
Kini Alvino dan Freya sudah ada di bandara.
“Ma, Reya pamit!” ucap Freya sambil memeluk mamahnya.
“Iya sayang, jaga diri dengan baik.” ucap Mama Najwa memeluk putrinya itu.
“Pa!” ucap Freya memeluk papanya.
“Hey, jangan manja dong. Nggak malu apa tuh diliatin suami sama mertua.” Goda Papa Khabir memeluk putrinya itu.
“Papah!” manja Freya.
“Hahhah,, jaga diri dengan baik. Nak Vino kami titip putri kami.” Ucap Papa Khabir.
“Tentu Pah. Vino akan menjaganya.” Jawab Alvino.
Lalu Freya beralih kepada mertuanya.
“Mih, Kami pamit.” Ucap Freya.
Mami Sinta segera memeluk menantunya.
Alvino dan Freya berpamitan kepada semuanya. Ya,, mereka di antar oleh orang tua Alvino dan orang tua Freya ke bandara.
Setelah acara pamitan selesai segera mereka pergi karena pesawat sebentar lagi lepas landas.
“Kami pamit ma, pa, mi, pi.” Ucap Alvino.
“Iya, jaga diri kalian dengan baik.” ucap Mama Najwa dan Mami Sinta bersamaan.
“Vino nanti aka nada yang menjemput kalian disana.” Ucap Papi William.
Alvino dan Freya pun mengangguk dan segera pergi. Sementara orang tua mereka pun segera pulang.
***
Kurang lebih 15 jam kini mereka sudah tiba di Bandar udara Internasional Schiphol, Amsterdam tepat jam 17. 25 waktu setempat.
“Mr & Mrs Aryawiguna?” tanya seorang laki-laki dengan setelan jas hitam lengkap.
“Iya benar!” jawab Alvino.
(Maaf ya guys author pakainya tetap bahasa Indonesia karena author gak bisa bahasa inggris. Harap dimaklumi!)😊
“Baiklah jika seperti itu, saya Crish di tugaskan oleh tuan Stevan untuk mengantarkan tuan dan nyonya ke hotel.” Ucap Crish sopan.
“Baik, terima kasih.” Ucap Alvino.
Barang-barang mereka pun dibawa oleh Crish menuju mobil yang telah disediakan. Mereka pun segera menuju hotel Pestana Amsterdam Riverside.
Kurang lebih 30 menit mereka tiba di hotel Pestana Amsterdam Riverside.
“Selamat datang tuan dan nyonya, kami sudah mendapat pesan dari tuan Steven untuk melayani anda.” Ucap seorang resepsionis wanita setelah Crish membisikkan sesuatu.
“Mari saya antar!” ucap resepsionis itu.
Alvino dan Freya pun hanya mengikuti recepsionis itu dengan Crish yang membawa barang mereka.
“Silahkan masuk tuan, nyonya. ” ucap recepsionis itu.
Alvino dan Freya pun segera masuk ke dalam kamar hotel.
__ADS_1
“Terima kasih tuan Crish, Nona, sudah mengantarkan kami.” Ucap Alvino.
Crish dan resepsionis itu hanya mengangguk.
“Tuan, Nyonya kami pamit dulu. Jika tuan membutuhkan sesuatu maka telpon saja saya karena saya yang di tugaskan oleh tuan Steven untuk memandu anda selama disini. Ohiya ini kartu telepon untuk tuan dan nyonya dan ini nomor telepon saya. Perjalanan tuan dan nyonya akan dimulai besok.” ucap Crish.
“Baiklah, sekali lagi terima kasih.” Ucap Alvino.
Crish dan resepsionis itupun segera pergi, kini tinggalah Alvino dan Freya di ruangan itu.
“Kak, ini sangat indah!” ucap Freya sambil melihat keluar dari jendela hotel mereka.
“Kamu senang?” tanya Alvino.
Freya hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Syukurlah kamu senang. Ohiya apa kamu gak mau bersih-bersih dulu. Kita harus melaksanakan sholat.” Ucap Alvino.
“Ohiya, kalau begitu kakak dulu aja.” Ucap Freya.
Alvino pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Freya mengatur pakaian mereka ke lemari berada di kamar hotel mereka. Setelah Alvino dan Freya mandi dan melaksanakan sholat mereka segera memesan makanan untuk makan malam.
***
“Tuan, nyonya perjalanan pertama anda akan di mulai dengan taman Keukenhof.” Ucap Crish menjelaskan kepada Alvino dan Freya yang kini mereka sudah ada di dalam mobil.
“Keukenhof?” tanya Freya kaget..
“Benar nyonya?”
“Ada apa dek?” tanya Alvino.
“Nggak kok gak ada apa-apa.” Jawab Freya sambil melihat keluar jendela mobil dimana seluruh kota Amsterdam di kelilingi oleh bunga tulip yang indah.
Tidak berapa lama mereka sudah tiba di taman Keukenhof. Mereka pun segera masuk dapat dilihat begitu banyak pasangan yang datang. Sama seperti Freya mungkin mereka juga ingin melihat bunga tulip tumbuh.
Begitu masuk Freya langsung menatap tidak percaya begitu banyaknya hamparan tulip dihadapannya. Dia merasa ini adalah sebuah mimpi karena bisa melihat semua bunga tulip dengan berbagai macam aneka warna.
“Dek, apa kamu sangat menyukainya?” tanya Alvino karena melihat istrinya itu menatap bunga tulip dengan tatapan kagum.
“Iya, Reya sangat menyukainya kak.” Jawab Freya tetap masih menatap bunga tulip dengan kagum.
Sekitaran dua jam mereka berada disana, Freya tidak lupa mengabadikan momen disana dengan berfoto. Alvino yang melihat istrinya itu bertingkah konyol hanya bisa tersenyum karena dia memang mengetahui bahwa sang istri sangat menyukai tulip. Mungkin terkesan alay tapi bagi Freya apapun hal yang dia sukai akan sangat istimewa.
“Kak, terima kasih sudah mengajakku kesini.” Ucap Freya memeluk Alvino.
Alvino pun membalas pelukan istrinya itu dengan erat walau dia percaya bahwa Freya pasti belum menyadari bahwa sekarang dia memeluknya.
“Ah kak, maaf. Reya terlalu senang.” Ucap Freya melepas pelukannya dan langsung melihat kembali hamparan tulip dihadapannya.
Alvino pun hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang malu itu dan langsung memeluk Freya dari belakang.
“Kamu bisa memeluk kakak kapan saja kok, nggak ada yang akan melarangmu.” Bisik Alvino.
Freya hanya tersenyum mendengarnya dan membiarkan Alvino memeluknya.
Setelah Freya puas melihat hamparan tulip mereka segera menuju Dam Square yaitu alun-alun yang digunakan untuk acara pentas seni. Mereka menghabiskan hari mereka dengan menonton pentas seni disana. Mereka baru kembali ke hotel begitu matahari mau terbenam.
***
Kini mereka akan segera tidur setelah selesai makan malam dan sholat. Alvino berbaring sambil melihat ponselnya untuk memeriksa laporan yang dikirimkan Devano. Sementara Freya sibuk dengan ponselnya juga untuk melihat foto-foto yang dia ambil tadi.
__ADS_1
“Sepertinya istriku ini senang bahagia ya?” tanya Alvino karena melihat Freya tersenyum melihat ponselnya.
“Hahahh,, iya coba lihat kakak sangat lucu.” Ucap Freya memperlihatkan sebuah foto kepada Alvino.
“Dek, hapus deh. Kakak jelek bangat disitu.” Ucap Alvino.
“Gak kok, kakak sangat tampan seperti itu.” Ucap Freya tidak sadar.
Alvino tersenyum mendengar ucapan Freya, “Beneran kakak tampan?” goda Alvino.
“Itu,, maksudnya,,” ucap Freya gugup.
Alvino yang melihat istrinya gugup itupun langsung mengecup kening Freya.
Cup
Sementara wajah Freya memerah malu karena dia belum terbiasa dengan hal itu.
“Kenapa wajahmu memerah dek?” goda Alvino.
“Kakak!” ucap Freya memukul dada Alvino.
“Aduh, sakit dek!” ucap Alvino pura-pura.
“Astagfirullah, maaf kak, Reya gak sengaja. Mana yang sakit?” tanya Freya panik.
Sementara Alvino tersenyum melihat istrinya itu panik dan malu jika dia goda. Entah kenapa itu sudah menjadi kebiasaan baru Alvino setelah dia menikah. Dia yang biasanya kaku menjadi orang seperti itu begitu menikah. Sementara Freya yang biasanya selalu tegas dan perfect menjadi seorang yang mudah malu dan gampang ditipu oleh Alvino. Begitu cinta bisa mengubah segalanya. Mereka yang sama-sama perfect kini menjadi seperti orang lain.
“Kakak bohong ya?” tanya Freya setelah sadar bahwa dia ditipu.
Freya pun segera menjauh dari Alvino dan membelakangi suaminya itu.
“Gak baik loh membelakangi suami.” Bujuk Alvino.
Tapi Freya tetap diam saja.
“Dek, ya udah maafin kakak deh.” Bujuk Alvino lagi.
Freya tetap diam.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perut Freya. Yah, Alvino segera memeluk Freya dari belakang, “Maafin kakak! Ayo jangan marah dong.” Bisik Alvino.
Freya pun melepaskan pelukan Alvino dari pinggangnya dan berbalik menghadap suaminya itu, “Kakak jahat, apa kakak pikir aku gak takut tadi. Aku pikir kakak beneran sakit.” Ucap Freya sedih.
“Maaf! Kakak hanya ingin menggodamu dek. Maaf! Kakak gak akan mengulanginya.” Ucap Alvino memeluk Freya lagi.
Entah kenapa Freya pun membalas pelukan suaminya itu, entah kenapa dia merasa nyaman berada di pelukan suaminya itu. Alvino pun yang sadar bahwa Freya membalas pelukannya segera mendekap Freya ke dada bidangnya. Freya pun hanya menurut karena lagi-lagi entah kenapa dia merasa nyaman seperti itu.
Tidak lama kemudian Freya tertidur dalam dekapan Alvino. Alvino pun seperti itu dia pun segera tertidur. Untuk pertama kalinya akhirnya mereka tidur dengan posisi berpelukan seperti itu karena biasanya mereka tidur saling berjauhan. Kadang jika Freya bangun tengah malam dan menyadari posisi mereka sudah dekat maka dia segera menjauh tapi sebaliknya yang terjadi dengan Alvino jika dia yang terbangun tengah malam dengan posisi yang lebih dekat maka dia pasti akan memandang wajah istrinya itu, kadang mengecup kening Freya dan memeluk Freya. Sudah pasti hal itu dia lakukan tanpa sepengatahuan Freya.
*
*
*
Cie,, cie,, cie,, akhirnya Freya sedikit demi sedikit semakin luluh juga dengan pesona Alvino.
*
*
__ADS_1
Ayo dong like, komen, vote, beri gift dan favoritin agar author lebih semangat lagi.🙏🏻😊
Mohon maaf jika banyak typo guys,,🙏🏻