


Freya pun mengangguk mengerti dan mulai mengambil pakaiannya dan mulai dia atur dalam kopernya. Sementara Alvino hanya duduk melihat istrinya berkemas.


“Kakak gak berkemas?” tanya Freya tetap fokus dengan pakaiannya.


“Hmm,, kakak malas.” Jawab Alvino cuek.


“Kak gak usah gengsi kali kalau memang ingin Reya yang pilihkan pakaiannya.” Ucap Freya tersenyum tapi tetap fokus dengan pakaiannya.


“Dek, itu kau tahu tapi kenapa kau gak memilihkannya?” tanya Alvino.


“Aku takut nanti jika pakaian yang kupilihkan nanti tidak cocok dengan selera kakak.” Ucap Freya memandang ke arah suaminya itu.


“Gak mungkin pasti kakak menyukainya.” Ucap Alvino.


“Yakin nih? Gak menyesal nanti?” tanya Freya usil.


Alvino yang tahu bahwa istrinya itu usil tetap saja mengangguk yakin karena dia sangat percaya dengan pilihan Freya. Freya pun segera memilihkan beberapa pakaian untuk suaminya itu. Akhirnya mereka pun segera menyelesaikan berkemas dan saat ini sedang istirahat sedikit.


***


Singkat cerita, kini mereka sudah selesai sholat magrib bersama.


“Dek, mau makan apa?” tanya Alvino sambil mereka turun ke lantai 1 apartemen mereka.


Freya gak menjawab tapi langsung menuju ke kulkas yang ada di dapur karena tadi dia sempat melihat isi kulkas saat mengelilingi apartemen. Freya pun segera membukanya dan melihat ada beberapa bahan makanan yang bisa dia olah untuk jadi nasi goreng.


Alvino pun mengikuti istrinya ke dapur, “Mau makan nasi goreng gak?” tanya Freya sambil menatap suaminya.


“Kamu mau masak?” tanya Alvino dan Freya hanya mengangguk.


“Mau gak?” tanya Freya lagi.


“Boleh deh tapi kamu gak cape? Kalau cape kita deliv aja!” jawab Alvino.


“Kakak gak mau yaa makan makanan buatanku?” tanya Freya sedih.


“Bukan gitu dek, kakak hanya gak mau kamu lelah.” ucap Alvino.


“Gak lelah kok, Reya justru senang. Mau yaa?” tanya Freya.


Alvino pun hanya mengangguk mengiyakan keinginan istrinya itu. Alvino kini duduk di depan tv karena tidak di izinkan Freya untuk membantu.

__ADS_1


Kurang lebih 30 menit kemudian nasi goreng buatan Freya sudah selesai dan bau masakannya sudah sampai ke tempat Alvino menonton.


Freya pun segera menghidangkan makanannya itu ke meja makan dengan senang. Dia senang karena ini pertama kalinya dia melayani sang suami.


“Kak, ayo makan.” Ajak Freya.


Alvino pun segera berdiri mendekati Freya yang berada di meja makan.


“Sepertinya enak.” Ucap Alvino langsung duduk.


Freya pun segera menyendokkan makanan itu untuk suaminya.


“Kak, silahkan! Jika rasanya gak sesuai lebih baik jangan di makan kita deliv aja.” Ucap Freya khawatir.


Alvino hanya tersenyum dan langsung makan tapi tiba-tiba dia terdiam, “Kak gak enak yaa,, ayo buang jangan dimakan. Kita deliv aja.” Ucap Freya.


“Gak kok ini sangat enak.” Ucap Alvino.


“Ah kakak pasti bohong.” Ucap Freya.


“Gak sayang, kakak gak bohong. Ini beneran enak.” Ucap Alvino sambil menyuapkan sendok ke mulut Freya. Freya mau tidak mau menerima suapan dari suaminya itu dengan perasaan malu karena Alvino memanggilnya dengan sebutan sayang.


“Gimana enak kan sayang?” tanya Alvino.


“Hmm,, enak kok.” ucap Freya gugup.


“Iya memang enak. Ini sangat enak tau gak.” Ucap Alvino jujur karena nasi goreng buatan Freya itu sama seperti nasi goreng buatan maminya.


“Terus kenapa kakak diam?” tanya Freya.


“Hmm,, gak usah Reya akan makan sendiri.” Tolak Freya.


“Ayolah, makan bersama saja.” Pinta Alvino sambil menyuapkan sendok ke mulut Freya, Freya pun mau tidak mau menerima suapan itu. Alvino tersenyum lalu dia menyendokkan makanan ke mulutnya dengan sendok yang sama.


Freya malu melihat itu karena dia merasa bahwa itu seperti ciuman gak langsung. Tapi demi suaminya dia pun tetap menerima suapan dari suaminya itu. Lagian mereka juga sudah sah untuk melakukan itu, bahkan yang lebih dari itu. Akhirnya mereka makan malam bersama dengan menggunakan satu piring dan satu sendok.


***


Keesokkan paginya Freya bangun melihat suaminya tersenyum melihatnya dengan rambut yang sudah basah dengan air wudhu.


“Mau tahajud bareng?” tanya Alvino.


Freya yang masih mengumpulkan nyawanya hanya mengangguk sambil memperbaiki hijabnya.


“Ya sudah ayo sana wudhu dulu kakak tunggu.” Ucap Alvino.


Freya pun segera ke kamar mandi untuk wudhu sementara Alvino mengambil mukenah yang akan istrinya gunakan. Akhirnya mereka sholat tahajud bareng. Setelah sholat tahajud bareng mereka membawa Al-Qur’an bersama-sama menunggu waktu subuh.


***


Kini mereka sedang sarapan di bawah karena bahan makanan yang ada di dalam kulkas gak ada yang cocok untuk di buat sarapan. Kurang lebih setengah jam mereka sarapan, setelah itu mereka kembali ke apartemen.

__ADS_1


“Kamu sudah tahu passwordnya?” tanya Alvino begitu mereka masuk apartemen.


Freya menggeleng, “Kamu beneran gak ingat hari itu?” tanya Alvino.


Lagi-lagi Freya menggeleng, “Nanti akan kakak ceritakan agar kamu ingat. Itu adalah pertemuan pertama kita.” Ucap Alvino mengusap kepala Freya yang di tutupi hijab itu.


“Iya kakak harus menceritakannya karena aku sama sekali gak ingat.” Ucap Freya.


“Hmm,, baiklah. Nanti akan kakak ceritakan.” Ucap Alvino sambil menggandeng Freya menuju ruang keluarga.


Tiba-tiba ada yang membunyikan bel, “Itu pasti bibi.” Ucap Alvino segera berdiri membukakan pintu apartemen diikuti oleh Freya dari belakang.


“Assalamu’alaikum tuan, nyonya. Maaf jika saya mengganggu pagi-pagi begini.” Salam seorang wanita paru baya kira-kira usianya sekitar 40-an ke atas.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Alvino dan Freya bersamaan.


“Gak mengganggu kok bi.” Ucap Alvino.


“Ayo masuk bi.” Ajak Freya ramah.


“Eehh,, baik nyonya.” Jawab Bibi Wati.


Freya hanya tersenyum, “Ohiya dek, kenalkan ini Bi Wati, dia yang selama ini membersihkan apartemen ini. Dan bibi ini istri saya Freya.” Ucap Alvino.


“Baik tuan, nyonya. Saya permisi ke belakang.” Izin bi Wati.


“Bibi panggil saja Freya.” Ucap Freya sambil tersenyum.


“Tapi itu,, saya gak bisa nyonya.” Ucap bi Wati canggung.


“Baiklah jika memang bibi gak bisa tapi bibi harus mengusahakan bisa yaa,,” ucap Freya. Bi Wati hanya mengangguk.


“Ohiya bibi gak usah masak karena kami sudah sarapan dan jam 09.00 juga kami harus berangkat. ” ucap Alvino.


“Baik tuan.” Ucap bi Wati.


Bibi Wati segera pergi memulai pekerjaannya. Dalam benak Bi Wati bahwa istri tuannya itu adalah seorang yang sombong yang suka memerintah apalagi istri dari seorang pewaris tunggal. Tapi ini justru berbeda dia bisa melihat bahwa istri dari tuan mudanya itu adalah seseorang yang ramah dan sangat menghormati orang tua.


Sementara Alvino dan Freya segera bersiap-siap.


*


*


*


Ayo dong like, vote, komen, beri gift, dan jangan lupa favoritin.😊


Maaf jika banyak typo guys,,🙏🏻


*

__ADS_1


*


Maaf yaa hanya bisa up satu aja karena author masih kurang sehat.


__ADS_2