Di Kala Cinta Menyapa

Di Kala Cinta Menyapa
Episode 66


__ADS_3

“Han, aku mohon tolong yaa rahasiakan ini dari siapapun, aku ingin memberikan kejutan untuk suamiku.” Ucap Freya setelah mereka tiba diparkiran.


“Tenang saja Re, aku pasti akan menutup mulutku dengan rapat.” Ucap Hanna.


“Okay, aku percaya padamu.” Ucap Freya.


“Ohiya, apa kamu di jemput oleh tuan Alvino?” tanya Hanna.


“Hmm, gak. Aku bawa mobil sendiri.” Ucap Freya sambil menunjuk mobilnya.


“Hah? Kamu bawa mobil sendiri? Gak-gak aku kamu sedang hamil, lebih baik kamu ikut aku biar aku yang akan mengantarmu ke apartemen.” Ucap Hanna.


“Han, apartemenku hanya dekat. Aku bisa kok nyetir sendiri. Kamu jangan khawatir. Lagian rumah kita berlawanan arah.” Ucap Freya.


“Tapi aku gak ingin kamu kenapa-kenapa begitu juga dengan calon keponakanku.” Ucap Hanna.


Tiba-tiba mobil Adelio tiba.


“Halo sayang, Nona!” ucap Adelio setelah turun dari mobil.


“Halo sayang.” Jawab Hanna.


Freya hanya tesenyum.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Adelio.


“Baik-baik aja kok.” ucap Hanna.


“Re, kamu yakin gak mau diantar?” tanya Hanna saat dia sudah di dalam mobil.


“Gak apa-apa kok Han, aku akan nyetir pelan-pelan. Kamu jangan khawatir.” Ucap Freya.


“Ah baiklah. Ingat pelan-pelan.” Ucap Hanna.


“Iya.” Jawab Freya.


“Ya sudah kami duluan.” Ucap Hanna.


“Kami pergi Nona” pamit Adelio.


“Iya, hati-hati Han, Kak Lio.” Balas Freya.


Adelio dan Hanna pun segera pergi begitupun dengan Freya dia segera menuju mobilnya. Dijalan menuju apartemen dia singga dulu di apotek untuk membeli tespeck lagi.


***


Keesokan paginya karena ini hari sabtu maka Freya tidak pergi ke rumah sakit karena jadwal praktiknya hanya sampai senin-kamis sementara jumat dia hanya akan menyerahkan laporan.


Saat ini Freya sedang duduk di sofa menikmati camilan yang dibuat oleh bi Wati, Alvino sudah pergi ke kantor setengah jam yang lalu.


“Bi!” panggil Freya.


“Iya, nyonya.” Jawab bi Wati.


“Bibi, temani Reya duduk dong.” Ucap Freya.


“Tapi nyonya pekerjaan saya belum selesai.” Ucap bi Wati.


“Ah baiklah. Kalau begitu nanti sebentar aja deh. Nanti setelah selesai urusan bibi harus menemani Reya. Gak boleh nolak.” Ucap Freya.


“Baik nyonya.” Ucap bi Wati.


Freya pun segera menuju kamarnya untuk menyiapkan bagaimana dia akan memberi tahu suaminya.


***


Sementara di kantor, seperti biasa Salwa akan mengunjungi kantor Alvino tiap sabtu.


“Apa kamu gak bosan apa selalu kesini tiap sabtu?” Alvino bertanya pada gadis yang saat ini sudah duduk dengan nyamannya di sofa diruangannya.


“Kakak, aku kesini gak mengganggumu kan, aku hanya meminjam sebentar sofamu ini sebelum aku pergi.” ucap Salwa.


“Emang apa keperluanmu sehingga selalu datang kesini?” tanya Alvino.


“Tentu saja aku ingin mengunjungimu.” Jawab Salwa.

__ADS_1


“Huh, lagi-lagi itu jawabanmu. Aku bosan mendengarnya.” Ucap Alvino karena selalu itu jawaban Salwa jika Alvino menanyakan alasannya selalu datang.


“Tuan, ini laporan dari tim pengembangan yang diminta direvisi.” Ucap Devano tiba-tiba.


“Ouh, baiklah letakkan disana. Aku akan memeriksanya.” Ucap Alvino.


“Baik tuan. Kalau begitu saya permisi.” Ucap Devano segera pergi bahkan tidak menyapa Salwa.


“Ah, baiklah kak aku akan pergi. Aku gak akan mengganggumu. Mungkin juga ini terakhir kalinya aku datang. Jangan rindu kakakku sayang.” Ucap Salwa tiba-tiba lalu segera pergi bahkan tidak memperdulikan Alvino yang memanggilnya.


***


Tok, tok,, tok,,


“Masuk!” ucap seseorang dari dalam.


“Hi!” ucap Salwa.


“Eee,, Nona Salwa. Silahkan duduk!” ucap Devano.


Salwa pun segera duduk.


Hening


Hening


“Aku datang kesini hanya ingin memberimu ini.” Ucap Salwa akhirnya.


“Tunggu, kau jangan ngomong dulu. Aku belum selesai bicara.” Ucap Salwa yang melihat Devano akan mengatakan sesuatu.


“Aku tahu kau pasti akan menolak pemberianku tapi aku harap untuk pertama dan terakhir kalinya kau menerima pemberianku. Aku tahu kau merasa terganggu dengan kedatanganku kesini tapi kau tenang saja ini terakhir kalinya kau melihatku disini. Aku tidak akan datang lagi.” Ucap Salwa.


“Eehh,, tapi kau gak boleh merindukanku karena aku,, ah sudahlah lebih baik aku pulang. Aku harap kau menyukai pemberianku. Aku akan pergi, semoga kau bahagia. Selamat tinggal!” ucap Salwa tersenyum dan segera berlalu pergi.


Sementara Devano hanya diam saja memandang pemberian Salwa. Tidak ada yang tahu apa arti dari tatapannya.


“Hahahh,, aku menangis. Ah, sejak kapan aku menjadi cengeng seperti ini.” Ucap Salwa menertawakan dirinya sendiri saat dia sudah di dalam mobil.


Salwa pun segera melajukan mobilnya pergi sementara dari atas ada sepasang mata yang melihatnya.


***


“Iya sudah nyonya.” Jawab Bi Wati.


“Kalau begitu, temani aku!” ucap Freya.


Bi Wati pun segera ikut duduk dengan majikannya itu.


“Apa bibi punya anak?” tanya Freya.


“I-ituu,,” ucap bi Wati gugup.


“Bibi gak usah gugup denganku. Panggil aku Freya, itu lebih cocok.” Ucap Freya.


“Saya punya satu orang anak perempuan saat ini kelas 5 SD nyonya.” Ucap bi Wati.


“Terus dia tinggal dengan siapa?” tanya Freya.


“Dia tinggal sendiri nyonya.” Ucap bi Wati.


“Terus suami bibi kemana?” tanya Freya.


“Suami saya sudah lama meninggal saat anak saya masih dalam kandungan nyonya.” Jawab bi Wati.


“Ahh, maafkan saya. saya gak bermaksud,,” ucap Freya.


“Gak apa-apa nyonya.” Potong bi Wati.


Mereka pun berbincang banyak hal. Freya melakukan itu agar mengetahui seluk beluk keluarga yang bekerja dengannya.


***


Singkat cerita, kini sudah malam dan seperti biasa sebelum tidur Alvino dan Freya saling berbagi tentang pekerjaan mereka. Hal itu mereka lakukan agar komunikasi dalam keluarga mereka tetap terbangun walau dengan berbagai kesibukan.


“Hubby!” panggil Freya.

__ADS_1


“Iya sayang ada apa?” tanya Alvino.


“Aku punya sesuatu untukmu, aku harap hubby menyukainya.” Ucap Freya mengambil kotak yang dia letakkan di meja lampu tidur mereka.


“Apa ini? Sepertinya istriku ini selalu memberiku hadiah.” Ucap Alvino sambil menerima kotak itu.


“Bukalah, tapi sebelum membukanya hubby harus mengucapkan basmalah. Siapa tau aja itu bom.” Ucap Freya bercanda.


“Kamu bisa aja. Baiklah hubby buka. Bismillahirrahmanirrahim.” Ucap Alvino sambil membukanya.


“Apa ini? Ayah?” tanya Alvino begitu membawa tulisan ayah.


Freya hanya tersenyum sambil mengambil tangan suaminya dan dia letakkan di perutnya.


“Kamu kenapa sayang? Apa perutmu sakit?” tanya Alvino khawatir.


“Gak kok hubby Reya baik-baik aja” jawab Freya.


“Hubby ayo buka lagi.” Sambung Freya.


Alvino pun melanjutkan membuka kotaknya yang ternyata masih ada kotak lagi.


“Ini? Apa maksudnya sayang?” tanya Alvino dan Freya hanya tersenyum dan memeluk suaminya itu.


“Masa hubby belum mengerti bahwa itu apa.” Bisik Freya.


“Queen, apa maksudnya ini? Hubby mengerti tapi hubby takut ini,,” ucap Alvino.


“Seperti yang hubby pikirkan, hubby akan menjadi ayah. Dia ada disini!” ucap Freya sambil membawa tangan Alvino ke perutnya kembali.


“Sungguh?” tanya Alvino tidak percaya.


“Iya, lihatlah itu foto USG-nya dan hasil tespecknya.” Ucap Freya.


Alvino pun segera memeluk istrinya dan mengecup kening, mata, hidung, dan bibir Freya.


“Sungguh sayang, aku akan menjadi ayah?” tanya Alvino setelah melepaskan pelukannya dan menyentuh perut rata Freya.


“Iya sayang. Aku akan menjadi Bunda. Dia baru berusia 7 minggu.” Ucap Freya mengambil foto USG.


“Kapan kamu mengetahuinya?” tanya Alvino.


“Kemarin. Saat aku menemani Hanna memeriksa kandungannya dan akhirnya aku juga dipaksa Hanna untuk memeriksa dan ternyata aku positif hamil. Jangan bertanya kenapa aku mengatakannya baru sekarang karena aku ingin memberiku hubby kejutan.” Ucap Freya.


Alvino pun hanya tersenyum dan memeluk Freya, “Baiklah kalau begitu nanti kita akan pergi lagi ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu. Gak boleh menolak.” Ucap Alvino.


Freya pun hanya mengangguk.


“Ohiya, mulai sekarang kamu gak boleh lagi menyetir sendiri. Hubby akan mengantar dan menjemputmu atau kau gak usah bekerja saja. Kau cuti dulu.” Ucap Alvino.


“Hubby!” ucap Freya cemberut.


“Ahh, baiklah. Kau boleh bekerja tapi gak boleh kelelahan.” Ucap Alvino.


Cup


Freya segera mengecup pipi suaminya, “Thanks My Lord.” Ucap Freya.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka sambil Alvino mengusap bahkan mengajak bicara janin di dalam kandung Freya. Freya pun membiarkan Alvino melakukan itu.


*


*


Cie,, cie,, yang lagi bahagia. Selamat yaa Alvino dan Freya.


*


*


*


Ayo dong like, komen, vote, beri gift dan favoritin agar author lebih semangat nulisnya.😊🙏🏻


Mohon maaf jika ada typo guys,,🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2