
“Kalian bukan harus berusaha tapi kalian harus menyelamatkannya. Jika ada yang terjadi pada istriku kalian akan menanggung akibatnya.” Ancam Alvino.
“Nak, lebih baik kita segera keluar. Biarkan Reya kepada mereka.” Ucap Mama Najwa.
“Ma!” panggil Alvino.
Mama Najwa pun segera menggandeng menantunya itu keluar agar dokter bisa fokus menyelamatkan Freya.
“Tante percayakan padamu menantuku padamu nak. ” ucap Mami Sinta menepuk bahu Hanna lalu keluar.
Hanna pun hanya bisa mengangguk. Dia tanpa di minta pun pasti akan melakukan yang terbaik untuk sahabatnya.
Sementara di luar, “Ada apa? Kenapa kalian keluar? Bukankah dia sudah melahirkan?” tanya Papa Khabir begitu melihat istri dan menantunya keluar.
__ADS_1
“Ada sedikit masalah.” Ucap Mama Najwa lemah.
Sementara Alvino hanya diam saja tidak menjawab yang ada di pikirannya saat ini bagaimana Freya selamat. Alvino, Mama Najwa dan Mami Sinta hanya bisa diam bahkan mereka yang dari dalam tidak melihat wajah cucu mereka yang sudah lahir itu.
“Sudahlah nak. Jangan menangis!! Papi yakin dia akan baik-baik saja. Bukankah dia adalah istrimu? Dia wanita kuat.” Bujuk Papi William menenangkan sang putra.
Alvino tetap diam saja.
Sementara di dalam, “Dokter dia mengalami pendarahan. Kita harus segera mengeluarkan plasenta sebelum terlambat.” Ucap Hanna dengan pucat.
“Tetap jaga kesadarannya.” Perintah dokter Rina.
“Hanna, kau keluarlah. Segera ambilkan darah. Dia butuh donor segera.” Perintah dokter Rina untuk Hanna yang sudah terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Hanna dan beberapa bidan pun keluar langsung berlari untuk mengambil darah, “Hanna!” ucap Alvino yang melihat Hanna dan beberapa bidan berlari bahkan mengabaikan mereka di luar.
Tidak lama Hanna dan beberapa bidan pun kembali dengan dua kantong darah karena memang Freya memiliki golongan darah langka. Alvino yang melihat itu pun semakin khawatir, “Nona Hanna, dia baik-baik saja kan?” tahan Alvino begitu Hanna akan masuk.
Hanna pun hanya bisa mengangguk lalu segera masuk. Mereka segera melakukan donor untuk Freya. Plasenta nya sudah berhasil di keluarkan kini mereka hanya fokus untuk membuat tanda vitalnya kembali normal.
Kurang lebih satu jam dokter dan para bidan belum juga keluar. Alvino dan seluruh keluarga pun sudah panik, tiba-tiba bidan segera keluar membawa bayi kecil. Mami Sinta dan Mama Najwa yang melihat itu segera mendekat, “Apa ini cucu kami?” tanya Mami Sinta dan bidan itu hanya mengangguk.
“Dia akan di bawa kemana? Bisa kami ikut?” tanya Mama Najwa. Lagi-lagi bidan itu pun hanya mengangguk. Mama Najwa dan Mami Sinta mengikuti bidan itu yang ternyata membawa cucu mereka untuk di bersihkan dan segera di tempatkan ke box bayi. Mama Najwa dan Mami Sinta sangat senang melihat cucu mereka itu dan menjaganya di ruang perawatan yang memang sudah di sediakan.
Sementara Alvino tetap berada di depan ruang bersalin menunggu sang istri, bahkan dia tidak memedulikan anaknya. Papi William dan Papa Khabir pun hanya bisa menemani Alvino menunggu.
Tidak lama keluarlah Hanna, Alvino yang melihatnya segera mendekati nya, “Hanna, istriku baik-baik saja kan? Dia gak kenapa-kenapa kan?” tanya Alvino.
__ADS_1
Hanna pun hanya bisa menangis, Alvino yang melihat Hanna menangis, “Jangan katakan bahwa dia,, ah aku gak akan bisa menerimanya.” Teriak Alvino.